يَسۡجُدُۤ
… tunduk menurut (lit. sujud)… submit in obedience (lit. prostrate) (sekalian makhluk manall beings man)
Terjemahan: Dan kepada Allah jualah sekalian makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk menurut, sama ada dengan sukarela atau dengan terpaksa; dan (demikian juga) bayang-bayang mereka; pada waktu pagi dan petangTranslation: And to Allah alone all beings that exist in the heavens and on the earth submit in obedience, whether of their own accord or by being compelled; and (likewise) their shadows; at morning time and evening time.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ السُّجُودَ عِبَارَةٌ عَنْ الِانْقِيَادِ وَالْخُضُوعِ وَعَدَمِ الِامْتِنَاعِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/25 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/25 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī tentang sujud dalam ayat ini: ia bermaksud patuh, tunduk dan tidak membantah; dengan makna ini, segala yang ada di langit dan di bumi “tunduk menurut” kepada Allah, kerana kekuasaan dan kehendak-Nya berlaku ke atas semuanya. Beliau juga menyebut pandangan lain, bahawa sujud di sini ialah meletakkan dahi di atas bumi.
Renungan: Seluruh alam tunduk kepada Allah; marilah kita memilih untuk tunduk kepada-Nya dengan rela hati dalam setiap ketaatan kita, kerana kita juga sebahagian daripada makhluk-Nya.Among ar-Rāzī’s explanations of the prostration here: it means yielding, humbling oneself and offering no resistance; in this sense all things in the heavens and the earth bow to Allah, since His power and will are carried out in all things. He also gives another view, that the prostration means placing the forehead on the ground.
Reflection: The whole creation bows to Allah; let us choose to bow to Him gladly in every act of obedience, for we too are among His creatures.
أَفَٱتَّخَذۡتُم
kalau demikian, patutkah … menjadikan (lit. adakah maka … mengambil)if that is so, is it fitting … to take (lit. have … then taken) (kamu sekalianyou all)
دُونِهِۦٓ
benda-benda yang lain dari Allah (lit. selain-Nya)things other than Allah (lit. besides Him)
يَمۡلِكُونَ
dapat mendatangkan (lit. memiliki)able to bring (lit. own) (mereka (benda‑benda itu)they (those things))
خَلَقُواْ
telah mencipta sesuatucreated something (mereka (sekutu‑sekutu itu)they (those partners))
فَتَشَٰبَهَ
sehingga … menjadi kesamaransuch that … have become confusing (ciptaan al‑khalquthe creation al‑khalqu)
Terjemahan: Bertanyalah (wahai Muhammad): "Siapakah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?" Jawablah: "Allah". Bertanyalah lagi: "Kalau demikian, patutkah kamu menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai Pelindung dan Penolong, yang tidak dapat mendatangkan sebarang manfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak dapat menolak sesuatu bahaya?" Bertanyalah lagi: "Adakah sama, orang yang buta dengan orang yang celik? Atau adakah sama, gelap-gelita dengan terang? Atau adakah makhluk-makhluk yang mereka jadikan sekutu bagi Allah itu telah mencipta sesuatu seperti ciptaan-Nya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi kesamaran kepada mereka?" Katakanlah: "Allah jualah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, dan Dialah Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa"Translation: Ask (O Muhammad): “Who is the Lord Who sustains and governs the heavens and the earth?” Answer: “Allah.” Ask further: “If that is so, is it fitting for you to take things other than Allah as Protectors and Helpers, which are not able to bring any benefit to themselves, and not able to repel any harm?” Ask further: “Is it the same, the one who is blind and the one who can see? Or is it the same, pitch darkness and brightness? Or have the beings that they make partners to Allah created something like His creation, such that those creations have become confusing to them?” Say: “Allah alone is the One Who creates every thing, and He it is Who is One, the All-Powerful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِذَا لَمْ تَكُنْ قَادِرَةً عَلَى ذَلِكَ كَانَتْ عِبَادَتُهَا مَحْضَ الْعَبَثِ وَالسَّفَهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/26 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/26 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, jawapan “Allah” kepada soalan tentang Tuhan langit dan bumi ialah jawapan yang diakui sendiri oleh orang yang ditanya; kerana itu Nabi Muhammad disuruh menyebutnya sendiri. Sembahan selain Allah ialah benda mati yang tidak mampu mendatangkan manfaat atau menolak bahaya bagi dirinya, apatah lagi bagi orang lain; maka menyembahnya adalah sia-sia dan kebodohan semata-mata. Orang yang jahil tentang hujah ini seperti “orang yang buta”, dan yang mengetahuinya seperti “orang yang celik”.
