Terjemahan: Maha berkat Tuhan yang menurunkan Al-Furqaan kepada hamba-Nya (Muhammad), untuk menjadi peringatan dan amaran bagi seluruh penduduk alamTranslation: Blessed is He Who sent down al-Furqan to His servant (Muhammad), to be a warning and an admonition for all the inhabitants of the worlds;
Nota nahu: لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا (ayat 1).Grammar note: لِيَكُونَ لِلْعَٰلَمِينَ نَذِيرًا (verse 1).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«دَلَّ ذَلِكَ عَلَى أَنَّ الْقُرْآنَ مَنْشَأُ الْخَيْرَاتِ وَأَعَمُّ الْبَرَكَاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/429 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–2)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/429 · Shamela ↗ (commentary on 1–2)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: “Maha berkat” bermaksud banyaknya kebaikan dan keberkatan; apabila ia diikuti terus dengan sebutan al-Qur’an, ini menunjukkan bahawa al-Qur’an ialah sumber segala kebaikan dan keberkatan yang paling luas.
Renungan: Jika kita mencari keberkatan dalam hidup, mari kita mulakan dengan al-Qur’an: membaca, memahami dan mengamalkannya setiap hari.Tafsir al-Rāzī says that “Blessed” means abundance of good and blessing; since it is followed directly by the mention of the Qur’an, this shows that the Qur’an is the source of all good and the widest of blessings.
Reflection: If we seek blessing in our lives, let us begin with the Qur’an: reading it, understanding it and living by it every day.
فَقَدَّرَهُۥ
lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu (lit. lalu menentukannya)then determined the state of those creatures (lit. then determined it) (DiaHe)
Terjemahan: Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak mempunyai anak, serta tidak mempunyai sebarang sekutu dalam pemerintahan-Nya; dan Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurnaTranslation: He Who holds rule over the heavens and the earth, Who does not have a child, and has no partner at all in His rule; and it is He Who created every thing, then determined the state of those creatures with a measure that is perfect.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ ذَلِكَ انْقَطَعَ خَوْفُهُ وَرَجَاؤُهُ عَنِ الْكُلِّ، وَلَا يَبْقَى مَشْغُولَ الْقَلْبِ إِلَّا بِرَحْمَتِهِ وَإِحْسَانِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/430 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–2)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/430 · Shamela ↗ (commentary on 1–2)
Tafsir ar-Rāzī menyebut tentang “serta tidak mempunyai sebarang sekutu dalam pemerintahan-Nya”: Dia sahaja yang memiliki ketuhanan; apabila seorang hamba mengetahuinya, putuslah takut dan harapnya daripada yang lain, dan hatinya hanya sibuk dengan rahmat dan ihsan Allah.
Renungan: Hati yang bergantung kepada makhluk mudah resah; mari kita letakkan takut dan harap kita kepada Allah.Tafsir al-Rāzī says of “and has no partner at all in His rule” that He alone holds divinity; when a servant knows this, his fear and hope are cut off from all others, and his heart is busy only with Allah’s mercy and kindness.
Reflection: A heart that depends on creatures is easily troubled; let us place our fear and hope in Allah.
دُونِهِۦٓ
benda-benda yang lain dari Allah (lit. yang lain dari-Nya)things other than Allah (lit. besides Him)
يُخۡلَقُونَ
diciptakan (oleh penyembah-penyembahnya dari bahan-bahan di bumi)are created (by their worshippers from materials on earth) (merekathey)NF
نُشُورٗا
membangkitkan hidup semula makhluk-makhluk yang telah mati (lit. kebangkitan)to raise to life again the creatures that have died (lit. resurrection)
Terjemahan: Dan mereka (yang kafir) mengambil benda-benda yang lain dari Allah sebagai tuhan-tuhan, yang tidak dapat mencipta sesuatupun, bahkan benda-benda itu diciptakan (oleh penyembah-penyembahnya dari bahan-bahan di bumi); dan benda-benda itu pula tidak berkuasa mendatangkan sesuatu bahaya atau sesuatu faedah untuk dirinya sendiri; dan tidak berkuasa mematikan atau menghidupkan, atau pun membangkitkan hidup semula makhluk-makhluk yang telah matiTranslation: And they (the disbelievers) took, other than Allah, things as gods which cannot create anything, rather those things are created (by their worshippers from materials on earth); and those things also have no power to bring any harm or any benefit for themselves, and no power to cause death or give life, or to raise to life again the creatures that have died.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْخَبَرُ غَيْرُ مَقْصُودٍ بِهِ الْإِفَادَةُ بَلْ هُوَ لِلتَّعْجِيبِ مِنْ حَالِهِمْ كَيْفَ قَابَلُوا نِعْمَةَ إِنْزَالِ الْفُرْقَانِ بِالْجَحْدِ وَالطُّغْيَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/319 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/319 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, berita “Dan mereka (yang kafir) mengambil benda-benda yang lain dari Allah sebagai tuhan-tuhan” bukan untuk memberitahu sesuatu yang baharu, tetapi untuk menimbulkan rasa hairan: bagaimana mereka membalas nikmat diturunkannya al-Furqan dengan pengingkaran dan sikap melampaui batas.
Renungan: Mari kita balas nikmat al-Qur’an dengan syukur dan taat, bukan dengan lalai.According to Ibn ‘Āshūr, the statement “And they (the disbelievers) took, other than Allah, things as gods” is not meant to tell something new, but to arouse wonder: how they met the blessing of the sending down of al-Furqan with denial and transgression.
Reflection: Let us answer the blessing of the Qur’an with thanks and obedience, not with neglect.
وَقَالَ
dan … berkataand … said (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
ٱفۡتَرَىٰهُ
yang direka-reka oleh Muhammad (lit. yang direka-rekanya)invented by Muhammad (lit. which he invented) (dia (Muhammad)he (Muhammad))
وَأَعَانَهُۥ
dan ia dibantu oleh (lit. dan … membantunya)and he was helped by (lit. and … helped him) (kaum qaumunpeople qawmun)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir itu berkata: "(Al-Quran) ini hanyalah satu perkara dusta yang direka-reka oleh Muhammad, dan ia dibantu membuatnya oleh kaum yang lain". Maka (dengan kata-kata itu) sesungguhnya mereka telah mendatangkan satu tuduhan yang zalim dan dustaTranslation: And those who disbelieve said: “This (Qur’an) is only a falsehood invented by Muhammad, and he was helped in making it by other people.” So (by those words) they have truly brought an accusation that is unjust and false.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا أَنَّهُ ظُلْمٌ فَلِأَنَّهُمْ نَسَبُوا هَذَا الْفِعْلَ الْقَبِيحَ إِلَى مَنْ كَانَ مُبَرَّأً عَنْهُ، فَقَدْ وَضَعُوا الشَّيْءَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ وَذَلِكَ هُوَ الظُّلْمُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/433 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–9)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/433 · Shamela ↗ (commentary on 4–9)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang “satu tuduhan yang zalim”: ia zalim kerana mereka menyandarkan perbuatan yang buruk kepada orang yang bersih daripadanya; mereka meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan itulah kezaliman.
Renungan: Menuduh tanpa bukti ialah kezaliman; mari kita jaga lidah daripada menyandarkan keburukan kepada orang yang tidak melakukannya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of “an accusation that is unjust”: it is unjust because they attributed an ugly deed to one who was free of it; they put a thing out of its proper place, and that is injustice.
Reflection: Accusing without proof is injustice; let us guard our tongues from attributing evil to people who did not do it.
ٱكۡتَتَبَهَا
yang diminta oleh Muhammad supaya dituliskan (lit. yang dimintanya supaya dituliskan)which Muhammad asked to have written down (lit. which he had written down) (dia (Muhammad)he (Muhammad))
Terjemahan: Dan mereka berkata lagi: "Al-Quran itu adalah cerita-cerita dongeng orang-orang dahulu kala, yang diminta oleh Muhammad supaya dituliskan, kemudian perkara yang ditulis itu dibacakan kepadanya pagi dan petang (untuk dihafaznya)"Translation: And they also said: “(The Qur’an is) tales of the people of old, which Muhammad asked to have written down; then what was written is read out to him morning and evening (so that he may memorise it).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الضَّمِيرُ عَائِدٌ إِلَى الَّذِينَ كَفَرُوا، فَمَدْلُولُ الصِّلَةِ مُرَاعًى فِي هَذَا الضَّمِيرِ إِيمَاءً إِلَى أَنَّ هَذَا الْقَوْلَ مِنْ آثَارِ كُفْرِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/324 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/324 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata ganti “mereka” dalam “Dan mereka berkata lagi” kembali kepada orang-orang yang kafir pada ayat sebelumnya, sebagai isyarat bahawa kata-kata ini lahir daripada kesan kekufuran mereka.
Renungan: Kata-kata mencerminkan isi hati; mari kita isi hati dengan iman supaya lidah kita pun menuturkan yang baik.According to Ibn ‘Āshūr, the pronoun “they” in “And they also said” goes back to those who disbelieve in the verse before, as a hint that this saying comes from the effects of their disbelief.
Reflection: Words reflect what is in the heart; let us fill our hearts with faith so that our tongues also speak what is good.
أَنزَلَهُ
“al-Qur’an itu diturunkan oleh (lit. … menurunkannya)“the Qur’an was sent down by (lit. … sent it down) ((Allah) yang alladzi(Allah) Who alladhī)
Terjemahan: Katakanlah (Wahai Muhammad): "Al-Quran itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui segala rahsia di langit dan di bumi; sesungguhnya adalah Ia Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani"Translation: Say (O Muhammad): “The Qur’an was sent down by Allah, Who knows every secret in the heavens and in the earth; truly He is Most Forgiving and Most Merciful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَكِنْ صَرَفَ ذَلِكَ عَنْهُمْ كَوْنُهُ غَفُورًا رَحِيمًا يُمْهِلُ وَلَا يُعَجِّلُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/434 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–9)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/434 · Shamela ↗ (commentary on 4–9)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang penutup “sesungguhnya adalah Ia Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani”: mereka layak ditimpa azab kerana tipu daya itu, tetapi azab itu dipalingkan daripada mereka kerana Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani; Dia memberi tempoh dan tidak tergesa-gesa.
Renungan: Tempoh yang Allah beri ialah peluang; mari kita segera bertaubat.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of the closing words “truly He is Most Forgiving and Most Merciful”: they deserved to have punishment poured on them for that scheming, but it was turned away from them because He is Most Forgiving and Most Merciful; He grants respite and does not hasten.
Reflection: The respite Allah gives is an opportunity; let us hasten to repent.
فَيَكُونَ
supaya … turut (lit. lalu … menjadi)so that … would join (lit. so that … would be) (dia (malaikat itu)he (the angel))ism
نَذِيرًا
memberi peringatan dan amaran (sebagai saksi yang membenarkannya)in giving warning and admonition (as a witness confirming him)
Terjemahan: Dan mereka pula berkata: "Mengapa Rasul ini makan minum dan berjalan di pasar-pasar (seperti manusia yang lain)? Sepatutnya diturunkan malaikat kepadanya, supaya malaikat itu turut memberi peringatan dan amaran bersama-sama dengannya (sebagai saksi yang membenarkannya)Translation: And they also said: “What is the case with this Messenger, that he eats and walks in the markets (like other people)? There should have been an angel sent down to him, so that the angel would join him in giving warning and admonition (as a witness confirming him).
Nota nahu: فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا (ayat 7).Grammar note: فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا (verse 7).
Nota bahasa: مَالِ هَٰذَا (ayat 7).Language note: مَالِ هَٰذَا (verse 7).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَخَصُّوا أَكْلَ الطَّعَامِ وَالْمَشْيَ فِي الْأَسْوَاقِ لِأَنَّهُمَا مِنَ الْأَحْوَالِ الْمُشَاهَدَةِ الْمُتَكَرِّرَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/327 · Shamela ↗ (huraian ayat 7–9)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/327 · Shamela ↗ (commentary on 7–9)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka menyebut makan dan berjalan di pasar sebagai kiasan bahawa keadaan Rasul sama seperti manusia lain, kerana kedua-duanya keadaan yang selalu dilihat dan berulang; mereka menyangka keadaan seorang rasul mesti berbeza daripada manusia. Allah menjawabnya pada ayat 20.
Renungan: Kemuliaan bukan pada rupa luar; mari kita nilai seseorang pada kebenaran yang dibawanya.According to Ibn ‘Āshūr, they mentioned eating and walking in the markets as a hint that the Messenger’s state was like that of other people, because both are states that are often seen and repeated; they claimed a messenger’s state must differ from people’s. Allah answered it in verse 20.
Reflection: Honour is not in outward appearance; let us judge a person by the truth he brings.
يُلۡقَىٰٓ
diberikan (lit. dicampakkan)be given (lit. be cast down) (perbendaharaan harta benda kanzuna treasure kanzun)NF
تَكُونُ
ia mempunyai (lit. ada)he possess (lit. there be) (sebuah kebun jannatuna garden jannatun)ism
وَقَالَ
dan … berkata pula (kepada orang-orang yang beriman)and … also said (to the believers) (orang‑orang yang zalim az‑zalimunathose who do wrong aẓ‑ẓālimūna)
مَّسۡحُورًا
yang tidak siuman (lit. yang kena sihir)”who is not of sound mind (lit. who is struck by magic).”
Terjemahan: Atau diberikan perbendaharaan harta benda kepadanya, atau ia mempunyai sebuah kebun untuk ia makan hasilnya". Dan orang-orang yang zalim itu berkata pula (kepada orang-orang yang beriman): "Sebenarnya kamu hanyalah menurut seorang yang tidak siuman"Translation: Or a treasure of wealth be given to him, or he possess a garden for him to eat of its produce.” And those who do wrong also said (to the believers): “In truth you follow none but a man who is not of sound mind.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ فِي هَذَا الْقَوْلِ اعْتِدَاءً عَلَى الرَّسُولِ بِنَبْزِهِ بِمَا هُوَ بَرِيءٌ مِنْهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/329 · Shamela ↗ (huraian ayat 7–9)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/329 · Shamela ↗ (commentary on 7–9)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka disebut di sini sebagai “orang-orang yang zalim” untuk memberi peringatan bahawa kata-kata itu satu pencerobohan terhadap Rasul, kerana menggelarnya dengan sesuatu yang dia bersih daripadanya.
Renungan: Menggelar orang dengan sifat yang tiada padanya ialah kezaliman; mari kita tidak mudah melabel sesiapa pun.According to Ibn ‘Āshūr, they are called here “those who do wrong” as a warning that this saying was an aggression against the Messenger, labelling him with something he was free of.
Reflection: Labelling people with what is not in them is wrongdoing; let us not be quick to label anyone.
ٱلۡأَمۡثَٰلَ
berbagai misal perbandingan (yang bukan-bukan)all kinds of comparisons (that are baseless)
Terjemahan: Lihatlah (Wahai Muhammad) bagaimana mereka membuat untukmu berbagai misal perbandingan (yang bukan-bukan), dengan sebab itu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak mendapat jalan petunjukTranslation: See (O Muhammad) how they made up for you all kinds of comparisons (that are baseless); so because of that they went astray, so that they do not find the path of guidance.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الَّذِي يَتَمَيَّزُ الرَّسُولُ بِهِ عَنْ غَيْرِهِ هُوَ الْمُعْجِزَةُ وَهَذِهِ الْأَشْيَاءُ الَّتِي ذَكَرُوهَا لَا يَقْدَحُ شَيْءٌ مِنْهَا فِي الْمُعْجِزَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/435 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–9)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/435 · Shamela ↗ (commentary on 4–9)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: yang membezakan seorang rasul daripada orang lain ialah mukjizat, dan perkara-perkara yang mereka sebut itu tidak menjejaskan mukjizat sedikit pun; maka “berbagai misal perbandingan” itu tidak berfaedah.
