وَيَسۡتَفۡتُونَكَ
dan … meminta fatwa (keterangan hukum) kepadamu (wahai Muhammad)and … ask you (O Muhammad) for a fatwa (ruling) (merekathey)
يُفۡتِيكُمۡ
akan memberi keterangan (fatwa) kepada kamuwill give you an explanation (fatwa) (DiaHe)
تَقُومُواْ
menguruskan (hak dan keperluan)manage (the rights and needs of) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan mereka meminta fatwa kepadamu (wahai Muhammad), mengenai (hak dan kewajipan) kaum perempuan. Katakanlah olehmu: "Allah akan memberi keterangan (fatwa) kepada kamu mengenai mereka dan juga (ada difatwakan dalam) apa yang selalu dibacakan kepada kamu dalam Kitab (Al-Quran) ini mengenai perempuan-perempuan yatim yang kamu tidak memberi kepadanya apa yang telah ditetapkan menjadi hak mereka, dan yang kamu suka berkahwin dengan mereka; dan juga mengenai anak-anak yang lemah (yang masih kecil lagi). Dan (kamu juga diwajibkan) supaya menguruskan (hak dan keperluan) anak-anak yatim dengan adil". Dan (ingatlah) apa jua kebaikan yang kamu lakukan (kepada mereka), maka sesungguhnya Allah sentiasa MengetahuinyaTranslation: And they ask you (O Muhammad) for a fatwa (ruling) about (the rights and duties of) women. Say: “Allah will give you an explanation (fatwa) about them, and also (there is a fatwa in) what is regularly recited to you in this Book (the Qur’an) concerning orphan women whom you do not give what has been set as their right, and whom you would like to marry; and also concerning the weak among children (who are still young). And (you are also obliged) to manage (the rights and needs of) orphans with justice.” And (remember), whatever good you do (for them), truly Allah is always All-Knowing of it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْلَمْ أَنَّ عَادَةَ اللَّه فِي تَرْتِيبِ هَذَا الْكِتَابِ الْكَرِيمِ وَقَعَ عَلَى أَحْسَنِ الْوُجُوهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/232 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/232 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, cara Allah menyusun Kitab yang mulia ini adalah sebaik-baik susunan: disebut sebahagian hukum, kemudian diiringi banyak ayat tentang janji dan ancaman, galakan dan amaran, diselangi ayat-ayat yang menunjukkan kebesaran Allah dan keagungan kekuasaan-Nya, lalu kembali semula kepada hukum. Menurutnya, inilah susunan yang paling dekat untuk memberi kesan kepada hati.
Renungan: Apabila membaca al-Qur’an, perhatikanlah aliran ini; hukum yang diiringi peringatan melembutkan hati kita untuk taat.Al-Rāzī says Allah’s way of ordering this noble Book is the finest: some rulings are given, then many verses of promise and warning, encouragement and deterrence follow, mixed with verses showing Allah’s greatness and the majesty of His power, and then it returns to rulings. In his view, this is the order most likely to move the heart.
Reflection: When we read the Qur’an, let us notice this flow; rulings joined with reminders soften our hearts to obey.
وَأُحۡضِرَتِ
sedang … memang (bertabiat semula jadi)while … are by nature (given to) (jiwa manusia al‑anfususouls al‑anfusu)NF
ٱلشُّحَّۚ
sifat bakhil kedekut (tidak suka memberi atau bertolak ansur) itumiserliness (not liking to give or to make allowances)
وَتَتَّقُواْ
dan mencegah diri (daripada melakukan kezaliman)and restrain yourselves (from doing injustice) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan jika seorang perempuan bimbang akan timbul dari suaminya "nusyuz" (kebencian), atau tidak melayaninya, maka tiadalah salah bagi mereka (suami isteri) membuat perdamaian di antara mereka berdua (secara yang sebaik-baiknya), kerana perdamaian itu lebih baik (bagi mereka daripada bercerai-berai); sedang sifat bakhil kedekut (tidak suka memberi atau bertolak ansur) itu memang tabiat semula jadi yang ada pada manusia. Dan jika kamu berlaku baik (dalam pergaulan), dan mencegah diri (daripada melakukan kezaliman), maka sesungguhnya Allah Maha Mendalam Pengetahuan-Nya akan apa yang kamu lakukanTranslation: And if a woman fears that “nushuz” (dislike) or not attending to her will arise from her husband, then there is no blame on the two of them (husband and wife) to make peace between the two of them (in the best way), for peace is better (for them than separating); while human souls are by nature given to miserliness (not liking to give or to make allowances). And if you do good (in your dealings) and restrain yourselves (from doing injustice), then truly Allah is All-Aware (deep in His knowledge) of what you do.
Nota nahu: فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (ayat 128).Grammar note: فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (verse 128).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ دَلَّتِ الْآيَةُ عَلَى شِدَّةِ التَّرْغِيبِ فِي هَذَا الصُّلْحِ بِمُؤَكِّدَاتٍ ثَلَاثَةٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/217 · Shamela ↗ (huraian ayat 128–130)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/217 · Shamela ↗ (commentary on 128–130)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini sangat menggalakkan ṣulḥ (perdamaian) dengan tiga penegasan: kata terbitan «صُلْحًا» yang menguatkan, kata «الصُّلْحُ» diulang dengan jelas dan bukan dengan kata ganti, dan ia dikhabarkan dengan kata «خَيْرٌ».
Renungan: Apabila timbul renggang dalam keluarga, marilah kita menjadi orang yang dahulu menghulurkan tangan untuk berdamai.According to Ibn ‘Āshūr, this verse strongly urges ṣulḥ (reconciliation) with three emphases: the verbal noun «صُلْحًا» that reinforces it, the word «الصُّلْحُ» repeated in full rather than by a pronoun, and its being predicated with the word «خَيْرٌ».
Reflection: When a rift appears in the family, let us be the first to reach out for peace.
