وَشَهِدَ
(suaminya tercengang mendengarnya) dan … tampil memberi pendapatnya(her husband was stunned to hear it) and … stepped forward to give his opinion (seorang saksi syahiduna witness shāhidun)
أَهۡلِهَآ
keluarga perempuan itu (yang ada bersama-sama)the woman’s family (who was there with them)
فَصَدَقَتۡ
maka benarlah tuduhan …then the … accusation is true (dia (perempuan itu)she (the woman))
Terjemahan: Yusuf pula berkata: "Dialah yang memujukku berkehendakkan diriku". (Suaminya tercengang mendengarnya) dan seorang dari keluarga perempuan itu (yang ada bersama-sama) tampil memberi pendapatnya dengan berkata: "Jika baju Yusuf koyak dari depan maka benarlah tuduhan perempuan itu, dan menjadilah Yusuf dari orang-orang yang dustaTranslation: Yusuf in turn said: “She it is who coaxed me, desiring my person.” (Her husband was stunned to hear it) and one from the woman’s family (who was there with them) stepped forward to give his opinion, saying: “If Yusuf’s shirt is ripped from the front, then the woman’s accusation is true, and Yusuf has become one of those who lie;
Nota nahu: فَصَدَقَتْ (ayat 26).Grammar note: فَصَدَقَتْ (verse 26).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَا هَتَكَ سِتْرَهَا فِي أَوَّلِ الْأَمْرِ إِلَّا أَنَّهُ لَمَّا خَافَ عَلَى النَّفْسِ وَعَلَى الْعِرْضِ أَظْهَرَ الْأَمْرَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/445 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/445 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Kata ar-Rāzī, setelah perempuan itu menuduh dan mencemarkan maruah Nabi Yusuf, baginda perlu menghapuskan tuduhan itu, lalu berkata bahawa dia “yang memujukku berkehendakkan diriku”. Pada mulanya baginda tidak membuka aib perempuan itu; hanya apabila baginda bimbang akan keselamatan diri dan maruahnya, barulah baginda menyatakan perkara sebenar. Beliau juga menyebut tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran baginda, antaranya baginda dilihat berlari keluar dengan pantas, sedangkan orang yang mengejar perempuan tidak keluar dari rumah sedemikian.
Renungan: Menutup aib orang ialah akhlak yang mulia; marilah kita tidak membuka aib orang lain kecuali apabila benar-benar perlu untuk mempertahankan kebenaran.Ar-Rāzī says that once the woman had accused him and stained his honour, the Prophet Yusuf needed to clear the charge, so he said it was she who had sought to seduce him. At first he had not exposed her; only when he feared for his life and his honour did he make the matter known. He also lists signs pointing to his truthfulness, among them that he was seen running hard to get out, which is not how a man pursuing a woman leaves a house.
Reflection: Covering others’ faults is noble character; let us not expose anyone’s faults unless truly needed to uphold the truth.
Terjemahan: Dan jika bajunya koyak dari belakang, maka dustalah perempuan itu, dan Yusuf adalah dari orang-orang yang benar"Translation: and if his shirt is ripped from behind, then the woman is lying, and Yusuf is one of those who are truthful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالظَّاهِرُ أَنَّ الشَّاهِدَ كَانَ يَظُنُّ صِدْقَهَا فَأَرَادَ أَنْ يُقِيمَ دَلِيلًا عَلَى صِدْقِهَا فَوَقَعَ عَكْسُ ذَلِكَ كَرَامَةً لِيُوسُفَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/257–258 · Shamela ↗ (huraian ayat 23–29)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/257–258 · Shamela ↗ (commentary on 23–29)
Menurut Ibn ‘Āshūr, saksi daripada keluarga perempuan itu seorang yang bijak memahami petunjuk. Yang zahir, saksi itu menyangka perempuan itu benar dan ingin mengemukakan bukti kebenarannya, tetapi yang berlaku adalah sebaliknya, sebagai kemuliaan bagi Nabi Yusuf. Tambahan “dan Yusuf adalah dari orang-orang yang benar” selepas “dustalah perempuan itu” ialah penegasan untuk lebih memantapkan kebenaran.