Renungan: Mari kita bertanya kepada diri: adakah bantahan kita berdasarkan hujah, atau sekadar mencari salah?One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: what sets a messenger apart from others is the miracle, and none of the things they mentioned impairs the miracle at all; so those “kinds of comparisons” are of no use.
Reflection: Let us ask ourselves whether our objections rest on proof, or only on looking for faults.
Terjemahan: Maha Berkat Tuhan yang jika Ia kehendaki tentulah Ia akan mengadakan untukmu (di dunia ini) sesuatu yang lebih baik dari apa yang mereka katakan itu, iaitu syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, serta mengadakan untukmu istana-istana (yang tersergam indah)Translation: Blessed is He Who, if He wills, would surely make for you (in this world) something better than what they said, namely gardens with rivers flowing beneath them, and would make for you palaces (that stand magnificent).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَيَفْتَحُ عَلَى وَاحِدٍ أَبْوَابَ الْمَعَارِفِ وَالْعُلُومِ، وَيَسُدُّ عليه أبواب الدنيا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/435 · Shamela ↗ (huraian ayat 10–14)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/435 · Shamela ↗ (commentary on 10–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: Allah berkuasa memberi Rasul semua yang mereka sebut, tetapi Dia mentadbir hamba-hamba-Nya; kepada seseorang Dia bukakan pintu ilmu dan makrifat (pengenalan akan Allah) dan Dia tutup pintu dunia, dan kepada yang lain sebaliknya.
Renungan: Jika dunia kita sempit tetapi pintu ilmu dan iman terbuka, itu juga kurnia; mari kita syukuri pintu yang Allah buka.Tafsir al-Rāzī says that Allah is able to give the Messenger all that they mentioned, but He manages His servants; for one He opens the doors of knowledge and of knowing Him and closes the doors of the world, and for another the reverse.
Reflection: If our world is narrow but the door of knowledge and faith is open, that too is a gift; let us be grateful for the door Allah opens.
Terjemahan: (Mereka bukan sahaja mendustakanmu) bahkan mereka juga mendustakan hari kiamat; dan Kami telah sediakan bagi sesiapa yang mendustakan hari kiamat itu, api yang menjulang-julangTranslation: (They did not only deny you,) rather they also rejected the Hour; and We have made ready, for whoever rejected the Hour, a fire that blazes high.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بَلِ الَّذِي حَمَلَهُمْ عَلَى تَكْذِيبِكَ تَكْذِيبُهُمْ بِالسَّاعَةِ اسْتِثْقَالًا لِلِاسْتِعْدَادِ لَهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/436 · Shamela ↗ (huraian ayat 10–14)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/436 · Shamela ↗ (commentary on 10–14)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang “bahkan mereka juga mendustakan hari kiamat”: yang mendorong mereka mendustakan Rasul ialah pendustaan mereka terhadap hari kiamat, kerana terasa berat untuk membuat persiapan menghadapinya.
Renungan: Lupa akan hari kiamat menjadikan kebenaran terasa berat; mari kita sediakan diri untuknya sedikit demi sedikit setiap hari.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of “rather they also rejected the Hour”: what drove them to deny the Messenger was their denial of the Hour, because preparing for it felt heavy to them.
Reflection: Forgetting the Hour makes the truth feel heavy; let us prepare ourselves for it little by little every day.
Terjemahan: Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, kedengaranlah mereka suara marahnya yang menggelegak dan mengeluhTranslation: When the Fire sees them from a place far away, they hear the sound of its seething rage and its groaning.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ بُعْدَ الْمَكَانِ يَقْتَضِي زِيَادَةَ الْمَشَقَّةِ إِلَى الْوُصُولِ وَيَقْتَضِي طُولَ الرُّعْبِ مِمَّا سَمِعُوا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/333 · Shamela ↗ (huraian ayat 12–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/333 · Shamela ↗ (commentary on 12–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka digiring ke neraka “dari tempat yang jauh” kerana jarak yang jauh menambah kesukaran sebelum sampai dan memanjangkan rasa gerun daripada apa yang mereka dengar.
Renungan: Mari kita ambil gambaran ini sebagai peringatan, lalu menjauhi jalan yang menuju ke sana dari sekarang.According to Ibn ‘Āshūr, they are driven to the Fire “from a place far away” because the long distance adds hardship before arriving and lengthens the dread of what they hear.
Reflection: Let us take this picture as a warning, and keep away from the road that leads there from now on.
ثُبُورٗا
sejenis kebinasaan (yang melepaskan dari azab itu)destruction (to release them from that punishment)
Terjemahan: Dan apabila mereka dihumbankan ke tempat yang sempit di dalam neraka itu, dengan keadaan mereka dibelenggu, menjeritlah mereka di sana meminta sejenis kebinasaan (yang melepaskan dari azab itu)Translation: And when, chained together, they are hurled into a narrow place in the Fire, they cry out there for destruction (to release them from that punishment).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ تَمَنَّوُا الْهَلَاكَ لِلِاسْتِرَاحَةِ مِنْ فَظِيعِ الْعَذَابِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/334 · Shamela ↗ (huraian ayat 12–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/334 · Shamela ↗ (commentary on 12–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “menjeritlah mereka di sana meminta sejenis kebinasaan” bermaksud mereka mengharapkan kebinasaan supaya dapat berehat daripada azab yang amat dahsyat.
Renungan: Hari ini kita masih boleh berdoa memohon keselamatan; mari kita perbanyakkannya sebelum terlambat.According to Ibn ‘Āshūr, “they cry out there for destruction” means they wish for destruction so as to find rest from the terrible punishment.
Reflection: Today we can still pray for safety; let us do so often before it is too late.
كَثِيرٗا
sebanyak-banyaknya (kerana azab yang menunggu kamu di sini banyak jenisnya)”in great measure (for the punishment awaiting you here is of many kinds).”
Terjemahan: (Lalu dikatakan kepada mereka): "Janganlah kamu menjerit-jerit meminta pada hari ini sejenis kebinasaan sahaja, tetapi mintalah kebinasaan sebanyak-banyaknya (kerana azab yang menunggu kamu di sini banyak jenisnya)"Translation: (Then it is said to them): “Do not cry out on this day for only one destruction, but cry out for destruction in great measure (for the punishment awaiting you here is of many kinds).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ كِنَايَةٌ عَنْ عَدَمِ حُصُولِ الثُّبُورِ لِأَنَّ انْتِهَاءَ النِّدَاءِ يَكُونُ بِحُضُورِ الْمُنَادَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/334 · Shamela ↗ (huraian ayat 12–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/334 · Shamela ↗ (commentary on 12–14)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: kebinasaan disifatkan “sebanyak-banyaknya” kerana ia dipanggil berulang kali, satu kiasan bahawa kebinasaan itu tidak kunjung datang, sebab panggilan hanya berhenti apabila yang dipanggil hadir.
Renungan: Seruan yang tidak berjawab di sana mengingatkan kita agar menyeru Allah di sini dengan taubat dan doa.One of the explanations given by Ibn ‘Āshūr: destruction is described as “in great measure” because it is called again and again, a hint that it never comes, since calling ends only when the one called arrives.
Reflection: The call that goes unanswered there reminds us to call on Allah here, with repentance and prayer.
وُعِدَ
dijanjikan kepadahas been promised to (orang‑orang yang bertaqwa al‑muttaqunathose who have taqwa al‑muttaqūna)NF
Terjemahan: Bertanyalah (kepada mereka): "Adakah (azab seksa neraka) yang demikian itu lebih baik atau Syurga yang kekal, yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?" Syurga yang sedia diuntukkan bagi mereka sebagai balasan dan tempat kembaliTranslation: Ask (them): “Is that (punishment of the Fire) better, or Paradise that is everlasting, which has been promised to those who have taqwa?” Paradise, which is set aside for them as a recompense and a place of return.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَعَلَى الْمَحْمِلِ الثَّانِي مُسْتَعْمَلٌ لِلتَّمْلِيحِ فِي خِطَابِ الْمُؤْمِنِينَ وَإِظْهَارِ الْمِنَّةِ عَلَيْهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/335 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–16)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/335 · Shamela ↗ (commentary on 15–16)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: jika soalan “Adakah (azab seksa neraka) yang demikian itu lebih baik atau Syurga yang kekal” ditujukan kepada orang-orang yang beriman, ia ucapan yang manis dan lembut (tamlīḥ) kepada mereka serta menzahirkan kurnia Allah ke atas mereka.
Renungan: Mari kita kenang nikmat dijanjikan Syurga, lalu menjaganya dengan takwa.One of the explanations given by Ibn ‘Āshūr: if the question “Is that (punishment of the Fire) better, or Paradise that is everlasting” is addressed to the believers, it is a sweet and gentle way of speaking to them and shows Allah’s favour upon them.
Reflection: Let us remember the blessing of being promised Paradise, and guard it with taqwa.
مَّسۡـُٔولٗا
lagi yang dipohonkan dan dituntut (dalam doa masing-masing)one that is asked for and sought (in each one’s prayer)
Terjemahan: Mereka beroleh di dalam Syurga itu apa yang mereka kehendaki, mereka pula kekal di dalamnya. Balasan yang demikian adalah satu janji yang dijamin oleh Tuhanmu, lagi yang dipohonkan dan dituntut (dalam doa masing-masing)Translation: They have in that Paradise whatever they wish, abiding there forever. Such a reward is a promise guaranteed by your Lord, one that is asked for and sought (in each one’s prayer).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شَرْطُ نَعِيمِ الْجَنَّةِ أَنْ يَكُونَ دَائِمًا، إِذْ لَوِ انْقَطَعَ لَكَانَ مَشُوبًا بِضَرْبٍ مِنَ الْغَمِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/440 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–16)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/440 · Shamela ↗ (commentary on 15–16)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: syarat nikmat Syurga ialah ia kekal, kerana jika ia terputus tentu ia bercampur dengan sejenis dukacita; sebab itu disebut “mereka pula kekal di dalamnya”.
Renungan: Nikmat dunia selalu bercampur bimbang akan hilang; mari kita jadikan nikmat yang kekal itu tujuan doa dan amal kita.Tafsir al-Rāzī says that a condition of the bliss of Paradise is that it lasts, for if it were cut off it would be mixed with a kind of sorrow; that is why it says “abiding there forever”.
Reflection: The joys of this world are always mixed with fear of losing them; let us make the lasting bliss the aim of our prayers and deeds.
يَحۡشُرُهُمۡ
… menghimpunkan mereka (yang kafir)… gathers them (the disbelievers) (Dia (Tuhan)He (the Lord))
فَيَقُولُ
lalu … bertanya (kepada makhluk-makhluk yang telah dipuja dan disembah itu) (lit. lalu … berkata)then … asks (those beings who were worshipped) (lit. then … says) (DiaHe)
Terjemahan: Dan (ingatkanlah) hari Tuhan menghimpunkan mereka (yang kafir) dan makhluk-makhluk yang mereka sembah yang lain dari Allah, lalu Ia bertanya (kepada makhluk-makhluk yang telah dipuja dan disembah itu): "Kamukah yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu atau mereka yang sesat jalan"Translation: And (recall) the day the Lord gathers them (the disbelievers) and those beings that they worship besides Allah, then He asks (those beings who were worshipped): “Was it you who led these servants of Mine astray, or was it they who strayed from the path?”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا مَظْهَرٌ مِنْ مَظَاهِرِ الْهَوْلِ لَهُمْ فِي الْمَحْشَرِ إِذْ يُشَاهِدُونَ خَيْبَةَ آمَالِهِمْ فِي آلِهَتِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/337 · Shamela ↗ (huraian ayat 17–18)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/337 · Shamela ↗ (commentary on 17–18)
Menurut Ibn ‘Āshūr, keadaan mereka dihimpunkan bersama apa yang mereka sembah ini ialah salah satu gambaran kengerian di padang mahsyar: mereka menyaksikan hampanya harapan mereka terhadap tuhan-tuhan mereka.
Renungan: Harapan yang diletakkan pada selain Allah akan hampa; mari kita semak kepada siapa sebenarnya hati kita bergantung.According to Ibn ‘Āshūr, their being gathered together with what they worshipped is one of the scenes of horror at the gathering: they see their hopes in their gods come to nothing.
Reflection: Hope placed in anything other than Allah will be let down; let us check on whom our hearts truly depend.
أَوۡلِيَآءَ
sesiapa pun sebagai pelindung yang disembah (dan tidak patut juga kami menyeru orang menyembah kami)anyone as protectors to be worshipped (nor was it fitting for us to call people to worship us)
مَّتَّعۡتَهُمۡ
… telah melimpahkan kemewahan kepada mereka… gave them abundant luxuries (EngkauYou)
Terjemahan: Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau (wahai Tuhan kami)! Sudah tentu tidak patut bagi kami mengambil sesiapa pun yang lain daripada-Mu sebagai pelindung yang disembah (dan tidak patut juga kami menyeru orang menyembah kami); tetapi Engkau (wahai Tuhan kami) telah melimpahkan kemewahan kepada mereka dan kepada datuk neneknya sehingga mereka lalai dan cuaikan ajaran ugama-Mu, dan menjadilah mereka kaum yang binasa"Translation: They answered: “Glory be to You (O our Lord)! It was certainly not fitting for us to take anyone other than You as protectors to be worshipped (nor was it fitting for us to call people to worship us); but You (O our Lord) gave them and their forefathers abundant luxuries, until they forgot and neglected the teaching of Your religion, and became a people who are ruined.”
Nota nahu: مَا كَانَ يَنۢبَغِى لَنَآ (ayat 18).Grammar note: مَا كَانَ يَنۢبَغِى لَنَآ (verse 18).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَى الْآيَةِ أَنَّكَ يَا إِلَهَنَا أَكْثَرْتَ عَلَيْهِمْ وَعَلَى آبَائِهِمْ مِنَ النِّعَمِ وَهِيَ تُوجِبُ الشُّكْرَ وَالْإِيمَانَ لَا الْإِعْرَاضَ وَالْكُفْرَانَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/444 · Shamela ↗ (huraian ayat 17–20)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/444 · Shamela ↗ (commentary on 17–20)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang “Engkau (wahai Tuhan kami) telah melimpahkan kemewahan kepada mereka”: maknanya, Engkau telah memperbanyakkan nikmat kepada mereka dan nenek moyang mereka, sedangkan nikmat itu menuntut syukur dan iman, bukan berpaling dan mengkufuri nikmat.
Renungan: Nikmat yang melimpah boleh melalaikan; mari kita jadikan setiap nikmat sebab untuk bersyukur.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of “You (O our Lord) gave them and their forefathers abundant luxuries”: You gave them and their forefathers many blessings, and blessings call for thanks and faith, not turning away and ingratitude.
Reflection: Abundant blessings can make us heedless; let us make every blessing a reason to give thanks.
