Terjemahan: Dan apabila kamu musafir di muka bumi, maka kamu tidaklah berdosa "mengqasarkan" (memendekkan) sembahyang jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang amat nyata bagi kamuTranslation: And when you travel on the face of the earth, then there is no sin upon you in “qasr” (shortening) of the prayer if you fear being attacked by those who disbelieve. Truly the disbelievers are an enemy to you that is most clear.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْلَمْ أَنَّ أَحَدَ الْأُمُورِ الَّتِي يَحْتَاجُ الْمُجَاهِدُ إِلَيْهَا مَعْرِفَةُ كَيْفِيَّةِ أَدَاءِ الصَّلَاةِ فِي زَمَانِ الْخَوْفِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/199 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/199 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, antara perkara yang diperlukan oleh orang yang berjuang (mujāhid) ialah mengetahui cara menunaikan sembahyang pada waktu takut dan ketika sibuk menghadapi musuh; kerana itu Allah menyebutnya dalam ayat ini. Menurutnya juga, lafaz qaṣr (memendekkan) membawa makna keringanan (takhfīf).
Renungan: Allah tidak mahu menyusahkan hamba-Nya; marilah kita mensyukuri kemudahan yang Dia berikan dan tidak mengabaikan hubungan kita dengan-Nya walau dalam keadaan susah.Al-Rāzī says one of the things a mujāhid (one striving in Allah’s cause) needs is to know how to perform the prayer in a time of fear and while busy facing the enemy; that is why Allah mentions it in this verse. He also says the word qaṣr (shortening) carries the sense of lightening (takhfīf).
Reflection: Allah does not wish to burden His servants; let us be grateful for the ease He gives and not neglect our bond with Him even in hard times.
فَلۡتَقُمۡ
maka hendaklah … berdiri (mengerjakan sembahyang)then let … stand (performing the prayer) (sepuak ta’ifatunone group ṭā’ifatun)
وَرَآئِكُمۡ
belakang (untuk menjaga serbuan musuh)the rear (to guard against the enemy’s attack)
يُصَلُّواْ
sembahyang (kerana menjaga serbuan musuh)prayed (being on guard against the enemy’s attack) (merekathey)
فَلۡيُصَلُّواْ
maka hendaklah … bersembahyang (berjamaah)and let … pray (in congregation) (merekathey)
فَيَمِيلُونَ
supaya (dengan jalan itu) … dapat menyerbuso that (by that means) … could fall (merekathey)
Terjemahan: Dan apabila engkau (wahai Muhammad) berada dalam kalangan mereka (semasa perang), lalu engkau mendirikan sembahyang dengan (menjadi imam) mereka, maka hendaklah sepuak dari mereka berdiri (mengerjakan sembahyang) bersama-samamu, dan hendaklah mereka menyandang senjata masing-masing; kemudian apabila mereka telah sujud, maka hendaklah mereka berundur ke belakang (untuk menjaga serbuan musuh); dan hendaklah datang pula puak yang lain (yang kedua) yang belum sembahyang (kerana menjaga serbuan musuh), maka hendaklah mereka bersembahyang (berjamaah) bersama-samamu, dan hendaklah mereka mengambil langkah berjaga-jaga serta menyandang senjata masing-masing. Orang-orang kafir memang suka kalau kamu cuai lalai akan senjata dan harta benda kamu, supaya dengan jalan itu mereka dapat menyerbu kamu beramai-ramai dengan serentak. Dan tidaklah kamu berdosa meletakkan senjata masing-masing, jika kamu dihalangi sesuatu yang menyusahkan disebabkan hujan atau kamu sakit. Dan hendaklah kamu mengambil langkah berjaga-jaga. Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu azab seksa yang amat menghinaTranslation: And when you (O Muhammad) are among them (in time of war), and you perform the prayer with them (as their imam), then let one group of them stand (performing the prayer) together with you, and let them bear their own weapons; then when they have prostrated, let them move to the rear (to guard against the enemy’s attack); and let another (the second) group, that has not yet prayed (being on guard against the enemy’s attack), come, and let them pray (in congregation) together with you, and let them take precautions and (bear) their own weapons. Those who disbelieve would love it if you were careless of your weapons and your belongings, so that (by that means) they could fall upon you in a mass attack, all at once. And there is no sin upon you in laying down your weapons if there is something troublesome hindering you, caused by rain, or you are ill. And take your precautions. Truly Allah has made ready for those disbelievers a punishment that is most humiliating.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلِيُعَوِّدَهُمْ بِالْأَخْذِ بِالْحَزْمِ فِي كُلِّ الْأُمُورِ، وَلِيُرِيَهُمْ أَنَّ صَلَاحَ الدِّينِ وَالدُّنْيَا صِنْوَانٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/187 · Shamela ↗ (huraian ayat 101–102)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/187 · Shamela ↗ (commentary on 101–102)
Menurut Ibn ‘Āshūr, keinginan orang kafir supaya orang Islam cuai akan senjata dan barang-barang mereka lahir daripada sangkaan bahawa kesibukan dengan urusan agama menjauhkan orang Islam daripada kepentingan dunia; mereka berharap sembahyang melalaikan orang Islam daripada bersiap. Lalu Allah mengingatkan orang beriman supaya tidak menjadi seperti sangkaan itu, membiasakan mereka bertegas dan berhati-hati (ḥazm) dalam segala urusan, dan menunjukkan bahawa kebaikan agama dan dunia berjalan seiring.
Renungan: Ibadat tidak menjadikan kita cuai; sembahyang yang kita jaga sepatutnya melahirkan diri yang cermat dalam semua urusan.According to Ibn ‘Āshūr, the wish of those who disbelieve that the Muslims would neglect their weapons and belongings came from the assumption that being busy with matters of religion keeps Muslims away from their worldly interests; they hoped the prayer would distract the Muslims from being ready. So Allah alerted the believers not to live up to that assumption, trained them to be firm and careful (ḥazm) in all matters, and showed them that the good of religion and of this world go together.
Reflection: Worship does not make us careless; the prayer we guard should produce a self that is careful in every matter.
