Terjemahan: Kalau mereka dapat tempat perlindungan, atau gua-gua, atau lubang-lubang dalam tanah, nescaya mereka segera menuju ke arahnya serta melompat masuk ke dalamnyaTranslation: If they found a place of refuge, or caves, or holes in the ground, they would surely head swiftly towards it and leap into it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْأَقْرَبُ أَنْ يُحْمَلَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهَا عَلَى غَيْرِ مَا يُحْمَلُ الْآخَرُ عَلَيْهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/74–75 · Shamela ↗ (huraian ayat 56–57)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/74–75 · Shamela ↗ (commentary on 56–57)
Kata ar-Rāzī, sekiranya mereka mendapat tempat berlindung yang aman daripada kamu, nescaya mereka lari ke sana dan meninggalkan kamu; maka janganlah disangka bahawa keberadaan mereka bersama kamu di kampung dan tempat tinggal itu datang dari hati. Menurut beliau, lebih dekat jika setiap satu daripada tiga perkataan itu dibawa kepada makna yang berlainan: “tempat perlindungan” mungkin kubu, “gua-gua” ialah gua di bukit, dan “lubang-lubang dalam tanah” ialah terowong di bawah tanah. Yajmaḥūn (bergegas meluru) pula bermaksud bergegas tanpa dapat ditahan oleh apa-apa.
Renungan: Kebersamaan yang sebenar lahir dari hati, bukan sekadar tempat; marilah kita bersama orang beriman dengan hati yang ikhlas.Ar-Rāzī says if they found a shelter safe from you, they would flee to it and leave you; so do not think their sharing your town and homes comes from the heart. In his view it is nearer to take each of the three words in a different sense: the place of refuge may be strongholds, the caves are hollows in the hills, and the holes are underground tunnels. Yajmaḥūn, rushing headlong, means hurrying with nothing to hold them back.
Reflection: True togetherness is born in the heart, not in a place; let us stand with the believers sincerely.
يَلۡمِزُكَ
… mencelamu (wahai Muhammad)… find fault with you (O Muhammad) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
مِنۡهَآ
dari zakat itu (menurut kehendaknya) (lit. daripadanya)any of that zakat (as they wish) (lit. of it)
Terjemahan: Dan di antara mereka ada yang mencelamu (wahai Muhammad) mengenai (pembahagian) sedekah-sedekah (zakat); oleh itu jika mereka diberikan sebahagian daripadanya (menurut kehendak mereka), mereka suka (dan memandangnya adil); dan jika mereka tidak diberikan dari zakat itu (menurut kehendaknya), (maka) dengan serta merta mereka marahTranslation: And among them there are some who find fault with you (O Muhammad) concerning (the distribution of) the alms (zakat); so if they are given part of it (as they wish), they are pleased (and regard it as fair); and should they not be given any of that zakat (as they wish), (then) at once they are angry.
Nota nahu: وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا۟ مِنْهَآ إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (ayat 58).Grammar note: وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا۟ مِنْهَآ إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ (verse 58).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«هَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى رَكَاكَةِ أَخْلَاقِ أُولَئِكَ الْمُنَافِقِينَ وَدَنَاءَةِ طِبَاعِهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/76 · Shamela ↗ (huraian ayat 58–59)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/76 · Shamela ↗ (commentary on 58–59)
Ar-Rāzī menukil ahl al-ma‘ānī (ahli ilmu makna) bahawa ayat ini menunjukkan rendahnya akhlak dan hinanya tabiat mereka: kerana terlalu tamak kepada sedekah, mereka mencela Rasul dan menuduh baginda tidak adil dalam pembahagian, padahal baginda insan yang paling jauh daripada kecenderungan kepada dunia. Kata ar-Rāzī pula, perkataan idhā dalam “dengan serta merta mereka marah” ialah untuk mufāja’ah (berlaku secara mendadak), iaitu kemarahan mereka datang tiba-tiba.
Renungan: Redha dan marah kita tidak sepatutnya bergantung pada bahagian yang kita terima; marilah kita menilai sesuatu dengan neraca agama, bukan kepentingan diri.Ar-Rāzī reports the scholars of ma‘ānī, the study of meaning, as saying this verse shows how mean their character and how base their nature: out of sheer greed for the alms they found fault with the Messenger and charged him with unfairness in sharing them out, though he was the furthest of people from any leaning towards the world. Ar-Rāzī himself says the word idhā marks mufāja’ah, suddenness, so their anger flares up suddenly.
Reflection: Our pleasure and anger should not hang on the share we receive; let us weigh matters by the scale of religion, not self-interest.
ءَاتَىٰهُمُ
diberikan oleh … kepada mereka (lit. … memberi mereka)was given to them by (lit. … gave them) (AllahAllah)
وَرَسُولُهُۥٓ
demikian juga Rasul-Nya (lit. dan Rasul-Nya)likewise His Messenger (lit. and His Messenger)
Terjemahan: Dan (amatlah baiknya) kalau mereka berpuas hati dengan apa yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, sambil mereka berkata: "Cukuplah Allah bagi kami; Allah akan memberi kepada kami dari limpah kurnia-Nya, demikian juga Rasul-Nya; sesungguhnya kami sentiasa berharap kepada Allah"Translation: And (how good it would be) if they were content with what was given to them by Allah and His Messenger, while saying: “Allah is enough for us; Allah will give us out of His abundant bounty, likewise His Messenger; truly we always set our hopes on Allah.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِنَّا رَاغِبُونَ إِلَى مَا عَيَّنَهُ اللَّهُ لَنَا لَا نَطْلُبُ إِعْطَاءَ مَا لَيْسَ مِنْ حَقِّنَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/233–234 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/233–234 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini disambung selepas keadaan yang tercela untuk menerangkan keadaan yang terpuji. Ḥasb (yang mencukupi) dalam “Cukuplah Allah bagi kami” bermaksud memadai. Dalam “sesungguhnya kami sentiasa berharap”, didahulukan sebutan ‘kepada Allah’ untuk memberi erti ḥaṣr (pembatasan): kepada Allah kami berharap, bukan kepada selain-Nya; maksudnya kami mengharapkan apa yang Allah tetapkan untuk kami dan tidak meminta apa yang bukan hak kami. Raghbah (harapan) ialah meminta dengan beradab.
