Terjemahan: Haa, MiimTranslation: Ḥā, Mīm.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْقَوْلُ فِي الْحُرُوفِ الْوَاقِعَةِ فَاتِحَةَ هَذِهِ السُّورَةِ كَالْقَوْلِ فِي الم»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/229 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/229 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, perbincangan tentang huruf-huruf di awal surah ini sama seperti perbincangan tentang “Alif, Laam, Miim”, dan beliau tidak menambah huraian lain di sini.
Renungan: Kita tidak mentafsirkan huruf-huruf ini; mari kita membacanya dengan cermat dan penuh hormat, sebagai tanda kita tunduk kepada Kalam Allah.According to Ibn ‘Āshūr, what is said about the letters opening this surah is the same as what is said about “Alif, Lām, Mīm”, and he adds nothing further here.
Reflection: We do not interpret these letters; let us recite them with care and reverence, in submission to the Speech of Allah.
ٱلرَّحۡمَٰنِ
Allah Yang Maha Pemurah (lit. Yang Maha Pemurah)Allah, the Most Gracious (lit. the Most Gracious)
Terjemahan: Turunnya Kitab ini dari Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha MengasihaniTranslation: The sending down of this Book is from Allah, the Most Gracious, the Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْقُرْآنُ مُشْتَمِلٌ عَلَى كُلِّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْمَرْضَى مِنَ الْأَدْوِيَةِ وَعَلَى كُلِّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ الْأَصِحَّاءُ مِنَ الْأَغْذِيَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/538 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/538 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Kitab yang dikaitkan dengan dua sifat rahmat ini menandakan nikmat yang paling besar: makhluk seperti orang sakit dan orang yang berhajat, dan al-Qur’an mengandungi ubat bagi yang sakit serta makanan bagi yang sihat.
Renungan: Mari kita datang kepada al-Qur’an setiap hari, seperti kita memerlukan ubat dan makanan.Tafsir al-Rāzī says the Book linked to these two attributes of mercy points to the greatest of favours: creatures are like the sick and the needy, and the Qur’an holds medicine for the sick and food for the healthy.
Reflection: Let us come to the Qur’an every day, as we need medicine and food.
فُصِّلَتۡ
yang dijelaskan … satu persatuwhose … are explained one by one (ayat‑ayatnya ayatuhuits verses āyātuhū)NF
يَعۡلَمُونَ
yang mengambil tahu dan memahami kandungannya (lit. yang mengetahui)who take the trouble to know and understand its contents (lit. who know) (merekathey)
Terjemahan: Sebuah Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya satu persatu; iaitu Al-Quran yang diturunkan dalam bahasa Arab bagi faedah orang-orang yang mengambil tahu dan memahami kandungannyaTranslation: A Book whose verses are explained one by one, namely a Qur’an sent down in the Arabic language for the benefit of people who take the trouble to know and understand its contents.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَى: فُصِّلَتْ آياتُهُ بُيِّنَتْ، وَالتَّفْصِيلُ: التَّبْيِينُ وَالْإِخْلَاءُ مِنَ الِالْتِبَاسِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/230 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–4)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/230 · Shamela ↗ (commentary on 2–4)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “dijelaskan ayat-ayatnya” bermaksud diterangkan, iaitu menjadikannya jelas dan bebas daripada kekeliruan.
Renungan: Kekaburan sering datang daripada kita yang kurang belajar; mari kita ambil masa memahami ayat, supaya kita termasuk “orang-orang yang mengambil tahu dan memahami kandungannya”.According to Ibn ‘Āshūr, “whose verses are explained” means made clear, that is, made plain and free of confusion.
Reflection: Obscurity often comes from our own lack of study; let us take time to understand the verses, so that we are among “people who take the trouble to know and understand its contents”.
بَشِيرٗا
ia membawa berita yang menggembirakan (bagi orang-orang yang beriman)it brings good news (for those who believe)
وَنَذِيرٗا
dan membawa amaran (kepada orang-orang yang ingkar)and brings a warning (to those who reject)
فَأَعۡرَضَ
dalam pada itu … berpaling ingkar (tidak mahu mengetahui dan memahaminya)yet … turned away in rejection (unwilling to know and understand it) (kebanyakan mereka aktharuhummost of them aktharuhum)
يَسۡمَعُونَ
menerima dan tidak mematuhinya (lit. mendengar)accept or obey it (lit. hear) (merekathey)
Terjemahan: Ia membawa berita yang menggembirakan (bagi orang-orang yang beriman) dan membawa amaran (kepada orang-orang yang ingkar); dalam pada itu kebanyakan mereka berpaling ingkar (tidak mahu mengetahui dan memahaminya), maka dengan sebab itu mereka tidak menerima dan tidak mematuhinyaTranslation: It brings good news (for those who believe) and brings a warning (to those who reject); yet most of them turned away in rejection (unwilling to know and understand it), so for that reason they do not accept or obey it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْحَقُّ أَنَّ الْقُرْآنَ بِشَارَةٌ وَنِذَارَةٌ إِلَّا أَنَّهُ أَطْلَقَ اسْمَ الْفَاعِلِ عَلَيْهِ لِلتَّنْبِيهِ عَلَى كَوْنِهِ كَامِلًا فِي هَذِهِ الصِّفَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/538 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/538 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, al-Qur’an itu sendiri berita gembira dan amaran, tetapi ism fā‘il (kata pelaku), “pembawa berita gembira” dan “pemberi amaran”, digunakan untuk menunjukkan kesempurnaannya pada sifat ini.
Renungan: Al-Qur’an menggembirakan dan menegur kita; mari kita menerima kedua-duanya, dan tidak berpaling.Tafsir al-Rāzī says the Qur’an is itself good news and warning, yet the ism fā‘il (the doer form), “bringer of good news” and “warner”, is used to show that it is complete in this quality.
Reflection: The Qur’an gladdens and corrects us; let us receive both, and not turn away.
وَقۡرٞ
penyumbat (menjadikan kami tidak dapat mendengarnya)is a plug (so that we cannot hear it)
حِجَابٞ
ada sekatan (yang memisahkan fahaman kita)there is a barrier (that divides our understanding)
عَٰمِلُونَ
tetap bekerja (untuk mempertahankan kepercayaan kami)keep working (to defend our beliefs)
Terjemahan: Dan mereka berkata: "Hati kami dalam tutupan yang berlapis-lapis (menghalang kami) daripada memahami apa yang engkau serukan kami kepadanya, dan pada telinga kami penyumbat (menjadikan kami tidak dapat mendengarnya), serta di antara kami denganmu ada sekatan (yang memisahkan fahaman kita); oleh itu, bekerjalah engkau (untuk ugamamu), sesungguhnya kami juga tetap bekerja (untuk mempertahankan kepercayaan kami)"Translation: And they said: “Our hearts are within layered coverings (that keep us) from understanding what you call us to, and in our ears is a plug (so that we cannot hear it), and between us and you there is a barrier (that divides our understanding); so work (for your religion), truly we too keep working (to defend our beliefs).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَشَدَّةُ نَفْرَةِ النَّفْسِ عَنِ الشَّيْءِ تَمْنَعُهَا مِنَ التَّدَبُّرِ وَالْوُقُوفِ عَلَى دَقَائِقِ ذَلِكَ الشَّيْءِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/541 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/541 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, rasa benci yang kuat terhadap sesuatu menghalang jiwa daripada merenung dan memahami butirannya; maka kata-kata mereka tentang hati, telinga dan sekatan itu kiasan yang sempurna.
Renungan: Prasangka boleh menutup telinga kita; mari kita dengar dahulu dengan hati yang terbuka sebelum menolak.Tafsir al-Rāzī says a strong aversion to something keeps the soul from reflecting on it and grasping its details; so their words about hearts, ears and a barrier are a complete figure of speech.
Reflection: Prejudice can block our ears; let us listen first with an open heart before we refuse.
يُوحَىٰٓ
diwahyukanwhat is revealed (ayat: annama ilahukum ilahun wahidthe clause: annamā ilāhukum ilāhun wāḥid)NF
فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ
maka hendaklah … tetap teguh di atas jalan yang betul lurusso stand firm on the straight and true path (kamu sekalianyou all)
إِلَيۡهِ
(yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya) (lit. kepada-Nya)(that leads to attaining His pleasure) (lit. to Him)
وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ
serta pohonlah kepada-Nya mengampuni (dosa-dosa kamu yang telah lalu)and ask Him to forgive (your past sins) (kamu sekalianyou all)
لِّلۡمُشۡرِكِينَ
bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (dengan sesuatu yang lain)to those who associate partners with Him (with anything else)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu; diwahyukan kepadaku bahawa Tuhan kamu hanyalah Tuhan yang Satu; maka hendaklah kamu tetap teguh di atas jalan yang betul lurus (yang membawa kepada mencapai keredhaan-Nya), serta pohonlah kepada-Nya mengampuni (dosa-dosa kamu yang telah lalu). Dan (ingatlah), kecelakaan besar bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya (dengan sesuatu yang lain)Translation: Say (O Muhammad): “Truly I am only a human being like you; what is revealed to me is that your God is only the God Who is One; so stand firm on the straight and true path (that leads to attaining His pleasure), and ask Him to forgive (your past sins). And (remember), great woe to those who associate partners with Him (with anything else),
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ التَّكْلِيفَ لَهُ رُكْنَانِ أَحَدُهُمَا: الِاعْتِقَادُ وَالرَّأْسُ وَالرَّئِيسُ فِيهِ اعْتِقَادُ التَّوْحِيدِ، فَلَمَّا أَمَرَ بِذَلِكَ انْتَقَلَ إِلَى وَظِيفَةِ الْعَمَلِ وَالرَّأْسُ وَالرَّئِيسُ فِيهِ الِاسْتِغْفَارُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/542 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/542 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, taklif (tanggungjawab agama) ada dua rukun: kepercayaan, yang utamanya tauhid (mengesakan Allah), dan amal, yang utamanya istighfar (memohon keampunan).
Renungan: Ayat ini menggandingkan “tetap teguh” dengan “pohonlah kepada-Nya mengampuni”; mari kita luruskan hati kepada Allah, lalu memohon keampunan-Nya setiap hari.Tafsir al-Rāzī says taklif (religious duty) has two pillars: belief, whose head is tawhid (the Oneness of Allah), and deeds, whose head is istighfar (seeking forgiveness).
Reflection: This verse pairs “stand firm” with “ask Him to forgive”; let us set our hearts straight towards Allah, then seek His forgiveness every day.
ٱلزَّكَوٰةَ
zakat (untuk membersihkan jiwa dan hartabendanya)zakat (to purify their souls and property)
Terjemahan: Iaitu orang-orang yang tidak memberi zakat (untuk membersihkan jiwa dan hartabendanya) dan mereka pula kufur ingkar akan adanya hari akhirat"Translation: namely those who do not give zakat (to purify their souls and property), and they also reject the coming of the Day of the Hereafter in disbelief.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَوْنُهُ مُمْتَنِعًا مِنَ الزَّكَاةِ وَهُوَ ضِدُّ الشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/542 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/542 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, ada tiga sifat yang dikenakan kecelakaan itu: syirik (menyekutukan Allah), lawan tauhid; tidak memberi zakat, lawan belas kasihan kepada makhluk Allah; dan mengingkari hari akhirat.
Renungan: Iman kita diuji juga pada belas kasihan; mari kita tanya diri: siapa yang telah merasa manfaat harta kita?One of the explanations in Tafsir al-Rāzī names three traits that incur this woe: shirk (associating partners with Allah), the opposite of tawhid; not giving zakat, the opposite of compassion for Allah’s creatures; and rejecting the Hereafter.
Reflection: Our faith is tested by compassion too; let us ask ourselves who has benefited from our wealth.
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh, mereka beroleh balasan pahala yang tidak putus-putusTranslation: Truly those who believe and carry out righteous deeds, they gain a reward that is never cut off.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَأَنَّ سَائِلًا يَقُولُ: فَإِنِ اتَّعَظُوا وَارْتَدَعُوا فَمَاذَا يَكُونُ جَزَاؤُهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/240 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/240 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini datang selepas amaran, seolah-olah ada yang bertanya: jika mereka mengambil pengajaran dan berhenti, apakah balasan mereka? Jawapannya, mereka menyertai orang-orang yang beriman dan beramal soleh.