فَٱذۡكُرُواْ
maka hendaklah … menyebut dan mengingatithen mention and remember (kamu sekalianyou all)
ٱطۡمَأۡنَنتُمۡ
telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman)feel at peace (being in a state of safety) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan sembahyang, maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa tenteram (berada dalam keadaan aman) maka dirikanlah sembahyang itu (dengan sempurna sebagaimana biasa). Sesungguhnya sembahyang itu adalah satu ketetapan yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman, yang tertentu waktunyaTranslation: Then when you have finished the prayer, mention and remember Allah while standing or sitting, and while lying on your sides. Then when you feel at peace (being in a state of safety), perform the prayer (in full, as usual). Truly the prayer is an obligation made binding upon the believers, whose times are fixed.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ مِنَ الْخَوْفِ وَالْحِذْرِ مَعَ الْعَدُوِّ جَدِيرٌ بِالْمُوَاظَبَةِ عَلَى ذِكْرِ اللَّه وَالتَّضَرُّعِ إِلَيْهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/208 · Shamela ↗ (huraian ayat 102–103)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/208 · Shamela ↗ (commentary on 102–103)
Antara huraian ar-Rāzī, “maka hendaklah kamu menyebut dan mengingati Allah semasa kamu berdiri atau duduk, dan semasa kamu berbaring” bermaksud: apabila selesai sembahyang dalam keadaan takut, tekunlah berzikir dalam semua keadaan, kerana ketakutan dan kewaspadaan terhadap musuh itu sendiri layak disertai zikir dan rayuan (taḍarru‘) kepada Allah. Kata ar-Rāzī lagi, “yang tertentu waktunya” bermaksud sembahyang diwajibkan pada waktu-waktu yang ditetapkan.
Renungan: Semakin cemas keadaan kita, semakin perlu kita berzikir; dan sesibuk mana pun, marilah kita menjaga sembahyang pada waktunya.One of al-Rāzī’s explanations is that the command to mention and remember Allah while standing, sitting and lying down means: once you have finished the prayer in a state of fear, keep up the remembrance of Allah in every state, for the fear and watchfulness you feel towards the enemy is itself worthy of constant remembrance and humble pleading (taḍarru‘) to Allah. Al-Rāzī also says that its having fixed times means the prayer is made obligatory at set times.
Reflection: The more anxious our situation, the more we need to remember Allah; and however busy we are, let us guard the prayer at its times.
تَأۡلَمُونَ
menderita sakit (luka atau mati)suffering pain (wounds or death) (kamu sekalianyou all)
يَرۡجُونَۗ
harapkan (iaitu balasan yang baik pada hari akhirat kelak)hope for (namely a good reward in the Hereafter) (merekathey)
Terjemahan: Dan janganlah kamu lemah (hilang semangat) dalam memburu musuh (yang menceroboh) itu; kerana kalau kamu menderita sakit (luka atau mati) maka sesungguhnya mereka pun menderita sakitnya seperti penderitaan kamu; sedang kamu mengharapkan dari Allah apa yang mereka tidak harapkan (iaitu balasan yang baik pada hari akhirat kelak). Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha BijaksanaTranslation: And do not grow weak (lose heart) in pursuing the enemy (the aggressors); for if you are suffering pain (wounds or death), then truly they too suffer pain just as you suffer, while you hope from Allah for what they do not hope for (namely a good reward in the Hereafter). And (remember), Allah is All-Knowing, All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ لَا يُكَلِّفُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَأْمُرُكُمْ وَلَا يَنْهَاكُمْ إِلَّا بِمَا هُوَ عَالِمٌ بِأَنَّهُ سَبَبٌ لِصَلَاحِكُمْ في دينكم ودنياكم»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/210 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/210 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, orang beriman lebih layak bersabar kerana mereka meyakini pahala, hukuman dan hari kebangkitan, sedangkan pihak musuh tidak meyakininya; itulah maksud “kamu mengharapkan dari Allah apa yang mereka tidak harapkan”. Penutup ayat “Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana” pula bermaksud Allah tidak membebankan, tidak menyuruh dan tidak melarang kamu melainkan dengan apa yang Dia ketahui menjadi sebab kebaikan kamu dalam agama dan dunia kamu.
Renungan: Setiap suruhan dan larangan Allah ada kebaikannya untuk kita; apabila terasa berat, ingatlah apa yang kita harapkan daripada-Nya.Al-Rāzī says the believers are more fitting to stay patient because they affirm reward, punishment and the resurrection while the enemy does not; that is the meaning of your hoping from Allah what they do not hope for. And the closing words, that Allah is All-Knowing, All-Wise, mean He does not burden you, command you or forbid you anything except what He knows to be a means to your good in your religion and your worldly life.
Reflection: Every command and prohibition of Allah holds good for us; when it feels heavy, let us remember what we hope for from Him.
أَرَىٰكَ
telah tunjukkan kepadamu (melalui wahyu-Nya)has shown you (through His revelation) (AllahAllah)
Terjemahan: Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab (Al-Quran) dengan membawa kebenaran, supaya engkau menghukum di antara manusia menurut apa yang Allah telah tunjukkan kepadamu (melalui wahyu-Nya); dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang khianatTranslation: Truly We have sent down to you (O Muhammad) the Book (the Qur’an) bearing the truth, so that you may pass judgement among mankind according to what Allah has shown you (through His revelation); and do not be a defender for those who are treacherous.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَنَّ كُفْرَ الْكَافِرِ لَا يُبِيحُ الْمُسَامَحَةَ بِالنَّظَرِ لَهُ، بَلِ الْوَاجِبُ فِي الدِّينِ أَنْ يَحْكُمَ لَهُ وَعَلَيْهِ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى رَسُولِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/211 · Shamela ↗ (huraian ayat 105–106)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/211 · Shamela ↗ (commentary on 105–106)
Antara huraian ar-Rāzī tentang kaitan ayat ini: setelah Allah menyuruh berjuang menghadapi orang kafir, Dia menerangkan bahawa tidak boleh mengkhianati mereka atau menuduh mereka dengan apa yang tidak mereka lakukan. Kekufuran seseorang tidak mengharuskan sikap bermudah-mudah terhadap haknya; yang wajib dalam agama ialah menghukum, sama ada untuknya atau ke atasnya, dengan apa yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, supaya tiada kezaliman menimpanya.
Renungan: Keadilan yang Allah suruh “menghukum di antara manusia” tidak memilih bulu; marilah kita berlaku adil walaupun kepada orang yang berbeza dengan kita.One of al-Rāzī’s explanations of how this verse connects is that, after Allah commanded striving against those who disbelieve, He made clear that it is not allowed to betray them or to pin on them what they did not do. A person’s disbelief does not permit any laxity towards his rights; what religion requires is to judge for him or against him by what Allah sent down to His Messenger, so that no injustice falls on him.
Reflection: The justice Allah commands in judging between people does not take sides; let us be just even to those who differ from us.
Terjemahan: Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: And ask forgiveness of Allah; for truly Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ لِلْخَائِنِينَ لِيُلْهِمَهُمْ إِلَى التَّوْبَةِ بِبَرَكَةِ اسْتِغْفَارِكَ لَهُمْ فَذَلِكَ أَجْدَرُ مِنْ دِفَاعِ الْمُدَافِعِينَ عَنْهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/193 · Shamela ↗ (huraian ayat 105–109)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/193 · Shamela ↗ (commentary on 105–109)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr, suruhan “hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah” bermaksud: mohonlah ampun kepada Allah bagi orang-orang yang khianat itu, supaya Allah mengilhamkan mereka untuk bertaubat dengan berkat istighfar (permohonan ampun) itu; yang demikian lebih layak daripada pembelaan orang-orang yang membela mereka.