Renungan: Berharap kepada Allah menuntut adab dan rasa cukup; marilah kita tidak meminta apa yang bukan hak kita.According to Ibn ‘Āshūr, this verse follows the blameworthy state to show the praiseworthy one. Ḥasb, enough, in their saying Allah is enough for us means sufficient. In their saying they set their hopes, putting to Allah first gives ḥaṣr, restriction: to Allah we turn in hope, to no one else; that is, we hope for what Allah has set for us and do not ask for what is not our due. Raghbah, hope, is asking with good manners.
Reflection: Hoping in Allah calls for good manners and contentment; let us not ask for what is not ours by right.
ٱلسَّبِيلِۖ
(yang keputusan) dalam perjalanan (lit. jalan)(who are stranded) on their journey (lit. the road)
فَرِيضَةٗ
(ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan(such a decree of law is) a decree
Terjemahan: Sesungguhnya sedekah-sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, dan orang-orang miskin, dan amil-amil yang mengurusnya, dan orang-orang muallaf yang dijinakkan hatinya, dan untuk hamba-hamba yang hendak memerdekakan dirinya, dan orang-orang yang berhutang, dan untuk (dibelanjakan pada) jalan Allah, dan orang-orang musafir (yang keputusan) dalam perjalanan. (Ketetapan hukum yang demikian itu ialah) sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Mengetahui, lagi Maha BijaksanaTranslation: Truly the alms (zakat) are only for people who are poor, and people in need, and the officers who manage it, and the people whose hearts are won over, and for slaves who wish to free themselves, and those in debt, and for (spending in) the path of Allah, and travellers (who are stranded) on their journey. (Such a decree of law is) a decree (that comes) from Allah. And (remember) Allah is All-Knowing and All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ مِنْ هَذَا تَعْظِيمُ شَأْنِ هَذَا الْحُكْمِ وَالْأَمْرُ بِالْوُقُوفِ عِنْدَهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/240 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/240 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “sebagai satu ketetapan (yang datangnya) dari Allah” menguatkan makna bahawa Allah telah memfardukan perkara ini; tujuannya ialah membesarkan kedudukan hukum ini dan menyuruh agar berhenti pada batasnya. Penutup “Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana” ialah tadhyīl (ulasan penutup): ketetapan ini datang daripada Yang Maha Mengetahui apa yang sesuai dalam hukum-hakam, lagi Maha Bijaksana yang menyempurnakan apa yang dicipta dan disyariatkan-Nya.
Renungan: Hukum Allah lahir daripada ilmu dan hikmah-Nya; marilah kita menghormati ketetapan-Nya dan tidak melampaui batasnya.According to Ibn ‘Āshūr, the words calling this a decree from Allah stress that Allah Himself has laid it down; the aim is to show how weighty this ruling is and to bid people stop at its bounds. The close about Allah being All-Knowing and All-Wise is a tadhyīl, a closing comment: the decree comes from the One who knows what suits His rulings, and who is wise, perfecting all He creates and ordains.
Reflection: Allah’s rulings flow from His knowledge and wisdom; let us honour what He decrees and never overstep its bounds.
أُذُنٞۚ
orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya) (lit. telinga)is one who readily listens (and believes whatever he hears) (lit. an ear)
Terjemahan: Dan di antara mereka (yang munafik itu) ada orang-orang yang menyakiti Nabi sambil mereka berkata: "Bahawa dia (Nabi Muhammad) orang yang suka mendengar (dan percaya pada apa yang didengarnya)". Katakanlah: "Dia mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah dan percaya kepada orang mukmin, dan ia pula menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu". Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: And among them (the hypocrites) there are those who hurt the Prophet, while saying: “He (the Prophet Muhammad) is one who readily listens (and believes whatever he hears).” Say: “He listens (and believes) what is of good to you; he has faith in Allah and trusts the believers, and he is also a mercy for those among you who believe.” And those who hurt the Messenger of Allah will have a punishment beyond words in its pain.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُ يُجْرِي أَمْرَكُمْ عَلَى الظَّاهِرِ، وَلَا يُبَالِغُ فِي التَّفْتِيشِ عَنْ بَوَاطِنِكُمْ، وَلَا يَسْعَى فِي هَتْكِ أَسْتَارِكُمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/89–90 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/89–90 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, mereka menggelar Nabi ‘telinga’ untuk mencela, dengan maksud baginda kononnya mudah terpedaya dengan apa sahaja yang didengar. Allah menjawab bahawa baginda “mendengar (dan percaya) apa yang baik bagi kamu”, lalu menyebut tiga sifat yang menjadikannya begitu; antaranya, baginda menjadi “rahmat bagi orang-orang yang beriman”, kerana baginda melayan urusan orang menurut yang zahir, tidak berlebihan menyelidik isi hati mereka, dan tidak berusaha membuka aib mereka.
Renungan: Menutup aib dan berbaik sangka ialah akhlak Rasulullah; marilah kita tidak mengintip dan membuka aib orang lain.Ar-Rāzī says they called the Prophet an ear to mock him, meaning he was supposedly easily taken in by whatever he heard. Allah answered that he listens to what is good for them, and named three traits that make him so; among them, he is a mercy for the believers, because he deals with people’s affairs by what is outward, does not pry into what lies within them, and does not strive to expose their faults.
Reflection: Covering faults and thinking well of others is the Messenger of Allah’s character; let us not spy on others or expose their faults.