Renungan: Kita mudah berharap kepada selain Allah yang sebenarnya lemah; marilah kita menggantungkan harapan hanya kepada Allah, Tuhan sekalian alam.Ar-Rāzī says the answer Allah to the question of who rules as Lord over the heavens and earth is one the questioned themselves admit; that is why the Prophet Muhammad was told to give it himself. What they worship besides Allah are lifeless things that cannot gain benefit or keep off harm for themselves, still less for others; so worshipping them is sheer futility and folly. One ignorant of this proof is like the blind, and one who knows it is like the seeing.
Reflection: We easily pin our hopes on things other than Allah that are in truth weak; let us place our hopes in Allah alone, Lord of all the worlds.
فَسَالَتۡ
lalu membanjiri (lit. lalu … mengalir)which then floods (lit. then … flowed) (tanah‑tanah lembah awdiyatunthe valleys awdiyatun)
بِقَدَرِهَا
menurut kadarnya yang ditetapkan Tuhan untuk faedah makhluk-Nyaaccording to their measure set by the Lord for the benefit of His creatures
Terjemahan: Ia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu membanjiri tanah-tanah lembah (dengan airnya) menurut kadarnya yang ditetapkan Tuhan untuk faedah makhluk-Nya, kemudian banjir itu membawa buih yang terapung-apung. Dan dari benda-benda yang dibakar di dalam api untuk dijadikan barang perhiasan atau perkakas yang diperlukan, juga timbul buih seperti itu. Demikianlah Allah memberi misal perbandingan tentang perkara yang benar dan yang salah. Adapun buih itu maka akan hilang lenyaplah ia hanyut terbuang, manakala benda-benda yang berfaedah kepada manusia maka ia tetap tinggal di bumi. Demikianlah Allah menerangkan misal-misal perbandinganTranslation: He sends down water (rain) from the sky, which then floods the valleys (with its water) according to their measure set by the Lord for the benefit of His creatures; then the flood carries foam floating on top. And from the things that are burned in the fire to be made into ornaments or needed utensils, there also arises foam like that. Thus does Allah give a comparison about what is true and what is false. As for the foam, it will vanish away, drifting off, cast aside; while the things that benefit mankind stay on the earth. In this way Allah sets out comparisons.
Nota nahu: فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌۢ … وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ (ayat 17).Grammar note: فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌۢ … وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ (verse 17).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شُبِّهَ إِنْزَالُ الْقُرْآنِ الَّذِي بِهِ الْهُدَى مِنَ السَّمَاءِ بِإِنْزَالِ الْمَاءِ الَّذِي بِهِ النَّفْعُ وَالْحَيَاةُ مِنَ السَّمَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/117 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/117 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, penurunan al-Qur’an yang membawa hidayah (petunjuk) diumpamakan dengan penurunan air dari langit yang membawa manfaat dan kehidupan. Sampainya al-Qur’an ke telinga manusia seperti banjir yang melalui pelbagai tempat: ia tidak menetap di bukit dan gunung, tetapi mengalir ke lembah, lalu setiap lembah mengambil menurut keluasannya. Buihnya “akan hilang lenyaplah ia hanyut terbuang” tanpa manfaat, manakala air yang jernih kekal untuk diminum dan menyiram; begitulah orang beriman mengambil manfaat menurut kekuatan iman dan amal mereka.
Renungan: Hati kita ibarat lembah; marilah kita membuka hati seluas-luasnya supaya lebih banyak petunjuk al-Qur’an menetap di dalamnya.According to Ibn ‘Āshūr, the sending down of the Qur’an, which brings guidance, is likened to the sending down of water from the sky, which brings benefit and life. The Qur’an reaching people’s ears is like a torrent passing over many places: it does not settle on hills and mountains but runs on into the valleys, each taking as much as its breadth allows. The froth passes away of no use, while the clear water remains for drinking and watering; so the believers draw benefit in measure with the strength of their faith and deeds.