Renungan: Apabila orang yang kita sayangi bersalah, janganlah kita membela kesalahannya; doakanlah agar dia bertaubat.One of Ibn ‘Āshūr’s explanations is that the command to seek forgiveness from Allah means: seek Allah’s forgiveness for those who betray, so that He inspires them to repent through the blessing of that istighfār (seeking forgiveness); this is more fitting than the defence put up by those who defend them.
Reflection: When someone dear to us does wrong, let us not defend the wrong; let us pray that he repents.
Terjemahan: Dan janganlah engkau berbahas untuk membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang selalu melakukan khianat, lagi sentiasa berdosaTranslation: And do not argue in defence of those who betray their own selves. Truly Allah does not love those who are constantly treacherous and always sinful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ مَنْ أَقْدَمَ عَلَى الْمَعْصِيَةِ فَقْدَ حَرَمَ نَفْسَهُ الثَّوَابَ وَأَوْصَلَهَا إِلَى الْعِقَابِ، فَكَانَ ذَلِكَ مِنْهُ خِيَانَةً مَعَ نَفْسِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/213 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/213 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ikhtiyān sama maknanya dengan khianat. Mereka disebut “mengkhianati diri mereka sendiri” kerana sesiapa yang berani melakukan maksiat telah menghalang dirinya daripada pahala dan membawanya kepada hukuman; itulah khianat terhadap diri sendiri. Kerana makna ini juga, orang yang menzalimi orang lain dikatakan telah menzalimi dirinya.
Renungan: Setiap dosa yang kita lakukan, walaupun terhadap orang lain, sebenarnya mengkhianati diri kita sendiri.Al-Rāzī says ikhtiyān has the same meaning as betrayal. They are described as betraying their own selves because whoever dares to commit a sin has deprived himself of reward and brought himself to punishment; that is a betrayal of one’s own self. For the same reason, one who wrongs another is said to have wronged himself.
Reflection: Every sin we commit, even against others, is in truth a betrayal of our own selves.
Terjemahan: Mereka menyembunyikan (kejahatan mereka) daripada manusia, dalam pada itu mereka tidak menyembunyikan (kejahatan mereka) daripada Allah. Padahal Allah ada bersama-sama mereka, ketika mereka merancangkan pada malam hari, kata-kata yang tidak diredhai oleh Allah. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Meliputi Pengetahuan-Nya akan apa yang mereka lakukanTranslation: They hide (their wrongdoing) from people, yet they do not hide (it) from Allah, while He (Allah) is with them when they plan by night what He is not pleased with in the way of speech. And (remember), Allah is always Encompassing (in His knowledge) of what they do.
Nota nahu: وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا (ayat 108).Grammar note: وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا (verse 108).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالِاسْتِخْفَاءُ مِنَ اللَّهِ مُسْتَعْمَلٌ مَجَازًا فِي الْحَيَاءِ، إِذْ لَا يَعْتَقِدُ أَحَدٌ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ أَنَّهُ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَخْفِيَ مِنَ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/194 · Shamela ↗ (huraian ayat 105–109)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/194 · Shamela ↗ (commentary on 105–109)
Menurut Ibn ‘Āshūr, yang menghairankan tentang keadaan mereka ialah mereka bersembunyi daripada manusia tetapi tidak bersembunyi daripada Allah. Ungkapan bersembunyi daripada Allah di sini digunakan secara kiasan (majāz) bagi makna malu, kerana tiada seorang pun yang beriman kepada Allah menyangka dia mampu bersembunyi daripada-Nya. Merancang pada malam hari (tabyīt) pula bermaksud mengatur sesuatu pada waktu malam supaya tersembunyi.
Renungan: Sering kita lebih malu kepada manusia daripada kepada Allah; marilah kita malu kepada-Nya walaupun ketika bersendirian.According to Ibn ‘Āshūr, what is strange about their state is that they hide from people but do not hide from Allah. Hiding from Allah is used here figuratively (majāz) for the sense of shame, since no one who believes in Allah thinks he is able to hide from Him. Plotting by night (tabyīt) means arranging something at night so that it stays hidden.
Reflection: We are often more ashamed before people than before Allah; let us feel shame before Him even when we are alone.
هَٰٓؤُلَآءِ
adalah orang-orang (yang telah menyimpang dari kebenaran)are the people (who have strayed from the truth)
وَكِيلٗا
pelindung (dari azab seksa yang disediakan oleh Allah)a protector (from the punishment prepared by Allah)
Terjemahan: Sedarlah! Kamu ini adalah orang-orang (yang telah menyimpang dari kebenaran), kamu telah berhujah membela mereka (yang bersalah) dalam kehidupan dunia ini, maka siapakah yang akan berhujah kepada Allah untuk membela mereka itu pada hari kiamat kelak? Atau siapakah yang akan menjadi pelindung mereka (dari azab seksa yang disediakan oleh Allah)Translation: Behold! You are the people (who have strayed from the truth): you have argued in defence of them (the guilty) in the life of this world, then who will argue with Allah in defence of them on the Day of Resurrection to come? Or who is it that will be a protector for them (from the punishment prepared by Allah)?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْوَكِيلُ هُوَ الَّذِي وُكِلَ إِلَيْهِ الْأَمْرُ فِي الْحِفْظِ وَالْحِمَايَةِ، وَالْمَعْنَى: مَنِ الَّذِي يَكُونُ مُحَافِظًا وَمُحَامِيًا لَهُمْ مِنْ عَذَابِ اللَّه؟»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/214 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/214 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, maksud ayat ini: andaikan kamu berhujah membela mereka di dunia, siapakah yang akan membela mereka di akhirat apabila Allah mengenakan azab-Nya? Pertanyaan itu membawa makna teguran keras (tawbīkh). Wakīl pula ialah orang yang diserahkan urusan menjaga dan melindungi; maksudnya, siapakah yang dapat menjaga dan melindungi mereka daripada azab Allah?
Renungan: Pembelaan manusia di dunia tidak berguna di hadapan Allah; janganlah kita membela orang yang bersalah hanya kerana dia orang kita.Al-Rāzī says the meaning is: suppose you argue in their defence in this world, who will argue for them in the Hereafter when Allah seizes them with His punishment? The question carries a strong rebuke (tawbīkh). A wakīl is one to whom the matter of guarding and protecting is entrusted; so the meaning is, who can guard and protect them from Allah’s punishment?
Reflection: People’s defence in this world is of no use before Allah; let us not defend someone in the wrong only because he is one of our own.