لِيُرۡضُوكُمۡ
untuk mendapat keredhaan kamu (lit. supaya … meredhakan kamu)to gain your good pleasure (lit. so that … may please you) (merekathey)
يُرۡضُوهُ
… mendapat keredhaan-Nya (lit. … meredhakan-Nya)… gain His good pleasure (lit. … please Him) (merekathey)
Terjemahan: Mereka bersumpah kepada kamu dengan nama Allah untuk mendapat keredhaan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya jualah yang lebih berhak mereka mendapat keredhaan-Nya, jika betul mereka orang-orang yang berimanTranslation: They swear to you by the name of Allah to gain your good pleasure, whereas it is Allah and His Messenger who are more deserving that they gain His good pleasure, if they truly are people who believe.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الْعَالِمَ بِالْأَسْرَارِ وَالضَّمَائِرِ هُوَ اللَّهُ تَعَالَى، وَإِخْلَاصُ الْقَلْبِ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللَّهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/91–92 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/91–92 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, mereka bersumpah supaya orang beriman senang hati dengan sumpah mereka, sedangkan sepatutnya mereka mendapatkan redha Allah dengan ikhlas dan taubat, bukan dengan menzahirkan apa yang berlawanan dengan isi hati. Tentang kata ganti tunggal yang dipakai selepas sebutan “Allah dan Rasul-Nya” dalam ayat ini, beliau menyebut beberapa wajah (kemungkinan makna); antara huraian beliau, yang mengetahui segala rahsia dan isi hati hanyalah Allah, dan keikhlasan hati tidak diketahui melainkan oleh Allah, sebab itu Allah menyebut diri-Nya secara khusus.
Renungan: Manusia hanya melihat zahir, Allah melihat hati; marilah kita mencari redha Allah, bukan pujian manusia.Ar-Rāzī says they swore so that the believers would be pleased with their oaths, when they ought to have sought Allah’s pleasure through sincerity and repentance, not by showing the opposite of what they hid. On the single pronoun after Allah and His Messenger, he gives several possible senses; one of his explanations is that only Allah knows all secrets and what lies in the heart, and sincerity of heart is known to none but Allah, so He named Himself alone.
Reflection: People see the outside, while Allah sees the heart; let us seek Allah’s good pleasure, not people’s praise.
يُحَادِدِ
… menentang (perintah-perintah)… opposes (the commands of) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Tidakkah mereka mengetahui bahawa sesiapa yang menentang (perintah-perintah) Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya adalah baginya neraka Jahannam serta ia kekal di dalamnya? Balasan yang demikian adalah kehinaan yang besarTranslation: Have they not come to know that anyone who opposes (the commands of) Allah and His Messenger, then truly there is for him the fire of Hell (Jahannam), and he will abide in it? Such a recompense is a disgrace that is great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ كَثُرَ اسْتِعْمَالُ هَذَا وَنَحْوِهِ فِي الْإِعْلَامِ بِأَمْرٍ مُهِمٍّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/246 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/246 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini berperanan sebagai sebab bagi ayat sebelumnya, kerana orang yang berakal tidak meredhai bagi dirinya amalan yang membawanya kepada azab seperti ini. Soalan “Tidakkah mereka mengetahui” bermaksud mengingkari dan mencela, kerana tidak mengetahuinya amat ganjil sedangkan dalil-dalilnya ada; ungkapan seperti ini banyak dipakai untuk memberitahu perkara yang penting, seakan-akan dikatakan: hendaklah mereka mengetahui. Muḥāddah (menentang) pula ialah bermusuhan dan menyalahi.
Renungan: Allah telah membentangkan dalil yang cukup; marilah kita mengambil peringatan sebelum terlambat.According to Ibn ‘Āshūr, this verse serves as the reason for the one before it, since no one of sound mind would accept for himself a deed leading to such punishment. The question whether they have not come to know is one of reproach and censure, for not knowing it is strange when the proofs are there; this kind of wording is often used to announce a matter of weight, as if to say: let them know. Muḥāddah, opposing, means enmity and going against.
Reflection: Allah has laid out proof enough; let us take heed before it is too late.
تُنَبِّئُهُم
yang menerangkan kepada mereka (dan kepada ramai)that explains to them (and to many) (ia (surah itu)it (the surah))
ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ
ejek-ejeklah (seberapa yang kamu suka)go on mocking (as much as you like) (kamu sekalianyou all)
تَحۡذَرُونَ
… takut (terdedah untuk pengetahuan ramai)… fear (being exposed to the knowledge of many) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Orang-orang munafik itu takut kalau diturunkan satu surah Al-Quran yang menerangkan kepada mereka (dan kepada ramai) akan apa yang ada dalam hati mereka (dari kekufuran). Katakanlah (wahai Muhammad): "Ejek-ejeklah (seberapa yang kamu suka), sesungguhnya Allah akan mendedahkan apa yang kamu takut (terdedah untuk pengetahuan ramai)"Translation: The hypocrites fear that a surah of the Qur’an may be sent down that explains to them (and to many) what is in their hearts (of disbelief). Say (O Muhammad): “Go on mocking (as much as you like); truly Allah will expose what you fear (being exposed to the knowledge of many).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْأَهَمَّ مِنْ تَهْدِيدِهِمْ هُوَ إِظْهَارُ سَرَائِرِهِمْ لَا إِنْزَالُ السُّورَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/249 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/249 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ikhrāj (mengeluarkan) dalam “Allah akan mendedahkan apa yang kamu takut” dipakai secara kiasan bagi menzahirkan: Allah menzahirkan isi hati mereka dengan menurunkan surah-surah. Ungkapan itu dipilih, bukan ‘Allah akan mengeluarkan surah yang memberitahu isi hati kamu’, kerana yang lebih penting dalam ancaman itu ialah terdedahnya rahsia mereka, bukan turunnya surah; maka ungkapan ringkas itu merangkumi kedua-duanya.