Reflection: Our hearts are like valleys; let us open them wide so that more of the Qur’an’s guidance may settle within.
وَمِثۡلَهُۥ
disertai dengan sebanyak itu lagi (lit. dan yang sepertinya)along with as much again (lit. and the like of it)
لَٱفۡتَدَوۡاْ
tentulah … rela menebus dirisurely … would be willing to ransom themselves (merekathey)
وَبِئۡسَ
dan amatlah buruknyaand how evil is (tempat tinggal al‑mihaduthe dwelling place al‑mihādu)
Terjemahan: Bagi orang-orang yang menyahut seruan Tuhan mereka sahajalah balasan yang sebaik-baiknya; dan orang-orang yang ingkar yang tidak menyahut seruan-Nya, kalaulah mereka mempunyai segala apa jua yang ada di bumi disertai dengan sebanyak itu lagi, tentulah mereka rela menebus diri dengannya. Mereka itu disediakan baginya hitungan hisab yang seburuk-buruknya, serta tempat kembali mereka ialah neraka jahanam; dan amatlah buruknya tempat tinggal ituTranslation: To those who respond to their Lord’s call alone belongs the finest reward; and those who deny, who do not respond to His call — were they to possess all that there is on the earth along with as much again, surely they would be willing to ransom themselves with it. Those are the ones for whom is prepared the worst reckoning of account, and their place of return is Hell; and how evil is that dwelling place!
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَمَّا أَصْلُ الْحِسَابِ فَهُوَ حَسَنٌ لِأَنَّهُ عدل»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/123 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/123 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “hitungan hisab yang seburuk-buruknya” ialah kekerasan dan penghinaan yang menyertai hisab terhadap orang yang dihisab; adapun hisab itu sendiri adalah baik kerana ia suatu keadilan. Ungkapan penunjuk “Mereka itu” pula mengisyaratkan bahawa mereka layak menerima balasan yang disebut selepasnya, disebabkan sifat yang disebut sebelumnya, iaitu tidak menyahut seruan Tuhan mereka.
Renungan: Hisab Allah itu adil; marilah kita menyahut seruan-Nya sekarang supaya kita terselamat daripada hisab yang disertai kekerasan dan kehinaan.According to Ibn ‘Āshūr, the worst reckoning means the harshness and humiliation that surround the reckoning of the one called to account; the reckoning itself is good, for it is justice. The pointing word those signals that they deserve what is said after it because of what was said before it, namely their not answering their Lord.
Reflection: Allah’s reckoning is just; let us answer His call now so that we are spared a reckoning that comes with harshness and humiliation.
يَتَذَكَّرُ
(orang-orang yang) mahu memikirkan hal itu (lit. … mengambil peringatan)(those who) are willing to reflect on that (lit. … take heed) (orang‑orang yang berakal ulupeople of understanding ūlū)
Terjemahan: Maka adakah orang yang mengetahui bahawa Al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu (wahai Muhammad) perkara yang benar, sama dengan orang yang buta matahatinya? Sesungguhnya orang-orang yang mahu memikirkan hal itu hanyalah orang-orang yang berakal sempurnaTranslation: Then is the one who knows that the Qur’an sent down to you from your Lord (O Muhammad) is the truth the same as one who is blind in his inner sight? Truly those who are willing to reflect on that are only those of perfect understanding:
Nota nahu: أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ (ayat 19).Grammar note: أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ (verse 19).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُرَادُ أَنَّهُ لَا يَنْتَفِعُ بِهَذِهِ الْأَمْثِلَةِ إِلَّا أَرْبَابُ الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَطْلُبُونَ مَنْ كُلِّ صُورَةٍ مَعْنَاهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/32 · Shamela ↗ (huraian ayat 17–19)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/32 · Shamela ↗ (commentary on 17–19)
Kata ar-Rāzī, ayat ini merujuk kepada perumpamaan yang lalu: orang yang mengetahui ibarat orang yang celik, dan orang yang jahil ibarat orang buta; kedua-duanya tidak sama. Orang buta yang berjalan tanpa pemimpin mudah jatuh ke dalam perigi dan tempat yang membinasakan, malah mungkin merosakkan barang berguna di jalannya, sedangkan orang yang celik selamat. Maksud “orang-orang yang berakal sempurna” ialah hanya merekalah yang mengambil manfaat daripada perumpamaan ini, kerana mereka mencari makna di sebalik setiap rupa.