Terjemahan: Dan sesiapa yang melakukan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri (dengan melakukan maksiat) kemudian ia memohon ampun kepada Allah, nescaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: And whoever commits an evil deed or does injustice to his own self (by committing sins), then asks forgiveness of Allah, he will surely find that Allah is Most Forgiving, Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُ عَامُّ الْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ فَلَا يَخْرُجُ مِنْهَا أَحَدٌ اسْتَغْفَرَهُ وَتَابَ إِلَيْهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/196 · Shamela ↗ (huraian ayat 110–113)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/196 · Shamela ↗ (commentary on 110–113)
Menurut Ibn ‘Āshūr, istighfar di sini ialah taubat dan memohon keampunan Allah atas dosa yang lalu. “nescaya ia akan mendapati” bermaksud keampunan itu pasti berlaku. Sifat Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani di sini menunjukkan keampunan dan rahmat-Nya yang umum dan segera: tiada seorang pun yang memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya terkeluar daripadanya, lalu ayat ini menunjukkan bahawa taubat setiap orang yang bertaubat diterima dengan kurnia Allah.
Renungan: Janganlah kita berputus asa kerana dosa; pintu keampunan Allah terbuka setiap kali kita kembali.According to Ibn ‘Āshūr, seeking forgiveness here means repenting and asking Allah to pardon past sins. The words “he will surely find” mean the forgiveness surely takes place. Allah being Most Forgiving, Most Merciful here points to His forgiveness and mercy being general and swift: no one who seeks His forgiveness and turns to Him in repentance is left out of it, so the verse shows that the repentance of every penitent is accepted by Allah’s grace.
Reflection: Let us not despair because of our sins; the door of Allah’s forgiveness is open every time we return.
Terjemahan: Dan sesiapa yang mengerjakan sesuatu dosa maka sesungguhnya ia hanya mengerjakannya untuk (menjadi bala bencana yang) menimpa dirinya sendiri. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha BijaksanaTranslation: And whoever commits a sin, then truly he only commits it to (become a calamity) falling upon his own self. And (remember), Allah is All-Knowing, All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ مِنْهُ تَرْغِيبُ الْعَاصِي فِي الِاسْتِغْفَارِ كَأَنَّهُ تَعَالَى يَقُولُ: الذَّنْبُ الَّذِي أَتَيْتَ بِهِ مَا عَادَتْ مَضَرَّتُهُ إِلَيَّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/215 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/215 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini termasuk kata-kata yang menggalakkan taubat. Tujuannya mendorong orang yang berbuat maksiat supaya beristighfar, seolah-olah Allah berfirman: dosa yang engkau lakukan itu tidak memudaratkan-Ku, kerana Aku Maha Suci daripada manfaat dan mudarat; maka jangan berputus asa daripada penerimaan taubat. Allah Maha Mengetahui isi hatinya ketika dia bertaubat, dan hikmah serta rahmat-Nya menuntut Dia memaafkan orang yang bertaubat.
Renungan: Dosa kita hanya merugikan diri kita sendiri; maka segeralah kita bertaubat dan jangan berputus asa.Al-Rāzī says this verse is among the words that encourage repentance. Its aim is to move the sinner to seek forgiveness, as though Allah were saying: the sin you committed does not harm Me, for I am far above benefit and harm; so do not despair of repentance being accepted. Allah knows what is in his heart when he turns to repentance, and His wisdom and mercy call for pardoning the one who repents.
Reflection: Our sins harm only ourselves; so let us hasten to repent and never despair.
Terjemahan: Dan sesiapa yang melakukan suatu kesalahan atau suatu dosa, kemudian ia menuduhnya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah memikul kesalahan berbuat dusta, dan melakukan dosa yang amat nyataTranslation: And whoever commits a fault or a sin, then charges with it someone who is not guilty, has truly borne the guilt of falsehood and (committed) a sin that is most clear.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ رَمْيَ الْبَرِيءِ بِالْجَرِيمَةِ فِي ذَاتِهِ كَبِيرَةٌ لِمَا فِيهِ مِنَ الِاعْتِدَاءِ عَلَى حَقِّ الْغَيْرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/196 · Shamela ↗ (huraian ayat 110–113)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/196 · Shamela ↗ (commentary on 110–113)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “menuduhnya kepada orang yang tidak bersalah” bermaksud menisbahkan kesalahan itu kepadanya dan berhelah untuk menyebarkannya, seolah-olah dia mencabut dosa itu daripada dirinya lalu melemparkannya kepada orang yang tidak bersalah. Menuduh orang yang tidak bersalah dengan sesuatu jenayah pada dirinya sendiri ialah dosa besar, kerana ia mencerobohi hak orang lain; perkataan “memikul” pula menggambarkan beratnya, seperti susahnya orang yang menanggung beban.
Renungan: Sebelum menuding jari, periksalah diri; janganlah kita menyelamatkan nama sendiri dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah.According to Ibn ‘Āshūr, throwing the blame on an innocent person means attributing the wrong to him and scheming to spread it, as though one pulled the sin off oneself and hurled it at the innocent. Accusing an innocent person of a crime is in itself a major sin, because it violates another person’s right; and the word carrying pictures its weight, like the toil of one who bears a heavy load.
Reflection: Before pointing a finger, let us examine ourselves; let us never save our own name by sacrificing the innocent.
لَهَمَّت
nescaya berhasillah cita-citasurely … would have achieved its aim (segolongan ta’ifatuna group ṭā’ifatun)
Terjemahan: Dan kalaulah tidak kerana limpah kurnia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (wahai Muhammad), nescaya berhasillah cita-cita segolongan dari mereka yang bertujuan hendak menyesatkanmu, padahal mereka tidak akan menyesatkan melainkan dirinya sendiri; dan juga mereka tidak akan dapat mendatangkan mudarat kepadamu sedikitpun; dan (selain itu) Allah telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) serta Hikmah (pengetahuan yang mendalam), dan telah mengajarkanmu apa yang engkau tidak mengetahuinya. Dan adalah kurnia Allah yang dilimpahkan-Nya kepadamu amatlah besarTranslation: And were it not for the bounty of Allah and His mercy upon you (O Muhammad), surely a group of them, which sought to mislead you, would have achieved its aim; yet they do not mislead (anyone) except their own selves, and they cannot bring harm to you in the least. And (besides that) Allah has sent down to you the Book (the Qur’an) and the Wisdom (deep knowledge), and has taught you what you had not known. And the bounty of Allah that He has bestowed upon you is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا مِنْ أَعْظَمِ الدَّلَائِلِ عَلَى أَنَّ الْعِلْمَ أَشْرَفُ الْفَضَائِلِ وَالْمَنَاقِبِ وَذَلِكَ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى مَا أَعْطَى الْخَلْقَ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا الْقَلِيلَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/217 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/217 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah menyebut bahawa Allah telah menurunkan Kitab dan Hikmah serta mengajarkan Nabi Muhammad s.a.w. apa yang baginda tidak ketahui, Allah menyifatkan kurnia-Nya kepada baginda sebagai amat besar. Ini antara dalil terbesar bahawa ilmu ialah kelebihan yang paling mulia, kerana Allah hanya memberi makhluk sedikit ilmu, namun yang sedikit itu dinamakan-Nya besar, sedangkan seluruh kesenangan dunia dinamakan-Nya sedikit.