Renungan: Tiada rahsia yang tersembunyi daripada Allah; marilah kita membersihkan hati sebelum Allah menzahirkan isinya.According to Ibn ‘Āshūr, ikhrāj, bringing out, in the words about Allah exposing what they fear is used figuratively for making manifest: Allah lays bare what is in their hearts by sending down surahs. That wording was chosen, rather than saying Allah will bring out a surah telling what is in your hearts, because what matters most in the warning is the exposure of their secrets, not the sending down of a surah; so the short wording covers both.
Reflection: No secret is hidden from Allah; let us cleanse our hearts before Allah brings out what is in them.
سَأَلۡتَهُمۡ
… bertanya kepada mereka (tentang ejek-ejekan itu)… ask them (about that mockery) (engkauyou)
Terjemahan: Dan jika engkau bertanya kepada mereka (tentang ejek-ejekan itu) tentulah mereka akan menjawab: "Sesungguhnya kami hanyalah berbual dan bermain-main". Katakanlah: "Patutkah nama Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu memperolok-olok dan mengejeknya"Translation: And if you ask them (about that mockery), they will surely answer: “Truly we were only chatting and playing around.” Say: “Is it the name of Allah and His verses along with His Messenger that you mock and jeer at?”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَرْقٌ بَيْنَ قَوْلِكَ أَتَسْتَهْزِئُ بِاللَّهِ، وَبَيْنَ قَوْلِكَ أَبِاللَّهِ تَسْتَهْزِئُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/94 · Shamela ↗ (huraian ayat 65–66)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/94 · Shamela ↗ (commentary on 65–66)
Kata ar-Rāzī, ada perbezaan antara berkata ‘adakah engkau mengejek Allah?’ dengan ‘adakah Allah yang engkau ejek?’: yang pertama mengingkari perbuatan mengejek itu sendiri, manakala yang kedua mengingkari dijadikan Allah sasaran ejekan; seakan-akan dikatakan, walaupun engkau berani mengejek, bagaimana engkau sanggup menjadikan Allah sasarannya. Begitulah susunan “Patutkah nama Allah” yang didahulukan dalam ayat ini.
Renungan: Agama bukan bahan gurauan; marilah kita menjaga lidah daripada bermain-main dengan nama Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya.Ar-Rāzī says there is a difference between asking, do you mock Allah, and asking, is it Allah you mock: the first condemns the act of mocking itself, while the second condemns making Allah its target, as if to say, even if you dare to mock, how could you make Allah the target? That is the order of this verse, where Allah’s name comes first.
Reflection: Religion is no subject for jest; let us guard our tongues from making light of Allah’s name, His verses and His Messenger.
تَعۡتَذِرُواْ
… berdalih (dengan alasan-alasan yang dusta)… make excuses (with false reasons) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Janganlah kamu berdalih (dengan alasan-alasan yang dusta), kerana sesungguhnya kamu telah kufur sesudah kamu (melahirkan) iman. Jika Kami maafkan sepuak dari kamu (kerana mereka bertaubat), maka Kami akan menyeksa puak yang lain, kerana mereka adalah orang-orang yang terus bersalahTranslation: Do not make excuses (with false reasons), for truly you have disbelieved after your (professing) faith. If We pardon one group of you (because they repent), then We will punish another group, because they are people who persist in guilt.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«جَاءَتْ هَذِهِ الْجُمْلَةُ عَلَى عَادَةِ الْقُرْآنِ فِي تَعْقِيبِ النِّذَارَةِ بِالتَّبْشِيرِ لِلرَّاغِبِ فِي التَّوْبَةِ تَذْكِيرًا لَهُ بِإِمْكَانِ تَدَارُكِ حَالِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/252 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/252 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Jika Kami maafkan sepuak dari kamu (kerana mereka bertaubat)” datang menurut kebiasaan al-Qur’an menyusuli amaran dengan khabar gembira bagi sesiapa yang ingin bertaubat, untuk mengingatkannya bahawa keadaannya masih boleh diperbaiki. Golongan yang dimaafkan ialah yang mencari sebab kemaafan dengan mengikhlaskan iman, manakala yang diazab ialah yang berterusan dalam nifak (kepura-puraan iman) hingga mati.
Renungan: Pintu taubat sentiasa terbuka bagi yang ikhlas; marilah kita segera kembali kepada Allah sebelum terlambat.According to Ibn ‘Āshūr, the words about pardoning one group follow the Qur’an’s way of following a warning with good news for anyone who wishes to repent, reminding him that his state can still be put right. The group pardoned are those who seek the cause of pardon by making their faith sincere, while the group punished are those who keep to nifāq, false show of faith, until death.
Reflection: The door of repentance is always open to the sincere; let us hasten back to Allah before it is too late.
نَسُواْ
… telah melupakan (tidak menghiraukan perintah)… have forgotten (have paid no heed to the commands of) (merekathey)
فَنَسِيَهُمۡۚ
dan … juga melupakan (tidak menghiraukan) merekaand … too has forgotten (has paid no heed to) them (DiaHe)
Terjemahan: Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, setengahnya adalah sama dengan setengahnya yang lain; mereka masing-masing menyuruh dengan perbuatan yang jahat, dan melarang dari perbuatan yang baik, dan mereka pula menggenggam tangannya (bakhil kedekut). Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu, merekalah orang-orang yang fasikTranslation: The hypocrites, male and female, some of them are the same as the others; each of them commands evil deeds, and forbids good deeds, and they also clench their hands (being stingy and miserly). They have forgotten (have paid no heed to the commands of) Allah, and Allah too has forgotten (has paid no heed to) them. Truly the hypocrites — they are the ones who are rebellious.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«النِّسْيَانُ ضِدُّ الذِّكْرِ، فَلَمَّا تَرَكُوا ذِكْرَ اللَّهِ بِالْعِبَادَةِ وَالثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ، تَرَكَ اللَّهُ ذِكْرَهُمْ بِالرَّحْمَةِ وَالْإِحْسَانِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/97 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/97 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī tentang “Mereka telah melupakan (tidak menghiraukan perintah) Allah dan Allah juga melupakan (tidak menghiraukan) mereka”: lupa ialah lawan ingat; apabila mereka meninggalkan zikir (mengingati) Allah dengan ibadat dan pujian, Allah meninggalkan menyebut mereka dengan rahmat dan ihsan (kebaikan). Beliau juga menerangkan bahawa ungkapan ‘menggenggam tangan’ berasal daripada orang yang memberi, yang menghulur dan membuka tangannya; lalu orang yang menahan dan bakhil dikatakan menggenggam tangannya.