فَقَدۡ
maka (dikatakan pula kepada golongan itu): “sesungguhnyathen (it is said further to that group): “truly
كَذَّبُوكُم
… telah mendustakan … kamu… have denied your (mereka (yang kamu puja dan sembah) ituthey (whom you worshipped))
تَقُولُونَ
dakwaan … (bahawa mereka yang menyesatkan kamu) (lit. … katakan)claim (that they led you astray) (lit. … say) (kamu sekalianyou all)
مِّنكُمۡ
di antara kamu (wahai umat manusia, dengan kekufuran atau maksiat)among you (O humankind, by disbelief or sin)
Terjemahan: Maka (dikatakan pula kepada golongan itu): "Sesungguhnya mereka (yang kamu puja dan sembah) itu telah mendustakan dakwaan kamu (bahawa mereka yang menyesatkan kamu). Oleh itu, kamu semua tidak akan dapat menjauhkan azab seksa atau beroleh sebarang pertolongan". Dan sesiapa yang berlaku zalim di antara kamu (wahai umat manusia, dengan kekufuran atau maksiat), Kami akan merasakannya azab seksa yang besarTranslation: Then (it is said further to that group): “Truly they (whom you worshipped) have denied your claim (that they led you astray). So you will not be able to avert the punishment or obtain any help.” And whoever does wrong among you (O humankind, by disbelief or sin), We will make him taste a punishment that is great.
Nota nahu: بِمَا تَقُولُونَ (ayat 19).Grammar note: بِمَا تَقُولُونَ (verse 19).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَذْيِيلٌ لِلْكَلَامِ يَشْمَلُ عُمُومُهُ جَمِيعَ النَّاسِ، وَيَكُونُ خِطَابُ مِنْكُمْ لِجَمِيعِ الْمُكَلَّفِينَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/342 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/342 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Dan sesiapa yang berlaku zalim di antara kamu” ialah penutup (tadhyīl) yang umum meliputi semua manusia; “kamu” ditujukan kepada semua orang yang dibebani tanggungjawab agama (mukallaf).
Renungan: Ayat ini tidak hanya tentang orang lain; mari kita periksa diri kita sendiri daripada sebarang kezaliman.According to Ibn ‘Āshūr, “And whoever does wrong among you” is a closing remark whose general sense covers all people; “you” is addressed to everyone who bears the duties of religion.
Reflection: This verse is not only about others; let us examine ourselves for any wrongdoing.
أَتَصۡبِرُونَۗ
supaya ternyata adakah … dapat bersabar (menghadapi ujian itu)?to show whether … will be patient (in facing that trial)? (kamu sekalianyou all)
بَصِيرٗا
sentiasa Melihat (akan keadaan makhluk-makhluk-Nya)ever All-Seeing (of the state of His creatures)
Terjemahan: Dan Kami tidak mengutus Rasul-rasul sebelummu (wahai Muhammad) melainkan orang-orang yang tentu makan minum dan berjalan di pasar-pasar, dan Kami jadikan sebahagian dari kamu sebagai ujian dan cubaan bagi sebahagian yang lain, supaya ternyata adakah kamu dapat bersabar (menghadapi ujian itu)? Dan (ingatlah) adalah Tuhanmu sentiasa Melihat (akan keadaan makhluk-makhluk-Nya)Translation: And We did not send messengers before you (O Muhammad) except ones who surely eat and walk in the markets; and We made some of you a trial and a test for others, to show whether you will be patient (in facing that trial)? And (remember) your Lord is ever All-Seeing (of the state of His creatures).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَالُ الْفِتْنَةِ فِي كِلَا الْبَعْضَيْنِ مُخْتَلِفٌ، فَبَعْضُهَا فِتْنَةٌ فِي الْعَقِيدَةِ، وَبَعْضُهَا فِتْنَةٌ فِي الْأَمْنِ، وَبَعْضُهَا فِتْنَةٌ فِي الْأَبْدَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/344 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 18/344 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sebahagian manusia dijadikan ujian bagi sebahagian yang lain, ujian itu meliputi semua manusia dan bentuknya berbeza-beza: ada ujian pada akidah, ada ujian pada keamanan dan ada ujian pada tubuh badan.
Renungan: Orang di sekeliling kita juga ujian bagi kita; mari kita hadapinya dengan sabar, kerana ayat ini bertanya “adakah kamu dapat bersabar”.According to Ibn ‘Āshūr, some people are made a trial for others; this covers all people and the trial takes different forms: some is a trial in belief, some a trial in safety and some a trial in the body.
Reflection: The people around us are also a trial for us; let us meet it with patience, for the verse asks “whether you will be patient”.
ٱسۡتَكۡبَرُواْ
… telah bersikap sombong angkuh… have behaved with pride and arrogance (merekathey)
Terjemahan: Dan berkatalah pula orang-orang yang tidak percaya akan menemui Kami: "Mengapa tidak diturunkan malaikat kepada kita, atau kita dapat melihat Tuhan kita?" Demi sesungguhnya, mereka telah bersikap sombong angkuh dalam diri mereka sendiri, dan telah melampaui batas dengan cara yang sebesar-besarnyaTranslation: And those who do not believe in meeting Us also said: “Why are angels not sent down to us, or why are we not able to see our Lord?” Indeed they have behaved with pride and arrogance within themselves, and have transgressed to an extent that is the greatest.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَقْصِدُهُمْ مِنْ مَقَالِهِمْ أَنَّهُمْ أَعْلَى مِنْ أَنْ يَتَلَقَّوُا الدِّينَ مِنْ رَجُلٍ مِثْلِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/5 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/5 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan kata-kata mereka ialah mereka merasa diri terlalu tinggi untuk menerima agama daripada seorang lelaki seperti mereka; sebab itu ayat ini disusuli dengan “mereka telah bersikap sombong angkuh dalam diri mereka sendiri”.
Renungan: Kesombongan boleh menutup pintu kebenaran; mari kita terima nasihat yang benar walaupun datang daripada orang biasa.According to Ibn ‘Āshūr, what they meant by their words was that they were too high to receive religion from a man like themselves; that is why the verse follows with “they have behaved with pride and arrogance within themselves”.
Reflection: Pride can close the door to the truth; let us accept true advice even when it comes from an ordinary person.
لِّلۡمُجۡرِمِينَ
bagi orang-orang yang bersalah (bahkan sebaliknya)for the guilty (but rather the opposite)
مَّحۡجُورٗا
dijauhkan (dari sebarang keadaan yang buruk)”kept well away (from every evil state).”
Terjemahan: (Ingatkanlah) hari mereka melihat malaikat, pada hari itu tiadalah sebarang berita gembira bagi orang-orang yang bersalah (bahkan sebaliknya), dan mereka akan berkata: "Semoga kita jauh - dijauhkan (dari sebarang keadaan yang buruk)"Translation: (Recall) the day they see the angels: there will be, on that day, no glad tidings at all for the guilty (but rather the opposite), and they will say: “May we be kept far, kept well away (from every evil state).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْكَافِرَ وَإِنْ كَانَ ضَالًّا مُضِلًّا إِلَّا أَنَّهُ يَعْتَقِدُ فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ كَانَ هَادِيًا مُهْتَدِيًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/450 · Shamela ↗ (huraian ayat 21–24)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/450 · Shamela ↗ (commentary on 21–24)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang “tiadalah sebarang berita gembira bagi orang-orang yang bersalah”: orang kafir, walaupun sesat dan menyesatkan, menyangka dirinya mendapat hidayah (petunjuk) dan memberi petunjuk, lalu mengharapkan pahala yang besar.
Renungan: Sangkaan baik terhadap diri sendiri tidak cukup; mari kita selalu menyemak amalan kita dengan neraca al-Qur’an.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of “no glad tidings at all for the guilty”: the disbeliever, though astray and leading astray, believes himself to be guided and guiding, and so hopes for a great reward.
Reflection: Thinking well of ourselves is not enough; let us keep weighing our deeds by the scale of the Qur’an.
Terjemahan: Dan Kami tujukan perbicaraan kepada apa yang mereka telah kerjakan dari jenis amal (yang mereka pandang baik), lalu Kami jadikan dia terbuang sebagai debu yang berterbanganTranslation: And We turned the judgement to whatever they had done of the kind of deeds (which they deemed good), then We made it cast away as dust scattered about.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَعْنِي الْأَعْمَالَ الَّتِي اعْتَقَدُوهَا بِرًّا وَظَنُّوا أَنَّهَا تُقَرِّبُهُمْ إِلَى اللَّه تَعَالَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/451 · Shamela ↗ (huraian ayat 21–24)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/451 · Shamela ↗ (commentary on 21–24)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: “apa yang mereka telah kerjakan dari jenis amal” ialah amalan yang mereka anggap kebaikan dan sangka mendekatkan mereka kepada Allah; amalan itu dibatalkan seperti debu berterbangan yang tidak dapat digenggam.
Renungan: Amal yang kita sangka baik belum tentu bernilai di sisi Allah; mari kita bina amal kita di atas iman.Tafsir al-Rāzī says that “whatever they had done of the kind of deeds” means the deeds they held to be good and thought would bring them near to Allah; they are made void, like scattered dust that cannot be grasped.
Reflection: A deed we think good is not therefore of worth with Allah; let us build our deeds on faith.
Terjemahan: Ahli-ahli Syurga pada hari itu lebih baik tempat menetapnya, dan lebih elok tempat rehatnyaTranslation: The people of Paradise, on that day, are better in their place of settling and finer in their place of rest.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شَرَحَ وَصْفَ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَنْبِيهًا عَلَى أَنَّ الْحَظَّ كُلَّ الحظ في طاعة اللَّه تعالى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/451 · Shamela ↗ (huraian ayat 21–24)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/451 · Shamela ↗ (commentary on 21–24)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: setelah menerangkan kerugian menyeluruh dan kehampaan orang kafir, Allah menghuraikan sifat ahli Syurga sebagai peringatan bahawa bahagian yang sebenar-benarnya terletak pada ketaatan kepada Allah.
Renungan: Mari kita ukur untung rugi hidup kita dengan ketaatan kepada Allah, bukan dengan harta atau pangkat.Tafsir al-Rāzī says that after showing the complete loss and failure of the disbelievers, Allah describes the people of Paradise as a reminder that the whole of good fortune lies in obeying Allah.
Reflection: Let us measure the gain and loss of our lives by obedience to Allah, not by wealth or rank.
بِٱلۡغَمَٰمِ
(disertakan) dengan kumpulan awan (yang berisi malaikat)(accompanied) with masses of cloud (bearing angels)
وَنُزِّلَ
dan (pada hari yang tersebut) diturunkanand (on that day) … are sent down (malaikat al‑mala’ikatuthe angels al‑malā’ikatu)NF
Terjemahan: Dan (sebutkanlah perihal) hari segala langit pecah-belah (disertakan) dengan kumpulan awan (yang berisi malaikat), dan (pada hari yang tersebut) diturunkan malaikat itu dengan cara berpasuk-pasukanTranslation: And (mention) the day the sky is split apart (accompanied) with masses of cloud (bearing angels), and (on that day) the angels are sent down troop upon troop.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ تَأْيِيسِهُمْ مِنَ الِانْتِفَاعِ بِأَعْمَالِهِمْ وَبِآلِهَتِهِمْ وَتَأْكِيدُ وَعِيدِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/9 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–26)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/9 · Shamela ↗ (commentary on 25–26)
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan ayat ini ialah memutuskan harapan mereka untuk mendapat manfaat daripada amalan dan tuhan-tuhan mereka serta menguatkan amaran kepada mereka; di samping itu ia menggambarkan sebahagian keadaan hari itu.
Renungan: Apa yang kita harapkan selain Allah tidak akan membantu pada hari itu; mari kita bergantung kepada-Nya sejak sekarang.According to Ibn ‘Āshūr, the purpose of this verse is to cut off their hope of benefiting from their deeds and their gods, and to confirm the warning to them; along with that it describes some of the states of that day.
Reflection: What we hope for other than Allah will not help on that day; let us rely on Him from now on.
لِلرَّحۡمَٰنِۚ
adalah bagi (Allah) Yang Maha melimpah rahmat-Nyabelongs to (Allah) the Most Gracious
Terjemahan: Kuasa pemerintahan yang sebenar-benarnya pada hari itu adalah tertentu bagi Allah Yang Maha melimpah rahmat-Nya, dan adalah ia satu masa yang amat sukar keadaannya kepada orang-orang kafirTranslation: Dominion that is true, on that day, belongs to Allah, the Most Gracious; and it is a time that is very hard for the disbelievers.
Nota bahasa: ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ (ayat 26).Language note: ٱلْمُلْكُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ لِلرَّحْمَٰنِ (verse 26).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُلْكُ الْكَامِلُ إِنَّمَا هُوَ لِلَّهِ، وَلَكِنَّ الْعُقُولَ قَدْ لَا تَلْتَفِتُ إِلَى مَا فِي الْمُلُوكِ مِنْ نَقْصٍ وَعَجْزٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/11 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–26)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/11 · Shamela ↗ (commentary on 25–26)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kuasa pemerintahan yang sempurna hanya milik Allah, tetapi akal manusia kadang-kadang tidak menyedari kekurangan dan kelemahan pada raja-raja dunia kerana terpesona dengan kemegahan tindakan dan pemberian mereka; pada hari itu semua hakikat tersingkap.
Renungan: Mari kita tidak terpesona dengan kemegahan dunia, kerana kuasa yang sebenar milik Allah.According to Ibn ‘Āshūr, perfect dominion belongs to Allah alone, but minds sometimes overlook the shortcomings and weakness of the kings of this world, dazzled by the glitter of their actions and gifts; on that day all realities are laid bare.
Reflection: Let us not be dazzled by worldly splendour, for true dominion belongs to Allah.
ٱلظَّالِمُ
orang-orang yang zalim (lit. orang yang zalim)those who do wrong (lit. the one who does wrong)
Terjemahan: Dan (ingatkanlah) perihal hari orang-orang yang zalim menggigit kedua-dua tangannya (marahkan dirinya sendiri) sambil berkata: "Alangkah baiknya kalau aku (di dunia dahulu) mengambil jalan yang benar bersama-sama RasulTranslation: And (recall) the day those who do wrong bite both their hands (angry at themselves), saying: “How good it would have been if I had (in the world before) taken the right path together with the Messenger!
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْآيَةِ زَجْرُ الْكُلِّ عَنِ الظُّلْمِ وَذَلِكَ لَا يَحْصُلُ إِلَّا بِالْعُمُومِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/454 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/454 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: “orang-orang yang zalim” dalam ayat ini lebih wajar difahami secara umum, kerana tujuan ayat ialah mencegah semua orang daripada kezaliman, dan tujuan itu hanya tercapai jika maknanya umum.
Renungan: Penyesalan menggigit tangan itu peringatan untuk kita juga; mari kita ambil jalan yang benar bersama Rasul sebelum tiba hari penyesalan.Tafsir al-Rāzī says that “those who do wrong” in this verse is better taken in a general sense, because the purpose of the verse is to restrain everyone from wrongdoing, and that is achieved only if the meaning is general.
Reflection: That regret of biting the hands is a warning to us too; let us take the right path with the Messenger before the day of regret comes.
Terjemahan: Wahai celakanya aku, alangkah baiknya kalau aku tidak mengambil si dia itu menjadi sahabat karibTranslation: O, how wretched I am! How good it would have been if I had not taken that person as an intimate friend.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِيهِ إِيمَاءٌ إِلَى أَنَّ شَأْنَ الْخُلَّةِ الثِّقَةُ بِالْخَلِيلِ وَحَمْلُ مَشُورَتِهِ عَلَى النُّصْحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/14 · Shamela ↗ (huraian ayat 27–29)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/14 · Shamela ↗ (commentary on 27–29)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini mengisyaratkan bahawa persahabatan karib dibina atas kepercayaan kepada sahabat itu dan menerima nasihatnya sebagai nasihat yang tulus.