Renungan: Ilmu agama yang kita pelajari ialah kurnia Allah yang besar; marilah kita menghargainya lebih daripada harta dunia.Al-Rāzī says that after mentioning that Allah sent down the Book and Wisdom and taught the Prophet Muhammad what he did not know, Allah describes His bounty upon him as great. This is among the greatest proofs that knowledge is the noblest of virtues, for Allah gave creation only a little knowledge, yet He called that little great, while He called all the enjoyment of this world little.
Reflection: The knowledge of religion we learn is a great bounty from Allah; let us value it above worldly wealth.
Terjemahan: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mendamaikan di antara manusia. Dan sesiapa yang berbuat demikian dengan maksud mencari keredhaan Allah, tentulah Kami akan memberi kepadanya pahala yang amat besarTranslation: No good is found in most of their whisperings, except (the whisperings of) one who tells (people) to give charity, or to do good, or to make peace between people. And whoever does so with the aim of seeking the pleasure of Allah, surely We will give him a reward that is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِلَّا أَنَّ الثَّوَابَ لَا يَحْصُلُ إِلَّا عَنْ فِعْلِهَا ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/200 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/200 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, tiga perkara iaitu sedekah, kebaikan dan mendamaikan manusia disebut secara pengecualian untuk menonjolkan kepentingannya, walaupun yang berbisik tentangnya itu orang yang biasanya berniat buruk. Ketiganya tetap baik kerana manfaatnya dan kerana ia disuruh oleh syarak, namun pahala hanya diperoleh apabila ia dilakukan “dengan maksud mencari keredhaan Allah”.
Renungan: Perbualan sulit kita, adakah ke arah kebaikan? Dan kebaikan yang kita lakukan, adakah kerana Allah?According to Ibn ‘Āshūr, the three things, charity, good deeds and making peace between people, are named by way of exception to stress their importance, even when those whispering about them are people whose aims are usually bad. All three remain good because of their benefit and because the Shariah commands them, but the reward is gained only when they are done with the aim of seeking the pleasure of Allah.
Reflection: Do our private talks lead to good? And the good we do, is it for Allah?
نُوَلِّهِۦ
… akan memberikannya kuasa untuk melakukan… will give him the power to carry out (KamiWe)
وَنُصۡلِهِۦ
dan (pada hari akhirat kelak) … akan memasukkannya ke dalamand (in the Hereafter) … will put him into (KamiWe)
Terjemahan: Dan sesiapa yang menentang (ajaran) Rasulullah sesudah terang nyata kepadanya kebenaran pertunjuk (yang dibawanya), dan ia pula mengikut jalan yang lain dari jalan orang-orang yang beriman, Kami akan memberikannya kuasa untuk melakukan (kesesatan) yang dipilihnya, dan (pada hari akhirat kelak) Kami akan memasukkannya ke dalam neraka jahanam; dan neraka jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat kembaliTranslation: And whoever opposes (the teaching of) Allah’s Messenger after the truth of the guidance (that he brought) has become clear to him, and also follows a way apart from the way of those who believe, We will give him the power to carry out (the misguidance) that he chose, and (in the Hereafter) We will put him into Hell (Jahannam); and (Hell) is the worst place of return.
Nota nahu: مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ (ayat 115).Grammar note: مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ (verse 115).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالسَّبِيلُ مُسْتَعَارٌ لِلِاعْتِقَادَاتِ وَالْأَفْعَالِ وَالْعَادَاتِ، الَّتِي يُلَازِمُهَا أَحَدٌ وَلَا يَبْتَغِي التَّحَوُّلَ عَنْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/201 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/201 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sabīl (jalan) sesuatu kaum ialah cara yang mereka lalui sesuai dengan sifat khusus mereka. Perkataan ini dipinjam bagi kepercayaan, perbuatan dan kebiasaan yang dipegang seseorang tanpa mahu berpaling daripadanya, seperti orang yang menuju sesuatu tempat terus melalui jalan yang membawanya ke sana.
Renungan: Jalan orang-orang yang beriman merangkumi akidah, amal dan kebiasaan mereka; marilah kita pastikan langkah harian kita tetap di atas jalan itu.According to Ibn ‘Āshūr, the sabīl (way) of a people is the path they follow in keeping with their particular character. The word is borrowed for the beliefs, deeds and habits a person holds to without wishing to turn from them, just as one heading for a place keeps to the road that takes him there.
Reflection: The way of the believers covers their creed, their deeds and their habits; let us make sure our daily steps stay on that way.
يَشَآءُۚ
kehendaki (menurut peraturan hukum-hukum-Nya)wills (according to the rule of His laws) (DiaHe)
Terjemahan: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu (apa jua), dan akan mengampunkan yang lain daripada kesalahan (syirik) itu bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut peraturan hukum-hukum-Nya); dan sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu (apa jua), maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauhTranslation: Truly Allah will not forgive the sin of associating (partners) with Him (with anything at all), and will forgive what is other than that (sin of shirk) for whomever He wills (according to the rule of His laws). And whoever associates (partners) with Allah (with anything at all) has truly gone astray, in a straying that is very far.
Nota nahu: أَن يُشْرَكَ بِهِۦ (ayat 116).Grammar note: أَن يُشْرَكَ بِهِۦ (verse 116).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْكَلَامُ مُوَجَّهٌ إِلَى الْمُسْلِمِينَ فَنُبِّهُوا عَلَى أَنَّ الشِّرْكَ مِنَ الضَّلَالِ تَحْذِيرًا لَهُمْ مِنْ مُشَاقَّةِ الرَّسُولِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/202 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/202 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, dalam ayat ini percakapan ditujukan kepada orang Islam: mereka diingatkan bahawa syirik (menyekutukan Allah) termasuk dalam kesesatan, sebagai amaran supaya mereka tidak menentang Rasul dan tidak mengikut keadaan orang munafik, kerana semua itu sejenis kesesatan. Perkataan “amat jauh” pula dipinjam bagi kesesatan yang kuat jenisnya, kerana tempat yang jauh menghalang orang yang berada di situ daripada kembali ke tempat asalnya.
Renungan: Amaran ini untuk kita; jagalah Tauhid (mengesakan Allah) kita, dan jangan biarkan diri hanyut terlalu jauh sehingga sukar kembali.According to Ibn ‘Āshūr, in this verse the words are addressed to the Muslims: they are reminded that shirk (associating partners with Allah) is a kind of going astray, as a warning against opposing the Messenger and against the ways of the hypocrites, since all of these are of the same kind of straying. Far is borrowed here for straying that is strong of its kind, because a far place keeps the one in it from returning to where he came from.