Renungan: Sesiapa yang mengingati Allah akan disebut-Nya dengan rahmat; marilah kita mengisi hari-hari kita dengan zikir dan bersifat pemurah.One of ar-Rāzī’s explanations of their forgetting Allah and Allah forgetting them: forgetting is the opposite of remembering, so when they left off remembering Allah through worship and praise, Allah left off mentioning them with mercy and kindness. He also explains that clenching the hand comes from the giver, who stretches out and opens his hand, so one who holds back and is miserly is said to clench his hand.
Reflection: Whoever remembers Allah is mentioned by Him with mercy; let us fill our days with remembrance and be generous.
Terjemahan: Allah menjanjikan orang-orang munafik lelaki dan perempuan serta orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu menjadi balasan mereka; dan Allah melaknatkan mereka, dan bagi mereka azab seksa yang kekalTranslation: Allah has promised the hypocrites, male and female, along with those who disbelieve, the fire of Hell (Jahannam); they will abide in it. That fire is enough as their recompense; and Allah has laid His curse on them, and they will have a punishment that is lasting.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْعَذَابُ الْعَاجِلُ الَّذِي لَا يَنْفَكُّونَ عَنْهُ، وَهُوَ مَا يُقَاسُونَهُ مِنْ تَعَبِ النِّفَاقِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/98 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–69)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/98 · Shamela ↗ (commentary on 68–69)
Kata ar-Rāzī, “Cukuplah neraka itu menjadi balasan mereka” bermaksud hukuman itu memadai bagi mereka, tiada yang lebih dahsyat daripadanya. Tentang “azab seksa yang kekal” selepas sebutan neraka, beliau menyebut beberapa jawapan; antara huraian beliau, ia ialah azab segera di dunia yang tidak pernah lekang daripada mereka, iaitu keletihan hidup dalam nifak (kepura-puraan iman), takut rahsia mereka diketahui Rasul, dan sentiasa bimbang akan terdedah.
Renungan: Kepura-puraan itu sendiri satu azab yang memenatkan; marilah kita hidup dengan jujur supaya hati tenang.Ar-Rāzī says the words calling the Fire enough as their recompense mean that this punishment is sufficient for them, with nothing more severe than it. On the lasting punishment mentioned after the Fire he gives several answers; one of his explanations is that it is a punishment here and now that never leaves them: the weariness of living in nifāq, false show of faith, the fear that the Messenger will learn their secrets, and the constant dread of being exposed.
Reflection: Pretence is itself a wearying torment; let us live honestly so that our hearts find peace.
كَٱلَّذِينَ
(nasib kamu hai orang-orang munafik) adalah sama dengan nasib orang-orang(your fate, O hypocrites,) is like the fate of those
فَٱسۡتَمۡتَعۡتُم
maka … pula telah bersenang-senangso … too have taken pleasure (kamu sekalianyou all)
ٱسۡتَمۡتَعَ
… bersenang-senang… took pleasure (orang‑orang yang sebelum kamu alladzinathose before you alladhīna)
وَخُضۡتُمۡ
dan … pula telah memperkatakan (perkara yang salah dan dusta)and … too have talked (of what is false and untrue) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: (Nasib kamu hai orang-orang munafik) adalah sama dengan nasib orang-orang sebelum kamu (yang telah dibinasakan), mereka lebih kuat serta lebih banyak harta benda dan anak pinak daripada kamu; seterusnya mereka telah bersenang-senang dengan bahagian mereka; maka kamu pula telah bersenang-senang dengan bahagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelum kamu itu bersenang-senang dengan bahagiannya; dan kamu pula telah memperkatakan (perkara yang salah dan dusta) sebagaimana mereka memperkatakannya. Mereka yang demikian, rosak binasalah amal-amalnya (yang baik) di dunia dan di akhirat, dan merekalah orang-orang yang rugiTranslation: (Your fate, O hypocrites,) is like the fate of those before you (who were destroyed); they were stronger and had more wealth and offspring than you; and then they took pleasure in their share; so you too have taken pleasure in your share, just as the people before you took pleasure in their share; and you too have talked (of what is false and untrue) just as they talked. Such people — their (good) deeds have come to ruin in the world as well as in the Hereafter, and they are the ones who lose.
Nota nahu: كَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ … كَمَا ٱسْتَمْتَعَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُم … وَخُضْتُمْ كَٱلَّذِى خَاضُوٓا۟ (ayat 69).Grammar note: كَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ … كَمَا ٱسْتَمْتَعَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُم … وَخُضْتُمْ كَٱلَّذِى خَاضُوٓا۟ (verse 69).