Renungan: Selepas setiap amaran, pintu kembali terbuka; mari kita masuk melaluinya hari ini.According to Ibn ‘Āshūr, this verse comes after the warning as though someone asked: if they take heed and stop, what will their recompense be? The answer is that they join those who believe and do righteous deeds.
Reflection: After every warning the way back stays open; let us take it today.
أَئِنَّكُمۡ
sesungguhnya tidak patut kamu (lit. adakah sesungguhnya kamu)truly it is not right that you (lit. do you truly)
ذَٰلِكَ
yang demikian (sifat-Nya dan kekuasaan-Nya) ialah Allah (lit. itu)such (in His attributes and power) is Allah (lit. that)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya tidak patut kamu kufur kepada Tuhan yang menciptakan bumi dalam dua masa, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya! Yang demikian (sifat-Nya dan kekuasaan-Nya) ialah Allah Tuhan sekalian alam"Translation: Say (O Muhammad): “Truly it is not right that you disbelieve in the Lord Who created the earth in two periods, and set up partners for Him! Such (in His attributes and power) is Allah, the Lord of all the worlds.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّعْبِيرُ عَنِ الْجَلَالَةِ بِالْمَوْصُولِ دُونَ الِاسْمِ الْعَلَمِ لِمَا تُؤْذِنُ بِهِ الصِّلَةُ مِنْ تَعْلِيلِ التَّوْبِيخِ، لِأَنَّ الَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ هُوَ الْمُسْتَحِقُّ لِلْعِبَادَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/243 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/243 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Allah disebut sebagai “Tuhan yang menciptakan bumi”, bukan dengan nama-Nya, kerana ungkapan itu sendiri memberi sebab teguran ini: Yang menciptakan bumi itulah yang berhak disembah.
Renungan: Setiap langkah di atas bumi mengingatkan kita siapa Penciptanya; mari kita khususkan ibadat kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, Allah is referred to as “the Lord Who created the earth”, not by His Name, because the phrase itself gives the reason for the rebuke: the One Who created the earth is the One deserving worship.
Reflection: Every step on the earth reminds us of its Creator; let us devote our worship to Him.
لِّلسَّآئِلِينَ
hajat yang diminta dan dikehendaki oleh keadaan mereka (lit. bagi orang-orang yang meminta)the needs asked for and called for by their condition (lit. for those who ask)
Terjemahan: Dan Ia menjadikan di bumi gunung-ganang yang menetapnya (tersergam tinggi) di atasnya, serta Ia melimpahkan berkat padanya, dan Ia menentukan ada padanya bahan-bahan keperluan hidup penduduknya, sekadar yang menyamai hajat yang diminta dan dikehendaki oleh keadaan mereka; (semuanya itu berlaku) dalam empat masaTranslation: And on the earth He placed firm mountains (rising high) on top of it, and He poured blessings on it, and He determined that there be in it the necessities of life for its inhabitants, in the measure that matches the needs asked for and called for by their condition; (all that took place) in four periods.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْبَرَكَةُ: الْخَيْرُ النَّافِعُ، وَفِي الْأَرْضِ خَيْرَاتٌ كَثِيرَةٌ فِيهَا رِزْقُ الْإِنْسَانِ وَمَاشِيَتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/244 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/244 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, berkat ialah kebaikan yang bermanfaat, dan di bumi ada banyak kebaikan, termasuk rezeki manusia dan ternakannya.
Renungan: Rezeki kita datang daripada berkat yang Allah limpahkan pada bumi; mari kita mensyukurinya dan menggunakannya dengan amanah.According to Ibn ‘Āshūr, blessing means beneficial good, and the earth holds much good, including the provision of people and their livestock.
Reflection: Our provision comes from the blessing Allah poured on the earth; let us thank Him for it and use it as a trust.
ٱئۡتِيَا
turutlah akan perintah-Ku (lit. datanglah)obey My command (lit. come) (kamu berduayou both)
Terjemahan: Kemudian Ia menunjukkan kehendak-Nya ke arah (bahan-bahan) langit sedang langit itu masih berupa asap; lalu Ia berfirman kepadanya dan kepada bumi: "Turutlah kamu berdua akan perintah-Ku, sama ada dengan sukarela atau dengan paksa!" Keduanya menjawab: "Kami berdua sedia menurut - patuh dengan sukarela"Translation: Then He turned, by His will, towards (the matter of) the sky while the sky was still smoke; then He spoke to it and to the earth: “Obey My command, you both, whether willingly or by force!” They both replied: “We both are ready to obey, obedient and willing.”
Nota: ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ (ayat 11).Note: ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ (verse 11).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ عَلَى كِلَا الِاعْتِبَارَيْنِ تَصْوِيرُ عَظَمَةِ الْقُدْرَةِ الْإِلَهِيَّةِ وَنُفُوذِهَا فِي الْمَقْدُورَاتِ دَقَّتْ أَوْ جَلَّتْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/247 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/247 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan perintah ini, “sama ada dengan sukarela atau dengan paksa”, ialah menggambarkan kebesaran kuasa Allah dan berlakunya kuasa itu pada segala sesuatu, kecil atau besar.
Renungan: Langit dan bumi “sedia menurut”; mari kita juga mematuhi perintah Allah dengan rela hati.According to Ibn ‘Āshūr, the aim of this command, “whether willingly or by force”, is to portray the greatness of Allah’s power and its reach over all things, small or great.
Reflection: The sky and the earth are “ready to obey”; let us also follow Allah’s command with willing hearts.
ٱلدُّنۡيَا
yang dekat (pada pandangan mata penduduk bumi)that is near (to the eyes of the earth’s inhabitants)
وَحِفۡظٗاۚ
serta memelihara langit itu dengan sebaik-baiknya (lit. dan penjagaan)and guarded it in the best way (lit. and a guarding)
ٱلۡعَزِيزِ
Allah Yang Maha Kuasa (lit. Yang Maha Kuasa)of Allah, the All-Mighty (lit. the All-Mighty)
Terjemahan: Lalu Ia menjadikannya tujuh langit, dalam dua masa; dan Ia memberitahu kepada tiap-tiap langit akan urusan dan keperluannya masing-masing. Dan Kami hiasi langit yang dekat (pada pandangan mata penduduk bumi) dengan bintang-bintang yang bersinar cemerlang serta memelihara langit itu dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha MengetahuiTranslation: Then He made them seven heavens in two periods, and He made known to each sky its own affairs and needs. And We adorned the sky that is near (to the eyes of the earth’s inhabitants) with brightly shining stars and guarded it in the best way. Such is the decree of Allah, the All-Mighty, the All-Knowing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْعَزِيزُ إِشَارَةٌ إِلَى كَمَالِ الْقُدْرَةِ، وَالْعَلِيمُ إِشَارَةٌ إِلَى كَمَالِ الْعِلْمِ، وَمَا أَحْسَنَ هَذِهِ الْخَاتِمَةَ، لِأَنَّ تِلْكَ الْأَعْمَالَ لَا تُمْكِنُ إِلَّا بِقُدْرَةٍ كاملة وعلم محيط»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/550 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–12)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/550 · Shamela ↗ (commentary on 9–12)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, “Maha Kuasa” menunjuk kepada kuasa yang sempurna dan “Maha Mengetahui” kepada ilmu yang sempurna, dan inilah penutup yang indah, kerana semua itu hanya mungkin dengan kuasa sempurna dan ilmu yang meliputi.
Renungan: Apabila memandang langit yang terhias, mari kita ingat Penciptanya dan merendah diri kepada-Nya.Tafsir al-Rāzī says “the All-Mighty” points to perfect power and “the All-Knowing” to perfect knowledge, and this is a fine ending, since all of that is possible only with perfect power and encompassing knowledge.
Reflection: When we look at the adorned sky, let us remember its Creator and humble ourselves before Him.
أَعۡرَضُواْ
… berpaling (daripada mengesakan Allah dan menurut jalan yang lurus)… turn away (from affirming Allah’s Oneness and following the straight path) (mereka (yang musyrik)they (the people of shirk))
صَٰعِقَةٗ
dengan (azab yang dahsyat, iaitu) petirof (a terrible punishment, namely) a thunderbolt
Terjemahan: Oleh itu, kalau mereka (yang musyrik) berpaling (daripada mengesakan Allah dan menurut jalan yang lurus), maka katakanlah (wahai Muhammad): "Aku memberi amaran kepada kamu dengan (azab yang dahsyat, iaitu) petir, seperti petir yang telah menyambar kaum Aad dan kaum Thamud"Translation: So if they (the people of shirk) turn away (from affirming Allah’s Oneness and following the straight path), then say (O Muhammad): “I have warned you of (a terrible punishment, namely) a thunderbolt such as the one that struck the people of ‘Ād and the people of Thamūd.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْإِنْذَارُ: التَّخْوِيفُ، وَهُوَ هُنَا تَخْوِيفٌ بِتَوَقُّعِ عُقَابٍ مِثْلِ عِقَابِ الَّذِينَ شَابَهُوهُمْ فِي الْإِعْرَاضِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/252 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/252 · Shamela ↗ (commentary on 13–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, amaran di sini ialah menakutkan mereka dengan azab yang mungkin datang, seperti azab kaum yang serupa dengan mereka dalam berpaling, kerana perbuatan Allah berlaku mengikut cara yang tetap.
Renungan: Sejarah kaum terdahulu ialah cermin; mari kita lihat di dalamnya sikap kita sendiri, dan jangan berpaling daripada kebenaran.According to Ibn ‘Āshūr, the warning here is to make them fear a punishment that may come, like that of peoples who resembled them in turning away, since Allah’s acts follow one consistent way.
Reflection: The history of past peoples is a mirror; let us see our own attitudes in it, and not turn from the truth.
جَآءَتۡهُمُ
mereka didatangi (lit. datang kepada mereka)they were visited by (lit. came to them) (Rasul‑rasul ar‑rusuluthe Messengers ar‑rusulu)
شَآءَ
hendak (mengutus Rasul-rasul)wished (to send Messengers) (Tuhan kami rabbunaour Lord rabbunā)
Terjemahan: (Mereka ditimpa azab itu) kerana semasa mereka didatangi Rasul-rasul (memberikan berbagai penjelasan) mengenai keadaan hidup mereka di dunia dan di akhirat (sambil melarang mereka): "Janganlah kamu menyembah melainkan Allah", mereka menjawab: "Jika Tuhan kami hendak (mengutus Rasul-rasul) tentulah Ia akan menurunkan malaikat; oleh itu sesungguhnya kami kufur ingkar akan apa yang (kamu katakan): kamu diutus membawanya"Translation: (They were struck by that punishment) because when they were visited by Messengers (giving various explanations) concerning their condition of life in this world and in the Hereafter (forbidding them): “Do not worship anyone except Allah,” they replied: “If our Lord wished (to send Messengers) He would surely have sent down angels; so truly we reject in disbelief what (you claim) you were sent with.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّهُمْ يَتَصَوَّرُونَ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَفْعَالَهُ عَلَى غَيْرِ كُنْهِهَا وَيَقِيسُونَهَا عَلَى أَحْوَالِ الْمَخْلُوقَاتِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/254 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/254 · Shamela ↗ (commentary on 13–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, jawapan “Jika Tuhan kami hendak (mengutus Rasul-rasul) tentulah Ia akan menurunkan malaikat” lahir daripada fikiran yang singkat: mereka membayangkan sifat dan perbuatan Allah bukan pada hakikatnya, lalu mengukurnya dengan keadaan makhluk.
Renungan: Allah tidak diukur dengan ukuran kita; mari kita terima khabar-Nya dengan rendah hati.According to Ibn ‘Āshūr, the reply “If our Lord wished (to send Messengers) He would surely have sent down angels” came from limited thinking: they imagined Allah’s attributes and acts other than as they truly are, and measured them by the state of creatures.
Reflection: Allah is not measured by our measures; let us accept what He tells us with humility.