Reflection: This warning is for us; let us guard our Tawhid (the Oneness of Allah) and not drift so far that returning becomes hard.
Terjemahan: Apa yang mereka sembah yang lain dari Allah itu, hanyalah berhala-berhala (makhluk-makhluk yang lemah), dan mereka (dengan yang demikian) tidak menyembah melainkan Syaitan yang derhakaTranslation: They do not worship besides Him (Allah) except idols (weak created things), and (by that) they do not worship except Satan, the rebellious.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَى وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطاناً مَرِيداً أَنَّ دَعْوَتَهُمُ الْأَصْنَامَ دَعْوَةٌ لِلشَّيْطَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/203 · Shamela ↗ (huraian ayat 117–121)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/203 · Shamela ↗ (commentary on 117–121)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “mereka (dengan yang demikian) tidak menyembah melainkan Syaitan yang derhaka” ialah seruan dan penyembahan mereka kepada berhala sebenarnya seruan kepada Syaitan, kerana Syaitanlah yang memperindahkan penyembahan berhala itu kepada mereka. Marīd pula bermaksud yang derhaka dan yang keluar memberontak.
Renungan: Syaitan bersembunyi di sebalik apa sahaja yang memalingkan kita daripada Allah; marilah kita periksa kepada siapa sebenarnya hati kita tunduk.According to Ibn ‘Āshūr, the meaning of their worshipping none but a rebellious Satan is that their calling on idols is in truth a calling on Satan, for it is Satan who made the worship of idols seem fair to them. Marīd means one who disobeys and breaks away in revolt.
Reflection: Satan hides behind whatever turns us away from Allah; let us examine to whom our hearts truly bow.
Terjemahan: Yang telah dilaknat oleh Allah, dan yang telah mengatakan: "Demi sesungguhnya, aku akan mengambil dari kalangan hamba-hamba-Mu, bahagian yang tertentu (untuk menjadi pengikutku)Translation: Whom Allah has cursed, and who said: “I swear, I shall take out of Your servants a share that is set apart (to be my followers);
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَأَتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ حَظًّا مُقَدَّرًا مُعَيَّنًا، وَهُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ خُطُوَاتِهِ وَيَقْبَلُونَ وَسَاوِسَهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/222 · Shamela ↗ (huraian ayat 116–122)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/222 · Shamela ↗ (commentary on 116–122)
Kata ar-Rāzī, maksud “bahagian yang tertentu (untuk menjadi pengikutku)” ialah Syaitan berkata: aku akan mengambil daripada hamba-hamba-Mu bahagian yang ditetapkan dan tertentu, iaitu mereka yang mengikut jejak langkahnya dan menerima bisikannya. Menurutnya juga, orang beriman walaupun sedikit bilangannya, kedudukan mereka besar di sisi Allah.
Renungan: Bahagian Syaitan ialah sesiapa yang mengikut langkahnya; marilah kita menolak bisikannya agar kita tidak termasuk dalam bahagian itu.Al-Rāzī says the meaning of a set portion (to be my followers) is that Satan said: I will take from Your servants a fixed, determined share, namely those who follow his footsteps and accept his whisperings. He also says that the believers, though few in number, have a great standing with Allah.
Reflection: Satan’s share is whoever follows his steps; let us reject his whisperings so that we are not counted in that share.
وَلَأُضِلَّنَّهُمۡ
dan demi sesungguhnya, … akan menyesatkan mereka (dari kebenaran)and I swear, … shall lead them astray (from the truth) (akuI)
وَلَأُمَنِّيَنَّهُمۡ
dan demi sesungguhnya … akan memperdayakan mereka dengan angan-angan kosongand I swear, … shall delude them with empty wishes (akuI)
وَلَأٓمُرَنَّهُمۡ
dan demi sesungguhnya … akan menyuruh mereka (mencacatkan binatang-binatang ternak)and I swear, … shall order them (to mutilate the cattle) (akuI)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya, aku akan menyesatkan mereka (dari kebenaran), dan demi sesungguhnya aku akan memperdayakan mereka dengan angan-angan kosong, dan demi sesungguhnya aku akan menyuruh mereka (mencacatkan binatang-binatang ternak), lalu mereka membelah telinga binatang-binatang itu; dan aku akan menyuruh mereka mengubah ciptaan Allah". Dan (ingatlah) sesiapa yang mengambil Syaitan menjadi pemimpin yang ditaati selain dari Allah, maka sesungguhnya rugilah ia dengan kerugian yang terang nyataTranslation: And I swear, I shall lead them astray (from the truth), and I swear, I shall delude them with empty wishes, and I swear, I shall order them (to mutilate the cattle), and so they will split the ears of those cattle; and I shall order them, and they will alter the creation of Allah.” And (remember), whoever takes Satan as a leader to be obeyed other than Allah has truly lost, with a loss that is plain and clear.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَكِنَّ الْمَعْنَى أَنَّهُ إِذَا فَعَلَ مَا أَمَرَهُ الشَّيْطَانُ بِهِ وَتَرَكَ مَا أَمَرَهُ الرَّحْمَنُ بِهِ صَارَ كَأَنَّهُ اتَّخَذَ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا لِنَفْسِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/224 · Shamela ↗ (huraian ayat 116–122)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/224 · Shamela ↗ (commentary on 116–122)
Kata ar-Rāzī, tiada sesiapa yang memilih untuk menjadikan Syaitan pemimpin selain Allah; tetapi maksudnya, apabila seseorang melakukan apa yang disuruh Syaitan dan meninggalkan apa yang disuruh ar-Raḥmān (Allah Yang Maha Pemurah), dia seolah-olah telah menjadikan Syaitan pemimpinnya dan meninggalkan naungan Allah. Kerugiannya nyata kerana ketaatan kepada Allah memberi manfaat yang besar dan kekal, sedangkan ketaatan kepada Syaitan memberi manfaat yang terputus dan bercampur duka.
Renungan: Kita tidak pernah berniat mengikut Syaitan, tetapi setiap kali kita menurut suruhannya, kita sedang memilihnya; berhati-hatilah dengan pilihan kecil kita.Al-Rāzī says no one chooses to take Satan as a leader instead of Allah; rather, the meaning is that when a person does what Satan commands and leaves what ar-Raḥmān (Allah, the Most Gracious) commands, it is as though he has taken Satan as his leader and left Allah’s protection. The loss is plain because obeying Allah brings great and lasting benefit, while obeying Satan brings benefits that are cut off and mixed with grief.
Reflection: We never intend to follow Satan, yet each time we obey his command we are choosing him; let us be careful with our small choices.