Renungan: Kerana kita mempercayai nasihat sahabat karib, mari kita pilih sahabat yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the verse hints that close friendship rests on trusting the friend and taking his counsel as sincere advice.
Reflection: Since we trust the counsel of a close friend, let us choose friends who bring us nearer to Allah and His Messenger.
ٱلذِّكۡرِ
jalan peringatan (al-Qur’an) (lit. peringatan)the path of the reminder (the Qur’an) (lit. the reminder)
جَآءَنِيۗ
… disampaikan kepadaku (lit. … datang kepadaku)”… had been conveyed to me (lit. … came to me).” (ia (peringatan itu)it (the reminder))
لِلۡإِنسَٰنِ
manusia (yang menjadikan dia sahabat karibnya) (lit. bagi manusia)man (who takes him as an intimate friend) (lit. to man)
Terjemahan: Sesungguhnya dia telah menyesatkan daku dari jalan peringatan (Al-Quran) setelah ia disampaikan kepadaku". Dan adalah Syaitan itu sentiasa mengecewakan manusia (yang menjadikan dia sahabat karibnya)Translation: Truly he led me astray from the path of the reminder (the Qur’an) after it had been conveyed to me.” And Satan is ever one who forsakes man (who takes him as an intimate friend).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«سَمَّاهُ شَيْطَانًا لِأَنَّهُ أَضَلَّهُ كَمَا يُضِلُّ الشَّيْطَانُ ثُمَّ خَذَلَهُ وَلَمْ يَنْفَعْهُ فِي الْعَاقِبَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/455 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/455 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, sama dengan kata-kata al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/277): “Syaitan” di sini boleh jadi isyarat kepada sahabat karib itu; dia dinamakan syaitan kerana menyesatkannya seperti syaitan menyesatkan, kemudian mengecewakannya dan tidak memberi manfaat pada kesudahannya.
Renungan: Mari kita berpegang pada al-Qur’an dan menjauhi teman yang memalingkan kita daripadanya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, matching the words of al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (3/277): “Satan” here may point to that intimate friend; he is called a devil because he led him astray as Satan leads astray, then forsook him and was of no use to him in the end.
Reflection: Let us hold fast to the Qur’an and keep away from companions who turn us from it.
مَهۡجُورٗا
satu perlembagaan yang ditinggalkan tidak dipakai (lit. yang ditinggalkan)”a constitution that is abandoned, not put to use (lit. abandoned).”
Terjemahan: Dan berkatalah Rasul: "Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini satu perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai"Translation: And the Messenger said: “O my Lord, truly my people have made this Qur’an a constitution that is abandoned, not put to use.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاسْمُ الْإِشَارَةِ فِي هذَا الْقُرْآنَ لِتَعْظِيمِهِ وَأَنَّ مِثْلَهُ لَا يُتَّخَذُ مَهْجُورًا بَلْ هُوَ جَدِيرٌ بِالْإِقْبَالِ عَلَيْهِ وَالِانْتِفَاعِ بِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/17 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/17 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata penunjuk “ini” pada sebutan al-Qur’an dalam ayat ini adalah untuk memuliakannya: kitab seperti itu tidak patut dijadikan “perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai”, bahkan ia layak didekati dan diambil manfaatnya.
Renungan: Mari kita pastikan al-Qur’an tidak sekadar dimiliki, tetapi dibaca, difahami dan diamalkan.According to Ibn ‘Āshūr, the pointing word “this” before “Qur’an” in this verse is to honour it: such a book should not be made “a constitution that is abandoned, not put to use”, but deserves to be turned to and benefited from.
Reflection: Let us make sure the Qur’an is not merely owned, but read, understood and lived by.
هَادِيٗا
menjadi Pemimpin (ke jalan mengalahkan mereka)as a Guide (to the way of overcoming them)
وَنَصِيرٗا
serta menjadi Penolong (bagimu terhadap mereka)and as a Helper (for you against them)
Terjemahan: Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari kalangan orang-orang yang bersalah; dan cukuplah Tuhanmu (wahai Muhammad) menjadi Pemimpin (ke jalan mengalahkan mereka) serta menjadi Penolong (bagimu terhadap mereka)Translation: And in this way We have set for every prophet an enemy out of those who are guilty; and your Lord (O Muhammad) is enough as a Guide (to the way of overcoming them) and as a Helper (for you against them).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَبَيَّنَ بِذَلِكَ أَنَّ لَهُ أُسْوَةً بِسَائِرِ الرُّسُلِ، فَلْيَصْبِرْ عَلَى مَا يَلْقَاهُ مِنْ قَوْمِهِ كَمَا صَبَرُوا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/455 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–31)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/455 · Shamela ↗ (commentary on 30–31)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: dengan “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi, musuh”, Allah menghiburkan Rasul-Nya dan menerangkan bahawa baginda mempunyai contoh pada rasul-rasul yang lain, maka hendaklah baginda bersabar atas apa yang dihadapinya daripada kaumnya sebagaimana mereka bersabar.
Renungan: Apabila kita diuji kerana berpegang pada kebenaran, mari kita teladani kesabaran para rasul.Tafsir al-Rāzī says that with “And in this way We have set for every prophet an enemy”, Allah consoles His Messenger and shows that he has an example in the other messengers, so let him be patient with what he meets from his people as they were patient.
Reflection: When we are tested for holding to the truth, let us follow the patience of the messengers.
وَقَالَ
dan … berkataand … said (orang‑orang yang kafir alladzinathose who disbelieve alladhīna)
كَذَٰلِكَ
(al-Qur’an diturunkan) dengan cara (beransur-ansur) itu(the Qur’an is sent down) in that (gradual) way
وَرَتَّلۡنَٰهُ
dan … nyatakan bacaannya kepadamuand … have set out its recitation to you (KamiWe)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan Al-Quran itu kepada Muhammad semuanya sekali (dengan sekaligus)?" Al-Quran diturunkan dengan cara (beransur-ansur) itu kerana Kami hendak menetapkan hatimu (wahai Muhammad) dengannya, dan Kami nyatakan bacaannya kepadamu dengan teratur satu persatuTranslation: And those who disbelieve said: “Why has the Qur’an not been sent down to Muhammad all together (at one time)?” The Qur’an is sent down in that (gradual) way because We want to make your heart (O Muhammad) firm with it, and We have set out its recitation to you in good order, part by part.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا لَمَّا نَزَلَ مُفَرَّقًا مُنَجَّمًا لَا جَرَمَ نَزَلَتِ التَّكَالِيفُ قَلِيلًا قَلِيلًا فَكَانَ تَحَمُّلُهَا أَسْهَلَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/457 · Shamela ↗ (huraian ayat 32–34)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/457 · Shamela ↗ (commentary on 32–34)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang al-Qur’an diturunkan “dengan cara (beransur-ansur)”: kerana ia turun sedikit demi sedikit, tanggungjawab agama (taklif) juga turun sedikit demi sedikit, maka lebih mudah dipikul; jika semuanya turun sekaligus tentu terasa berat.
Renungan: Kita juga boleh mendekati al-Qur’an beransur-ansur; mari kita amalkan sedikit demi sedikit tetapi berterusan.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of the Qur’an being sent down “in that (gradual) way”: since it came down bit by bit, the duties of religion also came down little by little, and so were easier to bear; had they all come at once they would have weighed heavily.
Reflection: We too can approach the Qur’an gradually; let us practise it little by little, but without stopping.
بِمَثَلٍ
sesuatu kata-kata yang ganjil (untuk menentangmu) (lit. dengan suatu perumpamaan)any strange saying (to oppose you) (lit. with a likeness)
تَفۡسِيرًا
penjelasan (untuk menangkis segala yang mereka katakan itu)explanation (to repel all that they say)
Terjemahan: Dan mereka tidak membawa kepadamu sesuatu kata-kata yang ganjil (untuk menentangmu) melainkan Kami bawakan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang sebaik-baiknya (untuk menangkis segala yang mereka katakan itu)Translation: And they do not bring to you any strange saying (to oppose you) except that We bring to you the truth and the finest explanation (to repel all that they say).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَبَيَّنَ أَنَّ الَّذِي يَأْتِي بِهِ أَحْسَنُ تَفْسِيرًا لِأَجْلِ مَا فِيهِ مِنَ الْمَزِيَّةِ فِي الْبَيَانِ وَالظُّهُورِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/457 · Shamela ↗ (huraian ayat 32–34)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/457 · Shamela ↗ (commentary on 32–34)
Tafsir ar-Rāzī menyebut: setiap kali mereka membawa “kata-kata yang ganjil”, Allah membawakan kebenaran yang menolaknya, dan menerangkan bahawa apa yang dibawa-Nya itu “penjelasan yang sebaik-baiknya” kerana kelebihannya dalam keterangan dan kejelasan.
Renungan: Apabila keraguan datang, mari kita kembali kepada al-Qur’an dan mencari penjelasannya di sana.Tafsir al-Rāzī says that whenever they bring “any strange saying”, Allah brings the truth that repels it, and shows that what He brings is “the finest explanation” because of its excellence in clarity and plainness.
Reflection: When doubts come, let us return to the Qur’an and seek its explanation there.
Terjemahan: Orang-orang yang akan diseret beramai-ramai ke neraka Jahannam (dengan tertiarap) atas mukanya, merekalah orang-orang yang amat buruk keadaannya dan amat sesat jalannyaTranslation: Those who will be dragged in crowds to Hell (face down) on their faces, they are the ones worst in state and most astray in path.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَكَانُهُمْ جَهَنَّمُ، وطريقهم الطَّرِيق الْموصل إِلَيْهَا وَهُوَ الَّذِي يُحْشَرُونَ فِيهِ عَلَى وُجُوهِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/24 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/24 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, makān (tempat) mereka ialah neraka Jahannam, dan sabīl (jalan) mereka ialah jalan yang membawa ke sana, iaitu jalan mereka dihimpunkan dan diseret di atas muka.
Renungan: Kesudahan seseorang bergantung pada jalan yang dipilihnya; mari kita pilih jalan yang membawa kepada keredhaan Allah.According to Ibn ‘Āshūr, their place is Hell, and their path is the road that leads to it, the road along which they are gathered on their faces.
Reflection: A person’s end depends on the path he chooses; let us choose the path that leads to Allah’s good pleasure.
Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah berikan Kitab Taurat kepada Nabi Musa, dan Kami lantik saudaranya Nabi Harun, sebagai menteri bersamanyaTranslation: And truly We gave the Prophet Musa the Book of the Torah, and We appointed his brother, the Prophet Harun, as a minister with him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَسْتَ يَا مُحَمَّدُ بِأَوَّلِ مَنْ أَرْسَلْنَاهُ فَكُذِّبَ، وَآتَيْنَاهُ الْآيَاتِ فَرُدَّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/458 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–36)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/458 · Shamela ↗ (commentary on 35–36)
Tafsir ar-Rāzī menyebut maknanya: wahai Muhammad, engkau bukan yang pertama Kami utus lalu didustakan, dan Kami berikan tanda-tanda lalu ditolak; Kami telah memberikan Taurat kepada Nabi Musa dan menguatkannya dengan saudaranya Nabi Harun, namun baginda tetap ditolak.
Renungan: Kisah para nabi menenangkan hati yang diuji; mari kita membacanya untuk menguatkan kesabaran kita.Tafsir al-Rāzī gives the meaning: O Muhammad, you are not the first We sent and who was denied, nor the first We gave signs and who was rejected; We gave the Torah to the Prophet Musa and strengthened him with his brother, the Prophet Harun, and still he was rejected.
Reflection: The stories of the prophets calm a heart under trial; let us read them to strengthen our patience.
فَدَمَّرۡنَٰهُمۡ
maka (kesudahannya) … binasakan kaum itu (lit. maka … binasakan mereka)so (in the end) … destroyed that people (lit. so … destroyed them) (KamiWe)
Terjemahan: Lalu Kami perintahkan: "Pergilah kamu berdua kepada kaum yang mendustakan ayat-ayat keterangan Kami"; maka (kesudahannya) Kami binasakan kaum itu sehancur-hancurnyaTranslation: Then We commanded: “Both of you go to the people who denied Our clear signs”; so (in the end) We destroyed that people utterly.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ حَصَلَ بِهَذَا النَّظْمِ إِيجَازٌ عَجِيبٌ اخْتُصِرَتْ بِهِ الْقِصَّةُ فَذُكِرَ مِنْهَا حَاشِيَتَاهَا: أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/26 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–36)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/26 · Shamela ↗ (commentary on 35–36)
Menurut Ibn ‘Āshūr, susunan ayat ini satu keringkasan yang menakjubkan: kisah itu diringkaskan dengan menyebut dua hujungnya, awal dan akhirnya, kerana kedua-duanya itulah yang dimaksudkan, iaitu umat yang mendustakan rasul mereka layak dibinasakan.
Renungan: Kisah yang panjang boleh disimpulkan dalam satu pengajaran; mari kita ambil pengajaran itu dan tidak mendustakan kebenaran yang sampai kepada kita.According to Ibn ‘Āshūr, the wording of this verse is a wonderful brevity: the story is shortened by mentioning its two ends, its beginning and its end, because these are what is meant, namely that nations who deny their messengers deserve destruction.
Reflection: A long story can be summed up in one lesson; let us take that lesson and not deny the truth that reaches us.
لِلظَّٰلِمِينَ
bagi sesiapa yang zalim (lit. bagi orang-orang yang zalim)for whoever does wrong (lit. for those who do wrong)
Terjemahan: Dan (demikian juga) kaum Nabi Nuh, ketika mereka mendustakan Rasul-rasul Kami, Kami tenggelamkan mereka, dan Kami jadikan mereka satu tanda (yang menjadi contoh) bagi umat manusia; dan Kami sediakan bagi sesiapa yang zalim; azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: And (likewise) the people of the Prophet Nuh: when they denied Our Messengers, We drowned them, and We turned them into a sign (serving as an example) for mankind; and for whoever does wrong We have prepared a punishment of indescribable pain.
Nota nahu: وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا۟ ٱلرُّسُلَ (ayat 37).Grammar note: وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا۟ ٱلرُّسُلَ (verse 37).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ لِكُلِّ مَنْ سَلَكَ سَبِيلَهُمْ فِي تَكْذِيبِ الرُّسُلِ عَذَابًا أَلِيمًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/459 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/459 · Shamela ↗
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī tentang “Kami sediakan bagi sesiapa yang zalim; azab seksa yang tidak terperi sakitnya”: ia ditujukan kepada setiap orang yang mengikut jalan mereka dalam mendustakan rasul-rasul.
Renungan: Kaum Nabi Nuh dijadikan tanda bagi manusia; mari kita pastikan kita tidak mengikut jalan mereka dalam menolak kebenaran.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī of “for whoever does wrong We have prepared a punishment of indescribable pain”: it is meant for everyone who follows their way in denying the messengers.
Reflection: The people of the Prophet Nuh were made a sign for mankind; let us make sure we do not follow their way in rejecting the truth.
وَأَصۡحَٰبَ
serta “Ashaabur-Rassyi” (lit. serta penghuni)and the “Ashaabur-Rassi” (lit. and the dwellers of)
وَقُرُونَۢا
dan … dalam zaman-zaman (lit. dan umat-umat)and … in the ages (lit. and generations)
Terjemahan: Dan (demikian juga Kami telah binasakan) Aad dan Thamud serta Ashaabur-Rassyi dan banyak lagi dalam zaman-zaman di antara masa yang tersebut ituTranslation: And (likewise We destroyed) ‘Ad and Thamud and the “Ashaabur-Rassi”, and many more in the ages between those times mentioned.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي تَقْدِيمِهَا تَشْوِيقٌ إِلَى مَعْرِفَةِ مَا سَيُخْبِرُ بِهِ عَنْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/27 · Shamela ↗ (huraian ayat 38–39)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/27 · Shamela ↗ (commentary on 38–39)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: nama-nama “Aad dan Thamud serta Ashaabur-Rassyi” dan kaum-kaum lain didahulukan sebelum disebut nasib mereka, untuk menimbulkan rasa ingin tahu tentang apa yang akan diberitakan tentang mereka.