خَلَقَهُمۡ
menciptakan mereka (dari tiada kepada ada)created them (from nothing into being) (DiaHe)
يَجۡحَدُونَ
mengingkari (sedang mereka sedia mengetahuinya)denying (though they already knew them) (merekathey)
Terjemahan: Adapun kaum Aad, maka mereka berlaku sombong takbur di muka bumi dengan tiada sebarang alasan yang benar, serta berkata: "Siapakah yang lebih kuat dari kami?" Dan (mengapa mereka bersikap demikian?) Tidakkah mereka memerhatikan bahawa Allah yang menciptakan mereka (dari tiada kepada ada) adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan sememangnya mereka sengaja mengingkari tanda-tanda kekuatan Kami (sedang mereka sedia mengetahuinya)Translation: As for the people of ‘Ād, they behaved arrogantly on the face of the earth without any true justification, and said: “Who is stronger than us?” And (why did they behave so?) Did they not observe that Allah, Who created them (from nothing into being), is greater than they in strength? And indeed they were deliberately denying Our signs of power (though they already knew them).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُمْ أَنْ يَغْتَرُّوا بِشِدَّةِ قُوَّتِهِمْ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/552 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–18)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/552 · Shamela ↗ (commentary on 13–18)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ayat ini menunjukkan mereka tidak patut terpedaya dengan kekuatan mereka: walaupun lebih kuat daripada orang lain, Allah yang menciptakan mereka lebih kuat daripada mereka.
Renungan: Kekuatan dan kedudukan hanyalah pinjaman; mari kita jauhkan dari hati kita kata-kata “Siapakah yang lebih kuat dari kami?”Tafsir al-Rāzī says this verse shows they should not be deceived by their strength: though stronger than others, Allah Who created them is stronger than they are.
Reflection: Strength and rank are only on loan; let us keep from our hearts the words “Who is stronger than us?”
يُنصَرُونَ
diberikan pertolongan (menghindarkan azab itu)given help (to avert that punishment) (merekathey)NF
Terjemahan: Lalu Kami hantarkan kepada mereka angin ribut yang kencang dalam beberapa hari yang nahas malang, kerana Kami hendak merasakan mereka azab seksa yang menghina dalam kehidupan dunia; dan sesungguhnya azab seksa hari akhirat lebih besar kehinaannya; sedang mereka tidak diberikan pertolongan (menghindarkan azab itu)Translation: Then We sent upon them a furious storm wind in days of ill fortune, because We wished to let them feel the punishment of disgrace in the life of this world; and truly the punishment of the Day of the Hereafter is greater in disgrace; while they are not given help (to avert that punishment).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَجُمْلَةُ وَلَعَذابُ الْآخِرَةِ أَخْزى احْتِرَاسٌ لِئَلَّا يَحْسَبَ السَّامِعُونَ أَنَّ حَظَّ أُولَئِكَ مِنَ الْعِقَابِ هُوَ عَذَابُ الْإِهْلَاكِ بِالرِّيحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/261 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–16)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/261 · Shamela ↗ (commentary on 15–16)
Menurut Ibn ‘Āshūr, azab akhirat disebut supaya pendengar tidak menyangka balasan mereka hanyalah kebinasaan oleh angin itu; azab akhirat “lebih besar kehinaannya”.
Renungan: Kesudahan di dunia bukan penghujung segalanya; mari kita lebih takut kepada kehinaan di akhirat daripada kehinaan di mata manusia.According to Ibn ‘Āshūr, the Hereafter’s punishment is mentioned so that listeners do not suppose their due was only destruction by the wind; it is “greater in disgrace”.
Reflection: An ending in this world is not the end of everything; let us fear disgrace in the Hereafter more than disgrace in people’s eyes.
فَأَخَذَتۡهُمۡ
mereka pun disambar oleh (lit. maka … menyambar mereka)so they were struck by (lit. so … struck them) (petir sa‘iqatuthe thunderbolt ṣā‘iqatu)
Terjemahan: Adapun kaum Thamud, maka Kami beri petunjuk kepadanya, lalu mereka mengutamakan kesesatan dari hidayah petunjuk; mereka pun disambar oleh petir azab yang menghina dengan sebab apa yang mereka telah lakukanTranslation: As for the people of Thamūd, We showed them guidance, yet they gave preference to misguidance over guidance; so they were struck by the thunderbolt of humiliating punishment because of what they had been doing.
Nota nahu: بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ (ayat 17).Grammar note: بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ (verse 17).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْعَمَى: هُنَا مُسْتَعَارٌ لِلضَّلَالِ فِي الرَّأْيِ، أَيِ اخْتَارُوا الضَّلَالَ بِكَسْبِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/262 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/262 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata al-‘amā (buta) dalam ayat ini ialah kiasan bagi kesesatan dalam pendapat: mereka memilih kesesatan, setelah diberi petunjuk melalui Rasul mereka.
Renungan: Hidayah (petunjuk) boleh berada di hadapan kita, namun hati memilih yang lain; mari kita berdoa supaya Allah menetapkan hati kita pada kebenaran.According to Ibn ‘Āshūr, the word al-‘amā (blindness) in this verse is a figure for misguidance in judgement: they chose misguidance, after being guided through their Messenger.
Reflection: Guidance can stand before us while the heart picks otherwise; let us pray that Allah keeps our hearts firm on the truth.
Terjemahan: Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman serta mereka tetap bertaqwaTranslation: And We rescued those who believed and constantly had taqwa.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي وَكَانُوا يَتَّقُونَ الْأَعْمَالَ الَّتِي كَانَ يَأْتِي بِهَا قَوْمُ عَادٍ وَثَمُودَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/554 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–18)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/554 · Shamela ↗ (commentary on 13–18)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, selepas amaran Allah mengiringinya dengan janji baik: orang-orang yang beriman itu menjauhi perbuatan yang dilakukan oleh kaum Aad dan kaum Thamud.
Renungan: Takwa (menjaga diri) bermula dengan menjauhi perbuatan yang membinasakan; mari kita kenal pasti sikap yang perlu kita tinggalkan.Tafsir al-Rāzī says that after the warning Allah adds a promise: those believers kept away from the deeds of ‘Ād and Thamūd.
Reflection: Taqwa (mindfulness of Allah) begins with keeping away from what destroys; let us identify the attitudes we need to leave behind.
يُوزَعُونَ
dijaga serta diatur keadaan dan perjalanannya masing-masingare kept in check, each one’s state and march being set in order (merekathey)NF
Terjemahan: Dan (ingatlah) hari dihimpun musuh-musuh Allah untuk dibawa ke neraka, lalu mereka dijaga serta diatur keadaan dan perjalanannya masing-masingTranslation: And (remember) the Day the enemies of Allah are gathered to be taken to Hell, then they are kept in check, each one’s state and march being set in order;
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْوَزْعُ: كَفُّ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ وَمَنْعُهُمْ مِنَ الْفَوْضَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/265 · Shamela ↗ (huraian ayat 19–21)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/265 · Shamela ↗ (commentary on 19–21)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “dijaga serta diatur” bermaksud menahan sebahagian mereka daripada yang lain dan menghalang kekacauan, kerana yang dihimpunkan amat ramai.
Renungan: Walau seramai mana pun manusia, tiada siapa terlepas pada hari itu; mari kita bersedia sebelum kita dihimpunkan.According to Ibn ‘Āshūr, “kept in check” means holding some back from others and preventing disorder, since those gathered are so many.
Reflection: However many people there are, no one escapes that Day; let us prepare before we are gathered.
جَآءُوهَا
… sampai ke neraka (lit. … datang kepadanya)… reach Hell (lit. … come to it) (merekathey)
شَهِدَ
(maka) menjadi saksi(then) bear witness (pendengaran mereka sam‘uhumtheir hearing sam‘uhum)
Terjemahan: Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, (maka) pendengaran dan penglihatan serta kulit-kulit badan mereka menjadi saksi terhadap mereka, mengenai apa yang mereka telah kerjakanTranslation: until when they reach Hell, (then) their hearing and sight and the skins of their bodies bear witness against them concerning what they had been doing.
Nota nahu: إِذَا مَا جَآءُوهَا (ayat 20).Grammar note: إِذَا مَا جَآءُوهَا (verse 20).
Nota nahu: بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (ayat 20).Grammar note: بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ (verse 20).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَسَمْعُهُمْ يَشْهَدُ عَلَيْهِمْ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَصْرِفُونَهُ عَنْ سَمَاعِ ذَلِكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/267 · Shamela ↗ (huraian ayat 19–21)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/267 · Shamela ↗ (commentary on 19–21)
Menurut Ibn ‘Āshūr, pendengaran khusus untuk menerima seruan Nabi ﷺ dan ayat al-Qur’an, maka ia menjadi saksi bahawa mereka memalingkannya daripada mendengar; penglihatan pula khusus untuk melihat bukti ciptaan Allah.
Renungan: Anggota kita amanah yang akan bersaksi; mari kita gunakan telinga dan mata pada perkara yang diredhai Allah.According to Ibn ‘Āshūr, hearing is suited to receiving the Prophet’s ﷺ call and the Qur’an, so it bears witness that they turned it away from listening; sight is suited to seeing the proofs in what Allah made.
Reflection: Our limbs are a trust that will testify; let us use our ears and eyes on what pleases Allah.
وَقَالُواْ
dan (setelah berlaku yang demikian), berkatalahand (after that has happened) … say (merekathey)
تُرۡجَعُونَ
… dikembalikan (untuk menerima balasan)… are returned (to receive recompense) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Dan (setelah berlaku yang demikian), berkatalah mereka kepada kulit-kulit badan mereka: "Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?" Kulit-kulit badan mereka menjawab: "Allah yang berkuasa menjadikan tiap-tiap sesuatu pandai berkata-kata - telah menjadikan kami dapat berkata-kata; dan Dialah yang menciptakan kamu pada mulanya, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan (untuk menerima balasan)"Translation: And (after that has happened) they say to the skins of their bodies: “Why have you borne witness against us?” The skins of their bodies reply: “Allah, Who has the power to make every thing able to speak, has made us able to speak; and He it is Who created you in the beginning, and to Him alone you are returned (to receive recompense).”
Nota bahasa: وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (ayat 21).Language note: وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (verse 21).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَاهُ أَنَّ الْقَادِرَ عَلَى خَلْقِكُمْ وَإِنْطَاقِكُمْ فِي الْمَرَّةِ الْأُولَى حَالَمَا كُنْتُمْ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ عَلَى خَلْقِكُمْ وَإِنْطَاقِكُمْ فِي الْمَرَّةِ الثَّانِيَةِ وَهِيَ حَالُ القيامة والبعث كيف يُسْتَبْعَدُ مِنْهُ إِنْطَاقُ الْجَوَارِحِ وَالْأَعْضَاءِ؟»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/556 · Shamela ↗ (huraian ayat 19–24)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/556 · Shamela ↗ (commentary on 19–24)
Tafsir ar-Rāzī menyebut makna jawapan itu: Yang berkuasa menciptakan kamu dan menjadikan kamu berkata-kata di dunia, kemudian sekali lagi pada hari kebangkitan, bagaimana dianggap mustahil bagi-Nya menjadikan anggota berkata-kata?
Renungan: Lidah boleh berdalih, anggota tidak; mari kita beramal dengan menyedari setiap anggota akan bercerita.Tafsir al-Rāzī gives the meaning of that reply: the One with power to create you and make you speak in this world, then again on the Day of Resurrection, how can it seem far-fetched that He makes limbs speak?
Reflection: Tongues can make excuses, limbs cannot; let us act knowing each limb will tell its story.
تَسۡتَتِرُونَ
berselindung (ketika melakukan dosa di dunia dahulu)hid (while committing sins in the world before) (kamu sekalianyou all)
عَلَيۡكُمۡ
terhadap perbuatan-perbuatan kamu yang berdosa itu (lit. terhadap kamu)against your sinful deeds (lit. against you)
Terjemahan: Dan semasa kamu berselindung (ketika melakukan dosa di dunia dahulu) bukanlah kerana kamu bimbangkan pendengaran dan penglihatan serta kulit-kulit badan kamu menjadi saksi terhadap perbuatan-perbuatan kamu yang berdosa itu, akan tetapi kerana kamu menyangka bahawa Allah tidak mengetahui kebanyakan dosa yang kamu lakukan (secara bersembunyi itu)Translation: And when you hid (while committing sins in the world before), it was not because you feared that your hearing, your sight and the skins of your bodies would bear witness against your sinful deeds, but because you thought that Allah does not have knowledge of much of the sins that you do (in that secret way).