Renungan: Allah mampu menzahirkan kebenaran melalui jalan yang tidak disangka; marilah kita berpegang pada kejujuran dan menyerahkan pembelaan kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the witness from the woman’s family was a perceptive man who knew how to read signs. The apparent sense is that he thought her truthful and meant to set out proof of it, but the opposite came about, as an honour for the Prophet Yusuf. Adding that Yusuf was truthful after saying she had lied is emphasis to fix the truth more firmly.
Reflection: Allah can bring the truth to light by unexpected paths; let us hold to honesty and leave our defence to Allah.
Terjemahan: Setelah suaminya melihat baju Yusuf koyak dari belakang, berkatalah ia: "Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kamu orang-orang perempuan; sesungguhnya tipu daya kamu amatlah besar pengaruhnyaTranslation: After her husband saw Yusuf’s shirt ripped from behind, he said: “Truly this is part of the trickery of you women; truly your trickery is very great in its influence.
Nota nahu: فَلَمَّا رَءَا قَمِيصَهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ (ayat 28).Grammar note: فَلَمَّا رَءَا قَمِيصَهُۥ قُدَّ مِن دُبُرٍ قَالَ (verse 28).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْكَيْدُ: فِعْلُ شَيْءٍ فِي صُورَةٍ غَيْرِ الْمَقْصُودَةِ لِلتَّوَصُّلِ إِلَى مَقْصُودٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/258 · Shamela ↗ (huraian ayat 23–29)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/258 · Shamela ↗ (commentary on 23–29)
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila suaminya melihat “baju Yusuf koyak dari belakang”, jelaslah baginya bahawa Nabi Yusuf tidak bersalah; lalu dia cukup dengan menegur isterinya bahawa tuduhan itu ialah kayd (tipu daya). Kayd ialah melakukan sesuatu dalam rupa yang bukan tujuan sebenarnya untuk sampai kepada suatu tujuan. Kemudian dia menyuruh Nabi Yusuf berpaling daripada perkara itu dan tidak mengungkitnya lagi.
Renungan: Tipu daya ialah menyembunyikan niat di sebalik rupa yang lain; marilah kita menjauhi sikap berpura-pura, dan meneliti bukti sebelum menuduh sesiapa.According to Ibn ‘Āshūr, when her husband saw the shirt torn from behind, the Prophet Yusuf’s innocence became clear to him, and he contented himself with chiding his wife that her charge was kayd, scheming. Kayd is doing a thing in a guise other than its real aim in order to reach that aim. He then told the Prophet Yusuf to turn away from the matter and not raise it again.
Reflection: Scheming hides intent behind another face; let us shun pretence, and weigh the evidence before we accuse anyone.
وَٱسۡتَغۡفِرِي
dan … (wahai Zulaikha), mintalah ampunand … (O Zulaikha), seek pardon (engkauyou)
Terjemahan: Wahai Yusuf, lupakanlah hal ini. Dan engkau (Wahai Zulaikha), mintalah ampun bagi dosamu, sesungguhnya engkau adalah dari orang-orang yang bersalah"Translation: O Yusuf, forget this matter. And you (O Zulaikha), seek pardon for your sin; truly you are one of those who are at fault.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَاهُ: أَعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ هَذِهِ الْوَاقِعَةِ حَتَّى لَا يَنْتَشِرَ خَبَرُهَا وَلَا يَحْصُلَ الْعَارُ الْعَظِيمُ بِسَبَبِهَا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/447 · Shamela ↗ (huraian ayat 25–29)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/447 · Shamela ↗ (commentary on 25–29)
Ar-Rāzī menukil bahawa kata-kata “Wahai Yusuf, lupakanlah hal ini” mungkin daripada suaminya atau daripada saksi itu. Kata beliau, maksudnya: berpalinglah daripada menyebut peristiwa ini supaya beritanya tidak tersebar dan tidak menimbulkan aib yang besar. Sebagaimana Nabi Yusuf disuruh merahsiakannya, perempuan itu pula disuruh memohon ampun atas dosanya.