حَرَصۡتُمۡۖ
… bersungguh-sungguh (hendak melakukannya)are earnest (in wanting to do so) (kamu sekalianyou all)
ٱلۡمَيۡلِ
(berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi)(being one-sided towards the wife you love)
فَتَذَرُوهَا
sehingga … biarkan isteri yang lainso that … leave the other wife (kamu sekalianyou all)
كَٱلۡمُعَلَّقَةِۚ
seperti benda yang tergantung (di awan-awan)like something hanging (in the clouds)
تُصۡلِحُواْ
… memperbaiki (keadaan yang pincang itu)set right (that faulty state) (kamu sekalianyou all)
وَتَتَّقُواْ
dan memelihara diri (daripada perbuatan yang zalim)and guard yourselves (from unjust deeds) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri kamu sekalipun kamu bersungguh-sungguh (hendak melakukannya); oleh itu janganlah kamu cenderung dengan melampau (berat sebelah kepada isteri yang kamu sayangi) sehingga kamu biarkan isteri yang lain seperti benda yang tergantung (di awan-awan); dan jika kamu memperbaiki (keadaan yang pincang itu), dan memelihara diri (daripada perbuatan yang zalim), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: And you will not manage to act justly among your wives, even though you are earnest (in wanting to do so); so do not lean excessively (being one-sided towards the wife you love) so that you leave the other wife like something hanging (in the clouds). And if you set right (that faulty state) and guard yourselves (from unjust deeds), then truly Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
Nota nahu: فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ (ayat 129).Grammar note: فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ (verse 129).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَكِنَّ مِنَ الْحُبِّ حَظًّا هُوَ اخْتِيَارِيٌّ، وَهُوَ أَنْ يُرَوِّضَ الزَّوْجُ نَفْسَهُ عَلَى الْإِحْسَانِ لِامْرَأَتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/218 · Shamela ↗ (huraian ayat 128–130)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/218 · Shamela ↗ (commentary on 128–130)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menunjukkan bahawa rasa cinta di luar kawalan, maka suami tidak dibebankan dengan apa yang di luar kemampuannya. Namun ada bahagian cinta yang boleh diusahakan: dia melatih dirinya berbuat baik kepada isterinya, menanggung perangai yang kurang disenanginya, dan bergaul dengan baik, sehingga lahir mesra dan kasih dengan berulang dan kebiasaan. Itulah antara kecenderungan kepada isteri yang dipesan oleh “janganlah kamu cenderung dengan melampau”.
Renungan: Hati tidak sepenuhnya milik kita, tetapi layanan kita ialah pilihan kita; marilah kita melatih diri berlaku baik kepada keluarga.According to Ibn ‘Āshūr, this verse shows that love is beyond one’s control, so a husband is not burdened with what is beyond his power. Yet there is a share of love that can be worked at: he trains himself to be good to his wife, to bear the ways he finds less pleasing, and to live with her kindly, until fondness and tenderness grow through repetition and habit. That is part of the inclination towards her that is enjoined by the command not to incline to the extreme.
Reflection: Our hearts are not wholly ours, but how we treat others is our choice; let us train ourselves to be good to our families.
يُغۡنِ
maka … akan cukupkan (keperluan)then … will provide enough (for the needs of) (AllahAllah)
Terjemahan: Dan jika keduanya bercerai, maka Allah akan cukupkan (keperluan) masing-masing dari limpah kurnia-Nya. Dan (ingatlah) Allah Maha Luas limpah kurnia-Nya, lagi Maha BijaksanaTranslation: And if the two of them separate, then Allah will provide enough (for the needs of) each one out of His abundant bounty. And (remember), Allah is All-Embracing in His bounty, All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَكِنَّهُ لَمَّا ذَكَرَ الْوَاسِعَ وَمَا أَضَافَهُ إِلَى شَيْءٍ مُعَيَّنٍ دَلَّ عَلَى أَنَّهُ وَاسِعٌ فِي جَمِيعِ الْكَمَالَاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/238 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/238 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah Allah berjanji bahawa “Allah akan cukupkan (keperluan) masing-masing dari limpah kurnia-Nya”, Dia menyifatkan diri-Nya sebagai al-Wāsi‘ (Maha Luas). Dia luas rezeki-Nya, luas kurnia-Nya, luas rahmat-Nya, luas kekuasaan-Nya dan luas ilmu-Nya; kerana sifat ini tidak dikaitkan dengan satu perkara tertentu, ia menunjukkan bahawa Dia Maha Luas dalam segala kesempurnaan.
Renungan: Apabila satu pintu tertutup dalam hidup kita, ingatlah bahawa keluasan Allah tidak pernah sempit.Al-Rāzī says that after Allah promised to make each of them sufficient from His bounty, He described Himself as al-Wāsi‘ (the All-Encompassing). He is vast in provision, bounty, mercy, power and knowledge; since this name is not tied to one particular thing, it shows that He is vast in every perfection.
Reflection: When one door closes in our lives, let us remember that Allah’s vastness never narrows.
Terjemahan: Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan demi sesungguhnya, Kami telah perintahkan orang-orang yang diberi Kitab dahulu daripada kamu, dan juga (perintahkan) kamu, iaitu hendaklah bertaqwa kepada Allah; dan jika kamu kufur ingkar, maka (ketahuilah) sesungguhnya Allah jualah yang memiliki segala yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan (ingatlah) adalah Allah Maha Kaya, lagi Maha TerpujiTranslation: And to Allah alone belongs everything that is within the heavens and that is within the earth. And indeed We have charged those to whom the Book was given before you, and also (charged) you, namely: have taqwa of Allah. And if you disbelieve, then (know that) truly to Allah alone belongs everything that is within the heavens and that is within the earth; and (remember), Allah is All-Rich, Most Praiseworthy.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْوَصِيَّةَ قَوْلٌ فِيهِ أَمْرٌ بِشَيْءٍ نَافِعٍ جَامِعٍ لِخَيْرٍ كَثِيرٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/220 · Shamela ↗ (huraian ayat 131–133)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/220 · Shamela ↗ (commentary on 131–133)
Menurut Ibn ‘Āshūr, perintah taqwa (memelihara diri daripada murka Allah) disebut sebagai waṣiyyah (pesanan), kerana pesanan ialah kata-kata yang menyuruh sesuatu yang bermanfaat dan menghimpunkan banyak kebaikan. Pesanan lazimnya ringkas supaya pendengar mengingatinya dan menghadirkannya dalam semua keadaan. Taqwa pula menghimpunkan segala kebaikan, kerana ia bermaksud menurut perintah dan menjauhi larangan.
Renungan: “hendaklah bertaqwa kepada Allah” ialah pesanan yang ringkas; marilah kita membawanya dalam setiap keadaan hidup kita.According to Ibn ‘Āshūr, the command of taqwa (guarding oneself from Allah’s displeasure) is called a waṣiyyah (charge), because a charge is speech commanding something beneficial that gathers much good. A charge is usually brief so that the listener keeps it in mind and recalls it in every situation. Taqwa in turn gathers all good, since it means following the commands and avoiding what is forbidden.
Reflection: The command to have taqwa of Allah is a brief charge; let us carry it with us in every situation of our lives.
وَكِيلًا
sebagai Pengawal (yang mentadbirkan dan menguasai segala-galanya)as a Guardian (Who manages and controls all things)
Terjemahan: Dan bagi Allah jualah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan cukuplah Allah sebagai Pengawal (yang mentadbirkan dan menguasai segala-galanya)Translation: And to Allah alone belongs what is in the heavens and what is on the earth; and Allah suffices as a Guardian (Who manages and controls all things).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لِتَقْرِيرِ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/239 · Shamela ↗ (huraian ayat 131–134)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/239 · Shamela ↗ (commentary on 131–134)
Kata ar-Rāzī, “bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi” disebut tiga kali untuk menetapkan tiga perkara: Allah Maha Pemurah, Allah Maha Kaya sehingga kebesaran-Nya tidak bertambah dengan ketaatan dan tidak berkurang dengan maksiat, dan Allah berkuasa memusnahkan serta mendatangkan kaum lain. Mengulang dalil menjadikan ilmu tentangnya lebih kuat dan lebih jelas.