Nota nahu: مِّمَّا تَعْمَلُونَ (ayat 22).Grammar note: مِّمَّا تَعْمَلُونَ (verse 22).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَاصِلُ مَعْنَى الْآيَةِ عَلَى جَمِيعِ الِاحْتِمَالَاتِ: أَنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِأَعْمَالِكُمْ وَنِيَّاتِكُمْ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ مِنْهَا إِنْ جَهَرْتُمْ أَوْ سَتَرْتُمْ وَلَيْسَ اللَّهُ بِحَاجَةٍ إِلَى شَهَادَةِ جِوَارِحِكُمْ عَلَيْكُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/271 · Shamela ↗ (huraian ayat 22–23)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/271 · Shamela ↗ (commentary on 22–23)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kesimpulan ayat ini ialah Allah mengetahui amal dan niat kamu; tiada yang tersembunyi daripada-Nya, sama ada kamu zahirkan atau sembunyikan, dan Dia tidak berhajat kepada kesaksian anggota kamu.
Renungan: Ketika bersendirian, Allah tetap mengetahui; mari kita jaga diri di tempat sunyi seperti di hadapan orang.According to Ibn ‘Āshūr, the sum of this verse is that Allah knows your deeds and intentions; none of it is hidden from Him, whether you show it or hide it, and He has no need of your limbs’ testimony.
Reflection: When we are alone, Allah still knows; let us guard ourselves in private as we do before people.
أَرۡدَىٰكُمۡ
itulah yang telah membinasakan kamuis what has destroyed you (ia (sangkaan itu)it (that thought))
فَأَصۡبَحۡتُم
(dengan sangkaan kamu yang salah itu) maka menjadilah(by that false thought of yours) so … became (kamu sekalianyou all)ism
Terjemahan: Dan sangkaan kamu yang demikian, yang kamu sangka terhadap Tuhan kamu, itulah yang telah membinasakan kamu; (dengan sangkaan kamu yang salah itu) maka menjadilah kamu dari orang-orang yang rugiTranslation: And that thought of yours, which you thought about your Lord, is what has destroyed you; (by that false thought of yours) so you became of those in loss.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«قَالَ أَهْلُ التَّحْقِيقِ الظَّنُّ قِسْمَانِ ظَنٌّ حَسَنٌ بِاللَّهِ تَعَالَى وَظَنٌّ فَاسِدٌ، أَمَّا الظَّنُّ الْحَسَنُ فَهُوَ أَنْ يَظُنَّ بِهِ الرَّحْمَةَ وَالْفَضْلَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/557 · Shamela ↗ (huraian ayat 19–24)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/557 · Shamela ↗ (commentary on 19–24)
Tafsir ar-Rāzī menukil ulama pengkaji: sangkaan terhadap Allah ada dua, sangkaan baik, iaitu mengharapkan rahmat dan kurnia-Nya, dan sangkaan rosak, iaitu menyangka ada perkara yang luput daripada ilmu-Nya.
Renungan: Sangkaan hati boleh membinasakan atau menyelamatkan; mari kita bersangka baik kepada Allah, dan yakin Dia mengetahui segalanya.Tafsir al-Rāzī reports the scholars of careful inquiry: thoughts about Allah are of two kinds, a good thought, expecting His mercy and favour, and a corrupt thought, supposing something escapes His knowledge.
Reflection: A thought in the heart can destroy or save; let us think well of Allah, sure that He knows everything.
يَصۡبِرُواْ
… bersabar menderita azab atau sebaliknya (maka sama sahaja)… endure the punishment patiently or not (it is all the same) (merekathey)
يَسۡتَعۡتِبُواْ
… memohon peluang untuk mendapat keredhaan Allah… ask for a chance to gain Allah’s pleasure (merekathey)
Terjemahan: Oleh itu, sama ada mereka bersabar menderita azab atau sebaliknya (maka sama sahaja) kerana nerakalah tempat tinggal mereka; dan jika mereka memohon peluang untuk mendapat keredhaan Allah, maka mereka bukanlah lagi dari orang-orang yang diterima permohonannyaTranslation: So whether they endure the punishment patiently or not (it is all the same), for Hell is the dwelling for them; and if they ask for a chance to gain Allah’s pleasure, then they are no longer of those whose request is accepted.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى عَلَى جَمِيعِ الْوُجُوهِ: أَنَّ حَاصِلَ أَمْرِهِمْ أَنَّهُمْ قَدْ زُجَّ بِهِمْ فِي النَّارِ فَإِنْ صَبَرُوا وَاسْتَسْلَمُوا فَهُمْ بَاقُونَ فِي النَّارِ، وَإِنِ اعْتَذَرُوا لَمْ يَنْفَعْهُمُ الْعُذْرُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/273 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/273 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kesudahan mereka pada hari itu: jika mereka bersabar dan menyerah, mereka kekal di neraka; jika mereka memohon maaf, keuzuran tidak lagi berguna.
Renungan: Hari ini permohonan maaf masih diterima; mari kita bertaubat sekarang, sebelum masanya berlalu.According to Ibn ‘Āshūr, their end that Day is this: if they endure and give up, they remain in Hell; if they plead excuses, the excuse is of no use.
Reflection: Today a plea for pardon is still accepted; let us repent now, before the time has passed.
فَزَيَّنُواْ
lalu … memperhiaskanthen … made attractive (mereka (teman‑teman itu)they (those companions))
مَّا
mengenai perkara-perkara dunia yang (lit. apa yang)about the matters of this world that (lit. what)
وَمَا
serta perkara-perkara akhirat yang (lit. dan apa yang)and the matters of the Hereafter that (lit. and what)
وَحَقَّ
dan (dengan sebab itu) tetaplahand (because of that) … came true (hukuman (azab) al‑qauluthe sentence (of punishment) al‑qawlu)
خَلَتۡ
terdahulu (lit. telah berlalu)had passed away (ia (umat‑umat itu)they (those communities))
Terjemahan: Dan Kami adakan untuk mereka teman-teman rapat (dari jin dan manusia), lalu teman-teman itu memperhiaskan kepada mereka (fahaman-fahaman sesat) mengenai perkara-perkara dunia yang ada di hadapan mereka, serta perkara-perkara akhirat yang ada di belakang mereka; dan (dengan sebab itu) tetaplah hukuman (azab) atas mereka bersama-sama dengan umat-umat (yang sesat) dari jin dan manusia yang terdahulu daripada mereka. Sesungguhnya mereka semuanya adalah golongan yang rugi (bawaan hidupnya)Translation: And We assigned for them close companions (from the jinn and mankind), then those companions made attractive to them (misguided ideas) about the matters of this world that are before them and the matters of the Hereafter that are behind them; and (because of that) the sentence (of punishment) came true upon them, along with communities (gone astray) from the jinn and mankind that had passed away before them. Truly all of them were those who lost (in the course of their lives).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّزْيِينُ: التَّحْسِينُ، وَهُوَ يُشْعِرُ بِأَنَّ الْمُزَيَّنَ غَيْرُ حَسَنٍ فِي ذَاتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/275 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/275 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “memperhiaskan” bermaksud menjadikannya kelihatan baik, dan ini membayangkan bahawa perkara itu tidak baik pada dirinya.
Renungan: Tidak semua yang kelihatan cantik itu baik; mari kita pilih “teman-teman rapat” yang mendekatkan kita kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, “made attractive” means made to seem good, which hints that the thing is not good in itself.
Reflection: Not all that looks fine is good; let us choose “close companions” who bring us nearer to Allah.
فِيهِ
dia (dengan nyanyian-nyanyian dan jeritan-jeritan riuh rendah serta tepuk sorak) (lit. padanya)it (with songs, clamorous shouting and clapping) (lit. in it)
تَغۡلِبُونَ
… berjaya (mengganggu bacaan atau menenggelamkan suara pembacanya)… succeed (in disturbing the recitation or drowning out the reciter’s voice) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar Al-Quran ini dan tentanglah dia (dengan nyanyian-nyanyian dan jeritan-jeritan riuh rendah serta tepuk sorak), supaya kamu berjaya (mengganggu bacaan atau menenggelamkan suara pembacanya)"Translation: And those who disbelieved said: “Do not hear this Qur’an, and counter it (with songs, clamorous shouting and clapping), so that you succeed (in disturbing the recitation or drowning out the reciter’s voice).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَوْمَ عَلِمُوا أَنَّ الْقُرْآنَ كَلَامٌ كَامِلٌ فِي الْمَعْنَى، وَفِي اللَّفْظِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/558 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/558 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka tahu al-Qur’an sempurna pada makna dan lafaz, dan sesiapa yang mendengarnya akan mengakui kebenarannya, maka mereka merancang untuk menghalang orang daripada mendengarnya.
Renungan: Al-Qur’an memberi kesan apabila didengar; mari kita sendiri mendengarnya dengan tekun, dan memudahkan orang lain mendengarnya.Tafsir al-Rāzī says they knew the Qur’an is complete in meaning and wording, and that whoever hears it will accept its truth, so they plotted to keep people from hearing it.
Reflection: The Qur’an moves those who hear it; let us listen to it closely ourselves, and make it easy for others to hear.
فَلَنُذِيقَنَّ
maka, demi sesungguhnya! … akan merasakanthen, most surely, … will make … taste (KamiWe)
Terjemahan: Maka, demi sesungguhnya! Kami akan merasakan orang-orang yang kafir itu azab seksa yang seberat-beratnya, dan Kami akan membalas mereka dengan seburuk-buruk balasan bagi apa yang mereka telah kerjakanTranslation: Then, most surely, We will make those who disbelieved taste a punishment of the severest kind, and We will repay them with the worst recompense for what they had been doing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ لَفْظَ الذَّوْقِ إِنَّمَا يُذْكَرُ فِي الْقَدْرِ الْقَلِيلِ الَّذِي يُؤْتَى بِهِ لِأَجْلِ التَّجْرِبَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/559 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/559 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, kata “merasakan” disebut bagi kadar kecil yang dicuba; jika yang sedikit itu sudah azab yang berat, bagaimana pula yang banyak?
Renungan: Ayat ini menggerunkan supaya kita berhati-hati; mari kita jauhi jalan yang membawa ke sana, dan memohon perlindungan Allah.Tafsir al-Rāzī says the word “taste” is used of a small amount tried out; if that little is already a severe punishment, what then of the greater?
Reflection: This verse strikes fear so that we take care; let us keep away from the path that leads there, and seek Allah’s protection.
Terjemahan: Demikianlah keadaannya balasan musuh-musuh Allah iaitu neraka; disediakan untuk mereka tempat tinggal yang kekal di dalamnya, sebagai balasan bagi perbuatan mereka sentiasa mengingkari ayat-ayat KamiTranslation: Such is the recompense for the enemies of Allah, namely Hell; prepared for them in it is an abode of everlasting stay, as a recompense for their constantly denying Our verses.
Nota nahu: بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُونَ (ayat 28).Grammar note: بِمَا كَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُونَ (verse 28).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا مِنْ أُسْلُوبِ التَّجْرِيدِ لِيُفِيدَ مُبَالَغَةَ مَعْنَى الْخُلْدِ فِي النَّارِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/279 · Shamela ↗ (huraian ayat 27–28)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/279 · Shamela ↗ (commentary on 27–28)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “tempat tinggal yang kekal” itu ialah neraka sendiri; ia disebut seolah-olah berada di dalamnya, iaitu gaya bahasa tajrīd (menyebut sesuatu seakan-akan benda lain), untuk menguatkan makna kekal di sana.
Renungan: Amaran ini berat; mari kita beriman kepada “ayat-ayat Kami” dan tidak mengingkarinya.According to Ibn ‘Āshūr, “an abode of everlasting stay” is Hell itself; it is spoken of as if it lay within Hell, the style called tajrīd (speaking of a thing as if it were another), to stress the meaning of remaining there.
Reflection: This warning is heavy; let us believe in “Our verses” and not deny them.
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Wahai Tuhan kami! Perlihatkanlah kepada kami dua golongan yang telah menyesatkan kami dari jin dan manusia, untuk kami meletakkan mereka di bawah tapak kaki kami, supaya mereka menjadi golongan yang terkebawah dalam kehinaan"Translation: And those who disbelieved say: “Our Lord! Show us the two groups who led us astray from the jinn and mankind, so we may place them under the soles of our feet, so that they become those lowest in disgrace.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الَّذِي حَمَلَهُمْ عَلَى الْكُفْرِ الْمُوجِبِ لِلْعِقَابِ الشَّدِيدِ مُجَالَسَةُ قُرَنَاءِ السُّوءِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/559 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/559 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, yang membawa mereka kepada kekufuran ialah duduk bersama teman yang buruk, lalu ketika dalam azab mereka meminta diperlihatkan “dua golongan yang telah menyesatkan” mereka.