Renungan: Ada perkara yang lebih baik ditutup daripada dihebahkan; marilah kita menjaga lidah daripada menyebarkan aib orang, dan segera memohon ampun apabila kita bersalah.Ar-Rāzī reports that the words telling Yusuf to forget the matter may have come from her husband or from the witness. He says the meaning is: turn away from mentioning this event so that word of it does not spread and bring great shame. Just as the Prophet Yusuf was told to keep it quiet, the woman was told to seek pardon for her sin.
Reflection: Some things are better covered than broadcast; let us guard our tongues from spreading others’ shame, and seek forgiveness promptly when we are at fault.
وَقَالَ
dan (sesudah itu) … (mencaci hal Zulaikha dengan) berkataand (after that) … (reproached Zulaikha’s conduct by) saying (perempuan‑perempuan niswatunwomen niswatun)
شَغَفَهَا
meresap ke dalam lipatan hatinya (lit. … menembusi lapisan hatinya)seeped into the folds of her heart (lit. … has pierced the lining of her heart) (dia (hambanya itu)he (her servant))
Terjemahan: Dan (sesudah itu) perempuan-perempuan di bandar Mesir (mencaci hal Zulaikha dengan) berkata: "Isteri Al-Aziz itu memujuk hambanya (Yusuf) berkehendakkan dirinya, sesungguhnya cintanya (kepada Yusuf) itu sudahlah meresap ke dalam lipatan hatinya; sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata"Translation: And (after that) the women in the city of Egypt (reproached Zulaikha’s conduct by) saying: “The wife of al-‘Aziz is coaxing her servant (Yusuf), desiring his person; truly her love (for Yusuf) has seeped into the folds of her heart; truly we see her in plain error.”
Nota nahu: قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا (ayat 30).Grammar note: قَدْ شَغَفَهَا حُبًّا (verse 30).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِبْعَادًا لِتُهْمَتِهِنَّ بِأَنَّهُنَّ يَحْسُدْنَهَا عَلَى ذَلِكَ الْفَتَى»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/261 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/261 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata kerja turāwidu (memujuk) disebut dalam bentuk masa kini walaupun perbuatan itu telah berlalu, untuk menghadirkan keadaan yang mengejutkan itu dan menyatakan bantahan serta celaan. Penegasan “sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata” pula untuk memantapkan pendirian mereka, dan menjauhkan sangkaan bahawa mereka sendiri berasa hasad (dengki) terhadapnya; kesesatan di sini bermaksud menyimpang daripada jalan yang betul, bukan kesesatan agama.
Renungan: Kita kadang-kadang mengecam orang dengan suara yang lantang sedangkan hati kita sendiri tidak bersih; marilah kita memeriksa niat sebelum mencela orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the verb turāwidu, she is coaxing, is in the present form though the deed had passed, to bring that startling state before the mind and voice disapproval and blame. Their emphatic claim to see her in plain error was to affirm their stance and to dispel any suspicion that they envied her; error here means straying from the right course, not error in religion.
Reflection: We sometimes condemn others loudly while our own hearts are not clean; let us check our intentions before we blame anyone.