Renungan: Apabila kita bertemu ayat yang berulang, janganlah menyangkanya sia-sia; setiap ulangan menanam makna baharu dalam hati kita.Al-Rāzī says the words that to Allah belongs everything that is within the heavens and the earth are given three times to establish three things: Allah is Most Generous; Allah is free of all need, so His majesty is not increased by obedience nor lessened by sin; and Allah has power to do away with people and bring others. Repeating a proof makes the knowledge of it stronger and clearer.
Reflection: When we meet a repeated verse, let us not think it needless; each repetition plants a fresh meaning in our hearts.
Terjemahan: Jika Allah menghendaki, nescaya Ia musnahkan kamu wahai umat manusia dan Ia datangkan gantinya dengan umat-umat yang lain. Dan adalah Allah Maha Kuasa melakukan yang demikian ituTranslation: If Allah wills, He would wipe you out, O mankind, and bring other peoples in your place. And Allah is All-Powerful to do that.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَى يَأْتِ بِآخَرِينَ يُوجِدُ نَاسًا آخَرِينَ يَكُونُونَ خَيْرًا مِنْكُمْ فِي تَلَقِّي الدِّينِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/221 · Shamela ↗ (huraian ayat 131–133)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/221 · Shamela ↗ (commentary on 131–133)
Menurut Ibn ‘Āshūr, seruan “wahai umat manusia” ditujukan kepada semua yang mendengar, sebagai peringatan. Maksud “Ia datangkan gantinya dengan umat-umat yang lain” ialah Allah mewujudkan manusia lain yang lebih baik daripada kamu dalam menerima agama. Ayat ini lahir daripada sifat Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Renungan: Allah tidak berhajat kepada kita; dipilih untuk memikul agama ini ialah satu kurnia, maka janganlah kita menjadi kaum yang diganti.According to Ibn ‘Āshūr, the call to mankind is addressed to all who hear it, as a warning. The meaning of bringing others in their place is that Allah would bring into being other people who are better than you at receiving the religion. This follows from Allah being free of all need and worthy of all praise.
Reflection: Allah has no need of us; being chosen to carry this religion is a gift, so let us not become a people who are replaced.
Terjemahan: Sesiapa yang mahukan pahala (balasan) dunia sahaja (maka rugilah ia), kerana di sisi Allah disediakan pahala (balasan) dunia dan akhirat. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi sentiasa MelihatTranslation: Whoever wants only the reward (recompense) of this world (then he is the loser), for there is prepared, with Allah, the reward (recompense) of both this world and the Hereafter. And (remember), Allah is always All-Hearing, All-Seeing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَمَّا كَانَ شَأْنُ التَّقْوَى عَظِيمًا عَلَى النُّفُوسِ، لِأَنَّهَا يَصْرِفُهَا عَنْهَا اسْتِعْجَالُ النَّاسِ لِمَنَافِعِ الدُّنْيَا عَلَى خَيْرَاتِ الْآخِرَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/223 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/223 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, taqwa terasa berat bagi jiwa kerana manusia tergesa-gesa mengejar manfaat dunia lebih daripada kebaikan akhirat, lalu terpaling daripada taqwa. Maka Allah mengingatkan bahawa kebaikan dunia di tangan Allah dan kebaikan akhirat juga, “di sisi Allah disediakan pahala (balasan) dunia dan akhirat”; jika mereka bertaqwa kepada-Nya, mereka memperoleh kedua-duanya.
Renungan: Kita tidak perlu memilih antara dunia dan akhirat; taqwa membuka pintu kedua-duanya.According to Ibn ‘Āshūr, taqwa weighs on the soul because people hasten after worldly benefit ahead of the good of the Hereafter, and so turn away from taqwa. So Allah reminded them that the good of this world is in His hand, and the good of the Hereafter too; with Allah is the reward of both, so if they have taqwa of Him they gain both.
Reflection: We need not choose between this world and the Hereafter; taqwa opens the door to both.
شُهَدَآءَ
lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran)and be witnesses (who make the truth clear)
فَقِيرٗا
miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa)poor (then do not hold back from being witnesses who speak the truth out of consideration for them)
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang sentiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekalipun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang didakwa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya. Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu supaya kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan ataupun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah sentiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukanTranslation: O you who believe, be people who always uphold justice, and be witnesses (who make the truth clear) for Allah’s sake, even if (it is) against you yourselves, or your parents and your kinsfolk. If that person (concerned) is rich or poor (then do not hold back from being witnesses who speak the truth out of consideration for them), for Allah is more considerate towards them both. So do not go along with your desires, so that you do not stray from justice. And if you twist your statement around, or else refuse (to be witnesses), then truly Allah is always All-Aware (knowing in depth) of what you do.
Nota nahu: فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (ayat 135).Grammar note: فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (verse 135).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ الطَّرِيقَةَ الْحَسَنَةَ أَنْ تَكُونَ مُضَايَقَةُ الْإِنْسَانِ مَعَ نَفْسِهِ فَوْقَ مُضَايَقَتِهِ مَعَ الْغَيْرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/241 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/241 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, qawwām ialah bentuk bersangatan, iaitu bersungguh-sungguh memilih keadilan dan menjauhi kezaliman. Antara huraiannya mengapa “sentiasa menegakkan keadilan” didahulukan sebelum “menjadi saksi”: kebanyakan manusia menyuruh orang lain berbuat baik, tetapi apabila tiba giliran diri sendiri mereka meninggalkannya. Maka Allah menyuruh berlaku adil dahulu, kemudian bersaksi terhadap orang lain, untuk mengingatkan bahawa jalan yang baik ialah bersikap lebih tegas terhadap diri sendiri daripada terhadap orang lain.
Renungan: Sebelum menilai orang lain, marilah kita berlaku adil terhadap diri kita sendiri.Al-Rāzī says qawwām is an intensive form: being thorough in choosing justice and avoiding wrong. One of his explanations of why upholding justice comes before bearing witness is that most people tell others to do good, but when it comes to themselves they leave it. So Allah commanded justice first, then witness concerning others, to point out that the good way is to be stricter with oneself than with others.
Reflection: Before we judge others, let us be just with ourselves.