Renungan: Persahabatan yang salah akan disesali; mari kita pilih teman yang kita tidak akan menyesal mengenalinya.Tafsir al-Rāzī says what drew them into disbelief was sitting with evil companions, and so in the punishment they ask to be shown “the two groups who led us astray”.
Reflection: A wrong friendship will be regretted; let us choose companions we will never regret knowing.
تَتَنَزَّلُ
akan turunlah … dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham)will descend … from time to time (giving inspiration) (malaikat al‑mala’ikatuthe angels al‑malā’ikatu)
تَخَافُواْ
… bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu)… worry (about anything bad happening to you) (kamu sekalianyou all)
بِٱلۡجَنَّةِ
bahawa kamu akan beroleh syurga (lit. dengan syurga)that you will gain Paradise (lit. of Paradise)
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): "Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamuTranslation: Truly those who affirmed their conviction by saying: “Our Lord is Allah,” then stood firm on the right path, the angels will descend upon them from time to time (giving inspiration): “Do not worry (about anything bad happening to you) and do not grieve, and receive the good news that you will gain Paradise that you have been promised.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلَمَّا ذَكَرَ عَقِيبَ ذَلِكَ الْقَوْلِ الِاسْتِقَامَةَ عَلِمْنَا أَنَّ ذَلِكَ الْقَوْلَ كَانَ مَقْرُونًا بِالْيَقِينِ التَّامِّ وَالْمَعْرِفَةِ الْحَقِيقِيَّةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/560 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–32)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/560 · Shamela ↗ (commentary on 30–32)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, “Tuhan kami ialah Allah” bukan sekadar ucapan lidah; apabila istiqamah (tetap teguh) disebut selepasnya, kita tahu ucapan itu disertai keyakinan penuh dan pengenalan sebenar.
Renungan: Kalimah iman diuji oleh kehidupan; mari kita buktikan ucapan kita dengan tetap teguh “di atas jalan yang betul”.Tafsir al-Rāzī says “Our Lord is Allah” is not mere speech of the tongue; since istiqamah (standing firm) is mentioned right after it, we know the saying came with full certainty and true knowledge.
Reflection: Words of faith are tested by life; let us prove ours by standing firm “on the right path”.
تَشۡتَهِيٓ
diingini oleh (lit. mengingini)is desired by (lit. desire) (nafsu kamu anfusukumyour souls anfusukum)
Terjemahan: Kamilah penolong-penolong kamu dalam kehidupan dunia dan pada hari akhirat; dan kamu akan beroleh - pada hari akhirat - apa yang diingini oleh nafsu kamu, serta kamu akan beroleh - pada hari itu - apa yang kamu cita-citakan mendapatnyaTranslation: We are your helpers in the worldly life and on the Day of the Hereafter; and you will gain, on the Day of the Hereafter, what is desired by your souls, and you will gain, on that Day, what you long to have,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْعِلْمَ بِأَنَّ الْمُتَلَقِّيَ صَاحِبٌ قَدِيمٌ يَزِيدُ نَفْسَ الْقَادِمِ انْشِرَاحًا وَأُنْسًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/285 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–32)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/285 · Shamela ↗ (commentary on 30–32)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata “Kamilah penolong-penolong kamu” ialah perkenalan untuk menenangkan orang-orang yang beriman, kerana mengetahui bahawa yang menyambut ialah sahabat lama menambah lapang dada dan rasa mesra.
Renungan: Ketaatan hari ini memberi ketenangan esok; mari kita hidup dengan amal yang ingin kita temui di sana.According to Ibn ‘Āshūr, the words “We are your helpers” are an introduction to put the believers at ease, for knowing that the one who receives you is an old companion adds ease and warmth.
Reflection: Obedience today brings calm tomorrow; let us live by the deeds we wish to meet there.
نُزُلٗا
(pemberian-pemberian yang serba mewah itu) sebagai sambutan penghormatan(those most lavish gifts) as a welcome of honour
غَفُورٖ
Allah Yang Maha Pengampun (lit. Yang Maha Pengampun)Allah, the Most Forgiving (lit. Most Forgiving)
Terjemahan: (Pemberian-pemberian yang serba mewah itu) sebagai sambutan penghormatan dari Allah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani"Translation: (those most lavish gifts) as a welcome of honour from Allah, the Most Forgiving, the Most Merciful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالنُّزُلُ: رِزْقُ النَّزِيلِ وَهُوَ الضَّيْفُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/562 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–32)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/562 · Shamela ↗ (commentary on 30–32)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, dengan lafaz yang sama seperti al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/199), nuzul (sambutan) ialah hidangan bagi tetamu.
Renungan: Mereka disambut sebagai tetamu “Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani”; mari kita bersedia menjadi tetamu-Nya, dengan banyak memohon keampunan dan rahmat-Nya.Tafsir al-Rāzī says, in the same words as al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (4/199), that nuzul (a welcome) is the fare given to a guest.
Reflection: They are received as guests of “the Most Forgiving, the Most Merciful”; let us prepare to be His guests by often seeking His forgiveness and mercy.
إِلَى
kepada (mengesakan dan mematuhi perintah)to (affirming the Oneness of and obeying the commands of)
وَعَمِلَ
serta … sendiri mengerjakanhas himself done (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
ٱلۡمُسۡلِمِينَ
orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)those who are Muslims (who surrender wholly to Allah)
Terjemahan: Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)"Translation: And there is no one better in speech than the one who has called to (affirming the Oneness of and obeying the commands of) Allah, has himself done righteous deeds, and has said: “Truly I belong to those who are Muslims (who surrender wholly to Allah).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَكِنَّ الْحَقَّ الْمَقْطُوعَ بِهِ أَنَّ كُلَّ مَنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ بِطَرِيقٍ مِنَ الطُّرُقِ فَهُوَ دَاخِلٌ فِيهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/563 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–36)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/563 · Shamela ↗ (commentary on 33–36)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, sesiapa sahaja yang menyeru kepada Allah dengan apa jua jalan termasuk dalam ayat ini.
Renungan: Menyeru kepada Allah tidak terhad kepada pentas; mari kita menyeru dengan akhlak, kata-kata yang baik dan “amal yang soleh”, bermula dengan diri sendiri.Tafsir al-Rāzī says whoever calls to Allah in any way at all is included in this verse.
Reflection: Calling to Allah is not limited to a stage; let us do it through character, kind words and “righteous deeds”, beginning with ourselves.
تَسۡتَوِي
sama (kesannya dan hukumnya)equal (in their effect and standing) (perbuatan yang baik al‑hasanatuthe good deed al‑ḥasanatu)
ٱدۡفَعۡ
tolaklah (kejahatan yang ditujukan kepadamu)repel (the evil directed at you) (engkauyou)
Terjemahan: Dan tidaklah sama (kesannya dan hukumnya) perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tolaklah (kejahatan yang ditujukan kepadamu) dengan cara yang lebih baik; apabila engkau berlaku demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karibTranslation: And the good deed is not equal to the evil deed (in their effect and standing). Repel (the evil directed at you) with the way that is better; when you act so then, all at once, the one who holds hostility towards you will become as though he were a close friend.
Nota nahu: فَإِذَا ٱلَّذِى (ayat 34).Grammar note: فَإِذَا ٱلَّذِى (verse 34).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّكَ إِذَا صَبَرْتَ عَلَى سُوءِ أَخْلَاقِهِمْ مَرَّةً بَعْدَ أُخْرَى، وَلَمْ تُقَابِلْ سَفَاهَتَهُمْ بِالْغَضَبِ وَلَا إِضْرَارَهُمْ بِالْإِيذَاءِ وَالْإِيحَاشِ اسْتَحْيَوْا مِنْ تِلْكَ الْأَخْلَاقِ الْمَذْمُومَةِ وَتَرَكُوا تِلْكَ الْأَفْعَالَ الْقَبِيحَةَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/565 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–36)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/565 · Shamela ↗ (commentary on 33–36)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, jika engkau bersabar atas buruk laku mereka berulang kali, dan tidak membalas kebodohan dengan marah, mereka akan malu dengan akhlak itu lalu meninggalkannya.
Renungan: Kebaikan mengubah hati; dalam rumah tangga dan pergaulan harian, mari kita menolak keburukan “dengan cara yang lebih baik”.Tafsir al-Rāzī says if you bear their bad conduct patiently time after time, and do not answer folly with anger, they will feel ashamed of it and give it up.
Reflection: Goodness changes hearts; at home and in daily dealings, let us repel evil “with the way that is better”.
يُلَقَّىٰهَآ
sifat yang terpuji ini … dapat diterima dan diamalkanthis praiseworthy quality can … be received and practised (AlladzinaAlladhīna)NF
يُلَقَّىٰهَآ
dapat diterima dan diamalkancan it be received and practised (orang yang mempunyai dzuone who has dhū)NF
عَظِيمٖ
yang besar dari kebahagiaan dunia dan akhirat (lit. yang besar)great of the happiness of this world and the Hereafter (lit. great)
Terjemahan: Dan sifat yang terpuji ini tidak dapat diterima dan diamalkan melainkan oleh orang-orang yang bersikap sabar, dan tidak juga dapat diterima dan diamalkan melainkan oleh orang yang mempunyai bahagian yang besar dari kebahagiaan dunia dan akhiratTranslation: And this praiseworthy quality cannot be received and practised except by those who have taken a patient stance, and also it cannot be received and practised except by one who has a great portion of the happiness of this world and the Hereafter.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ وَمَا يُلَقَّى هَذِهِ الْفِعْلَةَ إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا عَلَى تَحَمُّلِ الْمَكَارِهِ وَتَجَرُّعِ الشَّدَائِدِ وَكَظْمِ الْغَيْظِ وَتَرْكِ الِانْتِقَامِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/565 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–36)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/565 · Shamela ↗ (commentary on 33–36)
Tafsir ar-Rāzī menukil al-Zajjāj: sifat ini hanya dicapai oleh orang yang sabar menanggung perkara yang tidak disukai, menelan kesukaran, menahan marah dan tidak membalas dendam.
Renungan: Menahan marah ialah latihan seumur hidup; mari kita mulakan dengan satu perkara kecil hari ini.Tafsir al-Rāzī reports al-Zajjāj: this quality is reached only by those patient in bearing what they dislike, swallowing hardship, holding back anger and leaving revenge.
Reflection: Holding back anger is lifelong training; let us begin with one small matter today.
يَنزَغَنَّكَ
engkau dihasut oleh (lit. menghasut engkau)you are incited by (lit. incites you) (hasutan nazghunan incitement nazghun)
Terjemahan: Dan jika engkau dihasut oleh sesuatu hasutan dari Syaitan, maka hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar, lagi Maha MengetahuiTranslation: And if you are incited by some incitement from Satan, then seek protection with Allah. Truly He it is Who is All-Hearing and All-Knowing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأُمِرَ بِأَنَّهُ إِنْ وَجَدَ فِي نَفْسِهِ خَوَاطِرَ تَصْرِفُهُ عَنْ ذَلِكَ وَتَدْعُوهُ إِلَى دَفْعِ السَّيِّئَةِ بِمِثْلِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ نَزْغٌ مِنَ الشَّيْطَانِ دَوَاؤُهُ أَنْ تَسْتَعِيذَ بِاللَّهِ مِنْهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/296 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/296 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini mengajar: jika terlintas dalam diri dorongan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, itu hasutan Syaitan, dan ubatnya ialah meminta perlindungan kepada Allah.
Renungan: Ketika marah memuncak, mari kita berhenti dan berlindung kepada Allah sebelum bertindak.According to Ibn ‘Āshūr, this verse teaches that if thoughts arise urging one to repay evil with evil, that is incitement from Satan, and its cure is to seek protection with Allah.
Reflection: When anger rises, let us pause and seek protection with Allah before we act.
وَٱسۡجُدُواْۤ
dan sebaliknya hendaklah … sujudbut instead make prostration (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan janganlah pula sujud kepada bulan, dan sebaliknya hendaklah kamu sujud kepada Allah yang menciptakannya, kalau betullah kamu hanya beribadat kepada AllahTranslation: And among His signs of power are the night and day, along with the sun and moon. Do not make prostration to the sun, nor to the moon, but instead make prostration to Allah Who created them, if you truly worship Allah alone.