Renungan: Ilmu tentang kebenaran ialah cahaya yang menyelamatkan langkah kita; marilah kita merenungi perumpamaan al-Qur’an dan mencari maknanya, bukan sekadar membaca lafaznya.Ar-Rāzī says this verse points back to the earlier likeness: one who knows is like the seeing, one who does not know is like the blind, and the two are not alike. A blind man walking without a guide is likely to fall into a well or some other danger, and may even spoil useful goods on his way, while the seeing man stays safe. Only people of understanding benefit from these likenesses, for they seek the meaning behind every outward form.
Reflection: Knowledge of the truth is a light that keeps our steps safe; let us ponder the likenesses in the Qur’an and seek their meaning, not merely recite their words.
Terjemahan: Orang-orang yang menyempurnakan perjanjian Allah dan tidak merombak (mencabuli) perjanjian yang telah diperteguhkan ituTranslation: Those who carry out Allah’s covenant in full and do not break (violate) the pledge that has been made firm;
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَا يَكُونُ الْعَبْدُ مُوفِيًا لِلْعَهْدِ إِلَّا بِأَنْ يَأْتِيَ بِكُلِّ تِلْكَ الْأَشْيَاءِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/33 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–24)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/33 · Shamela ↗ (commentary on 20–24)
Kata ar-Rāzī, antara pandangan tentang “perjanjian Allah”, yang beliau pilih ialah segala perkara yang ditetapkan oleh dalil akal dan dalil wahyu, kerana tiada janji yang lebih kukuh daripada hujah. Seseorang belum dikira menyempurnakan janji itu kecuali dia melaksanakan kesemuanya, sebagaimana orang yang bersumpah atas banyak perkara belum menunaikan sumpahnya kecuali dia melakukan kesemuanya. Termasuk di dalamnya melaksanakan segala suruhan, meninggalkan segala larangan, menunaikan akad dalam muamalat (urusan sesama manusia) dan menunaikan amanah. Kata beliau, menunaikan janji ialah antara martabat kebahagiaan yang paling mulia.
Renungan: Janji kita dengan Allah merangkumi seluruh hidup; marilah kita menunaikan amanah dan menepati janji sesama manusia sebagai sebahagian daripada janji kita kepada Allah.Ar-Rāzī says that, of the views on Allah’s covenant, the one he chooses is everything established by proofs of reason and of revelation, for no pledge is firmer than a proof. A servant has not kept the covenant until he carries out all of it, just as one who swears to many things has not kept his oath until he does them all. It covers doing all that is commanded, leaving all that is forbidden, honouring contracts in muamalat, dealings between people, and rendering trusts. He adds that keeping one’s pledge is among the loftiest ranks of happiness.
Reflection: Our covenant with Allah spans our whole life; let us render trusts and keep our word to people as part of our pledge to Allah.
وَيَخۡشَوۡنَ
dan yang menaruh bimbang akan kemurkaanand who are anxious about the wrath of (merekathey)
ٱلۡحِسَابِ
soaljawab dan hitungan amal (pada hari kiamat)the questioning and the reckoning of deeds (on the Day of Resurrection)
Terjemahan: Dan orang-orang yang menghubungkan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah supaya dihubungkan, dan yang menaruh bimbang akan kemurkaan Tuhan mereka, serta takut kepada kesukaran yang akan dihadapi semasa soaljawab dan hitungan amal (pada hari kiamat)Translation: And those who join the things that are commanded by Allah to be joined, and who are anxious about the wrath of their Lord, as well as being afraid of the hardship to be faced during the questioning and the reckoning of deeds (on the Day of Resurrection);
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ إِشَارَةٌ إِلَى الشَّفَقَةِ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/34 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–24)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/34 · Shamela ↗ (commentary on 20–24)
Ar-Rāzī menukil beberapa pandangan tentang “perkara-perkara yang disuruh oleh Allah supaya dihubungkan”; antaranya menjaga semua hak sesama hamba Allah, termasuk silaturahim (hubungan kekeluargaan) dan persaudaraan iman, menghulurkan kebaikan dan menjauhkan bahaya sedaya mungkin, menziarahi orang sakit, menghadiri jenazah, menyebarkan salam, senyum kepada orang dan tidak menyakiti mereka; malah termasuk berbuat baik kepada haiwan. Kata beliau, kesimpulannya: menunaikan janji Allah ialah mengagungkan perintah Allah, manakala menghubungkan apa yang disuruh dihubungkan ialah belas kasihan kepada makhluk Allah.