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Tetapkanlah iman kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kepada Kitab Al-Quran yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya (Muhammad, s.a.w), dan juga kepada Kitab-kitab Suci yang telah diturunkan dahulu daripada itu. Dan sesiapa yang kufur ingkar kepada Allah, dan Malaikat-malaikat-Nya, dan Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya dan juga Hari Akhirat, maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauhTranslation: O you who believe, keep firm your faith in Allah and His Messenger, and in the Book, the Qur’an, which He has sent down upon His Messenger (Muhammad, peace be upon him), and also in the Holy Books which He sent down before that. And whoever rejects faith in Allah, and in His angels, and His Books, and His Messengers, and also the Day of the Hereafter, has truly gone astray in a straying that is very far.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْإِنْسَانَ لَا يَكُونُ قَائِمًا بِالْقِسْطِ إِلَّا إِذَا كَانَ رَاسِخَ الْقَدَمِ فِي الْإِيمَانِ بِالْأَشْيَاءِ الْمَذْكُورَةِ فِي هَذِهِ الْآيَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/242 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/242 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī, ayat ini bersambung dengan suruhan menegakkan keadilan dalam ayat sebelumnya, kerana seseorang tidak akan dapat menegakkan keadilan kecuali apabila kakinya teguh dalam iman kepada perkara-perkara yang disebut dalam ayat ini. Ar-Rāzī menukil, antara huraian para mufassir, bahawa maksud “berimanlah” di sini ialah kekallah dan tetaplah di atas iman, selaras dengan Basmeih “Tetapkanlah iman kamu”.
Renungan: Keadilan kita bergantung pada keteguhan iman kita; marilah kita sentiasa memperbaharui dan meneguhkannya.One of al-Rāzī’s explanations is that this verse is linked to the command to uphold justice in the previous verse, because a person cannot uphold justice unless his feet are firm in faith in the things named in this verse. Among the explanations al-Rāzī reports from the commentators is that the meaning of believe here is: continue and stand firm in faith, in line with Basmeih’s rendering.
Reflection: Our justice depends on how firm our faith is; let us keep renewing and strengthening it.
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, kemudian mereka kafir, kemudian mereka beriman semula, kemudian mereka kafir sekali lagi, kemudian mereka bertambah-tambah lagi dengan kekufuran, Allah tidak sekali-kali akan memberi ampun kepada mereka, dan tidak akan memberi pertunjuk hidayah kepada mereka ke jalan yang benarTranslation: Truly those who believed, then they disbelieved, then they believed again, then they disbelieved once more, then they increased further in disbelief — Allah will not ever grant forgiveness to them, and will not grant guidance to them to the path that is right.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَوْ كَانَ لِلْإِيمَانِ وَقْعٌ وَرُتْبَةٌ فِي قُلُوبِهِمْ لَمَا تَرَكُوهُ بِأَدْنَى سَبَبٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/244 · Shamela ↗ (huraian ayat 137–138)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/244 · Shamela ↗ (commentary on 137–138)
Antara huraian ar-Rāzī, ayat ini tentang orang yang berulang kali kafir selepas beriman. Ini menunjukkan iman tidak mempunyai tempat dalam hati mereka; jika iman ada nilai dan kedudukan dalam hati mereka, tentu mereka tidak meninggalkannya kerana sebab yang paling kecil. Menurutnya, maksudnya bukanlah iman yang benar tidak diterima jika mereka membawanya, tetapi ia menggambarkan betapa jauhnya kemungkinan itu.
Renungan: Biarlah iman mempunyai nilai yang besar dalam hati kita, supaya godaan kecil tidak menggugatnya.One of al-Rāzī’s explanations is that this verse concerns those who disbelieve again and again after believing. This shows that faith has no place in their hearts; had faith carried weight and rank in their hearts, they would not have left it for the slightest cause. In his view, the meaning is not that a true faith would be refused if they brought it, but it shows how unlikely that is.
Reflection: Let faith carry great weight in our hearts, so that small temptations do not shake it.
Terjemahan: Sampaikanlah khabar berita kepada orang-orang munafik: bahawa sesungguhnya disediakan untuk mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: Convey the news to the hypocrites: that truly there is (prepared) for them a punishment whose pain is beyond description.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْبِشَارَةَ هِيَ الْخَبَرُ بِمَا يَفْرَحُ الْمُخْبَرُ بِهِ، وَلَيْسَ الْعَذَابُ كَذَلِكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/233 · Shamela ↗ (huraian ayat 138–141)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/233 · Shamela ↗ (commentary on 138–141)
Menurut Ibn ‘Āshūr, menzahirkan iman lalu mengiringinya dengan kekufuran ialah sejenis ejekan terhadap Islam dan penganutnya. Maka balasannya datang dengan gaya tahakkum (sindiran yang mengejek): «بَشِّرِ», kerana bishārah (khabar gembira) ialah berita yang menggembirakan orang yang menerimanya, sedangkan azab tidak begitu.
Renungan: Jangan sekali-kali kita menjadikan agama bahan gurauan; biarlah zahir dan batin kita sama di hadapan Allah.According to Ibn ‘Āshūr, showing faith and then following it with disbelief is a kind of mockery of Islam and its people. So their recompense came in the style of tahakkum (mocking irony): «بَشِّرِ», since bishārah (glad tidings) is news that gladdens the one who hears it, and punishment is not so.
Reflection: Let us never make religion a joke; let our outward and inward be the same before Allah.
أَيَبۡتَغُونَ
tidaklah patut … (orang-orang munafik) mencariit is not fitting that … (the hypocrites) seek (merekathey)
جَمِيعٗا
semuanya (diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya)all (He gives them to whomever He wills)
Terjemahan: (Iaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Tidaklah patut mereka (orang-orang munafik) mencari kekuatan dan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu, kerana sesungguhnya kekuatan dan kemuliaan itu semuanya ialah milik Allah, (diberikan-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya)Translation: (Namely) those who adopt the disbelievers as close friends, leaving aside the believers. It is not fitting that they (the hypocrites) seek strength and honour with those disbelievers, for truly strength and honour all belong to Allah (He gives them to whomever He wills).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْقُدْرَةُ الْكَامِلَةُ للَّه، وَكُلُّ مَنْ سِوَاهُ فَبِإِقْدَارِهِ صَارَ قَادِرًا، وَبِإِعْزَازِهِ صَارَ عَزِيزًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/246 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/246 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, jika ditanya bagaimana “kekuatan dan kemuliaan itu semuanya ialah milik Allah” sejalan dengan ayat yang menyebut ‘izzah (kemuliaan) juga milik Rasul dan orang beriman, jawapannya: kekuasaan yang sempurna milik Allah; selain-Nya menjadi berkuasa kerana Allah memberinya kuasa, dan menjadi mulia kerana Allah memuliakannya. Maka kemuliaan Rasul dan orang beriman datang daripada Allah semata-mata.
Renungan: Janganlah kita mencari kemuliaan pada manusia atau kedudukan; carilah ia di sisi Allah.Al-Rāzī says that if one asks how all strength and honour belonging to Allah fits with the verse that gives ‘izzah (honour) also to the Messenger and the believers, the answer is: perfect power is Allah’s; anyone else becomes powerful because Allah empowers him, and honoured because Allah honours him. So the honour of the Messenger and the believers comes from Allah alone.