Nota bahasa: إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (ayat 37).Language note: إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ (verse 37).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي أَنَّهُمَا عَبْدَانِ دَلِيلَانِ عَلَى وُجُودِ الْإِلَهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/566 · Shamela ↗ (huraian ayat 37–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/566 · Shamela ↗ (commentary on 37–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, matahari dan bulan hanyalah dua hamba, dua bukti kewujudan Tuhan, maka keduanya tidak layak disujudi.
Renungan: Apa sahaja yang mengagumkan kita di alam ini hanyalah petunjuk kepada Penciptanya; mari kita pandang melaluinya kepada Allah “yang menciptakannya”.Tafsir al-Rāzī says the sun and moon are only two servants, two proofs that God exists, so neither is worthy of prostration.
Reflection: Whatever amazes us in the world only points to its Creator; let us look through it to Allah “Who created them”.
ٱسۡتَكۡبَرُواْ
… tetap ingkar dengan angkuhnya (daripada mematuhi perintah Allah dan mengesakan-Nya, maka tidaklah menjejaskan kebesaran Tuhan)… persist in arrogant refusal (to obey Allah’s command and affirm His Oneness, that does not diminish the greatness of the Lord) (merekathey)
فَٱلَّذِينَ
kerana malaikat-malaikat yang (lit. maka orang-orang yang)for the angels who (lit. then those who)
Terjemahan: Oleh itu, kalau mereka tetap ingkar dengan angkuhnya (daripada mematuhi perintah Allah dan mengesakan-Nya, maka tidaklah menjejaskan kebesaran Tuhan), kerana malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tetap bertasbih kepada-Nya pada waktu malam dan siang, dengan tidak mereka merasa jemuTranslation: So if they persist in arrogant refusal (to obey Allah’s command and affirm His Oneness, that does not diminish the greatness of the Lord), for the angels who are with your Lord constantly glorify Him by night and by day, while they do not grow weary.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّقْدِيرُ: فَإِنْ تَكَبَّرُوا عَنِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَهُوَ غَنِيٌّ عَنْ سُجُودِهِمْ، لِأَنَّ لَهُ عَبِيدًا أَفْضَلَ مِنْهُمْ لَا يَفْتُرُونَ عَنِ التَّسْبِيحِ لَهُ بِإِقْبَالٍ دُونَ سَآمَةٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/301 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/301 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maknanya: jika mereka sombong daripada sujud kepada Allah, Dia tidak berhajat kepada sujud mereka, kerana Dia mempunyai hamba-hamba yang lebih baik daripada mereka, yang tidak henti bertasbih tanpa jemu.
Renungan: Ibadat kita tidak menambah kebesaran Allah; kitalah yang berhajat kepada-Nya, maka mari kita sujud dengan rasa hajat itu.According to Ibn ‘Āshūr, the sense is: if they are too proud to prostrate to Allah, He has no need of it, for He has servants better than they who never cease glorifying Him without weariness.
Reflection: Our worship adds nothing to Allah’s greatness; we are the ones in need, so let us prostrate with that sense of need.
Terjemahan: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, engkau melihat bumi kosong sepi (dalam keadaan kering dan tandus), maka apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya serta suburlah tanamannya. Sesungguhnya Allah yang menghidupkannya sudah tentu berkuasa menghidupkan makhluk-makhluk yang telah mati; sesungguhnya Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatuTranslation: And among His signs of power is that you see the earth empty and still (dry and barren), then when We send down rain upon it, its soil stirs and its plants flourish. Truly Allah, Who gave it life, certainly has the power to give life to creatures that have died; truly He is All-Powerful over every thing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي أَنَّ الْقَادِرَ عَلَى إِحْيَاءِ الْأَرْضِ بَعْدَ مَوْتِهَا هُوَ الْقَادِرُ عَلَى إِحْيَاءِ هَذِهِ الْأَجْسَادِ بَعْدَ مَوْتِهَا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/567 · Shamela ↗ (huraian ayat 37–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/567 · Shamela ↗ (commentary on 37–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Yang berkuasa menghidupkan bumi selepas matinya, Dialah yang berkuasa menghidupkan jasad-jasad ini selepas matinya.
Renungan: Setiap kali hujan menyuburkan tanah, mari kita ingat hari kebangkitan, dan memohon Allah menghidupkan hati kita.Tafsir al-Rāzī says the One with power to give the earth life after its death is the One with power to give these bodies life after their death.
Reflection: Each time rain revives the soil, let us remember the Day of Resurrection, and ask Allah to give life to our hearts.
يَخۡفَوۡنَ
terselindung keadaan (lit. tersembunyi)hidden in their condition (lit. hidden) (merekathey)
ٱعۡمَلُواْ
(katakanlah kepada orang-orang yang menyeleweng itu): buatlah(say to those who deviate): do (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Sebenarnya orang-orang yang menyeleweng dari jalan yang benar mengenai ayat-ayat keterangan Kami, tidak terselindung keadaan mereka dari (pengetahuan) Kami. (Kalau sudah demikian), maka adakah orang yang dihumbankan ke dalam neraka lebih baik, atau orang yang datang dalam keadaan aman dan selamat pada hari kiamat? (Katakanlah kepada orang-orang yang menyeleweng itu): "Buatlah apa yang kamu suka, sesungguhnya Allah Maha Melihat akan apa yang kamu lakukan (dan akan membalasnya)"Translation: In truth those who deviate from the true path concerning Our verses of explanation, their condition is not hidden from Our (knowledge). (If that is so), then is the one who is flung into Hell better, or the one who comes safe and secure on the Day of Resurrection? (Say to those who deviate): “Do what you wish, truly Allah is All-Seeing of what you do (and will repay it).”
Nota nahu: مَا شِئْتُمْ … بِمَا تَعْمَلُونَ (ayat 40).Grammar note: مَا شِئْتُمْ … بِمَا تَعْمَلُونَ (verse 40).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَوْلُهُ: لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنا مُرَادٌ بِهِ الْكِنَايَةُ عَنِ الْوَعِيدِ تَذْكِيرًا لَهُمْ بِإِحَاطَةِ عِلْمِ اللَّهِ بِكُلِّ كَائِنٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/304 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/304 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “tidak terselindung keadaan mereka” ialah kiasan bagi amaran, mengingatkan bahawa ilmu Allah meliputi segala yang wujud; menyeleweng itu termasuk berpaling daripada tanda-tanda di alam dan ayat-ayat al-Qur’an.
Renungan: Ketika membaca ayat atau melihat alam, mari kita terima maksudnya dengan jujur.According to Ibn ‘Āshūr, “their condition is not hidden” is a veiled warning, a reminder that Allah’s knowledge encompasses all that exists; deviating includes turning from the signs in the world and the verses of the Qur’an.
Reflection: When we read a verse or look at the world, let us accept its meaning honestly.
جَآءَهُمۡۖ
sampainya kepada mereka (akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi)… reached them (will be struck by an indescribable punishment) (ia (al‑Qur’an)it (the Qur’an))
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang kufur ingkar terhadap Al-Quran ketika sampainya kepada mereka, (akan ditimpa azab seksa yang tidak terperi); sedang Al-Quran itu, demi sesungguhnya sebuah Kitab Suci yang tidak dapat ditandingiTranslation: Truly those who rejected the Qur’an in disbelief when it reached them (will be struck by an indescribable punishment); while the Qur’an is most surely a Sacred Book that cannot be matched,
Nota nahu: لَمَّا جَآءَهُمْ (ayat 41).Grammar note: لَمَّا جَآءَهُمْ (verse 41).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَمَّا كَوْنُهُ عَزِيزًا بِمَعْنَى عَدِيمِ النَّظِيرِ، فَالْأَمْرُ كَذَلِكَ لِأَنَّ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ عَجَزُوا عَنْ مُعَارَضَتِهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/568 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–42)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/568 · Shamela ↗ (commentary on 40–42)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, al-Qur’an “tidak dapat ditandingi” kerana ia tiada bandingan: orang dahulu dan kemudian tidak mampu menyainginya.
Renungan: Kitab yang tiada tandingan ini ada di tangan kita; mari kita beri ia tempat yang layak dalam hari-hari kita.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī is that the Qur’an “cannot be matched” since it has no equal: those of old and those after could not compete with it.
Reflection: This matchless Book is in our hands; let us give it the place it deserves in our days.
يَأۡتِيهِ
dapat didatangi (lit. datang kepadanya)can … come to it (lit. comes to it) (sebarang kepalsuan al‑batiluany falsehood al‑bāṭilu)
حَكِيمٍ
Tuhan Yang Maha Bijaksana (lit. Yang Maha Bijaksana)the Lord, the All-Wise (lit. All-Wise)
Terjemahan: Yang tidak dapat didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya; ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha TerpujiTranslation: to which no falsehood can come from any direction or any side of it; it is sent down from the Lord, the All-Wise, the Most Praiseworthy.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«قَالَ صَاحِبُ «الْكَشَّافِ» هَذَا تَمْثِيلٌ، وَالْمَقْصُودُ أَنَّ الْبَاطِلَ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ، وَلَا يَجِدُ إِلَيْهِ سَبِيلًا مِنْ جِهَةٍ مِنَ الْجِهَاتِ حَتَّى يَتَّصِلَ إِلَيْهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/568 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–42)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/568 · Shamela ↗ (commentary on 40–42)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, yang dinukil daripada al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (lihat 4/202), ayat ini suatu perumpamaan: kepalsuan tidak mendapat jalan kepadanya dari mana-mana arah.
Renungan: Kita boleh tenang bersandar kepada al-Qur’an; mari kita jadikan ia ukuran, dan menilai pendapat kita dengannya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, reported from al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (see 4/202), is that this verse is a likeness: falsehood finds no way to it “from any direction”.
Reflection: We can rest secure on the Qur’an; let us make it our measure, and weigh our opinions by it.
لَكَ
kepadamu (wahai Muhammad, dari celaan-celaan golongan yang ingkar, tidak lain)to you (O Muhammad, of the taunts of those who reject, is nothing other)
إِنَّ
(oleh itu bersabarlah dengan cekal hati menghadapinya), sesungguhnya(so be patient with a firm heart in facing it), truly
لَذُو
(sungguh) berkuasa penuh melimpahkan (lit. yang mempunyai)(truly) has full power to pour forth (lit. possessor of)
مَغۡفِرَةٖ
keampunan-Nya (kepada orang-orang yang taat) (lit. keampunan)His forgiveness (upon those who obey) (lit. forgiveness)
وَذُو
dan berkuasa penuh menimpakan (lit. dan yang mempunyai)and has full power to bring down (lit. and possessor of)
أَلِيمٖ
yang tidak terperi sakitnya (kepada orang-orang yang ingkar)of indescribable pain (upon those who reject)
Terjemahan: Apa yang dikatakan kepadamu (wahai Muhammad, dari celaan-celaan golongan yang ingkar, tidak lain) hanyalah seperti yang pernah dikatakan kepada Rasul-rasul yang terdahulu daripadamu. (Oleh itu bersabarlah dengan cekal hati menghadapinya), sesungguhnya Tuhanmu berkuasa penuh melimpahkan keampunan-Nya (kepada orang-orang yang taat), dan berkuasa penuh menimpakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya (kepada orang-orang yang ingkar)Translation: What is said to you (O Muhammad, of the taunts of those who reject, is nothing other) than the like of what has been said to the Messengers who came before you. (So be patient with a firm heart in facing it), truly your Lord has full power to pour forth His forgiveness (upon those who obey), and has full power to bring down a punishment of indescribable pain (upon those who reject).
Nota nahu: مَّا يُقَالُ لَكَ (ayat 43).Grammar note: مَّا يُقَالُ لَكَ (verse 43).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَفَوِّضْ هَذَا الْأَمْرَ إِلَى اللَّهِ وَاشْتَغِلْ بِمَا أُمِرْتَ بِهِ وَهُوَ التَّبْلِيغُ وَالدَّعْوَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/569 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–46)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/569 · Shamela ↗ (commentary on 43–46)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, yang dinilainya paling hampir, pada bahagian awalnya dengan lafaz yang sama seperti al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/202), kata-kata kaum itu serupa dengan yang diucapkan kepada para Rasul, maka serahkanlah urusan ini kepada Allah dan sibukkan diri dengan tugas menyampaikan.