Renungan: Al-Qur’an membangkitkan keinginan kita untuk mendengar kesudahan sesuatu kisah; mari kita dengar hingga akhir dan mengambil iktibar.One of the explanations given by Ibn ‘Āshūr: the names ‘Ad, Thamud and the “Ashaabur-Rassi”, and the other generations, are placed first, before their fate is told, to stir curiosity about what will be said of them.
Reflection: The Qur’an awakens our wish to hear how a story ends; let us listen to the end and take the lesson.
Terjemahan: Dan masing-masing, telah Kami berikan kepadanya contoh tauladan yang mendatangkan iktibar, dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnyaTranslation: And for each of them We set forth examples that bring lessons, and each of them We shattered utterly.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بَيَّنَّا لَهُمُ الْأَشْبَاهَ وَالنَّظَائِرَ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ لِيَعْرِضُوا حَالَ أَنْفُسِهِمْ عَلَيْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/29 · Shamela ↗ (huraian ayat 38–39)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/29 · Shamela ↗ (commentary on 38–39)
Menurut Ibn ‘Āshūr, memberi contoh tauladan (ḍarb al-amthāl) bermaksud Allah menerangkan kepada setiap kaum itu perbandingan dan contoh dalam kebaikan dan keburukan, supaya mereka menilai keadaan diri mereka dengannya.
Renungan: Kisah umat terdahulu ialah cermin bagi kita; mari kita bandingkan diri dengannya sebelum terlambat.According to Ibn ‘Āshūr, setting forth examples (ḍarb al-amthāl) means that Allah made clear to each of those peoples comparisons and likenesses in good and in evil, so that they might measure their own state against them.
Reflection: The stories of past nations are a mirror for us; let us compare ourselves with them before it is too late.
أَتَوۡاْ
… telah melalui… have passed by (mereka (yang menentangmu wahai Muhammad)they (who oppose you, O Muhammad))
بَلۡ
(mereka tidak fikirkan yang demikian itu satu balasan kufur) bahkan(they do not consider that a recompense for disbelief) rather
يَرۡجُونَ
ingatkan adanya (lit. mengharapkan)think of the coming of (lit. hope for) (merekathey)
نُشُورٗا
kebangkitan hidup semula (untuk menerima balasan)the resurrection (to receive recompense)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya, mereka (yang menentangmu wahai Muhammad) telah melalui bandar yang telah dihujani (dengan) azab yang buruk, maka (mengapa mereka masih berdegil), tidakkah mereka selalu dapat menyaksikannya? (Mereka tidak fikirkan yang demikian itu satu balasan kufur) bahkan mereka adalah orang-orang yang tidak ingatkan adanya kebangkitan hidup semula (untuk menerima balasan)Translation: And truly they (who oppose you, O Muhammad) have passed by the town which was rained upon (with) a punishment that was evil; so (why do they still persist), did they not see it all the time? (They do not consider that a recompense for disbelief;) rather, they are people who do not think of the coming of the resurrection (to receive recompense).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الِاعْتِبَارَ يَنْشَأُ عَنِ الْمُرَاقَبَةِ وَمُحَاسَبَةِ النَّفْسِ لِطَلَبِ النَّجَاةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/31 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/31 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka tidak mengambil iktibar daripada bandar yang dimusnahkan itu kerana tidak beriman dengan kebangkitan, sedangkan iktibar lahir daripada sikap memerhati dan menilai diri untuk mencari keselamatan.
Renungan: Iman kepada hari kebangkitan membuka mata hati; mari kita jadikan setiap kesan kemusnahan peringatan untuk diri sendiri.According to Ibn ‘Āshūr, they took no lesson from the ruined town because they did not believe in the resurrection, whereas taking a lesson grows out of watchfulness and self-examination in search of salvation.
Reflection: Faith in the resurrection opens the eye of the heart; let us take every trace of ruin as a reminder for ourselves.
Terjemahan: Dan apabila mereka melihatmu (wahai Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu ejek-ejekan (sambil mereka berkata): "Inikah orangnya yang diutus oleh Allah sebagai Rasul-NyaTranslation: And whenever they see you (O Muhammad), they only take you as a mockery (saying): “Is this the man who was sent by Allah as His Messenger?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَيْسَ لِلْمُبْطِلِ فِي كُلِّ الْأَوْقَاتِ إِلَّا السَّفَاهَةُ وَالْوَقَاحَةُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/462 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–44)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/462 · Shamela ↗ (commentary on 41–44)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka mengejek Rasulullah ﷺ padahal baginda tidak mendakwa kelebihan dengan rupa tetapi dengan hujah, dan mereka tidak mampu mencabar hujah baginda; ini menunjukkan orang yang berpihak kepada kebatilan, pada setiap masa, tidak memiliki apa-apa selain kebodohan dan sikap biadab.
Renungan: Apabila hujah habis, ejekan bermula; jangan kita membalas kebenaran dengan sindiran.Tafsir al-Rāzī says that they mocked the Messenger ﷺ although he claimed no distinction by his looks but by proof, and they were unable to fault his proof; this shows that the one who sides with falsehood has, at all times, nothing but foolishness and insolence.
Reflection: When the argument runs out, mockery begins; let us never answer the truth with ridicule.
Terjemahan: Sebenarnya ia hampir-hampir dapat menyesatkan kami dari tuhan-tuhan kami, jika tidaklah kerana kami tetap teguh menyembahnya". Dan mereka akan mengetahui kelak ketika mereka melihat azab seksa: siapakah yang sebenar-benarnya sesat jalannyaTranslation: In truth, he almost led us astray from our gods, were it not that we stood firm in worshipping them.” And they will come to know, at the time they see the punishment, who it is that is truly astray in his way.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْمَقْصُودُ مِنْهُ تَفَاخُرُهُمْ بِتَصَلُّبِهِمْ فِي دِينِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/33 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–42)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/33 · Shamela ↗ (commentary on 41–42)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud kata-kata mereka “jika tidaklah kerana kami tetap teguh menyembahnya” ialah berbangga dengan keteguhan mereka pada agama mereka; mereka mengaku hampir terpengaruh dengan dakwah Rasul, lalu dengan berkata “ia hampir-hampir dapat menyesatkan kami” mereka menyandarkannya kepada baginda, bukan kepada diri sendiri.
Renungan: Keteguhan hanya terpuji jika di atas kebenaran; mari kita pastikan yang kita pertahankan itu hak, bukan sekadar kebiasaan.According to Ibn ‘Āshūr, the point of their words “were it not that we stood firm in worshipping them” is to boast of their firmness in their religion; they admit they were nearly swayed by the Messenger’s call, yet by saying “he almost led us astray” they ascribe it to him, not to themselves.
Reflection: Firmness is praiseworthy only when it stands on the truth; let us make sure that what we defend is right, not mere habit.
أَرَءَيۡتَ
nampakkah … (wahai Muhammad) keburukan keadaan (lit. adakah … melihat)do … see (O Muhammad) the evil state of (lit. have … seen) (engkauyou)
إِلَٰهَهُۥ
tuhan yang dipuja lagi ditaati (lit. tuhannya)as a god worshipped and obeyed (lit. his god)
عَلَيۡهِ
yang menjaganya jangan sesat (lit. ke atasnya)who guards him from going astray (lit. over him)
Terjemahan: Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? Maka dapatkah engkau menjadi pengawas yang menjaganya jangan sesatTranslation: Do you see (O Muhammad) the evil state of the one who has taken his desire as a god worshipped and obeyed? So can you be a watcher who guards him from going astray?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِنَّمَا كَانَ لِاسْتِيلَاءِ التَّقْلِيدِ عَلَيْهِمْ وَأَنَّهُمُ اتخذوا أهواءهم آلهة، فكل ما دَعَاهُمُ الْهَوَى إِلَيْهِ انْقَادُوا لَهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/462 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–44)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/462 · Shamela ↗ (commentary on 41–44)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka sampai ke tahap jahil dan berpaling daripada dalil kerana dikuasai taklid (ikut-ikutan tanpa dalil), dan mereka menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan; apa sahaja yang diseru oleh hawa nafsu, mereka turuti.
Renungan: Mari kita tanya diri: adakah keputusan kita mengikut dalil, atau sekadar kehendak nafsu?Tafsir al-Rāzī says that they reached such ignorance and turned from the proofs because blind imitation (taqlīd) had mastered them, and they took their desires as gods; whatever desire called them to, they followed.
Reflection: Let us ask ourselves: do our choices follow the evidence, or merely what the self desires?
يَعۡقِلُونَۚ
memahami (apa yang engkau sampaikan kepada mereka)comprehend (what you convey to them) (merekathey)
Terjemahan: Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (apa yang engkau sampaikan kepada mereka)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan (bawaan) mereka lebih sesat lagiTranslation: Or do you suppose that most of them hear or comprehend (what you convey to them)? They are only like cattle; indeed their (ways) are even further astray.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُمْ لِشِدَّةِ عِنَادِهِمْ لَا يُصْغُونَ إِلَى الْكَلَامِ، وَإِذَا سَمِعُوهُ لَا يَتَفَكَّرُونَ فِيهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/463 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–44)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/463 · Shamela ↗ (commentary on 41–44)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, kerana kerasnya penentangan, mereka tidak mahu mendengar seruan, dan apabila mendengar pun mereka tidak memikirkannya; seolah-olah mereka tiada akal dan pendengaran, lalu mereka diumpamakan seperti binatang ternak kerana tidak mengambil manfaat daripada kata-kata itu.
Renungan: Telinga dan akal ialah nikmat; mari kita gunakan untuk mendengar dan merenung ayat Allah.Tafsir al-Rāzī says that, from the severity of their stubbornness, they would not listen to the message, and when they heard it they did not reflect on it; it is as if they had no mind and no hearing, so they were likened to cattle for gaining no benefit from what was said.
Reflection: Hearing and reason are gifts; let us use them to listen to and reflect on the verses of Allah.
مَدَّ
… menjadikan … terbentang (luas kawasannya)… made … stretch out (over a wide area) (DiaHe)
Terjemahan: Tidakkah engkau melihat kekuasaan Tuhanmu? - bagaimana Ia menjadikan bayang-bayang itu terbentang (luas kawasannya) dan jika Ia kehendaki tentulah Ia menjadikannya tetap (tidak bergerak dan tidak berubah)! Kemudian Kami jadikan matahari sebagai tanda yang menunjukkan perubahan bayang-bayang ituTranslation: Have you not seen the power of your Lord — how He made the shadow stretch out (over a wide area)? And if He had willed, He would surely have made it still (not moving and not changing)! Then We made the sun a sign that points to the changes of that shadow.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنَ الْآيَةِ بَيَانُ نِعَمِ اللَّه تَعَالَى بِالظِّلِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/464 · Shamela ↗ (huraian ayat 45–49)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/464 · Shamela ↗ (commentary on 45–49)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, walaupun seruan ayat ini pada zahirnya ditujukan kepada Rasulullah ﷺ, maksudnya umum, kerana tujuan ayat ialah menerangkan nikmat Allah dengan bayang-bayang, dan semua mukalaf (orang yang dipertanggungjawabkan) perlu menyedari nikmat ini.
Renungan: Nikmat yang paling biasa pun, seperti bayang-bayang, layak kita syukuri.Tafsir al-Rāzī says that although the address of this verse is outwardly to the Messenger ﷺ, its meaning is general, for the aim of the verse is to make known Allah’s favour through the shadow, and all who are morally accountable (mukallaf) ought to take note of this favour.
Reflection: Even the most ordinary favour, like a shadow, deserves our thanks.
قَبَضۡنَٰهُ
… tarik balik bayang-bayang itu (lit. … tarik baliknya)… drew that shadow back (lit. … drew it back) (KamiWe)
Terjemahan: Kemudian Kami tarik balik bayang-bayang itu kepada Kami, dengan beransur-ansurTranslation: Then We drew that shadow back to Us, little by little.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ جُعِلَ مَدُّ الظِّلِّ وَقَبْضُهُ تَمْثِيلًا لِحِكْمَةِ التَّدْرِيجِ فِي التَّكْوِينَاتِ الْإِلَهِيَّةِ وَالْعُدُولِ بِهَا عَنِ الطَّفْرَةِ فِي الْإِيجَادِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/38 · Shamela ↗ (huraian ayat 45–46)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/38 · Shamela ↗ (commentary on 45–46)
Menurut Ibn ‘Āshūr, bayang-bayang yang dibentangkan lalu ditarik balik “dengan beransur-ansur” dijadikan perumpamaan bagi hikmah berperingkat dalam ciptaan Allah, bukan secara mendadak; beliau mengaitkannya dengan hikmah al-Qur’an diturunkan sedikit demi sedikit.
Renungan: Perubahan baik dalam diri kita juga berlaku berperingkat; mari kita sabar dan istiqamah (tetap teguh).According to Ibn ‘Āshūr, the shadow stretched out and then drawn back “little by little” is made a likeness for the wisdom of gradualness in Allah’s creating, rather than sudden leaps; he links it to the wisdom of the Qur’an being sent down in stages.
Reflection: Good change in ourselves also comes in stages; let us be patient and steadfast (istiqāmah).
Terjemahan: Dan Dialah Tuhan yang menjadikan malam untuk kamu sebagai pakaian, dan menjadikan tidur untuk berhenti rehat, serta menjadikan siang untuk keluar mencari rezekiTranslation: And it is He, the Lord Who made the night to be a garment for you, and made sleep for resting, and made the day for going out to seek provision.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ الْآيَةُ مَعَ دَلَالَتِهَا عَلَى قُدْرَةِ الْخَالِقِ فِيهَا إِظْهَارٌ لِنِعَمِهِ عَلَى خَلْقِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/465 · Shamela ↗ (huraian ayat 45–49)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/465 · Shamela ↗ (commentary on 45–49)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/283–284), ayat ini selain menunjukkan kuasa Pencipta turut menzahirkan nikmat-Nya kepada makhluk: tirai malam membawa banyak faedah agama dan dunia, dan tidur serta jaga diumpamakan dengan mati dan hidup.
Renungan: Setiap kali tidur dan bangun, kita diingatkan tentang mati dan kebangkitan; mari kita mulakan hari dengan syukur.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also gives in al-Kashshāf (3/283–284), that besides showing the Creator’s power this verse displays His favours to His creation: the covering of night holds many benefits for religion and worldly life, and sleep and waking are likened to death and life.
Reflection: Each time we sleep and wake we are reminded of death and resurrection; let us begin the day with thanks.
Terjemahan: Dan Dialah Tuhan yang menghantarkan angin sebagai berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya, dan Kami menurunkan dari langit: air yang bersih suciTranslation: And it is He, the Lord Who sent forth the winds as glad tidings ahead of the coming of His mercy; and We sent down from the sky water that is pure and clean,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اسْتِدْلَالٌ عَلَى الِانْفِرَادِ بِالْخَلْقِ وَامْتِنَانٌ بِتَكْوِينِ الرِّيَاحِ وَالْأَسْحِبَةِ وَالْمَطَرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/46 · Shamela ↗ (huraian ayat 48–50)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/46 · Shamela ↗ (commentary on 48–50)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah dalil bahawa Allah sahaja yang mencipta, dan sekali gus mengingatkan nikmat-Nya dengan menjadikan angin, awan dan hujan; ia membatalkan dakwaan adanya sekutu bagi-Nya dalam mentadbir alam ini.