Renungan: Iman yang benar menghimpunkan pengagungan perintah Allah dan belas kasihan kepada makhluk-Nya; marilah kita mulakan dengan senyuman, salam dan ziarah kepada orang di sekeliling kita.Ar-Rāzī reports several views on the things Allah has commanded to be joined; among them, honouring every right owed to fellow servants of Allah, including family ties and the brotherhood of faith, bringing them good and keeping harm away as far as one can, visiting the sick, attending funerals, spreading greetings of peace, smiling at people and not hurting them, and even kindness to animals. In sum, he says, keeping Allah’s covenant points to reverence for Allah’s command, while joining what He has ordered joined points to compassion for Allah’s creatures.
Reflection: True faith brings together reverence for Allah’s command and compassion for His creatures; let us begin with a smile, a greeting of peace and a visit to those around us.
Terjemahan: Dan orang-orang yang sabar kerana mengharapkan keredhaan Tuhan mereka semata-mata, dan mendirikan sembahyang, serta mendermakan dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka, secara bersembunyi atau secara terbuka; dan mereka pula menolak kejahatan dengan cara yang baik; mereka itu semuanya adalah disediakan baginya balasan yang sebaik-baiknya pada hari akhiratTranslation: And those who are patient, hoping for the good pleasure of their Lord alone, and perform the prayer, and donate from what We have bestowed on them, secretly or openly; and who in turn repel evil in a good way; those, all of them, are ones for whom is prepared the finest reward in the Hereafter:
Nota nahu: وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ (ayat 22).Grammar note: وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ (verse 22).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى أَنَّهُمْ صَبَرُوا لِأَجْلِ أَنَّ الصَّبْرَ مَأْمُورٌ بِهِ مِنَ اللَّهِ لَا لِغَرَضٍ آخَرَ كَالرِّيَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/129 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–22)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/129 · Shamela ↗ (commentary on 20–22)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “sabar kerana mengharapkan keredhaan Tuhan mereka semata-mata” ialah mereka bersabar kerana sabar itu diperintahkan oleh Allah, bukan untuk tujuan lain seperti riyak (menunjuk-nunjuk) supaya dipuji tabah menghadapi kesusahan. Sabar di sini ialah sabar menanggung kepayahan melakukan kebaikan dan membela agama. Bentuk kata kerja “menolak kejahatan” pula ialah muḍāri‘ (bentuk masa kini) untuk menunjukkan ia berulang-ulang, kerana manusia sentiasa terdedah kepada kejahatan; ubatnya ialah menolak kejahatan itu dengan kebaikan.
Renungan: Ikhlas menjadikan sabar bernilai di sisi Allah; marilah kita bersabar kerana Allah, bukan kerana pandangan manusia, dan menyusuli setiap kesilapan kita dengan amal kebaikan.According to Ibn ‘Āshūr, being patient in seeking their Lord’s good pleasure means they were patient because Allah commanded patience, not for another aim such as riya’, showing off, so as to be praised for bearing hardship. The patience meant is bearing the toil of good deeds and of supporting the religion. The verb for repelling evil is in the muḍāri‘, the present form, to show it is renewed again and again, for people are ever exposed to bad deeds; their remedy is to drive them away with good.
Reflection: Sincerity is what gives patience its worth with Allah; let us be patient for Allah’s sake, not for people’s eyes, and follow each of our lapses with a good deed.