Renungan: Apabila dicela kerana kebenaran, mari kita bersabar dan terus berbuat baik.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, the one it judges nearest, says, at first in the same words as al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (4/202), that the people’s words are like those said to the Messengers, so leave this matter to Allah and keep to the task of conveying.
Reflection: When taunted for the truth, let us stay patient and keep doing good.
ءَايَٰتُهُۥٓۖ
ayat-ayatnya (dalam bahasa yang kami fahami)its verses (in a language we understand)
ءَا۬عۡجَمِيّٞ
patutkah Kitab itu berbahasa asingis it fitting that the Book be in a foreign language
وَعَرَبِيّٞۗ
sedang Rasul yang membawanya berbangsa Arabwhile the Messenger who brings it is an Arab
فِيٓ
(al-Qur’an itu) menjadi sebagai satu penyakit yang menyumbat (lit. pada)(the Qur’an) is like an ailment that blocks (lit. in)
عَلَيۡهِمۡ
yang menimpa (pandangan) mereka (lit. atas mereka)that falls upon their (sight) (lit. upon them)
عَمًىۚ
merupakan gelap-gelita (bukan cahaya yang menerangi) (lit. kebutaan)is utter darkness (not a light that illumines) (lit. blindness)
أُوْلَٰٓئِكَ
mereka itu - (dengan perbuatan melarikan diri dari ajaran al-Qur’an, tidak ubahnya seperti) orang-orang yangthose people, (by fleeing from the teaching of the Qur’an, are no different from) people who
بَعِيدٖ
yang jauh (masakan mereka dapat mendengar dengan betul atau melihat dengan nyata)far away (how could they hear properly or see clearly)
Terjemahan: Dan kalaulah Al-Quran itu Kami jadikan (bacaan) dalam bahasa asing, tentulah mereka akan berkata: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya (dalam bahasa yang kami fahami)? Patutkah Kitab itu berbahasa asing sedang Rasul yang membawanya berbangsa Arab?" Katakanlah (wahai Muhammad): "Al-Quran itu, menjadi (cahaya) petunjuk serta penawar bagi orang-orang yang beriman; dan sebaliknya orang-orang yang tidak beriman, (Al-Quran itu) menjadi sebagai satu penyakit yang menyumbat telinga mereka (bukan penawar); dan ia juga merupakan gelap-gelita yang menimpa (pandangan) mereka (bukan cahaya yang menerangi). Mereka itu - (dengan perbuatan melarikan diri dari ajaran Al-Quran, tidak ubahnya seperti) orang-orang yang diseru dari tempat yang jauh (masakan mereka dapat mendengar dengan betul atau melihat dengan nyata)"Translation: And if We had made the Qur’an a (recitation) in a foreign language, they would surely say: “Why were its verses not explained (in a language we understand)? Is it fitting that the Book be in a foreign language while the Messenger who brings it is an Arab?” Say (O Muhammad): “The Qur’an is a (light of) guidance and a cure for those who believe; but as for those who do not believe, (the Qur’an) is like an ailment that blocks their ears (not a cure); and it also is utter darkness that falls upon their (sight) (not a light that illumines). Those people, (by fleeing from the teaching of the Qur’an, are no different from) people who are called from a place far away (how could they hear properly or see clearly).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَقِيقَةُ الشِّفَاءِ: زَوَالُ الْمَرَضِ وَهُوَ مُسْتَعَارٌ هُنَا لِلْبَصَارَةِ بِالْحَقَائِقِ وَانْكِشَافِ الِالْتِبَاسِ مِنَ النَّفْسِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/315 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/315 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “penawar” di sini kiasan bagi jelasnya pandangan terhadap hakikat dan hilangnya kekeliruan daripada jiwa, seperti hilangnya sakit apabila sembuh.
Renungan: Al-Qur’an sama, penerimaan berbeza; mari kita datang kepadanya dengan hati yang beriman, supaya ia menjadi “petunjuk serta penawar”.According to Ibn ‘Āshūr, “a cure” here is a figure for clear insight into realities and the lifting of confusion from the soul, as illness leaves on recovery.
Reflection: The Qur’an is the same, the receiving differs; let us come to it with believing hearts, that it may be “guidance and a cure”.
وَلَقَدۡ
dan (janganlah engkau merasa kecewa wahai Muhammad tentang keingkaran kaummu, kerana) demi sesungguhnyaand (do not feel disappointed, O Muhammad, about the rejection of your people, for) most surely
رَّبِّكَ
Tuhanmu (untuk menangguhkan hukuman hingga ke suatu masa yang tertentu)your Lord (to defer judgement until a fixed time)
لَقُضِيَ
tentulah dijatuhkan … dengan serta mertawould surely have been passed at once (tersirat (hukuman azab)implied (the judgement of punishment))NF
Terjemahan: Dan (janganlah engkau merasa kecewa wahai Muhammad tentang keingkaran kaummu, kerana) demi sesungguhnya! Kami telah memberi kepada Nabi Musa Kitab Taurat, lalu berlaku pertentangan mengenainya. Dan kalaulah tidak kerana telah terdahulu kalimah ketetapan dari Tuhanmu (untuk menangguhkan hukuman hingga ke suatu masa yang tertentu), tentulah dijatuhkan hukuman azab dengan serta merta kepada mereka. Dan sesungguhnya mereka (kaummu) masih menaruh syak yang meragukan tentang (kebenaran Al-Quran) ituTranslation: And (do not feel disappointed, O Muhammad, about the rejection of your people, for) most surely We gave the Prophet Musa the Book of the Torah, then there was dispute about it. And were it not that a word of decree had gone before from your Lord (to defer judgement until a fixed time), the punishment would surely have been passed upon them at once. And truly they (your people) still hold a doubt that unsettles about (the truth of the Qur’an).
Nota nahu: فَٱخْتُلِفَ فِيهِ (ayat 45).Grammar note: فَٱخْتُلِفَ فِيهِ (verse 45).
Nota nahu: لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ (ayat 45).Grammar note: لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ (verse 45).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْتِرَاضٌ بتسلية للنبيء ﷺ عَلَى تَكْذِيبِ الْمُشْرِكِينَ وَكُفْرِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِأَنَّهُ لَيْسَ بِأَوْحَدَ فِي ذَلِكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/317 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/317 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah selingan untuk menghibur Nabi ﷺ atas pendustaan orang musyrik terhadap al-Qur’an: baginda bukan seorang diri dalam hal ini, kerana Kitab Nabi Musa juga diperselisihkan.
Renungan: Apabila kebenaran ditolak, mari kita ingat para Rasul lebih dahulu melaluinya, lalu tetap sabar.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is an aside to comfort the Prophet ﷺ over the denial of the Qur’an by the people of shirk: he was not alone in this, for the Book of the Prophet Musa was disputed too.
Reflection: When the truth is rejected, let us remember the Messengers went through it first, and stay patient.
فَلِنَفۡسِهِۦۖ
maka faedahnya akan terpulang kepada dirinya sendiri (lit. maka bagi dirinya)its benefit will return to himself (lit. then for himself)
فَعَلَيۡهَاۗ
maka bahayanya akan menimpa dirinya sendiri (lit. maka atasnya)its harm will fall upon himself (lit. then upon it)
Terjemahan: Sesiapa yang mengerjakan amal soleh maka faedahnya akan terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang berbuat kejahatan maka bahayanya akan menimpa dirinya sendiri; dan Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hamba-NyaTranslation: Whoever does a righteous deed, its benefit will return to himself, and whoever does evil, its harm will fall upon himself; and your Lord never acts unjustly to His servants.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَرْفُ (عَلَى) مُؤْذِنٌ بِمُؤَاخَذَةِ وَتَحَمُّلِ أَعْبَاءٍ كَمَا أَنَّ اللَّامَ فِي قَوْلِهِ: فَلِنَفْسِهِ مُؤْذِنٌ بِالْعَطَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/319 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 24/319 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, huruf lām (“untuk dirinya”) membayangkan pemberian, dan huruf ‘alā (“ke atasnya”) membayangkan tanggungan; penangguhan azab pula ialah peluang untuk memperbaiki diri.
Renungan: Setiap amal kembali kepada kita; mari kita hantar kebaikan untuk diri kita, selagi ada masa.According to Ibn ‘Āshūr, the letter lām (“for himself”) hints at a gift, and the letter ‘alā (“upon it”) at a burden to bear; the delay of punishment is a chance to put things right.
Reflection: Every deed returns to us; let us send good ahead for ourselves while there is time.
إِلَيۡهِ
kepada (ilmu pengetahuan) Allah (sahaja) (lit. kepada-Nya)to (the knowledge of) Allah (alone) (lit. to Him)
يُرَدُّ
kembalinya (lit. dikembalikan)goes back (lit. is referred) (soal mengetahui ‘ilmuthe matter of knowing ‘ilmu)NF
وَمَا
dan (demikianlah tiap-tiap apa yang akan berlaku, kerana) … tidak akanand (so it is with all that will happen, for) … will not
بِعِلۡمِهِۦۚ
dengan pengetahuan Allah (lit. dengan pengetahuan-Nya)with Allah’s knowledge (lit. with His knowledge)
يُنَادِيهِمۡ
… menyeru mereka (yang musyrik, dengan bertanya kepada mereka)… calls to them (the people of shirk, asking them) (Dia (Tuhan)He (the Lord))
شُرَكَآءِي
makhluk-makhluk yang kamu sifatkan menjadi sekutu-sekutu-Kuthe creatures you described as My partners
شَهِيدٖ
seorang pun yang mahu menjadi saksi (kerana anggapan kami dahulu telah nyata salahnya)anyone willing to bear witness (for our past assumption has clearly proved false)
Terjemahan: Kepada (ilmu pengetahuan) Allah jualah kembalinya soal mengetahui masa datangnya hari kiamat; dan (demikianlah tiap-tiap apa yang akan berlaku, kerana) sebiji buah (umpamanya) tidak akan keluar dari kelopaknya, dan seorang ibu tidak akan mengandung dan tidak akan melahirkan anak, melainkan (pada masa dan keadaan yang betul tepat) dengan pengetahuan Allah. Dan pada hari Tuhan menyeru mereka (yang musyrik, dengan bertanya kepada mereka): "Mana dia makhluk-makhluk yang kamu sifatkan menjadi sekutu-sekutu-Ku?" Mereka menjawab: "Kami mengakui kepada-Mu (wahai Tuhan kami), bahawa tidak ada di antara kami seorang pun yang mahu menjadi saksi (kerana anggapan kami dahulu telah nyata salahnya)"Translation: To (the knowledge of) Allah alone goes back the matter of knowing when the Hour will come; and (so it is with all that will happen, for) a fruit (for example) will not come out from its sheath, and a mother will not conceive and will not give birth, except (at the exact right time and state) with Allah’s knowledge. And on the Day the Lord calls to them (the people of shirk, asking them): “Where are the creatures you described as My partners?” they reply: “We declare to You (O our Lord) that there is not among us anyone willing to bear witness (for our past assumption has clearly proved false).”
Nota bahasa: إِلَيْهِ يُرَدُّ (ayat 47).Language note: إِلَيْهِ يُرَدُّ (verse 47).
Nota nahu: وَمَا تَخْرُجُ مِن ثَمَرَٰتٍ (ayat 47).Grammar note: وَمَا تَخْرُجُ مِن ثَمَرَٰتٍ (verse 47).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيِ الْأَجْدَرُ أَنْ تَعْلَمُوا أَنْ لَا يَعْلَمَ أَحَدٌ مَتَى السَّاعَةُ وَأَنْ تُؤْمِنُوا بِهَا وَتَسْتَعِدُّوا لَهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/5 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–48)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/5 · Shamela ↗ (commentary on 47–48)
Menurut Ibn ‘Āshūr, jawapan ini mengalihkan soalan mereka: yang lebih patut ialah kamu tahu tiada sesiapa mengetahui bila Kiamat, lalu kamu beriman kepadanya dan bersedia.
Renungan: Masa itu milik Allah, persediaan itu tugas kita; mari kita gunakan hari ini untuk bersiap, bukan untuk meneka.According to Ibn ‘Āshūr, this reply redirects their question: what is more fitting is to know that no one knows when the Hour will come, and to believe in it and prepare.
Reflection: The time belongs to Allah, the preparing is our task; let us use today to get ready, not to guess.