(2) ٱلَّذِى dalam كَٱلَّذِى خَاضُوٓا۟ diwarnakan hijau (kata nama penghubung, ism mawṣūl). Dalam kurungan kitab rujukan kami ada pandangan lain: “أو أنها مصدرية وتؤول مع ما بعدها بمصدر” (atau ia maṣdariyyah, yang bersama kata kerja selepasnya membentuk makna kata terbitan, iaitu “seperti perbualan mereka”), dengan catatan: “وهذا نادر” (dan ini jarang) (2/885 · Shamela ↗). Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān) menyebutnya sebagai pandangan kedua: “أَنَّ «الَّذِي» هُنَا مَصْدَرِيَّةٌ؛ أَيْ: كَخَوْضِهِمْ، وَهُوَ نَادِرٌ” (alladhī di sini maṣdariyyah, iaitu “seperti perbualan mereka”, dan ia jarang) (2/651 · Shamela ↗), manakala Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) menolaknya: “وهو مذهب ضعيف لبعض النحاة لا يعتد به، والصواب: أنه موصول اسمي مراد به الجمع” (ia mazhab yang lemah bagi sebahagian ahli nahu dan tidak diambil kira; yang betul ialah ia kata nama penghubung yang bermaksud jamak) (4/187 · Shamela ↗). Pada pandangan maṣdariyyah itu, ٱلَّذِى menjadi ḥarf dan akan diwarnakan merah. Kami mengikut kitab rujukan kami. Makna perkata mengikut Basmeih (“sama dengan nasib orang-orang …”, “sebagaimana”).(1) The letter كَ (like) in كَٱلَّذِينَ, كَمَا and كَٱلَّذِى is coloured red (a particle), following Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm): “﴿كَالَّذِينَ﴾: جار ومجرور متعلق بمحذوف خبر لمبتدإ محذوف أي: أنتم كالذين” (a jār-majrūr (a preposition with the word it governs) attached to an omitted khabar (predicate) of an omitted mubtada’ (subject), i.e. “you are like those …”) (2/884 · Shamela ↗), and: “﴿كَمَا﴾ (الكاف): حرف جر. (ما): مصدرية” (the kāf is a ḥarf jar (preposition); mā is maṣdariyyah (a particle that, with the verb after it, gives the sense of a verbal noun, maṣdar)) (2/885 · Shamela ↗). So too Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “الكاف: حرف تشبيه وجر. (ما): مصدرية” (4/187 · Shamela ↗), and Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(الكاف) حرف جرّ (الذين) اسم موصول” (5/385 · Shamela ↗) and “(ما) حرف مصدريّ” (5/386 · Shamela ↗). Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh), however, puts first the view that the kāf is a noun: “الكاف اسم بمعنى مثل خبر لمبتدأ محذوف أي أنتم مثل الذين ويجوز أن تكون الكاف حرف جر” (the kāf is a noun meaning “like”, the khabar of an omitted mubtada’, i.e. “you are like those …”; or it is a ḥarf jar), and for كَمَا: “الكاف محلها النصب على المفعولية المطلقة” (the kāf is in the naṣb (accusative) as a maf‘ūl muṭlaq (absolute object)) (4/129 · Shamela ↗). Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān) says for كَٱلَّذِينَ: “الْكَافُ فِي مَوْضِعِ نَصْبِ نَعْتٍ لِمَصْدَرٍ مَحْذُوفٍ” (the kāf is in the naṣb, describing an omitted verbal noun), and for كَٱلَّذِى: “الْكَافُ فِي مَوْضِعِ نَصْبٍ أَيْضًا” (the kāf is in the naṣb too) (2/650 · Shamela ↗). On that noun view the kāf would be coloured green.
(2) ٱلَّذِى in كَٱلَّذِى خَاضُوٓا۟ is coloured green (a relative noun, ism mawṣūl). A bracket in our reference book gives another view: “أو أنها مصدرية وتؤول مع ما بعدها بمصدر” (or it is maṣdariyyah, giving with the verb after it the sense of a verbal noun, i.e. “like their talking”), with the remark: “وهذا نادر” (and this is rare) (2/885 · Shamela ↗). Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān) gives it as a second view: “أَنَّ «الَّذِي» هُنَا مَصْدَرِيَّةٌ؛ أَيْ: كَخَوْضِهِمْ، وَهُوَ نَادِرٌ” (alladhī here is maṣdariyyah, i.e. “like their talking”, and that is rare) (2/651 · Shamela ↗), while Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) rejects it: “وهو مذهب ضعيف لبعض النحاة لا يعتد به، والصواب: أنه موصول اسمي مراد به الجمع” (it is a weak position of some grammarians and is not to be relied on; the correct view is that it is a relative noun meant as a plural) (4/187 · Shamela ↗). On the maṣdariyyah view ٱلَّذِى would be a particle and coloured red. We follow our reference book. The word meanings follow Basmeih (“sama dengan nasib orang-orang …”, “sebagaimana”).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فِي إِعْرَاضِ كِلَيْهِمَا عَنْ أَخْذِ الْعُدَّةِ لِلْحَيَاةِ الدَّائِمَةِ وَفِي انْصِبَابِهِمَا عَلَى التَّمَتُّعِ الْعَاجِلِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/258 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/258 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, istimtā‘ (bersenang-senang) ialah menikmati; sīn dan tā’ padanya menguatkan makna. Khalāq (bahagian) ialah bahagian daripada kebaikan. Sebutan “bersenang-senang dengan bahagian mereka” bagi kedua-dua golongan bertujuan memberi pengajaran tentang kedua-duanya: kedua-duanya berpaling daripada membuat persiapan untuk kehidupan yang kekal dan menumpukan diri kepada keseronokan segera; maka janganlah mereka terpedaya dengan penangguhan yang mereka nikmati.
Renungan: Kesenangan dunia boleh menjadi penangguhan yang memperdaya; marilah kita menjadikan bahagian kita di dunia sebagai bekalan akhirat.According to Ibn ‘Āshūr, istimtā‘, taking pleasure, means enjoying; its sīn and tā’ add force. Khalāq, share, is one’s portion of good. Mentioning both groups taking pleasure in their share aims to teach a lesson from each: both turned away from preparing for the life that lasts and gave themselves over to quick enjoyment; so let them not be deceived by the respite they enjoy.