صَلَحَ
mengerjakan amal solehdo righteous deeds (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Iaitu Syurga yang kekal yang mereka akan memasukinya bersama-sama orang-orang yang mengerjakan amal soleh dari ibu bapa mereka dan isteri-isteri mereka serta anak-anak mereka; sedang malaikat-malaikat pula akan masuk kepada mereka dari tiap-tiap pintuTranslation: Namely the everlasting Paradise, which they will enter together with those who do righteous deeds from among their parents and their wives and their children; while the angels in turn will enter to them from each and every door,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ بُشْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ سَلَفٌ صَالِحٌ أَوْ خَلَفٌ صَالِحٌ أَوْ زَوْجٌ صَالِحٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/131 · Shamela ↗ (huraian ayat 23–24)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/131 · Shamela ↗ (commentary on 23–24)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ‘adn bermaksud menetap, sesuai dengan “Syurga yang kekal”. Disebut “yang mereka akan memasukinya” untuk menghadirkan gambaran keadaan yang menggembirakan itu. Huruf wau (dan) sebelum “orang-orang yang mengerjakan amal soleh” bermaksud kebersamaan, sebagai tambahan kemuliaan bagi mereka. Ayat ini membawa berita gembira bagi sesiapa yang mempunyai ibu bapa, anak cucu atau pasangan yang soleh: apabila dia masuk ke Syurga, dia akan dihimpunkan bersama mereka yang soleh itu.
Renungan: Kesolehan keluarga ialah nikmat yang berpanjangan hingga ke akhirat; marilah kita berusaha menjadi soleh bersama ibu bapa, pasangan dan anak-anak kita supaya dapat berhimpun semula di Syurga.According to Ibn ‘Āshūr, ‘adn means abiding settlement, which fits the everlasting Paradise. Their entering it is mentioned to bring that joyful scene before the mind. The wāw, and, that joins the righteous among their families means togetherness, an added honour for them. The verse carries good news for anyone with righteous parents, offspring or spouse: on reaching Paradise he will be joined with those of them who are righteous.
Reflection: A family’s righteousness is a blessing that lasts into the Hereafter; let us strive to be righteous together with our parents, spouses and children, so that we may be gathered again in Paradise.
سَلَٰمٌ
(memberi hormat dengan berkata): selamat sejahteralah(giving greeting by saying): may peace and wellbeing be
صَبَرۡتُمۡۚ
kesabaran kamu (lit. … bersabar)your patience (lit. … were patient) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: (Memberi hormat dengan berkata): "Selamat sejahteralah kamu berpanjangan, disebabkan kesabaran kamu. Maka amatlah baiknya balasan amal kamu di dunia dahulu"Translation: (Giving greeting by saying): “May peace and wellbeing be upon you, lasting on, because of your patience. So how excellent is the reward of your deeds in the world before!”
Nota nahu: سَلَٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ (ayat 24).Grammar note: سَلَٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ (verse 24).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا تَحِيَّةٌ يُقْصَدُ مِنْهَا تَأْنِيسُ أَهْلِ الْجَنَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/132 · Shamela ↗ (huraian ayat 23–24)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/132 · Shamela ↗ (commentary on 23–24)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ucapan “Selamat sejahteralah kamu berpanjangan” ialah kata-kata para malaikat yang masuk menemui mereka, iaitu ucapan hormat untuk memesrakan penghuni Syurga. Huruf bā’ (dengan sebab) dalam “disebabkan kesabaran kamu” menunjukkan sebab: penghormatan itu mereka peroleh kerana kesabaran mereka, iaitu sabar menanggung kepayahan tanggungjawab agama. Penutup ayat ini pula ialah pujian atas kesudahan mereka yang baik.
Renungan: Setiap kesabaran hari ini akan disambut dengan salam penghormatan kelak; marilah kita terus bersabar dalam ketaatan walaupun terasa berat.According to Ibn ‘Āshūr, the greeting of lasting peace is spoken by the angels who come in to them, a salutation meant to put the people of Paradise at ease. The particle bā’, by reason of, that links it to their patience marks cause: this honour is theirs because they bore patiently the hardships of religious duties. The close of the verse then praises their good end.
Reflection: Every patience shown today will be met with a greeting of honour; let us keep patient in obedience even when it feels heavy.