سَمِعَتۡ
… (Zulaikha) mendengar… (Zulaikha) heard (dia (isteri al‑Aziz)she (the wife of al‑‘Aziz))
وَقَالَتِ
dan pada ketika itu berkatalah … (kepada Yusuf)and at that moment … said (to Yusuf) (dia (isteri al‑Aziz)she (the wife of al‑‘Aziz))
أَكۡبَرۡنَهُۥ
… tercengang melihat kecantikan parasnya (lit. … membesarkannya)… became stunned at the beauty of his face (lit. … deemed him great) (merekathey)
لِلَّهِ
Allah (dari kekurangan) (lit. bagi Allah)is Allah (from any deficiency) (lit. for Allah)
Terjemahan: Maka apabila ia (Zulaikha) mendengar cacian mereka, dia pun menjemput mereka dan menyediakan satu jamuan untuk mereka, serta memberi kepada - tiap seorang di antara mereka sebilah pisau. Dan pada ketika itu berkatalah ia (kepada Yusuf): "Keluarlah di hadapan mereka". Maka ketika mereka melihatnya, mereka tercengang melihat kecantikan parasnya, dan mereka dengan tidak sedar melukakan tangan mereka sambil berkata: "Jauhnya Allah dari kekurangan! Ini bukanlah seorang manusia, ini tidak lain melainkan malaikat yang mulia"Translation: So when she (Zulaikha) heard their reproach, she invited them and provided a banquet for them, and gave a knife to every one of them. And at that moment she said (to Yusuf): “Come out in front of them.” Then when they saw him, they became stunned at the beauty of his face, and without being aware they wounded their hands, while saying: “How far is Allah from any deficiency! This is not a human being; this is nothing other than an angel who is noble.”
Nota nahu: فَلَمَّا … أَكْبَرْنَهُۥ … وَقُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ (ayat 31).Grammar note: فَلَمَّا … أَكْبَرْنَهُۥ … وَقُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ (verse 31).
(2) حَٰشَ diwarnakan kuning sebagai fi‘il (kata kerja), mengikut kitab rujukan kami, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm): “﴿حاشَ﴾: فعل ماض مبني على الفتح المقدر على الألف المحذوفة تخفيفا والفاعل مستتر تقديره: هو يعود إلى يوسف ومعنى: حاش يوسف: بعد من المعصية بخوف الله” (kata kerja lampau; fā‘ilnya tersembunyi, merujuk kepada Yusuf; maknanya: Yusuf jauh daripada maksiat kerana takut kepada Allah) (2/1067 · Shamela ↗). Demikian juga Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān): “وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّهُ هُنَا فِعْلٌ” (majoriti berpendapat ia di sini kata kerja), “وَفَاعِلُهُ مُضْمَرٌ، تَقْدِيرُهُ: حَاشَى يُوسُفُ ; أَيْ بَعُدَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ لِخَوْفِ اللَّهِ” (fā‘ilnya tersirat, iaitu Yusuf: dia jauh daripada maksiat kerana takut kepada Allah), dan beliau menukil: “وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هِيَ حَرْفُ جَرٍّ، وَاللَّامُ زَائِدَةٌ، وَهُوَ ضَعِيفٌ” (sebahagian ulama berkata ia ḥarf jar (huruf yang menjarkan) dan lām itu tambahan — pandangan yang lemah) (2/731 · Shamela ↗); dan Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(حاش) فعل ماض مبني على الفتح المقدّر على الألف المحذوفة للتخفيف”, “والفاعل هو أي يوسف” (fā‘ilnya ialah Yusuf) (6/416 · Shamela ↗). Maka kurungan fā‘il ialah (dia (Yusuf)). Pandangan lain menjadikannya kata nama (isim) bermaksud penyucian (tanzīh): Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) menyebut tiga pandangan: “﴿حاشَ﴾: ماض، وفاعله يعود إلى يوسف، أو هو مبتدأ مرفوع، وعلامة رفعه ضمة مقدرة على الألف المحذوفة أو هو مفعول مطلق، لفعل محذوف” (kata kerja lampau yang fā‘ilnya Yusuf; atau mubtada’ (subjek ayat namaan); atau maf‘ūl muṭlaq (objek mutlak) bagi kata kerja yang dibuang) (4/578 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وحاش اسم للتنزيه في محل نصب مفعول مطلق” (ḥāsha ialah kata nama bagi penyucian, maf‘ūl muṭlaq) (4/481 · Shamela ↗); dan Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān) dalam bahagian Faedah: “أن تكون تنزيهيه، كما مر في الآية الكريمة (حاشى لله) وهي اسم للتنزيه كقوله تعالى ﴿مَعاذَ اللهِ﴾ ونعربها نائب مفعول مطلق” (ia kata nama bagi penyucian, seperti مَعَاذَ ٱللَّهِ) (6/420 · Shamela ↗). Pada pandangan kata nama, حَٰشَ akan diwarnakan hijau dan tiada kurungan fā‘il; pada pandangan ḥarf jar, merah. Terjemahan Basmeih “Jauhnya Allah dari kekurangan!” selaras dengan pandangan penyucian (kata nama); maka makna perkata dan terjemahan Inggeris mengikut Basmeih, manakala warna dan kurungan mengikut kitab rujukan kami.