Renungan: Setiap tiupan angin dan titisan hujan ialah tanda rahmat Allah; mari kita sandarkan nikmat itu kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is a proof that Allah alone creates, and at the same time a reminder of His favour in bringing about the winds, the clouds and the rain; it overturns the claim that He has partners in governing these things.
Reflection: Every breath of wind and every drop of rain is a sign of Allah’s mercy; let us credit that favour to Him.
Terjemahan: Untuk Kami hidupkan dengan air itu bumi yang mati, serta memberi minum air itu kepada sebahagian dari makhluk-makhluk Kami, khasnya binatang ternak yang banyak dan manusia yang ramaiTranslation: so that We may give life by that water to a land that is dead, and give that water to drink to some of Our creatures, especially cattle and people in great numbers.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ حَيَاةَ الْأَنَاسِيِّ بِحَيَاةِ أَرْضِهِمْ وَحَيَاةِ أَنْعَامِهِمْ، فَقَدَّمَ مَا هُوَ سَبَبُ حَيَاتِهِمْ وَمَعِيشَتِهِمْ عَلَى سَقْيِهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/467 · Shamela ↗ (huraian ayat 45–49)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/467 · Shamela ↗ (commentary on 45–49)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/285), menghidupkan bumi dan memberi minum binatang ternak disebut sebelum manusia kerana kehidupan manusia bergantung pada hidupnya tanah dan ternakan mereka; maka didahulukan apa yang menjadi sebab hidup dan sara hidup mereka.
Renungan: Rezeki kita bersambung dengan alam di sekeliling; mari kita jaga nikmat itu dengan syukur.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also gives in al-Kashshāf (3/285), that giving life to the land and water to the cattle is mentioned before people because human life depends on the life of their land and their livestock; so what sustains their life and livelihood comes first.
Reflection: Our provision is bound up with the world around us; let us look after that favour with thanks.
صَرَّفۡنَٰهُ
berulang-ulang kali menyebarkan hujjah-hujjah … melalui al-Qur’an (lit. … mengulang-ulangnya)repeatedly spread proofs … through the Qur’an (lit. … turned it about) (KamiWe)
لِيَذَّكَّرُواْ
supaya … berfikir (mengenal-Ku serta bersyukur)so that … may reflect (to know Me and be grateful) (merekathey)
فَأَبَىٰٓ
dalam pada itu … tidak mahuyet … refused (kebanyakan manusia aktharu an‑nasimost of mankind aktharu an‑nāsi)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Kami telah berulang-ulang kali menyebarkan hujjah-hujjah di antara manusia melalui Al-Quran supaya mereka berfikir (mengenal-Ku serta bersyukur); dalam pada itu kebanyakan manusia tidak mahu melainkan berlaku kufurTranslation: And truly! We have repeatedly spread proofs among mankind through the Qur’an so that they may reflect (to know Me and be grateful); yet most of mankind refused anything but disbelief.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَجَوَّزَ فَرِيقٌ أَنْ يَكُونَ ضَمِيرُ صَرَّفْناهُ عَائِدًا إِلَى غَيْرِ مَذْكُورٍ مَعْلُومٍ فِي الْمَقَامِ مُرَادٍ بِهِ الْقُرْآنُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/51 · Shamela ↗ (huraian ayat 48–50)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/51 · Shamela ↗ (commentary on 48–50)
Antara huraian yang dinukil Ibn ‘Āshūr: sebahagian ulama mengharuskan ganti nama (ḍamīr) dalam «صَرَّفْنَاهُ» merujuk kepada al-Qur’an, kerana al-Qur’an ialah tujuan surah ini yang dibuka dengan menyebutnya; ini selari dengan terjemahan Basmeih “melalui Al-Quran”.
Renungan: Allah mengulang-ulang peringatan-Nya dalam al-Qur’an untuk kita; jangan kita membalasnya dengan keengganan.One of the explanations reported by Ibn ‘Āshūr: a group of scholars allowed the pronoun (ḍamīr) in «صَرَّفْنَاهُ» to refer to the Qur’an, since the Qur’an is the purpose of this surah, which opens by mentioning it; this agrees with Basmeih’s rendering “through the Qur’an”.
Reflection: Allah repeats His reminders to us in the Qur’an; let us not answer them with refusal.
Terjemahan: Dan kalau Kami kehendaki, tentulah Kami utuskan dalam tiap-tiap negeri, seorang Rasul pemberi amaranTranslation: And if We had willed, We would surely have sent in every land a Messenger giving warning.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَأَنَّهُ تَعَالَى بَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى بِعْثَةِ رَسُولٍ وَنَذِيرٍ فِي كُلِّ قَرْيَةٍ خَصَّهُ بِالرِّسَالَةِ وَفَضَّلَهُ بِهَا عَلَى الْكُلِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/474 · Shamela ↗ (huraian ayat 50–52)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/474 · Shamela ↗ (commentary on 50–52)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: maksud yang paling kuat ialah memuliakan Nabi ﷺ; seolah-olah Allah menerangkan bahawa walaupun Dia berkuasa mengutus rasul pemberi amaran di setiap negeri, Dia mengkhususkan risalah kepada baginda dan melebihkan baginda atas semua.
Renungan: Kita umat Rasul yang dimuliakan; mari kita hargai risalah baginda dengan mengikutinya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: the strongest meaning is the honouring of the Prophet ﷺ; it is as if Allah made clear to him that, although He was able to send a messenger and warner to every land, He singled him out for the message and preferred him by it above all.
Reflection: We are the community of an honoured Messenger; let us value his message by following it.
بِهِۦ
dengan hujjah-hujjah al-Qur’an (lit. dengannya)by means of the proofs of the Qur’an (lit. with it)
Terjemahan: Oleh itu, janganlah engkau (Wahai Muhammad) menurut kehendak orang-orang kafir, dan berjuanglah dengan hujjah-hujjah Al-Quran menghadapi mereka dengan perjuangan yang besar dan bersungguh-sungguhTranslation: So do not (O Muhammad) follow the wishes of the disbelievers, and strive against them by means of the proofs of the Qur’an, with a striving that is great and earnest.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَبَعْدَ أَنْ حَذَّرَهُ مِنَ الْوَهَنِ فِي الدَّعْوَةِ أَمَرَهُ بِالْحِرْصِ وَالْمُبَالَغَةِ فِيهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/53 · Shamela ↗ (huraian ayat 51–52)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/53 · Shamela ↗ (commentary on 51–52)
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah Rasulullah ﷺ diingatkan supaya tidak lemah dalam dakwah kerana menurut kehendak mereka, baginda diperintah bersungguh-sungguh dalam dakwah itu; “berjuang” di sini menghimpunkan usaha sehabis daya, dan ganti nama «بِهِ» boleh jadi merujuk kepada al-Qur’an.
Renungan: Kesungguhan kita menyampaikan kebaikan bermula dengan teguh berpegang pada al-Qur’an.According to Ibn ‘Āshūr, after the Messenger ﷺ was warned not to weaken in his call by following their wishes, he was commanded to be earnest and thorough in it; “striving” here gathers effort to the limit of one’s strength, and the pronoun in «بِهِ» may refer to the Qur’an.
Reflection: Our earnestness in conveying good begins with holding firmly to the Qur’an.
Terjemahan: Dan Dialah Tuhan yang telah mengalirkan dua laut berdampingan, yang satu tawar lagi memuaskan dahaga, dan yang satu lagi masin lagi pahit; serta Ia menjadikan antara kedua-dua laut itu sempadan dan sekatan yang menyekat percampuran keduanyaTranslation: And it is He, the Lord Who has let the two seas flow side by side: this one is fresh and thirst-quenching, while the other is salty and bitter; and He made between the two seas a boundary and a barrier that keeps them from mixing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَتَمْثِيلُ الْإِيمَانِ بِالْعَذْبِ الْفُرَاتِ وَالشِّرْكِ بِالْمِلْحِ الْأُجَاجِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/54 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/54 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, selain menjadi dalil kekuasaan Allah, ayat ini mengandungi perumpamaan: iman diumpamakan dengan air tawar yang segar dan syirik (menyekutukan Allah) dengan air masin yang pahit; sebagaimana Allah menjadikan sempadan antara keduanya, Dia memisahkan orang beriman daripada orang musyrik pada waktu itu supaya kekufuran tidak menyusup ke dalam barisan mereka.
Renungan: Mari kita jaga kejernihan iman.According to Ibn ‘Āshūr, besides being a proof of Allah’s power, this verse holds a likeness: faith is likened to sweet fresh water and shirk (associating partners with Allah) to salty bitter water; as Allah set a barrier between the two, He kept the believers apart from the people of shirk at that time so that disbelief could not creep into their ranks.
Reflection: Let us keep our faith clear.
فَجَعَلَهُۥ
lalu dijadikan-Nya (mempunyai) (lit. lalu … menjadikannya)then … made them (have) (lit. then … made him) (DiaHe)
وَكَانَ
dan sememangnya (lit. dan adalah)and … is indeed (lit. and was) (Tuhanmu rabbukayour Lord rabbuka)ism
قَدِيرٗا
berkuasa (menciptakan apa jua yang dikehendaki-Nya)All-Powerful (to create whatever He wills)
Terjemahan: Dan Dialah Tuhan yang menciptakan manusia dari air, lalu dijadikan-Nya (mempunyai) titisan baka dan penalian keluarga (persemendaan); dan sememangnya Tuhanmu berkuasa (menciptakan apa jua yang dikehendaki-Nya)Translation: And it is He, the Lord Who created human beings from water, then made them (have) lines of descent and family ties (through marriage); and your Lord is indeed All-Powerful (to create whatever He wills).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَصِهْرُ الرَّجُلِ قَرَابَةُ امْرَأَتِهِ، وَصِهْرُ الْمَرْأَةِ قَرَابَةُ زَوْجِهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/55 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/55 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Allah membahagikan manusia kepada dua jenis hubungan: keturunan (nasab) dan persemendaan (ṣihr); persemendaan seorang lelaki ialah kaum kerabat isterinya, dan persemendaan seorang wanita ialah kaum kerabat suaminya.
Renungan: Ikatan keturunan dan persemendaan ialah nikmat Allah; mari kita jaga hubungan itu dengan baik.According to Ibn ‘Āshūr, Allah divided human beings into two kinds of tie: descent (nasab) and kinship by marriage (ṣihr); a man’s in-laws are his wife’s relatives, and a woman’s in-laws are her husband’s relatives.
Reflection: Ties of descent and of marriage are favours from Allah; let us keep those bonds well.
يَنفَعُهُمۡ
memberi manfaat kepada mereka (yang menyembahnya)benefit them (who worship them) (ia (merujuk apa yang)it (refers to what))
يَضُرُّهُمۡۗ
mendatangkan mudarat kepada mereka (yang tidak menyembahnya)bring harm to them (who do not worship them) (ia (merujuk apa yang)it (refers to what))
Terjemahan: Dan mereka (yang musyrik) menyembah benda-benda yang lain dari Allah, yang tidak memberi manfaat kepada mereka (yang menyembahnya) dan tidak pula mendatangkan mudarat kepada mereka (yang tidak menyembahnya); dan orang yang kafir selalu menjadi pembantu (bagi golongannya yang kafir) untuk menderhaka kepada TuhannyaTranslation: And they (the people of shirk) worship, besides Allah, things that do not benefit them (who worship them) nor bring harm to them (who do not worship them); and the disbeliever is always a helper (to his fellow disbelievers) in rebelling against his Lord.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ مُوجِبَ الْعِبَادَةِ إِمَّا رَجَاءُ النَّفْعِ وَإِمَّا اتِّقَاءُ ضُرِّ الْمَعْبُودِ وَكِلَاهُمَا مُنْتَفٍ عَنِ الْأَصْنَامِ بِالْمُشَاهَدَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/56 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/56 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, selepas menafikan manfaat, ayat ini menafikan mudarat juga, kerana yang mendorong seseorang menyembah sesuatu ialah sama ada mengharap manfaatnya atau takut mudaratnya, dan kedua-duanya jelas tiada pada berhala.
Renungan: Allah yang memberi manfaat dan menolak mudarat; mari kita gantungkan harapan dan rasa takut kita kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, after denying benefit the verse denies harm as well, because what moves anyone to worship something is either hope of its benefit or fear of its harm, and both are plainly absent from idols.
Reflection: It is Allah Who brings benefit and wards off harm; let us place our hope and our fear in Him.
مُبَشِّرٗا
sebagai pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman)as a bearer of glad tidings (to those who believe)
وَنَذِيرٗا
dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar)and a giver of warning (to those who deny)
Terjemahan: Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) melainkan sebagai pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman) dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar)Translation: And We did not send you (O Muhammad) but as a bearer of glad tidings (to those who believe) and a giver of warning (to those who deny).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلَا جَهْلَ أَعْظَمُ مِنْ جَهْلِ مَنِ اسْتَفْرَغَ جُهْدَهُ فِي إِيذَاءِ شَخْصٍ اسْتَفْرَغَ جُهْدَهُ فِي إِصْلَاحِ مُهِمَّاتِهِ دِينًا وَدُنْيَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/476 · Shamela ↗ (huraian ayat 55–58)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/476 · Shamela ↗ (commentary on 55–58)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah mengutus Rasul-Nya untuk kebaikan mereka: memberi berita gembira atas ketaatan dan amaran atas kemaksiatan; maka tiada kejahilan yang lebih besar daripada orang yang bersungguh-sungguh menyakiti insan yang bersungguh-sungguh memperbaiki urusan agama dan dunianya, tanpa meminta upah.
Renungan: Mari kita hargai orang yang menasihati kita, bukan memusuhinya.Tafsir al-Rāzī says that Allah sent His Messenger for their good: to give glad tidings for obedience and warning against disobedience; so there is no ignorance greater than that of one who spends all his effort hurting a person who spends all his effort setting right his affairs of religion and of this world, without asking any reward.
Reflection: Let us value those who advise us, not treat them as enemies.
عَلَيۡهِ
bagi apa yang aku sampaikan kepada kamu (lit. atasnya)for what I convey to you (lit. for it)
Terjemahan: Katakanlah: "Aku tidak meminta kepada kamu sebarang balasan bagi apa yang aku sampaikan kepada kamu, selain daripada berimannya seseorang yang mahu mendapatkan jalan sampainya kepada keredaan Allah"Translation: Say: “From you I do not ask any reward for what I convey to you, except the faith of anyone who wishes to take a way leading to the good pleasure of Allah.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَاهُ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا لِنَفْسِي وَأَسْأَلُكُمْ أَنْ تَطْلُبُوا الْأَجْرَ لِأَنْفُسِكُمْ بِاتِّخَاذِ السَّبِيلِ إِلَى رَبِّكُمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/476 · Shamela ↗ (huraian ayat 55–58)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/476 · Shamela ↗ (commentary on 55–58)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, yang dinukilnya daripada al-Qāḍī: maksudnya, “Aku tidak meminta upah untuk diriku, tetapi aku meminta kamu mencari pahala untuk diri kamu sendiri dengan mengambil jalan menuju Tuhan kamu.”
Renungan: Dakwah yang ikhlas tidak mengharap balasan; manfaatnya kembali kepada orang yang menerimanya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, which he reports from al-Qāḍī: the meaning is, “I ask no reward from you for myself, but I ask you to seek the reward for your own selves by taking the way to your Lord.”