وَيُفۡسِدُونَ
serta … pula membuat kerosakan dan bencanaand who … also cause corruption and disorder (merekathey)
Terjemahan: Dan (sebaliknya) orang-orang yang merombak (mencabuli) perjanjian Allah sesudah diperteguhkannya dan memutuskan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah supaya dihubungkan, serta mereka pula membuat kerosakan dan bencana di muka bumi, - mereka itu beroleh laknat, dan mereka pula beroleh balasan hari akhirat yang seburuk-buruknyaTranslation: And (on the contrary) those who break (violate) the covenant of Allah after it has been made firm, and cut off the things that are commanded by Allah to be joined, and who also cause corruption and disorder on the earth, - those will have the curse, and they in turn will have the worst recompense of the Hereafter.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُرَادُ مِنْ نَقْضِ هَذِهِ الْعُهُودِ أَنْ لَا يَنْظُرَ الْمَرْءُ فِي الْأَدِلَّةِ أَصْلًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/38 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/38 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, selepas menyebut sifat orang yang berbahagia, Allah menyusulinya dengan keadaan orang yang celaka supaya penjelasan itu sempurna. Maksud “perjanjian Allah” ialah apa yang Allah tetapkan ke atas hamba-Nya melalui dalil akal dan wahyu; ia dirombak sama ada dengan tidak meneliti dalil langsung, atau menelitinya dan mengetahui kebenarannya tetapi tetap menentang, atau meneliti syubhah (kekeliruan) hingga meyakini yang salah. Maksud “membuat kerosakan dan bencana di muka bumi” pula termasuk menyeru kepada selain agama Allah, menzalimi nyawa dan harta, serta meruntuhkan negeri.
Renungan: Mengabaikan dalil dan menolak kebenaran yang sudah jelas ialah bentuk merombak janji; marilah kita mempelajari dan mengamalkan apa yang telah jelas kebenarannya, serta menjauhi kezaliman.Ar-Rāzī says that after describing the blessed, Allah follows with the state of the wretched so that the account is complete. Allah’s covenant is what He has laid on His servants through proofs of reason and revelation; it is broken by not looking into the proofs at all, by looking, knowing they are sound and still defying them, or by dwelling on doubts until one believes what is false. Corruption on the earth includes calling to other than Allah’s religion, wronging lives and property and ruining lands.
Reflection: Ignoring proofs and rejecting a truth that is clear is a way of breaking the covenant; let us learn and act on what has become clear, and keep away from injustice.
وَيَقۡدِرُۚ
dan … juga yang menyempitkannya (lit. dan … menyempitkan)and it is … too Who makes it narrow (lit. and … narrows) (DiaHe)
ٱلۡأٓخِرَةِ
kesenangan hari akhirat (lit. akhirat)the enjoyment of the Hereafter (lit. the Hereafter)
Terjemahan: Allah memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Ia juga yang menyempitkannya. Dan mereka (yang ingkar): bergembira dengan kehidupan dunia, sedang kehidupan dunia itu tidak lain, hanyalah kesenangan yang kecil dan tidak kekal berbanding dengan kesenangan hari akhiratTranslation: Allah makes provision abundant for whomever He wills, and it is He too Who makes it narrow. And they (who deny) delight in worldly life, while worldly life is nothing other than a small enjoyment, not lasting, compared with the enjoyment of the Hereafter.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَشِيئَتُهُ تَعَالَى وَأَسْبَابُهَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهَا أَحَدٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/134 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/134 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menjawab persoalan yang timbul: mengapa orang yang ingkar diluaskan rezeki di dunia? Jawapannya, Allah menghendaki rezeki diluaskan bagi sebahagian hamba dan disempitkan bagi yang lain kerana hikmah yang berkaitan dengan sebab-sebab kehidupan dunia; kehendak Allah dan sebab-sebabnya tidak diketahui oleh sesiapa pun. Mereka yang “bergembira dengan kehidupan dunia” itu bergembira dengan rasa sombong dan melampau, hingga lalai daripada akhirat.
Renungan: Kita tidak mengetahui hikmah di sebalik luas atau sempitnya rezeki; marilah kita bersyukur ketika senang tanpa melupakan akhirat, dan bersabar ketika sempit.According to Ibn ‘Āshūr, the verse answers a question that arises: why are those who deny given ample provision in this world? The answer is that Allah wills to widen provision for some servants and narrow it for others, for a wisdom tied to the means of worldly living; His will and its reasons are known to no one. Their delight in this life is the delight of arrogance and excess, heedless of the Hereafter.