(3) هُۥ dalam أَكْبَرْنَهُۥ diwarnakan hijau sebagai kata ganti (ḍamīr) yang merujuk kepada Yusuf (Basmeih: “tercengang melihat kecantikan parasnya”). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) menyebut bahawa pada dua tafsiran lain bagi kata kerja ini: “وأما على التفسيرين الأخيرين فالهاء للسكت، وهي حرف لا محل له” (hā itu ialah hā’ al-sakt (huruf hentian), satu ḥarf yang tiada kedudukan i‘rab) (4/578 · Shamela ↗); pada pandangan itu ia akan diwarnakan merah. Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) menolak pandangan tersebut: “إذ هو تظرف مصنوع لا يليق بالقرآن” (kerana ia satu kelucuan yang dibuat-buat, tidak layak bagi al-Qur’an) (4/481 · Shamela ↗). Kami mengikut kitab rujukan kami dan Basmeih. (Lihat juga ayat 51, bahagian 47–69.)(1) لَمَّا (twice: “so when”, “then when”) is coloured green as a ẓarf, as in verse 28; Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) says here: “ولما ظرفية حينية أو رابطة حرفية” (lammā is a ẓarf meaning “when”, or a linking particle) (4/481 · Shamela ↗). The other views and their colours are given in the note on verse 28.
(2) حَٰشَ is coloured yellow as a fi‘l (verb), following our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm): “﴿حاشَ﴾: فعل ماض مبني على الفتح المقدر على الألف المحذوفة تخفيفا والفاعل مستتر تقديره: هو يعود إلى يوسف ومعنى: حاش يوسف: بعد من المعصية بخوف الله” (a past-tense verb; its fā‘il is hidden and refers to Yusuf; the sense: Yusuf is far from disobedience out of fear of Allah) (2/1067 · Shamela ↗). So too Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān): “وَالْجُمْهُورُ عَلَى أَنَّهُ هُنَا فِعْلٌ” (the majority hold that here it is a verb), “وَفَاعِلُهُ مُضْمَرٌ، تَقْدِيرُهُ: حَاشَى يُوسُفُ ; أَيْ بَعُدَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ لِخَوْفِ اللَّهِ” (its fā‘il is implied, namely Yusuf: he is far from disobedience out of fear of Allah), and he reports: “وَقَالَ بَعْضُهُمْ: هِيَ حَرْفُ جَرٍّ، وَاللَّامُ زَائِدَةٌ، وَهُوَ ضَعِيفٌ” (some said it is a genitive-governing particle (ḥarf jarr) with an extra lām — a weak view) (2/731 · Shamela ↗); and Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(حاش) فعل ماض مبني على الفتح المقدّر على الألف المحذوفة للتخفيف”, “والفاعل هو أي يوسف” (its fā‘il is Yusuf) (6/416 · Shamela ↗). So the fā‘il bracket is (he (Yusuf)). Another view makes it a noun (ism) meaning declaring free of imperfection (tanzīh): Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) gives three views: “﴿حاشَ﴾: ماض، وفاعله يعود إلى يوسف، أو هو مبتدأ مرفوع، وعلامة رفعه ضمة مقدرة على الألف المحذوفة أو هو مفعول مطلق، لفعل محذوف” (a past-tense verb whose fā‘il is Yusuf; or a mubtada’ (subject of a nominal clause); or a maf‘ūl muṭlaq (absolute object) of an omitted verb) (4/578 · Shamela ↗); Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وحاش اسم للتنزيه في محل نصب مفعول مطلق” (ḥāsha is a noun of tanzīh, an absolute object) (4/481 · Shamela ↗); and Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān) in its Benefits section: “أن تكون تنزيهيه، كما مر في الآية الكريمة (حاشى لله) وهي اسم للتنزيه كقوله تعالى ﴿مَعاذَ اللهِ﴾ ونعربها نائب مفعول مطلق” (it is a noun of tanzīh, like مَعَاذَ ٱللَّهِ) (6/420 · Shamela ↗). On the noun view, حَٰشَ would be coloured green with no fā‘il bracket; on the particle view, red. Basmeih’s “Jauhnya Allah dari kekurangan!” (“How far is Allah from any deficiency!”) matches the tanzīh (noun) view; so the word meaning and the English follow Basmeih, while the colour and the bracket follow our reference book.