Reflection: Worldly ease can be a respite that deceives; let us make our share in this world provision for the Hereafter.
أَتَتۡهُمۡ
(semuanya) telah datang kepada mereka(all of them) … came to them (Rasul‑rasul mereka rusuluhumtheir Messengers rusuluhum)
بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ
dengan membawa keterangan yang jelas nyatabringing evidence that was clear and plain
فَمَا
(lalu mereka mendustakannya dan Tuhan pula membinasakan mereka); … tidak sekali-kali (lit. maka tidaklah)(then they denied it, and the Lord in turn destroyed them); … did not in any way (lit. so … not)
Terjemahan: Bukankah telah datang kepada mereka berita orang-orang yang terdahulu daripada mereka, iaitu kaum Nabi Nuh dan Aad dan Thamud dan kaum Nabi Ibrahim, dan penduduk negeri Madyan serta negeri-negeri yang telah dibinasakan? (Semuanya) telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan yang jelas nyata, (lalu mereka mendustakannya dan Tuhan pula membinasakan mereka); Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiriTranslation: Has there not come to them the news of those who went before them — the people of the Prophet Nuh, and ‘Ād, and Thamud, and the people of the Prophet Ibrahim, and the inhabitants of the land of Madyan, and the towns that were destroyed? (All of them) — their Messengers came to them bringing evidence that was clear and plain, (then they denied it, and the Lord in turn destroyed them); Allah did not in any way wrong them, but it is they who did wrong to their own selves.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَنُفِيَ الظُّلْمُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى بِأَبْلَغِ وَجْهٍ، وَهُوَ النَّفْيُ الْمُقْتَرِنُ بِلَامِ الْجُحُودِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/262 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/262 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat “Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri” dimulakan dengan menafikan kezaliman daripada Allah untuk menegaskan buruknya perbuatan mereka. Kezaliman dinafikan daripada Allah dengan cara yang paling kuat, iaitu penafian yang disertai lām al-juḥūd (lam penafian) selepas kata kerja kāna (ada) yang dinafikan; manakala kezaliman mereka terhadap diri sendiri disebut dengan bentuk yang menunjukkan ia telah lama bertapak dan sentiasa berulang.
Renungan: Akibat dosa berpunca daripada diri kita sendiri; marilah kita bermuhasabah, bukan menyalahkan orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the words that Allah never wronged them, but they wronged themselves, begin by denying wrong on Allah’s part so as to stress how evil their deeds were. Wrong is denied of Allah in the strongest way, with lām al-juḥūd, the lām of denial, after the negated verb kāna, to be; while their wronging of themselves is put in a form showing it had long taken root and kept recurring.
Reflection: The fruit of sin comes from ourselves; let us take stock of ourselves rather than blame others.
سَيَرۡحَمُهُمُ
akan diberi rahmat oleh (lit. … akan merahmati mereka)will be given mercy by (lit. … will have mercy on them) (AllahAllah)
Terjemahan: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain; mereka menyuruh berbuat kebaikan, dan melarang daripada berbuat kejahatan; dan mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha BijaksanaTranslation: And the believers, male and female, some of them are helpers of the others; they command doing good, and forbid doing evil; and they perform the prayer and give zakat, and are obedient to Allah and His Messenger. Those will be given mercy by Allah; truly Allah is All-Mighty and All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الطَّاعَةَ تَقْتَضِي مُرَاقَبَةَ الْمُطَاعِ فَهِيَ ضِدُّ النِّسْيَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/262–263 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/262–263 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, orang beriman disifatkan “setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain” untuk menunjukkan bahawa ikatan yang menghimpunkan mereka ialah walāyah (setia kawan dan saling menolong) Islam, kerana walāyah mengandungi erti ikhlas dan bantu-membantu. Sifat-sifat mereka bertentangan dengan sifat orang munafik: “mendirikan sembahyang” disebut kerana ia kebaikan yang paling besar, memberi zakat berlawanan dengan menggenggam tangan, dan taat berlawanan dengan melupakan Allah, kerana taat menuntut murāqabah (sentiasa sedar diawasi) oleh Zat yang ditaati.
Renungan: Ketaatan bermula dengan ingat kepada Allah; marilah kita saling membantu dalam kebaikan sebagai saudara seiman.According to Ibn ‘Āshūr, the believers are described as helpers of one another to show that the bond joining them is the walāyah, loyal mutual help, of Islam, for walāyah carries the sense of sincerity and support. Their traits stand against those of the hypocrites: prayer is named as the greatest good, giving zakat answers clenching the hand, and obedience answers forgetting Allah, since obedience calls for murāqabah, constant awareness of the One obeyed.
Reflection: Obedience begins with remembering Allah; let us help one another in good as brothers and sisters in faith.
Terjemahan: Allah menjanjikan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, (akan beroleh) Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka kekal di dalamnya dan beroleh tempat-tempat yang baik di dalam "Syurga Adn" serta keredhaan dari Allah yang lebih besar kemuliaannya; (balasan) yang demikian itulah kejayaan yang besarTranslation: Allah has promised the believers, male and female, (that they will obtain) abodes of Paradise with rivers flowing beneath them; they will abide in them, and will obtain places that are good in “Paradise of ‘Adn”, and good pleasure from Allah that is greater in its glory; that (recompense) is the success that is great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى أَنَّ رِضْوَانَ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ كُلِّ مَا سَلَفَ ذِكْرُهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/102 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/102 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, maksud ‘lebih besar’ dalam ayat ini ialah redha Allah lebih besar daripada semua nikmat yang disebut sebelumnya. Antara huraian beliau tentang “kejayaan yang besar”: inilah kejayaan yang sebenar, bukan keseronokan dunia yang dikejar oleh orang munafik dan kafir.