Reflection: We do not know the wisdom behind wide or narrow provision; let us be grateful in ease without forgetting the Hereafter, and patient in hardship.
يَشَآءُ
dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya) (lit. … kehendaki)… wills (according to His laws and rules) (DiaHe)
Terjemahan: Dan orang-orang yang kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepada (Muhammad) satu mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya Allah menyesatkan sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya), dan memberi petunjuk ke jalan ugama-Nya, sesiapa yang rujuk kepada-NyaTranslation: And those who disbelieve say: “Why has a miracle from his Lord not been sent down to (Muhammad)?” Say (O Muhammad): “Truly Allah leads astray whomever He wills (according to His laws and rules), and guides to the path of His religion whoever returns to Him:
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ النَّفْسَ تَنْفِرُ مِنَ الْحَقِّ ابْتِدَاءً ثُمَّ تَرْجِعُ إِلَيْهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/136 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/136 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka menuntut mukjizat (tanda luar biasa) sedangkan sebab-sebab petunjuk sudah jelas. Mereka bersikap sombong dan berpaling apabila mendengar seruan tauhid (mengesakan Allah), lalu tidak mahu meneliti; sekiranya mereka kembali dan tunduk, nescaya Allah memberi mereka petunjuk. Inābah asalnya bermaksud kembali; di sini ia bermaksud mengakui kebenaran apabila dalilnya jelas, kerana jiwa pada mulanya menjauhi kebenaran, kemudian kembali kepadanya. Itulah “sesiapa yang rujuk kepada-Nya”.
Renungan: Jiwa kita kadang-kadang menolak kebenaran pada mulanya; marilah kita melatih diri untuk kembali dan tunduk kepada kebenaran apabila ia jelas.According to Ibn ‘Āshūr, they demanded a miracle though the means of guidance were already clear. They grew proud and turned away when they heard the call to Tauhid, the Oneness of Allah, and would not reflect; had they turned back and yielded, Allah would have guided them. Inābah at root means returning; here it means owning the truth once its proofs are clear, for the soul first shies away from the truth and then comes back to it.
Reflection: Our souls sometimes resist the truth at first; let us train ourselves to come back and yield to it once it is clear.
وَتَطۡمَئِنُّ
dan tenang tenteramand whose … are calm and at peace (hati mereka qulubuhumtheir hearts qulūbuhum)
Terjemahan: (Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah". Ketahuilah dengan "zikrullah" itu, tenang tenteramlah hati manusiaTranslation: (Namely) the people who believe, and whose hearts are calm and at peace with the remembrance of Allah.” Know that with “the remembrance of Allah”, the hearts of mankind become calm and at peace.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْوَجَلَ هُوَ بِذِكْرِ الْعِقَابِ وَالطُّمَأْنِينَةَ بِذِكْرِ الثَّوَابِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/39 · Shamela ↗ (huraian ayat 28–29)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/39 · Shamela ↗ (commentary on 28–29)
Antara huraian ar-Rāzī: jika ditanya, bagaimana hati mereka tenang di sini sedangkan di tempat lain al-Qur’an menyifatkan hati orang beriman gementar apabila disebut nama Allah, maka jawapan pertama beliau: hati mereka gementar apabila mengingati azab dan bimbang terjerumus dalam maksiat, dan menjadi tenang apabila mengingati janji pahala dan rahmat-Nya; kedua-duanya tidak bercanggah. Inilah orang yang “tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah” (mengingati Allah).
Renungan: Hati mukmin menghimpunkan takut dan harap; marilah kita sering mengingati Allah, takut akan azab-Nya dan mengharap rahmat-Nya, supaya hati kita tenang tenteram.Among ar-Rāzī’s explanations: if it is asked how hearts can be at rest here when elsewhere the Qur’an describes believers’ hearts as trembling at the mention of Allah, his first answer is that they tremble when they recall punishment and fear falling into sin, and grow calm when they recall His promise of reward and mercy; the two do not clash. Such are the believers whose hearts find rest in remembering Allah.
Reflection: A believer’s heart holds fear and hope together; let us remember Allah often, fearing His punishment and hoping for His mercy, so that our hearts find rest.