(3) هُۥ in أَكْبَرْنَهُۥ is coloured green as a pronoun (ḍamīr) referring to Yusuf (Basmeih: “they became stunned at the beauty of his face”). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) says that on two other interpretations of this verb: “وأما على التفسيرين الأخيرين فالهاء للسكت، وهي حرف لا محل له” (the hā is a hā’ al-sakt (pausal hā), a particle with no grammatical position) (4/578 · Shamela ↗); on that view it would be coloured red. Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) rejects that view: “إذ هو تظرف مصنوع لا يليق بالقرآن” (for it is an artificial witticism unbefitting the Qur’an) (4/481 · Shamela ↗). We follow our reference book and Basmeih. (See also verse 51, part 47–69.)
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«والمعنى هاهنا تَنْزِيهُ اللَّه تَعَالَى مِنَ الْمُعْجِزِ حَيْثُ قَدَرَ على خلق جميل مثله»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/448–449 · Shamela ↗ (huraian ayat 30–31)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/448–449 · Shamela ↗ (commentary on 30–31)
Ar-Rāzī menukil bahawa kebanyakan ulama berpendapat para wanita itu “tercengang melihat kecantikan parasnya” kerana keindahan rupanya yang luar biasa; kata beliau, tangan yang terluka pula kiasan bagi kebingungan mereka. Menurut beliau, “Jauhnya Allah dari kekurangan!” bermaksud menyucikan Allah daripada sebarang kelemahan, kerana Dia berkuasa menciptakan seseorang seindah itu. Beliau menukil pula bahawa ungkapan “ini tidak lain melainkan malaikat yang mulia” menyatakan kecantikannya yang hebat, kerana telah tertanam dalam jiwa manusia bahawa tiada makhluk hidup yang lebih indah daripada malaikat.
Renungan: Setiap keindahan yang kita lihat ialah tanda kekuasaan Penciptanya; marilah kita menyucikan Allah apabila terpesona, dan menjaga pandangan serta kehormatan diri.Ar-Rāzī reports that most scholars hold the women were overcome by his beauty, so striking were his looks; their wounded hands, he says, picture their bewilderment. In his view their exclamation declares Allah free of any incapacity, since He was able to create one so beautiful. He reports too that likening him to a noble angel affirms his great beauty, because it is settled in people’s nature that no living being is fairer than an angel.
Reflection: Every beauty we see is a sign of its Creator’s power; let us glorify Allah when we are moved, and guard our gaze and our honour.
فَٱسۡتَعۡصَمَۖ
tetapi … menolak dan berpegang teguh kepada kesuciannyabut … refused and held firmly to his chastity (dia (Yusuf)he (Yusuf))
Terjemahan: (Zulaikha) berkata: "Inilah orangnya yang kamu tempelak aku mengenainya! Sebenarnya aku telah memujuknya berkehendakkan dirinya tetapi ia menolak dan berpegang teguh kepada kesuciannya; dan demi sesungguhnya kalau ia tidak mahu melakukan apa yang aku suruh tentulah ia akan dipenjarakan, dan akan menjadi dari orang-orang yang hina"Translation: (Zulaikha) said: “This is the man about whom you rebuked me! In fact I did coax him, desiring his person, but he refused and held firmly to his chastity; and truly, should he not be willing to do what I bid him, surely he will be imprisoned, and will become one of those who are lowly.”