يَعِدُهُمۡ
sentiasa menjanjikan mereka (dengan janji-janji indah)keeps making promises to them (of fine things) (diahe)
وَيُمَنِّيهِمۡۖ
serta memperdayakan mereka dengan angan-angan kosongand deludes them with empty wishes (diahe)
يَعِدُهُمُ
apa yang … janjikan kepada merekawhat … promises them (Syaitan asy‑syaitanuSatan ash‑shayṭānu)
Terjemahan: Syaitan sentiasa menjanjikan mereka (dengan janji-janji indah) serta memperdayakan mereka dengan angan-angan kosong; dan apa yang dijanjikan oleh Syaitan itu tidak lain hanyalah tipu daya semata-mataTranslation: He (Satan) keeps making promises to them (of fine things) and deludes them with empty wishes; and what Satan promises them is nothing but sheer deception.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْغُرُورُ هُوَ أَنْ يَظُنَّ الْإِنْسَانُ بِالشَّيْءِ أَنَّهُ نَافِعٌ وَلَذِيذٌ، ثُمَّ يَتَبَيَّنَ اشْتِمَالُهُ عَلَى أَعْظَمِ الْآلَامِ وَالْمَضَارِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/224 · Shamela ↗ (huraian ayat 116–122)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/224 · Shamela ↗ (commentary on 116–122)
Kata ar-Rāzī, teras usaha Syaitan ialah mencampakkan angan-angan ke dalam hati, lalu Allah mengingatkan bahawa angan-angan itu hanya membawa tipu daya (ghurūr). Ghurūr ialah apabila seseorang menyangka sesuatu itu bermanfaat dan lazat, kemudian ternyata ia mengandungi kesakitan dan kemudaratan yang paling besar. Contohnya, Syaitan membisikkan ke dalam hati bahawa umurnya akan panjang dan cita-cita dunianya akan tercapai.
Renungan: Angan-angan panjang melambatkan taubat; marilah kita sedar bahawa janji Syaitan hanyalah tipu daya.Al-Rāzī says the core of Satan’s work is casting false hopes into the heart, so Allah warns that such hopes bring nothing but deception (ghurūr). Ghurūr is when a person thinks something beneficial and pleasant, then it turns out to hold the greatest pain and harm. For example, Satan whispers into a person’s heart that his life will be long and that his worldly hopes will be reached.
Reflection: Long hopes delay repentance; let us realise that Satan’s promises are only deception.
Terjemahan: Mereka itu, tempat akhirnya ialah neraka jahanam, dan mereka pula tidak akan dapat melarikan diri daripadanyaTranslation: Those — their final abode is Hell (Jahannam), and they, for their part, will not be able to find a way to flee from it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِتَنْبِيهِ السَّامِعِينَ إِلَى مَا يَرِدُ بَعْدَ اسْمِ الْإِشَارَةِ مِنَ الْخَبَرِ وَأَنَّ الْمُشَارَ إِلَيْهِمْ أَحْرِيَاءُ بِهِ عَقِبَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذِكْرِ صِفَاتِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/206 · Shamela ↗ (huraian ayat 117–121)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/206 · Shamela ↗ (commentary on 117–121)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata penunjuk “Mereka itu” digunakan untuk menarik perhatian pendengar kepada berita yang datang selepasnya, dan untuk menunjukkan bahawa mereka memang layak menerimanya setelah sifat-sifat mereka disebut sebelumnya. Maḥīṣ (tempat melarikan diri) pula bermaksud tempat berpaling dan berlindung.
Renungan: Kesudahan seseorang mengikut sifat-sifatnya; marilah kita membaiki sifat diri kita sekarang, sebelum tiada lagi tempat untuk lari.According to Ibn ‘Āshūr, the pointing word Those is used to draw the listeners’ attention to the news that follows it, and to show that the ones pointed to truly deserve it, after their traits have just been described. Maḥīṣ (a place of escape) means a place to turn aside to and take refuge in.
Reflection: A person’s end follows his traits; let us mend our traits now, before there is no longer any place to flee.
Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman serta beramal soleh, Kami akan masukkan mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya, sebagai janji Allah yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada AllahTranslation: And as for those who have faith and do good deeds that are righteous, We shall bring them into Paradise with rivers running beneath it, remaining in it for ever, as the promise of Allah that is true. And who is more true in speech than Allah?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«جَرْيًا عَلَى عَادَةِ الْقُرْآنِ فِي تَعْقِيبِ الْإِنْذَارِ بِالْبِشَارَةِ، وَالْوَعِيدِ بِالْوَعْدِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/207 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/207 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini disambung selepas ancaman neraka mengikut kebiasaan al-Qur’an: amaran diiringi khabar gembira, dan ancaman diiringi janji. “sebagai janji Allah yang benar” menegaskan bahawa janji itu pasti dan tidak akan dimungkiri, kerana janji Allah ialah janji yang benar; tiada siapa yang lebih benar perkataannya daripada Allah.
Renungan: Selepas setiap amaran, Allah membuka pintu harapan; marilah kita takut akan ancaman-Nya dan yakin akan janji-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse follows the threat of Hell in keeping with the Qur’an’s way of following a warning with glad tidings and a threat with a promise. Its being Allah’s true promise stresses that the promise is certain and will not fail, for Allah’s promises are true promises; no one is truer in speech than Allah.
Reflection: After every warning Allah opens a door of hope; let us fear His threat and be certain of His promise.
لَّيۡسَ
(balasan yang baik yang dijanjikan oleh Allah itu) tidak akan didapati(the good reward promised by Allah) is not to be gained (iait)ism
Terjemahan: (Balasan yang baik yang dijanjikan oleh Allah itu) tidak akan didapati hanya dengan angan-angan kamu semata-mata, dan tidak pula dengan angan-angan ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani). Sesiapa yang melakukan kejahatan, ia akan dibalas dengan kejahatan itu, dan ia pula tidak akan mendapat - selain dari Allah - seorang pun yang akan melindunginya, dan tidak ada juga yang dapat menolongnyaTranslation: (The good reward promised by Allah) is not to be gained merely by your wishes, nor by the wishes of the People of the Book (the Jews and the Christians). Whoever does an evil deed will be repaid with that evil, and will not find for himself, other than Allah, anyone to protect him, nor anyone who can help him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ لَيْسَ الْجَزَاءُ تَابِعًا لِأَمَانِيِّ النَّاسِ وَمُشْتَهَاهُمْ، بَلْ هُوَ أَمْرٌ مُقَدَّرٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى تَقْدِيرًا بِحَسَبَ الْأَعْمَالِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/208 · Shamela ↗ (huraian ayat 123–124)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/208 · Shamela ↗ (commentary on 123–124)
Menurut Ibn ‘Āshūr, yang lebih zahir ialah ayat ini permulaan baharu untuk memuliakan amalan yang baik dan memburukkan amalan yang jahat. Maksudnya, balasan tidak mengikut angan-angan dan keinginan manusia, tetapi ditetapkan oleh Allah menurut amalan. Kemudian “Sesiapa yang melakukan kejahatan, ia akan dibalas dengan kejahatan itu” menjelaskan maksud tersebut.