Reflection: Let us not seek honour from people or position; let us seek it with Allah.
إِنَّكُمۡ
kerana sesungguhnya kamu (jika kamu melakukan yang demikian)for truly you (if you do that)
Terjemahan: Dan sesungguhnya Allah telahpun menurunkan kepada kamu (perintah-Nya) di dalam Kitab (Al-Quran), iaitu: apabila kamu mendengar ayat-ayat keterangan Allah diingkari dan diejek-ejek (oleh kaum kafir dan munafik), maka janganlah kamu duduk (bergaul) dengan mereka sehingga mereka masuk kepada memperkatakan soal yang lain; kerana sesungguhnya (jika kamu melakukan yang demikian), tentulah kamu sama seperti mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpunkan sekalian orang munafik dan orang kafir di dalam neraka jahannamTranslation: And indeed Allah has already sent down to you (His command) in the Book (the Qur’an), namely: when you hear the signs of evidence of Allah being disbelieved in and mocked at (by the disbelievers and the hypocrites), then do not sit (and mix) with them until they move into talking about some matter other than that; for truly (if you do that), you would surely be the same as them. Truly Allah will bring together all of the hypocrites and the disbelievers in Hell (Jahannam).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِئَلَّا يَتَوَسَّلَ الشَّيْطَانُ بِذَلِكَ إِلَى اسْتِضْعَافِ حِرْصِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى سَمَاعِ الْقُرْآنِ، لِأَنَّ لِلْأَخْلَاقِ عَدْوَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/235 · Shamela ↗ (huraian ayat 138–141)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/235 · Shamela ↗ (commentary on 138–141)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ketika ayat-ayat Allah diingkari dan diejek, orang beriman pula menerima, mendengar, berusaha memahami dan mengamalkannya. Lalu mereka dilarang duduk bersama orang yang mengejek dalam keadaan itu sehingga mereka beralih kepada perkara lain, supaya syaitan tidak menjadikannya jalan untuk melemahkan semangat orang beriman mendengar al-Qur’an, kerana akhlak itu berjangkit.
Renungan: Pilihlah majlis dan teman kita dengan teliti; tinggalkan majlis yang memperolok-olokkan agama.According to Ibn ‘Āshūr, while Allah’s verses are denied and mocked, the believers receive them, listen, strive to understand and act on them. They were then forbidden to sit with the mockers in that state until they moved to another topic, so that Satan would not use it to weaken the believers’ eagerness to hear the Qur’an, for manners are contagious.
Reflection: Let us choose our gatherings and companions with care, and leave any gathering that mocks the religion.
يَتَرَبَّصُونَ
sentiasa menunggu-nunggu (berlakunya sesuatu)keep waiting (for something to happen) (merekathey)
مَّعَكُمۡ
bersama-sama kamu? (Oleh itu kami juga berhak menerima bahagian dari harta rampasan perang)alongside you? (So we too have a right to a share of the spoils of war)
ٱلۡمُؤۡمِنِينَۚ
orang-orang yang beriman (dengan mendedahkan rahsia perpaduannya)?the believers (by revealing the secrets of their unity)?
Terjemahan: (Mereka yang munafik itu ialah) orang-orang yang sentiasa menunggu-nunggu (berlakunya sesuatu) kepada kamu; maka kalau kamu mendapat kemenangan dari Allah (dalam sesuatu peperangan), berkatalah mereka (kepada kamu): "Bukankah kami turut berjuang bersama-sama kamu? (Oleh itu kami juga berhak menerima bahagian dari harta rampasan perang)". Dan jika orang-orang kafir pula mendapat bahagian (yang menguntungkan dalam peperangan), berkatalah mereka (kepada orang-orang kafir itu): "Bukankah kami turut membantu kamu dan mempertahankan kamu dari (serang balas) orang-orang yang beriman (dengan mendedahkan rahsia perpaduannya)?" Maka Allah akan menghakimi di antara kamu semua pada hari kiamat; dan Allah tidak sekali-kali akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk membinasakan orang-orang yang berimanTranslation: (Those hypocrites are) the ones who keep waiting (for something to happen) to you. So if there comes to you a victory from Allah (in some battle), they say (to you): “Did we not join in fighting alongside you? (So we too have a right to a share of the spoils of war).” And if there comes to the disbelievers, on the other hand, a share (of advantage in battle), they say (to those disbelievers): “Did we not help you and defend you from (the counter-attack of) the believers (by revealing the secrets of their unity)?” So on the Day of Resurrection Allah will pass judgement among you all; and Allah will never give the disbelievers a way to destroy the believers.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَانَ مِنْ شَأْنِ التَّلَطُّفِ بِهِمْ أَنْ يُعَقِّبَ ذَلِكَ التَّحْذِيرَ بِالشَّدِّ عَلَى الْعَضُدِ، وَالْوَعْدِ بِحُسْنِ الْعَاقِبَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/238 · Shamela ↗ (huraian ayat 138–141)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/238 · Shamela ↗ (commentary on 138–141)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Allah tidak sekali-kali akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk membinasakan orang-orang yang beriman” ialah peneguhan hati orang beriman. Pendedahan tentang tipu daya musuh boleh menimbulkan rasa takut dan bayangan kegagalan pada masa depan. Maka sebagai tanda kelembutan Allah kepada mereka, amaran itu diiringi dengan sokongan dan janji kesudahan yang baik.
Renungan: Begitulah cara Allah mendidik: amaran disertai harapan; apabila kita menasihati orang lain, iringilah juga dengan harapan.According to Ibn ‘Āshūr, the words that Allah will never give the disbelievers a way against the believers are a steadying of the believers’ hearts. Disclosing the enemy’s schemes could stir fear and images of failure in the future. So, as a sign of Allah’s gentleness to them, the warning was followed by support and a promise of a good outcome.
Reflection: This is how Allah teaches: warning joined with hope; when we advise others, let us also add hope.