Reflection: A sincere call seeks no return; its benefit goes back to the one who accepts it.
ٱلۡحَيِّ
Allah Tuhan Yang Hidup (lit. Yang Hidup)Allah, the Ever-Living Lord (lit. the Ever-Living)
Terjemahan: Dan berserahlah engkau kepada Allah Tuhan Yang Hidup, yang tidak mati; serta bertasbihlah dengan memuji-Nya; dan cukuplah Ia mengetahui secara mendalam akan dosa-dosa hamba-NyaTranslation: And put your trust in Allah, the Ever-Living Lord, Who does not die; and glorify by praising Him; and it is enough that He knows in depth the sins of His servants.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي الْآيَةِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ الْمَرْءَ الْكَامِلَ لَا يَثِقُ إِلَّا بِاللَّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/59 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/59 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Allah disebut dengan sifat “Yang Hidup, yang tidak mati” untuk menunjukkan sebab perintah bertawakal kepada-Nya, kerana Dia kekal; ayat ini mengisyaratkan bahawa insan yang sempurna tidak meletakkan kepercayaan kecuali kepada Allah, sebab bergantung kepada yang hidup tetapi akan mati tidak berkekalan.
Renungan: Mari kita serahkan urusan kepada Allah yang tidak pernah mati.According to Ibn ‘Āshūr, Allah is named by the description “the Ever-Living Lord, Who does not die” to show the reason for the command to rely on Him, since He is everlasting; the verse points out that the complete person trusts in none but Allah, because relying on the living who are bound to die does not last.
Reflection: Let us hand our affairs to Allah, Who never dies.
Terjemahan: Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya, dalam enam masa, kemudian Ia bersemayam di atas Arasy, Ialah Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah); maka bertanyalah akan hal itu kepada Yang MengetahuinyaTranslation: The Lord Who created, within six periods, the heavens and the earth and whatever lies between the two; then He istawā (bersemayam) upon the Throne; He is ar-Rahman (the Most Gracious); so ask about it the One Who knows it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثَبَتَ أَنَّهُ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى جَمِيعِ وُجُوهِ الْمَنَافِعِ وَدَفْعِ الْمَضَارِّ، وَأَنَّ النِّعَمَ كُلَّهَا مِنْ جِهَتِهِ فَحِينَئِذٍ لَا يَجُوزُ التَّوَكُّلُ إِلَّا عَلَيْهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/477 · Shamela ↗ (huraian ayat 59–60)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/477 · Shamela ↗ (commentary on 59–60)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ayat ini bersambung dengan sifat “Yang Hidup, yang tidak mati”: kerana Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala yang ada di antara keduanya, tetaplah Dia yang berkuasa mendatangkan segala manfaat dan menolak mudarat, dan semua nikmat datang daripada-Nya; maka tidak patut bertawakal kecuali kepada-Nya.
Renungan: Mari kita bertawakal kepada Pencipta, bukan kepada ciptaan.Tafsir al-Rāzī says that this verse is joined to the description “the Ever-Living Lord, Who does not die”: since Allah created the heavens and the earth and whatever lies between the two, it is established that He alone is able to bring every benefit and ward off harm, and all favours come from Him; so reliance is due to none but Him.
Reflection: Let us rely on the Creator, not on what is created.
وَزَادَهُمۡ
dan … menjadikan mereka bertambahand … increased them in (ia (perintah yang demikian)it (that command))
Terjemahan: Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang musyrik itu): "Sujudlah kamu kepada Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah)!" Mereka bertanya: "Dan siapakah Ar-Rahman itu? Patutkah kami sujud kepada apa sahaja yang engkau perintahkan kami?" Dan perintah yang demikian, menjadikan mereka bertambah liar ingkarTranslation: And whenever it is said to them (those people of shirk): “Prostrate to ar-Rahman (the Most Gracious)!” they ask: “And who is ar-Rahman? Should we prostrate to whatever you command us?” And that command increased them in aversion.
Nota nahu: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسْجُدُوا۟ لِلرَّحْمَٰنِ (ayat 60).Grammar note: وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسْجُدُوا۟ لِلرَّحْمَٰنِ (verse 60).
Nota nahu: أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا (ayat 60).Grammar note: أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا (verse 60).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالسُّجُودُ الَّذِي أُمِرُوا بِهِ سُجُودُ الِاعْتِرَافِ لَهُ بِالْوَحْدَانِيَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/62 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/62 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sujud yang diperintahkan kepada mereka ialah sujud mengakui keesaan Allah, iaitu syiar (lambang) Islam; ayat ini menggambarkan rasa hairan terhadap kedegilan mereka yang berpura-pura tidak mengenali nama Ar-Rahman.
Renungan: Perintah Allah sepatutnya mendekatkan kita kepada-Nya; mari kita sambut seruan-Nya dengan tunduk, bukan dengan menjauh.According to Ibn ‘Āshūr, the prostration they were commanded to make was the prostration that acknowledges Allah’s Oneness, the emblem (shi‘ār) of Islam; the verse expresses wonder at their stubbornness in feigning not to know the name ar-Rahman.
Reflection: Allah’s command should draw us nearer to Him; let us meet His call with submission, not by turning away.
Terjemahan: Maha Berkat Tuhan yang telah menjadikan di langit, tempat-tempat peredaran bintang, dan menjadikan padanya matahari serta bulan yang menerangiTranslation: Blessed is He Who has made in the sky stations for the course of the stars, and made in it the sun and a moon that gives light.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَافْتُتِحَ ذَلِكَ بِإِنْشَاءِ الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ بِالْبِرْكَةِ وَالْخَيْرِ لِمَا جَعَلَهُ لِلْخَلْقِ مِنَ الْمَنَافِعِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/64 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/64 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini dimulakan dengan pujian kepada Allah atas keberkatan dan kebaikan-Nya kerana manfaat yang Dia jadikan untuk makhluk; antara nikmat itu, manusia menentukan waktu mereka dengan tempat-tempat peredaran bintang.
Renungan: Langit yang teratur mengajak kita memuji Allah Yang Maha Berkat dan menghargai masa.According to Ibn ‘Āshūr, this verse opens with praise of Allah for His blessing and goodness, because of the benefits He has made for His creation; among those favours, people reckon their times by the stations of the stars.
Reflection: The ordered sky invites us to praise Allah, the Most Blessed, and to value our time.
يَذَّكَّرَ
beringat (memikirkan kebesaran-Nya)remember (reflecting on His greatness) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti untuk sesiapa yang mahu beringat (memikirkan kebesaran-Nya), atau mahu bersyukur (akan nikmat-nikmat-Nya itu)Translation: And He it is Who has made night and day follow one another for whoever wishes to remember (reflecting on His greatness), or wishes to give thanks (for His favours).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَوْ تَفَكَّرُوا فِي هَذِهِ النِّعَمِ وَتَذَكَّرُوهَا لَاسْتَدَلُّوا بِذَلِكَ عَلَى عَظِيمِ قُدْرَتِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/480 · Shamela ↗ (huraian ayat 61–62)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/480 · Shamela ↗ (commentary on 61–62)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah menerangkan bahawa mereka yang bertanya “siapakah Ar-Rahman itu”, jika memikirkan dan mengingati nikmat-nikmat ini, tentu dapat menjadikannya dalil atas kebesaran kuasa-Nya; dan orang yang bersyukur pula mensyukuri nikmat tenang pada malam dan bergerak pada siang.
Renungan: Pergantian malam dan siang ialah peluang untuk beringat dan bersyukur; jangan kita lalui dengan lalai.Tafsir al-Rāzī says that Allah makes clear that those who asked “who is ar-Rahman?”, had they reflected on these favours and remembered them, would have taken them as proof of His great power; and the grateful give thanks for the favour of rest by night and activity by day.
Reflection: The turning of night and day is a chance to remember and to give thanks; let us not pass it heedlessly.
خَاطَبَهُمُ
hadapkan kata-kata kepada merekaaddress words to them (orang‑orang yang berkelakuan kurang adab al‑jahilunathose who behave without manners al‑jāhilūna)
سَلَٰمٗا
dengan perkataan yang selamat dari perkara yang tidak diinginiwith words that are safe from anything unwanted
Terjemahan: Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diredhai-Nya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan sopan santun, dan apabila orang-orang yang berkelakuan kurang adab, hadapkan kata-kata kepada mereka, mereka menjawab dengan perkataan yang selamat dari perkara yang tidak diinginiTranslation: And the servants of (Allah) ar-Rahman (with whom He is pleased) are those who walk with gentle courtesy on the earth, and when those who behave without manners address words to them, they reply with words that are safe from anything unwanted.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الرَّحْمَةَ ضِدُّ الشِّدَّةِ، فَالْهَوْنُ يُنَاسِبُ مَاهِيَّتَهَا وَفِيهِ سَلَامَةٌ مِنْ صَدْمِ الْمَارِّينَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/68 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/68 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, berjalan dengan sopan (hawn) ialah berjalan tanpa menghentak kaki, berbeza dengan cara orang sombong; ia lahir daripada tawaduk (rendah diri) kepada Allah, dan sesuai dengan hamba-hamba Ar-Rahman kerana rahmat ialah lawan kekerasan, lagi selamat daripada melanggar orang yang lalu-lalang.
Renungan: Cara kita berjalan mencerminkan hati; mari kita bawa diri dengan rendah hati.According to Ibn ‘Āshūr, walking with gentle courtesy (hawn) is walking without stamping the feet, unlike the gait of the proud; it springs from humility (tawāḍu‘) before Allah and suits the servants of ar-Rahman, because mercy is the opposite of harshness, and it keeps one from jostling passers-by.
Reflection: The way we walk reflects the heart; let us carry ourselves with humility.
وَٱلَّذِينَ
dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yangand they (who have Allah’s good pleasure are those) who
يَبِيتُونَ
tekun mengerjakan ibadat … pada malam harispend the night devoted to worship (merekathey)ism
Terjemahan: Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang tekun mengerjakan ibadat kepada Tuhan mereka pada malam hari dengan sujud dan berdiriTranslation: And they (who have Allah’s good pleasure are those) who spend the night devoted to worship of their Lord, prostrating and standing.
Nota nahu: وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَٰمًا (ayat 64).Grammar note: وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَٰمًا (verse 64).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَأَنَّهُ شَرَحَ سِيرَتَهُمْ مَعَ الْخَلْقِ فِي النَّهَارِ، فَبَيَّنَ فِي هَذِهِ الْآيَاتِ سِيرَتَهُمْ فِي اللَّيَالِي عِنْدَ الِاشْتِغَالِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/481 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–67)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/481 · Shamela ↗ (commentary on 63–67)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, selepas menerangkan sikap mereka terhadap manusia pada siang hari, iaitu tidak menyakiti orang dan sabar ketika disakiti, Allah menerangkan pula keadaan mereka pada malam hari ketika sibuk berkhidmat kepada Pencipta.
Renungan: Akhlak baik pada siang dan ibadah pada malam saling melengkapi; mari kita luangkan sebahagian malam untuk Tuhan kita.Tafsir al-Rāzī says that after describing their conduct with people by day, not harming others and bearing harm patiently, Allah describes their state by night, when they are occupied in serving the Creator.
Reflection: Good character by day and worship by night complete each other; let us set aside part of the night for our Lord.
Terjemahan: Dan juga mereka yang berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhan kami, sisihkanlah azab neraka Jahannam dari kami, sesungguhnya azab seksanya itu adalah mengerikanTranslation: And also those who pray, saying: “Our Lord, keep away from us the punishment of Hell (Jahannam); truly its punishment is terrifying;
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِيذَانًا بِأَنَّهُمْ مَعَ اجْتِهَادِهِمْ خَائِفُونَ مُبْتَهِلُونَ إِلَى اللَّه فِي صَرْفِ الْعَذَابِ عَنْهُمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/481 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–67)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/481 · Shamela ↗ (commentary on 63–67)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/292), doa ini disebut selepas mereka digambarkan menghidupkan malam dengan sujud dan berdiri, sebagai tanda bahawa walaupun bersungguh-sungguh beribadah, mereka tetap takut dan merayu kepada Allah agar dijauhkan azab.
Renungan: Amal yang banyak tidak menjadikan kita merasa selamat; mari kita terus berdoa dengan takut dan harap.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also gives in al-Kashshāf (3/292), that this prayer comes after they are described as spending the night prostrating and standing, as a sign that for all their effort they remain fearful, pleading with Allah to turn the punishment away from them.
Reflection: Many deeds do not make us feel safe; let us keep praying with fear and hope.
إِنَّهَا
sesungguhnya neraka Jahannam itu (lit. sesungguhnya ia)truly Hell (Jahannam) (lit. truly it)
Terjemahan: Sesungguhnya neraka Jahannam itu tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk"Translation: truly Hell (Jahannam) is a most evil place to settle and place to dwell.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَجُوزُ أَنْ تَكُونَ حِكَايَةً لِكَلَامِ الْقَائِلِينَ فَتَكُونَ تَعْلِيلًا ثَانِيًا مُؤَكِّدًا لِتَعْلِيلِهِمُ الْأَوَّلِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/71 · Shamela ↗ (huraian ayat 65–66)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/71 · Shamela ↗ (commentary on 65–66)
Antara huraian Ibn ‘Āshūr: ayat “Sesungguhnya neraka Jahannam itu tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk” boleh jadi sambungan kata-kata mereka sendiri, menjadi alasan kedua yang menguatkan alasan pertama dalam doa mereka; boleh jadi juga ia firman Allah.
Renungan: Mari kita berdoa dengan memahami apa yang kita mohon dilindungi daripadanya.One of the explanations given by Ibn ‘Āshūr: the words “truly Hell (Jahannam) is a most evil place to settle and place to dwell” may be a continuation of their own words, a second reason confirming the first in their prayer; they may also be Allah’s own words.
Reflection: Let us pray with understanding of what we are asking to be protected from.
وَٱلَّذِينَ
dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yangand also they (who have Allah’s good pleasure are those) who
وَكَانَ
dan (sebaliknya) … adalahand (instead) … is (tersirat (perbelanjaan mereka)implied (their spending))ism
Terjemahan: Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah) yang apabila membelanjakan hartanya, tiadalah melampaui batas dan tiada bakhil kedekut; dan (sebaliknya) perbelanjaan mereka adalah betul sederhana di antara kedua-dua cara (boros dan bakhil) ituTranslation: And also they (who have Allah’s good pleasure are those) who, when they spend their wealth, do not go beyond the limit and are not stingy and miserly; and (instead) their spending is properly moderate between those two ways (wastefulness and stinginess).
Nota nahu: وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا (ayat 67).Grammar note: وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا (verse 67).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ تَعَالَى وَصَفَهُمْ بِالْقَصْدِ الَّذِي هُوَ بَيْنَ الْغُلُوِّ وَالتَّقْصِيرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/482 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–67)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/482 · Shamela ↗ (commentary on 63–67)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, yang disebutnya paling kuat, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (3/292): Allah memuji mereka kerana bersederhana dalam berbelanja, di antara melampau dan kurang; dengan yang sama Allah memerintah Rasul-Nya ﷺ agar tidak menggenggam tangan dan tidak pula menghulurkannya sepenuhnya.
Renungan: Kesederhanaan ialah tanda hamba Ar-Rahman; mari kita imbangi perbelanjaan kita.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, which he calls the strongest, as al-Zamakhsharī also gives in al-Kashshāf (3/292): Allah praises them for moderation in spending, between excess and falling short; with the like He commanded His Messenger ﷺ neither to keep his hand tied nor to open it to its full extent.