Renungan: Merasa diri tergolong dalam golongan yang baik tidak mencukupi; yang ditimbang ialah amalan kita, bukan angan-angan kita.According to Ibn ‘Āshūr, the more apparent reading is that this verse is a fresh opening that honours good deeds and shows the ugliness of bad ones. The meaning is that recompense does not follow people’s wishes and desires but is set by Allah according to deeds. The words “Whoever does an evil deed will be repaid with that evil” then explain this.
Reflection: Feeling that we belong to the good is not enough; what is weighed is our deeds, not our wishes.
يُظۡلَمُونَ
dianiaya (atau dikurangkan balasannya)be wronged (or have their reward reduced) (merekathey)NF
Terjemahan: Dan sesiapa yang mengerjakan amal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk Syurga, dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasannya) sedikitpunTranslation: And whoever does (some) of the righteous deeds, from among men or women, while he has faith — then those will enter Paradise, and they, for their part, will not be wronged (or have their reward reduced) in the least.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُرَادُ مَنْ يَعْمَلْ بَعْضَ الصَّالِحَاتِ لِأَنَّ أَحَدًا لَا يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يَعْمَلَ جَمِيعَ الصَّالِحَاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/228 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/228 · Shamela ↗
Ar-Rāzī menukil bahawa “min” yang pertama dalam “sesiapa yang mengerjakan amal soleh” bermaksud sebahagian: iaitu sesiapa yang mengerjakan sebahagian amal soleh, kerana tiada seorang pun mampu mengerjakan semua amal soleh; apabila dia mengerjakan sebahagiannya dalam keadaan beriman, dia layak mendapat pahala. Kata ar-Rāzī, naqīr ialah lekuk kecil di belakang biji kurma; maksudnya mereka tidak dikurangkan walau sekecil itu.
Renungan: Janganlah kita meninggalkan amal soleh kerana tidak mampu melakukan semuanya; buatlah apa yang termampu dengan iman.Al-Rāzī reports that the first min in whoever does righteous deeds means some of: that is, whoever does some righteous deeds, since no one is able to do all righteous deeds; when one does some of them while believing, he becomes worthy of reward. Al-Rāzī says a naqīr is the small dent on the back of a date stone; the meaning is that they will not be shortchanged even by that much.
Reflection: Let us not give up righteous deeds because we cannot do them all; let us do what we can, with faith.
حَنِيفٗاۗ
yang lurus (yang tetap di atas dasar Tauhid (mengesakan Allah))who was upright (firm upon the basis of Tawhid (the Oneness of Allah))
Terjemahan: Dan tidak ada yang lebih baik ugamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah (dengan ikhlas), sedang ia berusaha mengerjakan kebaikan, dan ia pula mengikut ugama Nabi Ibrahim yang lurus (yang tetap di atas dasar tauhid); dan (kerana itulah) Allah menjadikan Nabi Ibrahim kesayangan-NyaTranslation: And there is none whose religion is better than that of the person who hands himself over to Allah (with sincerity) while he strives to do good, and also follows the religion of Prophet Ibrahim, who was upright (firm upon the basis of Tawhid (the Oneness of Allah)); and (that is why) Allah took Prophet Ibrahim as His beloved.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَمَّا بَلَغَ فِي عُلُوِّ الدَّرَجَةِ فِي الدِّينِ أَنِ اتَّخَذَهُ اللَّه خَلِيلًا كَانَ جَدِيرًا بِأَنْ يَتَّبِعَ خُلُقَهُ وَطَرِيقَتَهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/230 · Shamela ↗ (huraian ayat 125–126)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 11/230 · Shamela ↗ (commentary on 125–126)
Antara huraian ar-Rāzī tentang kaitan “Allah menjadikan Nabi Ibrahim kesayangan-Nya” dengan bahagian awal ayat: apabila Nabi Ibrahim telah mencapai darjat yang tinggi dalam agama sehingga Allah menjadikannya khalīl (kesayangan-Nya), maka baginda layak diikuti akhlak dan jalannya. Menurutnya, klausa ini disisipkan untuk menguatkan kata-kata sebelumnya.
Renungan: Kemuliaan Nabi Ibrahim lahir daripada ketinggian darjatnya dalam agama; marilah kita mencontohi akhlak dan jalannya dalam kehidupan kita.One of al-Rāzī’s explanations of how Allah’s taking Prophet Ibrahim as His khalīl (beloved friend) links to the first part of the verse is this: since Prophet Ibrahim reached such a high rank in religion that Allah took him as His khalīl, he is worthy to have his character and his way followed. In his view, this clause is placed in between to strengthen what came before it.
Reflection: Prophet Ibrahim’s honour came from his high standing in religion; let us follow his character and his way in our lives.
مُّحِيطٗا
Meliputi (pengetahuan-Nya dan kekuasaan-Nya)Encompassing (in His knowledge and His power)
Terjemahan: Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi; dan Allah sentiasa Meliputi (pengetahuan-Nya dan kekuasaan-Nya) akan tiap-tiap sesuatuTranslation: And to Allah alone belongs everything that is within the heavens and that is within the earth; and Allah is always Encompassing (in His knowledge and His power) of every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْمُرَادُ مِنْهَا الْكِنَايَةُ عَنْ عُبُودِيَّةِ إِبْرَاهِيمَ فِي جُمْلَةِ مَا فِي السَّماواتِ وَما فِي الْأَرْضِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/211 · Shamela ↗ (huraian ayat 125–126)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 5/211 · Shamela ↗ (commentary on 125–126)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah penutup (tadhyīl) yang dijadikan seperti penjagaan makna (iḥtirās): gelaran khalīl bagi Nabi Ibrahim tidak seperti persahabatan sesama manusia yang membawa makna setaraf atau saling melebihi; ia menunjukkan kehambaan Nabi Ibrahim sebagai sebahagian daripada segala yang ada di langit dan di bumi. Menurutnya juga, al-Muḥīṭ di sini bermaksud Yang Maha Mengetahui.
Renungan: Semulia-mulia manusia tetap hamba Allah; maka kemuliaan kita juga terletak pada kehambaan kita kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is a closing remark (tadhyīl) that is made like a safeguard of meaning (iḥtirās): the title khalīl for Prophet Ibrahim is not like friendship between people, which implies being equals or one above the other; it points to Prophet Ibrahim’s servanthood as one among everything within the heavens and the earth. He also says al-Muḥīṭ here means the All-Knowing.
Reflection: Even the most honoured of people remains a servant of Allah; so our own honour also lies in our servanthood to Him.