يُخَٰدِعُونَ
melakukan tipu daya (terhadap ugama)practise deception (against the religion of) (merekathey)
ٱللَّهَ
Allah (dengan perbuatan pura-pura beriman sedang mereka kafir pada batinnya)Allah (by pretending to believe while inwardly they disbelieve)
خَٰدِعُهُمۡ
tetap membalas tipu daya mereka (dengan membiarkan mereka dalam keadaan munafik)surely repays their deception (by leaving them in their state of hypocrisy)
يُرَآءُونَ
(hanya bertujuan) riak (memperlihatkan sembahyangnya)(aiming only at) riya’ (showing off their prayer) (merekathey)
ٱلنَّاسَ
kepada manusia (supaya disangka bahawa mereka orang yang beriman)to people (so that they are thought to be believers)
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang munafik itu melakukan tipu daya (terhadap ugama) Allah (dengan perbuatan pura-pura beriman sedang mereka kafir pada batinnya), dan Allah pula tetap membalas tipu daya mereka (dengan membiarkan mereka dalam keadaan munafik). Mereka pula apabila berdiri hendak sembahyang, mereka berdiri dengan malas. Mereka (hanya bertujuan) riak (memperlihatkan sembahyangnya) kepada manusia (supaya disangka bahawa mereka orang yang beriman), dan mereka pula tidak mengingati Allah (dengan mengerjakan sembahyang) melainkan sedikit sekali (jarang-jarang)Translation: Truly the hypocrites practise deception (against the religion of) Allah (by pretending to believe while inwardly they disbelieve), and He (Allah), for His part, surely repays their deception (by leaving them in their state of hypocrisy). As for them, when they get up for the prayer, they get up with laziness, (aiming only at) riya’ (showing off their prayer) to people (so that they are thought to be believers), and they do not remember Allah (by performing the prayer) except very little (rarely).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالدَّاعِي إِلَى الْفِعْلِ مَتَى كَانَ كَذَلِكَ وَقَعَ الْفِعْلُ عَلَى وَجْهِ الْكَسَلِ وَالْفُتُورِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/248 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/248 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, “berdiri dengan malas” bermaksud berat dan lambat. Sebabnya, mereka merasa solat itu berat pada ketika itu, tidak mengharapkan pahala daripadanya dan tidak takut hukuman kerana meninggalkannya. Maka pendorong untuk meninggalkannya kuat, sedangkan pendorong untuk melakukannya hanyalah takut kepada manusia; apabila pendorongnya begitu, perbuatan itu dilakukan dengan malas dan lesu.
Renungan: Apabila kita terasa malas untuk solat, periksalah niat kita: adakah kita mengharapkan pahala daripada Allah?Al-Rāzī says standing lazily means heavily and slowly. The cause is that they find the prayer burdensome at that moment, hope for no reward from it and fear no punishment for leaving it. So the pull to leave it is strong, while the only push to do it is fear of people; when that is the motive, the act is done lazily and listlessly.
Reflection: When we feel lazy to pray, let us check our intention: are we hoping for reward from Allah?
مُّذَبۡذَبِينَ
(mereka) berkeadaan “muzabzab” (tidak mempunyai pendirian yang tetap)(they are) in a state of being “mudhabdhab” (having no fixed stand)
Terjemahan: Mereka berkeadaan "muzabzab" (tidak mempunyai pendirian yang tetap) antara (iman dan kufur) itu; mereka tidak berpihak terus kepada golongan (kafir) dan tidak pula berpihak kepada golongan (yang beriman). Dan sesiapa yang disesatkan oleh Allah, maka engkau (wahai Muhammad) tidak sekali-kali akan mendapat jalan untuk menyelamatkannyaTranslation: They are in a state of being “mudhabdhab” (having no fixed stand) between that (faith and disbelief): not siding fully with the (disbelieving) group, nor siding with the group (of believers). And whoever Allah leads astray — then you (O Muhammad) will by no means obtain a way for him (to save him).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الَّذِي يَقْصِدُ مِنْ فِعْلِهِ إِرْضَاءَ النَّاسِ لَا يَلْبَثُ أَنْ يَصِيرَ مُذَبْذَبًا، إِذْ يَجِدُ فِي النَّاسِ أَصْنَافًا مُتَبَايِنَةَ الْمَقَاصِدِ وَالشَّهَوَاتِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/241 · Shamela ↗ (huraian ayat 142–143)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/241 · Shamela ↗ (commentary on 142–143)
Menurut Ibn ‘Āshūr, dhabdhabah ialah kegelisahan yang sangat kerana takut atau malu. Antara huraiannya, keadaan ini berkait dengan riak (menunjuk-nunjuk) di hadapan manusia yang disebut sebelumnya: orang yang bertujuan menyenangkan manusia tidak lama kemudian menjadi “tidak mempunyai pendirian yang tetap”, kerana dia mendapati manusia berbeza-beza tujuan dan keinginan. Beliau juga membenarkan maksud terumbang-ambing antara dua pihak seperti iman dan kufur.
Renungan: Kita tidak mungkin menyenangkan semua orang; tetapkan tujuan kita untuk keredhaan Allah sahaja, nescaya pendirian kita teguh.According to Ibn ‘Āshūr, dhabdhabah is intense unrest from fear or shame. One of his explanations is that this state is tied to the showing off before people mentioned just before: whoever aims to please people soon becomes one without a fixed stand, since he finds people differing in their aims and desires. He also allows the sense of wavering between two sides such as faith and disbelief.
Reflection: We can never please everyone; let us set our aim on Allah’s good pleasure alone, and our stand will be firm.
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang yang beriman. Adakah kamu hendak mengadakan alasan yang terang nyata bagi Allah untuk (menyeksa) kamuTranslation: O you who believe, do not adopt the disbelievers as close friends, leaving aside the believers. Do you want to provide Allah with grounds that are clear and plain against you (to punish you)?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«جَعَلْتُمْ لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا، أَيْ حُجَّةً وَاضِحَةً عَلَى فَسَادِ إِيمَانِكُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/243 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/243 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, pertanyaan dalam ayat ini digunakan untuk memberi amaran. Maksudnya: jika kamu terus mengambil orang-orang kafir menjadi teman rapat dengan meninggalkan orang-orang beriman, kamu “mengadakan alasan yang terang nyata bagi Allah” ke atas kamu, iaitu hujah yang jelas tentang rosaknya iman kamu. Menurutnya, ini sindiran terhadap orang munafik.
Renungan: Perbuatan kita sendiri boleh menjadi hujah ke atas kita; marilah kita memastikan amalan kita menjadi saksi yang baik bagi iman kita.According to Ibn ‘Āshūr, the question in this verse is used as a warning. It means: if you keep taking the disbelievers as close friends instead of the believers, you provide Allah with clear grounds against you, that is, a plain proof that your faith is corrupt. In his view, this is an allusion to the hypocrites.
Reflection: Our own deeds can become proof against us; let us make sure our deeds bear good witness to our faith.
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang terkebawah sekali dari (lapisan-lapisan dalam) neraka. Dan engkau tidak sekali-kali akan mendapat sesiapa pun yang boleh menolong merekaTranslation: Truly the hypocrites are placed in the level that is lowest of all of (the layers within) the Fire. And you will not ever get, for them, anyone at all who can help.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّمَا كَانَ الْمُنَافِقُونَ فِي الدَّرَكِ الْأَسْفَلِ، أَيْ فِي أَذَلِّ مَنَازِلِ الْعَذَابِ، لِأَنَّ كُفْرَهُمْ أَسْوَأُ الْكُفْرِ لِمَا حَفَّ بِهِ مِنَ الرَّذَائِلِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/244 · Shamela ↗ (huraian ayat 145–146)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/244 · Shamela ↗ (commentary on 145–146)
Menurut Ibn ‘Āshūr, darak ialah tingkatan menurun, lawan daraj (tingkatan menaik). Orang munafik berada pada “tingkatan yang terkebawah sekali”, iaitu tempat azab yang paling hina, kerana kekufuran mereka seburuk-buruk kekufuran, disebabkan sifat-sifat keji yang mengelilinginya. Penutup ayat memutuskan harapan kepada sebarang penolong.