Reflection: Moderation is a mark of the servants of ar-Rahman; let us balance our spending.
حَرَّمَ
diharamkan … membunuhnya (lit. … mengharamkan)killing … has forbidden (lit. … has forbidden) (AllahAllah)
بِٱلۡحَقِّ
dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak)by right (as permitted by the Shariah)
Terjemahan: Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, kecuali dengan jalan yang hak (yang dibenarkan oleh syarak), dan tidak pula berzina; dan sesiapa melakukan yang demikian, akan mendapat balasan dosanyaTranslation: And also those who do not worship anything else alongside Allah, and do not kill the soul whose killing Allah has forbidden, except by right (as permitted by the Shariah), nor commit adultery; and whoever does that will meet the recompense of his sin.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَبَيَّنَ تَعَالَى أَنَّ الْمَرْءَ لَا يَصِيرُ بِتِلْكَ الْخِصَالِ وَحْدَهَا مِنْ عِبَادِ الرَّحْمَنِ، حَتَّى يُضَافَ إِلَى ذَلِكَ كَوْنُهُ مُجَانِبًا لِهَذِهِ الْكَبَائِرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/483 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–71)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/483 · Shamela ↗ (commentary on 68–71)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: selepas menyebut sifat-sifat yang baik, Allah menerangkan bahawa seseorang tidak menjadi hamba Ar-Rahman dengan sifat-sifat itu semata-mata, sehingga dia juga menjauhi dosa-dosa besar ini.
Renungan: Akhlak yang indah mesti disertai dengan menjauhi larangan Allah; mari kita jaga kedua-duanya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: after mentioning the good qualities, Allah makes clear that a person does not become one of the servants of ar-Rahman by those qualities alone, until he also keeps away from these grave sins.
Reflection: Fine character must go together with avoiding what Allah forbids; let us guard both.
Terjemahan: Akan digandakan baginya azab seksa pada hari kiamat, dan ia pula akan kekal di dalam azab itu dengan menerima kehinaanTranslation: On the Day of Resurrection the punishment will be doubled for him, and he too will remain forever in that punishment, in disgrace;
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ يُعَذَّبُ وَيُهَانُ إِهَانَةً زَائِدَةً عَلَى إِهَانَةِ التَّعْذِيبِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/75 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–69)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/75 · Shamela ↗ (commentary on 68–69)
Menurut Ibn ‘Āshūr, perkataan “dengan menerima kehinaan” bertujuan menggambarkan betapa buruknya keadaan mereka di akhirat: mereka diazab dan dihina dengan kehinaan yang melebihi kehinaan azab itu sendiri.
Renungan: Kemuliaan sebenar ialah di sisi Allah; mari kita jaga maruah diri dengan ketaatan kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the words “in disgrace” are meant to show how dreadful their state will be in the Hereafter: they are punished and disgraced with a disgrace over and above the disgrace of the punishment itself.
Reflection: True honour is with Allah; let us guard our dignity through obedience to Him.
Terjemahan: Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal yang baik, maka orang-orang itu, Allah akan menggantikan (pada tempat) kejahatan mereka dengan kebaikan; dan adalah Allah Maha Pengampun, lagi Maha MengasihaniTranslation: except the one who has repented and believed and done deeds that are good; then for those, Allah will replace their evil deeds (in their place) with good deeds; and Allah is Most Forgiving and Most Merciful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ يَجْعَلُ اللَّهُ لَهُمْ حَسَنَاتٍ كَثِيرَةً عِوَضًا عَنْ تِلْكَ السَّيِّئَاتِ الَّتِي اقْتَرَفُوهَا قَبْلَ التَّوْبَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/76 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/76 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menerangkan kelebihan taubat yang disertai iman dan amal yang baik: Allah akan menjadikan bagi mereka kebaikan yang banyak sebagai ganti kejahatan yang mereka lakukan sebelum bertaubat.
Renungan: Pintu taubat terbuka luas; jangan kita berputus asa daripada rahmat Allah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.According to Ibn ‘Āshūr, this verse sets out the merit of repentance joined with faith and good deeds: Allah will give them many good deeds in exchange for the evil deeds they committed before repenting.
Reflection: The door of repentance is wide open; let us never despair of the mercy of Allah, Most Forgiving and Most Merciful.
Terjemahan: Dan sesiapa yang bertaubat serta beramal soleh, maka sesungguhnya (dengan itu) ia bertaubat kepada Tuhannya dengan sebenar-benar taubatTranslation: And whoever repents and does righteous deeds, then truly (by that) he turns in repentance to his Lord with true repentance.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ مَنْ تَابَ إِلَى اللَّه فَقَدْ أَتَى بِتَوْبَةٍ مُرْضِيَةٍ للَّه مُكَفِّرَةٍ لِلذُّنُوبِ مُحَصِّلَةٍ لِلثَّوَابِ الْعَظِيمِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/485 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–71)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/485 · Shamela ↗ (commentary on 68–71)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī: maksudnya, sesiapa yang bertaubat kepada Allah, dia telah melakukan taubat yang diredai Allah, menghapuskan dosa dan menghasilkan pahala yang besar.
Renungan: Taubat yang sebenar bukan sekadar meninggalkan dosa; ia kembali kepada Allah disertai amal soleh.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī: the meaning is that whoever turns in repentance to Allah has made a repentance that pleases Allah, wipes out sins and earns a great reward.
Reflection: True repentance is not only leaving sin; it is returning to Allah with righteous deeds.
وَٱلَّذِينَ
dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yangand they (who have Allah’s good pleasure are the people) who
ٱلزُّورَ
tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarangplaces where forbidden things are done
Terjemahan: Dan mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang tidak menghadiri tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarang, dan apabila mereka bertembung dengan sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan cara membersihkan diri daripadanyaTranslation: And they (who have Allah’s good pleasure are the people) who do not attend places where forbidden things are done, and when they come across something vain, they pass it by keeping themselves clean of it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَتْبَعَ خِصَالَ الْمُؤْمِنِينَ الثَّلَاثَ الَّتِي هِيَ قِوَامُ الْإِيمَانِ بِخِصَالٍ أُخْرَى مِنْ خِصَالِهِمْ هِيَ مِنْ كَمَالِ الْإِيمَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/78 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/78 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, selepas menyebut tiga sifat orang beriman yang menjadi asas iman, Allah menyusulinya dengan sifat-sifat lain yang termasuk kesempurnaan iman: berakhlak dengan kemuliaannya dan menjauhi cara hidup ahli syirik; yang pertama ialah ayat ini.
Renungan: Mari kita pilih majlis yang kita hadiri; tempat yang kita duduki membentuk hati kita.According to Ibn ‘Āshūr, after the three qualities of the believers that are the pillars of faith, Allah adds further qualities that belong to the perfection of faith: taking on its virtues and keeping away from the ways of the people of shirk; the first of these is this verse.
Reflection: Let us choose the gatherings we attend; the places where we sit shape our hearts.
وَٱلَّذِينَ
dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yangand also they (who have Allah’s good pleasure are the people) who
Terjemahan: Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat keterangan Tuhan mereka, tidaklah mereka tunduk mendengarnya secara orang-orang yang pekak dan butaTranslation: And also they (who have Allah’s good pleasure are the people) who, whenever they are given a reminder through the clear signs of their Lord, do not bow down to listen like those who are deaf and blind.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى أَنَّهُمْ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا أَكَبُّوا عَلَيْهَا حِرْصًا عَلَى اسْتِمَاعِهَا، وَأَقْبَلُوا عَلَى الْمُذَكِّرِ بِهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/486 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/486 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menukil al-Zamakhsharī (al-Kashshāf, 3/295): ayat ini bukan menafikan mereka tunduk, tetapi menafikan mereka pekak dan buta; maksudnya, apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Allah, mereka menumpukan perhatian kerana ingin mendengarnya dan menghadap kepada orang yang memberi peringatan.
Renungan: Mari kita dengar ayat Allah dengan telinga yang sedar dan mata hati yang terbuka.Tafsir al-Rāzī reports from al-Zamakhsharī (al-Kashshāf, 3/295) that the verse does not deny that they bow down, but denies that they are deaf and blind; that is, when reminded through the signs of Allah, they bend over them eager to hear them and turn towards the one who reminds them.
Reflection: Let us listen to the verses of Allah with attentive ears and open hearts.
وَٱلَّذِينَ
dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yangand also they (who have Allah’s good pleasure are the people) who
قُرَّةَ
perkara-perkara yang menyukakan hati (lit. penyejuk)things that bring joy to the heart (lit. the coolness of)
Terjemahan: Dan juga mereka (yang diredhai Allah itu ialah orang-orang) yang berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhan kami, berilah kami beroleh dari isteri-isteri dan zuriat keturunan kami: perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya, dan jadikanlah kami imam ikutan bagi orang-orang yang (mahu) bertaqwa"Translation: And also they (who have Allah’s good pleasure are the people) who pray, saying: “Our Lord, grant us from our wives and our offspring things that bring joy to the heart to see, and make us a leader to be followed for those who (wish to) have taqwa.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّهَا جَامِعَةٌ لِلْكَمَالِ فِي الدِّينِ وَاسْتِقَامَةِ الْأَحْوَالِ فِي الْحَيَاةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/81 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/81 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, dalam doa ini mereka memohon pasangan dan zuriat yang menyejukkan mata, dan sifat “perkara-perkara yang menyukakan hati melihatnya” menghimpunkan kesempurnaan dalam agama dan kelurusan keadaan hidup, kerana mata orang beriman tidak sejuk kecuali dengan pasangan dan anak yang beriman.
Renungan: Mari kita doakan keluarga kita setiap hari agar dekat dengan Allah.According to Ibn ‘Āshūr, in this prayer they ask for spouses and offspring who bring coolness to their eyes, and the quality of “things that bring joy to the heart to see” gathers perfection in religion and soundness in the affairs of life, since believers’ eyes are not cooled except by believing spouses and children.
Reflection: Let us pray daily that our families are near to Allah.
وَيُلَقَّوۡنَ
dan … pula akan menerima (lit. dan … akan diberi)and … will also receive (lit. and … will be given) (merekathey)NF
Terjemahan: Mereka itu semuanya akan dibalas dengan mendapat tempat yang tinggi di Syurga disebabkan kesabaran mereka, dan mereka pula akan menerima penghormatan dan ucapan selamat di dalamnyaTranslation: All of those will be rewarded with a high place in Paradise because of their patience, and they will also receive in it greetings of honour and words of peace.
Nota nahu: يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ (ayat 75).Grammar note: يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ (verse 75).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ذَكَرَ الصَّبْرَ وَلَمْ يَذْكُرِ الْمَصْبُورَ عَنْهُ، لِيَعُمَّ كُلَّ نَوْعٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/488 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/488 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah menyebut kesabaran tanpa menyebut perkara yang disabari supaya ia meliputi semua jenis, antaranya: sabar memikirkan dalil untuk mengenal Allah, sabar atas ketaatan, sabar meninggalkan syahwat, sabar atas gangguan orang musyrik dan sabar atas kefakiran.
Renungan: Setiap kesabaran kita, kecil atau besar, ada nilainya di sisi Allah; mari kita teruskan bersabar.Tafsir al-Rāzī says that Allah mentions patience without naming what it is patience about, so that it covers every kind, including patience in reflecting on the proofs to know Allah, in acts of obedience, in leaving desires, in bearing the harm of the people of shirk, and in poverty.
Reflection: Every patience of ours, small or great, has its worth with Allah; let us keep being patient.
Terjemahan: Mereka kekal di dalam Syurga itu; amatlah eloknya Syurga menjadi tempat penetapan dan tempat tinggalTranslation: They remain forever in that Paradise; how fine Paradise is as a place to settle and a place to dwell.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَوْلُهُ: حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقاماً هُوَ ضِدُّ مَا قِيلَ فِي الْمُشْرِكِينَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/85 · Shamela ↗ (huraian ayat 75–76)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 19/85 · Shamela ↗ (commentary on 75–76)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “amatlah eloknya Syurga menjadi tempat penetapan dan tempat tinggal” ialah lawan kepada apa yang disebut tentang kaum musyrik dalam ayat 66, bahawa neraka “tempat penetapan dan tempat tinggal yang amat buruk”.
Renungan: Tempat kembali kita bermula dengan amal hari ini; mari kita usahakan tempat yang amat elok itu.According to Ibn ‘Āshūr, “how fine Paradise is as a place to settle and a place to dwell” is the opposite of what is said of the people of shirk in verse 66, that Hell is “a most evil place to settle and place to dwell”.
Reflection: Our final abode begins with today’s deeds; let us strive for that fine dwelling.
قُلۡ
katakanlah (wahai Muhammad kepada golongan yang ingkar)say (O Muhammad, to those who deny) (engkauyou)
فَقَدۡ
(apabila kamu telah mengetahui bahawa Tuhanku telah menetapkan tidak menghargai seseorang pun melainkan kerana doa ibadatnya) maka sesungguhnya … telahpun(once you know that my Lord has decreed that He values no one except for his prayer of worship,) then truly … have
كَذَّبۡتُمۡ
menyalahi (ketetapan Tuhanku itu) (lit. mendustakan)gone against (that decree of my Lord) (lit. denied) (kamu sekalianyou all)
يَكُونُ
… menimpa kamu (lit. … menjadi)… befall you (lit. … be) (tersirat (balasan azab)implied (the recompense of punishment))ism
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad kepada golongan yang ingkar): "Tuhanku tidak akan menghargai kamu kalau tidak adanya doa ibadat kamu kepada-Nya; (apabila kamu telah mengetahui bahawa Tuhanku telah menetapkan tidak menghargai seseorang pun melainkan kerana doa ibadatnya) maka sesungguhnya kamu telahpun menyalahi (ketetapan Tuhanku itu); dengan yang demikian, sudah tentu balasan azab (disebabkan kamu menyalahi itu) akan menimpa kamu"Translation: Say (O Muhammad, to those who deny): “My Lord would not value you were it not for your prayer of worship to Him; (once you know that my Lord has decreed that He values no one except for his prayer of worship,) then truly you have gone against (that decree of my Lord); so the recompense of punishment (for your going against it) will surely befall you.”
Nota nahu: قُلْ مَا يَعْبَؤُا۟ بِكُمْ رَبِّى (ayat 77).Grammar note: قُلْ مَا يَعْبَؤُا۟ بِكُمْ رَبِّى (verse 77).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَدَلَّ بِذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ تَعَالَى غَنِيٌّ عَنْ عِبَادَتِهِمْ، وَأَنَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا كَلَّفَهُمْ لِيَنْتَفِعُوا بِطَاعَتِهِمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/488 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 24/488 · Shamela ↗
Tafsir ar-Rāzī menyebut, selepas menerangkan sifat orang bertakwa dan pahala mereka, Allah memerintah Rasul-Nya menyampaikan ayat ini, yang menunjukkan bahawa Allah tidak berhajat kepada ibadah mereka; Dia mentaklifkan (memberi tanggungjawab) mereka hanya supaya mereka mendapat manfaat daripada ketaatan sendiri.
Renungan: Ibadah kita tidak menambah apa-apa bagi Allah; ia untuk kebaikan kita.Tafsir al-Rāzī says that after describing the God-fearing and their reward, Allah commanded His Messenger to convey this verse, which shows that Allah has no need of their worship; He gave them duties (taklīf) only so that they might benefit from their own obedience.
Reflection: Our worship adds nothing to Allah; it is for our own good.