Renungan: Redha Allah ialah nikmat yang paling tinggi; marilah kita menjadikannya tujuan setiap amal.Ar-Rāzī says greater here means that Allah’s good pleasure is greater than every blessing named before it. One of his explanations of the great success: this is the true success, not the worldly enjoyment that the hypocrites and disbelievers chase.
Reflection: Allah’s good pleasure is the highest blessing; let us make it the aim of every deed.
وَبِئۡسَ
dan itulah seburuk-burukand that is the worst (tempat kembali al‑masiruthe place of return al‑maṣīru)
Terjemahan: Wahai Nabi, berjihadlah menentang orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bertindak keras terhadap mereka. Dan (sebenarnya) tempat mereka ialah neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembaliTranslation: O Prophet, strive against those who disbelieve and the hypocrites, and act sternly against them. And (in truth) their dwelling place is Hell (Jahannam), and that is the worst place of return.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَكَانَتْ عَادَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي هَذَا الْكِتَابِ الْكَرِيمِ جَارِيَةً بِذِكْرِ الْوَعْدِ مَعَ الْوَعِيدِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/103 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 16/103 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyifatkan orang munafik dengan sifat-sifat yang buruk dan mengancam mereka dengan pelbagai azab, dan kerana kebiasaan Allah dalam kitab yang mulia ini ialah menyebut janji bersama ancaman, Allah menyebut selepasnya sifat-sifat mulia orang beriman serta menjanjikan mereka pahala yang tinggi dan darjat yang luhur; kemudian dalam ayat ini Allah kembali semula menerangkan keadaan orang kafir dan munafik.
Renungan: Al-Qur’an mendidik kita dengan harapan dan takut secara seimbang; marilah kita sentiasa berada antara harap dan cemas.Ar-Rāzī says that after Allah described the hypocrites with evil traits and warned them of many kinds of punishment, and since Allah’s way in this noble Book is to mention promise together with warning, He then described the noble traits of the believers and promised them a lofty reward and high ranks; then in this verse He returned once more to the state of the disbelievers and the hypocrites.
Reflection: The Qur’an trains us in hope and fear held in balance; let us always stand between hope and fear.
قَالُواْ
… mengatakan (sesuatu yang buruk terhadapmu)… utter (anything bad against you) (merekathey)
يَنَالُواْۚ
… dapat mencapainya (iaitu membunuhmu)… be able to achieve (that is, to kill you) (merekathey)
يَكُ
akan beroleh (lit. … menjadi)will obtain (lit. … will be) (tersirat (perkara taubat itu)implied (the matter of repentance))ism
Terjemahan: Mereka bersumpah dengan nama Allah, bahawa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang buruk terhadapmu), padahal sesungguhnya mereka telah mengatakan perkataan kufur, dan mereka pula menjadi kafir sesudah melahirkan Islam, serta mereka berazam untuk melakukan apa yang mereka tidak akan dapat mencapainya (iaitu membunuhmu). Dan tidaklah mereka mencaci dan mencela (Islam) melainkan setelah Allah dan Rasul-Nya memberi kesenangan kepada mereka dari limpah kurnia-Nya. Oleh itu, jika mereka bertaubat, mereka akan beroleh kebaikan; dan jika mereka berpaling (ingkar), Allah akan menyeksa mereka dengan azab seksa yang tidak terperi sakitnya di dunia dan di akhirat; dan mereka tidak akan mendapat sesiapa pun di bumi ini, yang akan menjadi pelindung dan juga yang menjadi penolongTranslation: They swear by the name of Allah that they did not utter (anything bad against you), whereas truly they did utter words of disbelief, and they became disbelievers after professing Islam, and they resolved to do what they would never be able to achieve (that is, to kill you). And they did not revile and find fault (with Islam) except after Allah and His Messenger gave them comfort out of His abundant bounty. So if they repent, they will obtain good; and if they turn away (in denial), Allah will punish them — a punishment beyond words in its pain — in the world as well as in the Hereafter; and they will not find anyone at all on this earth who will be a protector, nor anyone who will be a helper.
Nota nahu: فَإِن يَتُوبُوا۟ يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ (ayat 74).Grammar note: فَإِن يَتُوبُوا۟ يَكُ خَيْرًا لَّهُمْ (verse 74).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَجِيءَ بِفِعْلِ يَكُ فِي جَوَابِ الشَّرْطِ دُونَ أَنْ يُقَالَ فَإِنْ يَتُوبُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُمْ لِتَأْكِيدِ وُقُوعِ الْخَيْرِ عِنْدَ التَّوْبَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/271 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 10/271 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “jika mereka bertaubat, mereka akan beroleh kebaikan” mengikut kebiasaan al-Qur’an menyusuli ancaman dengan janji; ia memberitahu bahawa pintu taubat terbuka bagi mereka dan memperbaiki keadaan masih dalam kemampuan mereka. Taubat di sini ialah mengikhlaskan iman. Dipakai kata kerja yaku (akan menjadi) dalam jawapan syarat, bukan sekadar ‘maka itu baik bagi mereka’, untuk menegaskan bahawa kebaikan pasti berlaku apabila bertaubat, dan sebagai isyarat bahawa kebaikan tidak terhasil melainkan dengan taubat.
Renungan: Kebaikan sebenar bermula dengan taubat; marilah kita memperbaharui taubat setiap hari.According to Ibn ‘Āshūr, the words that repentance will be good for them follow the Qur’an’s way of following a warning with a promise; they tell that the door of repentance is open to them and putting their state right is still within their reach. Repentance here means making faith sincere. The verb yaku, it will be, is used in the condition’s answer, rather than saying it is good for them, to stress that good surely comes with repentance and hint that good comes only through repentance.
Reflection: True good begins with repentance; let us renew our repentance every day.