Renungan: Sifat-sifat keji itulah yang menjatuhkan; marilah kita memeriksa diri supaya tiada satu pun sifat nifāq (kemunafikan) bersarang dalam hati kita.According to Ibn ‘Āshūr, darak means levels going down, the opposite of daraj (levels going up). The hypocrites are in the very lowest level, the most abased place of punishment, because their disbelief is the worst disbelief, owing to the vile traits that surround it. The end of the verse cuts off hope of any helper.
Reflection: It is those vile traits that bring a person down; let us examine ourselves so that no trait of nifāq (hypocrisy) settles in our hearts.
وَأَصۡلَحُواْ
dan memperbaiki amalan mereka (yang salah)and put right their (wrong) deeds (merekathey)
Terjemahan: Kecuali orang-orang yang bertaubat (dari perbuatan munafik itu) dan memperbaiki amalan mereka (yang salah), dan mereka pula berpegang teguh kepada (ugama) Allah, serta mengerjakan ugama mereka dengan ikhlas kerana Allah, maka mereka yang demikian itu ditempatkan bersama-sama orang-orang yang beriman (di dalam Syurga); dan Allah akan memberikan orang-orang yang beriman itu pahala yang amat besarTranslation: Except those who repent (of that hypocrisy), and put right their (wrong) deeds, and hold fast to (the religion of) Allah, and practise their religion sincerely for Allah — such people are placed together with the believers (in Paradise); and Allah will give those believers a reward that is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَثَالِثُهَا: الِاعْتِصَامُ باللَّه، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ غَرَضُهُ مِنَ التَّوْبَةِ وَإِصْلَاحِ الْعَمَلِ طَلَبَ مَرْضَاةِ اللَّه تَعَالَى لَا طَلَبَ مَصْلَحَةِ الْوَقْتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/252 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/252 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini menyebut empat syarat: bertaubat daripada yang buruk, memperbaiki amalan dengan melakukan yang baik, berpegang teguh kepada Allah, iaitu tujuan taubat dan pembaikan itu mencari keredhaan Allah, bukan kepentingan semasa, dan ikhlas, iaitu tujuan itu tidak bercampur dengan tujuan lain. Jika yang dicari ialah manfaat, dia cepat berubah; jika yang dicari ialah keredhaan Allah, dia kekal di atas jalan itu.
Renungan: Taubat kita akan bertahan jika tujuannya Allah semata-mata.Al-Rāzī says this verse names four conditions: repenting from what is bad; reforming one’s deeds by doing good; holding fast to Allah, meaning the aim of that repentance and reform is to seek Allah’s good pleasure, not a passing interest; and sincerity, meaning that aim is not mixed with any other. If benefit is what one seeks, one soon changes; if Allah’s good pleasure is sought, one stays on that path.
Reflection: Our repentance will last if its aim is Allah alone.
شَاكِرًا
Membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepada-Nya)Rewarding in the best way (those who are grateful to Him)
Terjemahan: Apa gunanya Allah menyeksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmat-Nya) serta kamu beriman (kepada-Nya)? Dan (ingatlah) Allah sentiasa Membalas dengan sebaik-baiknya (akan orang-orang yang bersyukur kepada-Nya), lagi Maha Mengetahui (akan hal keadaan mereka)Translation: What use is it for Allah to punish you if you are grateful (for His favours) and have faith (in Him)? And (remember), Allah is always Rewarding in the best way (those who are grateful to Him), All-Knowing (of their state).
Nota nahu: مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ (ayat 147).Grammar note: مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ (verse 147).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّمَا الْمَقْصُودُ مِنْهُ حَمْلُ الْمُكَلَّفِينَ عَلَى فِعْلِ الْحَسَنِ وَالِاحْتِرَازِ عَنِ الْقَبِيحِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/252 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/252 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī tentang “Apa gunanya Allah menyeksa kamu sekiranya kamu bersyukur (akan nikmat-Nya) serta kamu beriman (kepada-Nya)?”: adakah Allah menyeksa untuk melepaskan geram, mendapat manfaat atau menolak mudarat? Semuanya mustahil bagi-Nya, kerana Dia Maha Kaya. Tujuannya hanyalah membawa hamba melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan; maka apabila kamu melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan, bagaimana layak dengan kemurahan-Nya untuk menyeksa kamu?
Renungan: Ancaman Allah ialah rahmat untuk membimbing kita; marilah kita menyambutnya dengan syukur dan iman.Al-Rāzī says, on the question of what use it is for Allah to punish you if you are grateful (for His favours) and have faith (in Him): would He punish to vent anger, gain a benefit or repel harm? All of that is impossible for Him, since He is free of all need. The aim is only to bring His servants to do good and avoid evil; so when you do good and leave evil, how could punishing you befit His generosity?
Reflection: Allah’s warnings are a mercy to guide us; let us answer them with gratitude and faith.
بِٱلسُّوٓءِ
(perkataan-perkataan) buruk (untuk mendedahkan kejahatan orang)ugly (to expose the wrongs of others)
Terjemahan: Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus-terang (untuk mendedahkan kejahatan orang); kecuali oleh orang yang dianiayakan. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi Maha MengetahuiTranslation: Allah does not like ugly words spoken openly (to expose the wrongs of others), except from a person who is treated unjustly. And (remember), Allah is always All-Hearing, All-Knowing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَحَذَّرَ اللَّهُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ أَنْ يَغِيظَهُمْ ذَلِكَ عَلَى مَنْ يَتَوَسَّمُونَ فِيهِ النِّفَاقَ، فَيُجَاهِرُوهُمْ بِقَوْلِ السُّوءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/5 · Shamela ↗ (huraian ayat 148–149)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/5 · Shamela ↗ (commentary on 148–149)
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah Allah mendedahkan panjang lebar keburukan orang munafik, keterangan itu boleh menimbulkan rasa benci dan marah dalam hati pendengar. Maka Allah mengingatkan orang Islam supaya tidak terbawa-bawa marah terhadap orang yang mereka sangka munafik, lalu berterus-terang menghamburkan kata-kata buruk kepadanya. Orang yang dianiaya pula diberi kelonggaran bersuara terhadap orang yang menzaliminya, sebagai mempertahankan diri.
Renungan: Janganlah kita cepat melabel orang lain munafik; jagalah lidah kita.According to Ibn ‘Āshūr, after Allah had exposed the hypocrites’ ugly ways at length, that account could stir dislike and anger in the listeners’ hearts. So Allah warned the Muslims not to let this provoke them against those they suspected of hypocrisy, and so speak evil words to them openly. The wronged, however, were allowed to speak out against the one who wronged them, as self-defence.