وَضَلَّ
dan (pada saat itu) hilang lenyaplahand (at that moment) … vanishes (apa yang mawhat mā)
مَّحِيصٖ
sebarang jalan melepaskan diri (dari azab seksa)way to free themselves (from the punishment)
Terjemahan: Dan (pada saat itu) hilang lenyaplah dari mereka apa yang mereka sembah dahulu (yang diharapkan pertolongannya), dan yakinlah mereka bahawa tidak ada sebarang jalan untuk mereka melepaskan diri (dari azab seksa)Translation: And (at that moment) what they worshipped before (hoping for its help) vanishes from them, and they are certain that there is no way for them to free themselves (from the punishment).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِذْ لَمْ يَجِدُوا مَا كَانُوا يَزْعُمُونَهُ فَقَدْ عَلِمُوا أَنَّهُمْ لَا مَحِيصَ لَهُمْ، أَيْ لَا مَلْجَأَ لَهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الَّذِي شَاهَدُوا إِعْدَادَهُ، فَالظَّنُّ هُنَا بِمَعْنَى الْيَقِينِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/8 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–48)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/8 · Shamela ↗ (commentary on 47–48)
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila mereka tidak menemui apa yang mereka dakwa, mereka tahu tiada tempat lari daripada azab itu; kata ẓann (sangkaan) di sini bermakna yakin.
Renungan: Sandaran palsu akan hilang ketika paling diperlukan; mari kita bersandar kepada Allah sekarang.According to Ibn ‘Āshūr, when they did not find what they had claimed, they knew there was no refuge from that punishment; the word ẓann (supposition) here means certainty.
Reflection: False supports vanish when most needed; let us lean on Allah now.
مَّسَّهُ
ia ditimpa (lit. menyentuhnya)he is afflicted by (lit. touches him) (kesusahan asy‑syarruhardship ash‑sharru)
فَيَـُٔوسٞ
maka menjadilah ia seorang yang sangat berputus asathen he becomes utterly despairing
قَنُوطٞ
lagi sangat nyata kesan putus harapnya (dari rahmat pertolongan Allah)and shows plain signs of lost hope (in the mercy of Allah’s help)
Terjemahan: Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan. Dan kalau ia ditimpa kesusahan maka menjadilah ia seorang yang sangat berputus asa, lagi sangat nyata kesan putus harapnya (dari rahmat pertolongan Allah)Translation: Man does not tire of asking for good. And if he is afflicted by hardship then he becomes utterly despairing and shows plain signs of lost hope (in the mercy of Allah’s help).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يعني أنه في حال الإقبال ومجيء المرادات لا ينتهي قط إلى درجة إلا ويطلب الزيادة عليها ويطمع بالفوز بها، وفي حال الإدبار والحرمان يصير آيسا قانطا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/572 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–54)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/572 · Shamela ↗ (commentary on 47–54)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ketika keadaan baik, manusia tidak berhenti pada satu darjat tanpa meminta lebih, dan ketika keadaan sempit, dia menjadi putus asa.
Renungan: Hati mudah berubah mengikut keadaan; mari kita tetap bersyukur ketika senang, dan tetap berharap kepada Allah ketika susah.Tafsir al-Rāzī says that in good times man stops at no rank without seeking more, and in hard times he falls into despair.
Reflection: The heart shifts with circumstances; let us stay thankful in ease, and keep hoping in Allah in hardship.
مَسَّتۡهُ
ia ditimpa (lit. menyentuhnya)he was afflicted by (lit. touched him) (ia (kesusahan itu)it (that hardship))
لَيَقُولَنَّ
(sungguh) berkatalah (dengan sikap tidak bersyukur)(truly) … says (in an ungrateful manner) (diahe)
لَلۡحُسۡنَىٰۚ
(sungguh) kebaikan (seperti kesenanganku sekarang ini)(truly) good (like my comfort now)
فَلَنُنَبِّئَنَّ
maka demi sesungguhnya! … akan memberi tahuthen most surely … will inform (KamiWe)
وَلَنُذِيقَنَّهُم
dan (sungguh) … akan beri mereka merasaiand (truly) … will make them taste (KamiWe)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Jika Kami beri dia merasai sesuatu rahmat dari Kami sesudah ia ditimpa sesuatu kesusahan, berkatalah ia (dengan sikap tidak bersyukur): "Ini ialah hakku (hasil usahaku semata-mata), dan aku tidak fikir bahawa hari kiamat akan berlaku; dan kalaulah aku dikembalikan kepada Tuhanku (sekalipun), sudah tentu aku akan beroleh kebaikan di sisi-Nya (seperti kesenanganku sekarang ini)!" Maka demi sesungguhnya! Kami akan memberi tahu kepada orang-orang yang kufur ingkar itu akan keburukan apa yang mereka telah kerjakan, dan Kami akan beri mereka merasai azab seksa yang seberat-beratnyaTranslation: And most surely, if We make him taste some mercy from Us after he was afflicted by some hardship, he says (in an ungrateful manner): “This is my right (the fruit of my effort alone), and I do not suppose the Hour will come to pass; and if I am returned to my Lord (even so), certainly I will gain good with Him (like my comfort now)!” Then most surely We will inform those who rejected in disbelief of the evil of what they did, and We will make them taste a punishment of the severest kind.
Nota nahu: بِمَا عَمِلُوا۟ (ayat 50).Grammar note: بِمَا عَمِلُوا۟ (verse 50).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهِيَ بِأَسْرِهَا إِنَّمَا حَصَلَتْ لَهُ بفضل الله وإحسانه»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/572 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–54)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/572 · Shamela ↗ (commentary on 47–54)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, makna “Ini ialah hakku” hampir seperti al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/205), lalu dijelaskan: segala kelebihan yang ada pada seseorang diperoleh hanya dengan kurnia dan ihsan Allah.
Renungan: Kejayaan kita bukan hasil usaha semata-mata; mari kita nisbahkannya kepada kurnia Allah, dan bersyukur.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī reads “This is my right” much as al-Zamakhsharī does in al-Kashshāf (4/205), then explains that every merit a person has comes only by Allah’s favour and kindness.
Reflection: Our success is not the fruit of effort alone; let us credit it to Allah’s favour, and give thanks.
وَنَـَٔا
serta menjauhkan diri (dari bersyukur)and keeps himself away (from giving thanks) (diahe)
مَسَّهُ
ia ditimpa (lit. menyentuhnya)he is afflicted by (lit. touches him) (kesusahan asy‑syarruhardship ash‑sharru)
Terjemahan: Dan apabila Kami kurniakan nikmat kepada manusia, berpalinglah dia serta menjauhkan diri (dari bersyukur); dan apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berdoa merayu dengan panjang lebarTranslation: And when We bestow favour upon man, he turns away and keeps himself away (from giving thanks); and when he is afflicted by hardship, then he prays and pleads at great length.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَكَانَ الشَّأْنُ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنْ ذَلِكَ فِي حَالِ النِّعْمَةِ فَيَدْعُوَ بِدَوَامِهَا وَيَشْكُرَ رَبَّهُ عَلَيْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/14 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/14 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sifat ini tersebar pada semua manusia dengan kadar berbeza, kecuali yang dipelihara Allah. Yang patut ialah jangan lalai berdoa ketika senang, tetapi memohon nikmat itu kekal dan bersyukur kepada Tuhan.
Renungan: Mari kita berdoa ketika senang seperti kita berdoa ketika susah.According to Ibn ‘Āshūr, this trait is spread among all people in varying degree, except those Allah protects. What is fitting is not to neglect prayer in ease, but to ask that the favour last and to thank one’s Lord.
Reflection: Let us pray in ease as we pray in hardship.
أَرَءَيۡتُمۡ
sudahkah nampak baiknya keadaan kamu (lit. adakah … melihat)can … see any good in your state (lit. have … seen) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sudahkah nampak baiknya keadaan kamu jika Al-Quran ini (yang datangnya) dari Allah kemudian kamu mengingkarinya? Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang tetap berada dalam perbalahan dan pertentangan, yang menyimpang jauh dari kebenaran"Translation: Say (O Muhammad): “Can you see any good in your state if this Qur’an (comes) from Allah and then you reject it? Who has strayed further than one who remains in dispute and opposition, straying far from the truth?”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَمَّا قَبْلَ الدَّلِيلِ فَالْإِصْرَارُ عَلَى الدَّفْعِ وَالْإِعْرَاضِ بَعِيدٌ عَنِ الْعَقْلِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/573 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–54)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/573 · Shamela ↗ (commentary on 47–54)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, jika al-Qur’an itu benar, berkeras menolaknya membawa akibat yang amat berat; maka sebelum melihat dalil, berkeras menolak dan berpaling itu jauh daripada akal.
Renungan: Menolak tanpa memeriksa bukan sikap orang berakal; mari kita tenang dan memeriksa sebelum memutuskan.Tafsir al-Rāzī says if the Qur’an is true, insisting on rejecting it brings the gravest result; so to insist on refusing and turning away before seeing the proof is far from reason.
Reflection: Rejecting without examining is not the way of the thoughtful; let us stay calm and examine before we decide.
ٱلۡأٓفَاقِ
merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini)places everywhere (in this vast open world)
أَوَلَمۡ
belumkah ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkahhas that truth not become clear to them, and has it not
يَكۡفِ
cukup (bagi mereka)sufficed (for them) (ayat: annahu ‘ala kulli syai’in syahidthe clause: annahū ‘alā kulli shay’in shahīd)
Terjemahan: Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di merata-rata tempat (dalam alam yang terbentang luas ini) dan pada diri mereka sendiri, sehingga ternyata jelas kepada mereka bahawa Al-Quran adalah benar. Belumkah ternyata kepada mereka kebenaran itu dan belumkah cukup (bagi mereka) bahawa Tuhanmu mengetahui dan menyaksikan tiap-tiap sesuatuTranslation: We will show them Our signs of power in places everywhere (in this vast open world) and in their own selves, until it is made plain to them that the Qur’an is the truth. Has that truth not become clear to them, and has it not sufficed (for them) that your Lord knows and witnesses every thing?
Nota nahu: أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ (ayat 53).Grammar note: أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ (verse 53).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِلَّا أَنَّ الْعَجَائِبَ الَّتِي أَوْدَعَهَا اللَّهُ تَعَالَى فِي هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مِمَّا لَا نِهَايَةَ لَهَا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/574 · Shamela ↗ (huraian ayat 47–54)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/574 · Shamela ↗ (commentary on 47–54)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, walaupun manusia telah melihat tanda-tanda itu, keajaiban yang Allah letakkan padanya tidak berpenghujung, dan Dia memperlihatkannya dari masa ke masa.
Renungan: Alam dan diri kita sentiasa mengajak kita mengingati Allah; mari kita pandang semuanya dengan hati yang merenung.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī is that, though people have already seen those signs, the wonders Allah placed in them have no end, and He shows them time after time.
Reflection: The world and our own selves keep calling us to remember Allah; let us look at them all with a reflective heart.
Terjemahan: Ingatlah! Sesungguhnya mereka (yang kufur ingkar) sentiasa berada di dalam keadaan syak - ragu-ragu tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah! Sesungguhnya Allah Maha Meliputi pengetahuan-Nya akan tiap-tiap sesuatuTranslation: Remember! Truly they (who reject in disbelief) are constantly in a state of doubt and uncertainty about meeting their Lord. Remember! Truly Allah encompasses every thing by His knowledge.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِذْ كَانَتْ أَحْوَالُهُمُ الْمَذْكُورَةُ فِيهَا نَاشِئَةً عَنْ إِنْكَارِهِمُ الْبَعْثَ فَكَانُوا فِي مَأْمَنٍ مِنَ التَّفْكِيرِ فِيمَا بَعْدَ هَذِهِ الْحَيَاةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/21 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/21 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menghimpunkan keadaan mereka dalam surah ini: semuanya lahir daripada pengingkaran terhadap kebangkitan, lalu usaha mereka terhad pada urusan dunia.
Renungan: Apabila kita lupa “pertemuan dengan Tuhan”, hidup menjadi sempit; mari kita jadikan pertemuan itu tujuan setiap hari.According to Ibn ‘Āshūr, this verse gathers their state throughout the surah: all of it arose from denying the Resurrection, so their efforts were confined to this world.
Reflection: When we forget the meeting with our Lord, life grows narrow; let us make that meeting our aim each day.