Reflection: Let us not be quick to label others hypocrites; let us guard our tongues.
Terjemahan: Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan, atau menyembunyikannya, atau kamu memaafkan kesalahan (yang dilakukan terhadap kamu), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha KuasaTranslation: If you show some good openly, or hide it, or pardon a wrong (done against you), then truly Allah is Most Pardoning, All-Powerful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْلَمْ أَنَّ مَعَاقِدَ الْخَيْرَاتِ عَلَى كَثْرَتِهَا مَحْصُورَةٌ فِي أَمْرَيْنِ: صِدْقٌ مَعَ الْحَقِّ، وَخُلُقٌ مَعَ الْخَلْقِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/254 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/254 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, pokok segala kebaikan, walaupun banyak, terhimpun dalam dua perkara: benar bersama Allah dan berakhlak baik bersama makhluk. Akhlak bersama makhluk pula ada dua bahagian: memberi manfaat kepada mereka, iaitu “melahirkan sesuatu kebaikan, atau menyembunyikannya”, dan menolak mudarat daripada mereka, iaitu “memaafkan kesalahan”. Maka dua kalimah ini merangkumi segala jenis kebaikan.
Renungan: Setiap hari, marilah kita bertanya: adakah kita telah memberi manfaat dan memaafkan seseorang?Al-Rāzī says the roots of all good, many as they are, come down to two things: truthfulness with Allah and good character with His creation. Good character with people has two parts: bringing them benefit, which is showing good or hiding it, and keeping harm from them, which is pardoning a wrong. So these two phrases take in every kind of good.
Reflection: Each day, let us ask ourselves: have we benefited someone and pardoned someone?
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan (orang-orang yang) hendak membeza-bezakan iman mereka di antara Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan (orang-orang yang) berkata: "Kami beriman kepada setengah Rasul-rasul itu dan kufur ingkar kepada setengahnya yang lain", serta bertujuan hendak mengambil jalan lain antara iman dan kufur ituTranslation: Truly those who reject faith in Allah and His Messengers, and (people who) want to make distinctions in their faith between Allah and His Messengers, and (people who) say: “We believe in some of those Messengers and reject faith in some others,” and aim to take another path between that faith and disbelief,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَآلُ الْجَمِيعِ وَاحِدٌ: لِأَنَّ التَّفْرِيقَ بَيْنَ الرُّسُلِ يَسْتَلْزِمُ التَّفْرِيقَ بَيْنَ اللَّهِ وَبَعْضِ رُسُلِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/10 · Shamela ↗ (huraian ayat 150–152)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 6/10 · Shamela ↗ (commentary on 150–152)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat-ayat sebelumnya, antaranya dalam surah Ali ‘Imran, memberi amaran supaya tidak membeza-bezakan antara para rasul, manakala ayat ini memberi amaran supaya tidak “membeza-bezakan iman mereka di antara Allah dan Rasul-rasul-Nya”. Kesudahannya sama, kerana membeza-bezakan antara para rasul membawa kepada memisahkan antara Allah dan sebahagian rasul-Nya.
Renungan: Kita beriman kepada semua rasul tanpa membeza-bezakan seorang pun; marilah kita memuliakan mereka semuanya.According to Ibn ‘Āshūr, earlier verses, among them in Ali ‘Imran, warn against making distinctions between the Messengers, while this verse warns against making a distinction in faith between Allah and His Messengers. The end result is the same, since distinguishing between the Messengers leads to separating Allah from some of His Messengers.
Reflection: We believe in all the Messengers without distinguishing any of them; let us honour them all.
Terjemahan: Mereka itulah orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu azab seksa yang menghinaTranslation: They are the ones who disbelieve in very truth. And We have made ready, for those disbelievers, a punishment that humiliates.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ قَبُولَ بَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ إِنْ كَانَ لِأَجْلِ الِانْقِيَادِ لِطَاعَةِ اللَّه تَعَالَى وَحُكْمِهِ وَجَبَ قَبُولُ الْكُلِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/255 · Shamela ↗ (huraian ayat 150–151)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/255 · Shamela ↗ (commentary on 150–151)
Antara huraian ar-Rāzī tentang sebab mereka disebut “orang-orang yang kafir dengan sebenar-benarnya”: jika menerima sebahagian nabi itu kerana tunduk kepada ketaatan dan hukum Allah, maka wajib menerima semuanya; jika kerana mencari kedudukan, maka hakikatnya ia kufur kepada semua nabi.
Renungan: Kita juga boleh terjebak memilih-milih dalam agama, menerima apa yang sesuai dengan kita sahaja; biarlah penerimaan kita lahir daripada ketundukan kepada Allah semata-mata.One of al-Rāzī’s explanations of why they are called truly disbelievers: if accepting some prophets comes from submitting to Allah’s obedience and rule, then all must be accepted; if it comes from seeking leadership, it is in truth disbelief in all the prophets.
Reflection: We too can be tempted to pick and choose in religion, accepting only what suits us; let our acceptance come from submission to Allah alone.
يُفَرِّقُواْ
membeza-bezakan (imannya terhadap)make distinctions (in their faith regarding) (merekathey)
Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dan mereka pula tidak membeza-bezakan (imannya terhadap) seseorang pun di antara Rasul-rasul itu, (maka) mereka yang demikian, Allah akan memberi mereka pahala mereka. Dan (ingatlah) adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: And those who have faith in Allah and His Messengers and they for their part do not make distinctions (in their faith regarding) any one of those Messengers — (then) such people, Allah will give them their rewards. And (remember), Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَاهُ أَنَّ إِيتَاءَهَا كَائِنٌ لَا مَحَالَةَ وَإِنْ تَأَخَّرَ فَالْغَرَضُ بِهِ تَوْكِيدُ الْوَعْدِ وَتَحْقِيقُهُ لَا كَوْنُهُ مُتَأَخِّرًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/256 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/256 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, maksud “Allah akan memberi mereka pahala mereka” ialah pemberian itu pasti berlaku walaupun tertangguh; tujuannya menegaskan dan memastikan janji itu, bukan menunjukkan ia lambat. Kemudian “Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani” bermaksud Allah menjanjikan pahala, lalu memberitahu bahawa Dia akan memaafkan dan mengampunkan keburukan mereka.
Renungan: Janji Allah pasti; jangan kita berputus asa walaupun ganjarannya belum kelihatan.Al-Rāzī says the meaning of Allah giving them their reward is that the giving will surely happen even if delayed; the aim is to stress and confirm the promise, not to show that it is late. Then Most Forgiving, Most Merciful means Allah promised them reward, then told them He will pardon and forgive their bad deeds.
Reflection: Allah’s promise is certain; let us not lose hope even when the reward is not yet seen.