Nota nahu: وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَآ ءَامُرُهُۥ (ayat 32).Grammar note: وَلَئِن لَّمْ يَفْعَلْ مَآ ءَامُرُهُۥ (verse 32).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْمَعْنَى: أَنَّهُ امْتَنَعَ امْتِنَاعَ مَعْصُومٍ، أَيْ جَاعِلًا الْمُرَاوَدَةَ خَطِيئَةً عَصَمَ نَفْسَهُ مِنْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/264 · Shamela ↗ (huraian ayat 31–32)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/264 · Shamela ↗ (commentary on 31–32)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata ista‘ṣama (berpegang teguh kepada kesuciannya) ialah bentuk yang menguatkan makna ‘menjaga diri’: baginda menolak dengan penolakan orang yang terpelihara, menganggap pujukan itu sebagai dosa lalu menjaga dirinya daripadanya. Pengakuan “ia menolak dan berpegang teguh kepada kesuciannya” datang daripada orang yang memujuknya sendiri, walaupun dia masih berkeras dengan ugutan penjara dan kehinaan.
Renungan: Kesucian diri ialah pilihan yang perlu dipertahankan setiap kali diuji; marilah kita berpegang teguh kepada maruah walaupun diugut atau dipujuk.According to Ibn ‘Āshūr, ista‘ṣama, he held firm to his chastity, is an intensive form of ‘guarding oneself’: he refused as one who is protected refuses, counting the coaxing a sin and keeping himself from it. This admission came from the very one who had coaxed him, though she still pressed on with threats of prison and humiliation.
Reflection: Chastity is a choice to be defended each time it is tested; let us hold firmly to our honour whether threatened or tempted.
قَالَ
… (merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata… (pleading before Allah the Most High) said (dia (Yusuf)he (Yusuf))
ٱلۡجَٰهِلِينَ
orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunyathose who do not act upon their knowledge
Terjemahan: Yusuf (merayu kehadrat Allah Taala dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Aku lebih suka kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya. Dan jika Engkau tidak menjauhkan daripadaku tipu daya mereka, mungkin aku akan cenderung kepada mereka, dan aku menjadi dari orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya"Translation: Yusuf (pleading before Allah the Most High) said: “O my Lord! I prefer prison over what these women call me to. And should You not keep their trickery away from me, perhaps I will incline towards them, and I will become one of those who do not act upon their knowledge.”
Nota nahu: مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ (ayat 33).Grammar note: مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ (verse 33).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ الْقُوَّةَ الْبَشَرِيَّةَ وَالطَّاقَةَ الْإِنْسَانِيَّةَ لَا تَفِي بِحُصُولِ هَذِهِ الْعِصْمَةِ الْقَوِيَّةِ، فَعِنْدَ هَذَا الْتَجَأَ إِلَى اللَّه تَعَالَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/451 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–34)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/451 · Shamela ↗ (commentary on 33–34)
Kata ar-Rāzī, ketika itu terhimpun pada diri Nabi Yusuf pelbagai pujukan dan ancaman, maka baginda bimbang semua sebab yang kuat itu akan mempengaruhinya. Kekuatan manusia tidak cukup untuk menjaga diri dalam keadaan begitu, lalu baginda berlindung kepada Allah dan berkata “Aku lebih suka kepada penjara dari apa yang perempuan-perempuan itu ajak aku kepadanya”. Kelazatan itu diikuti celaan di dunia dan azab di akhirat, sedangkan penjara yang dibenci itu membawa pujian di dunia dan pahala yang kekal di akhirat.
Renungan: Kita tidak mampu menjaga diri dengan kekuatan sendiri; marilah kita sentiasa memohon perlindungan Allah, dan memilih kesusahan yang halal daripada kesenangan yang haram.Ar-Rāzī says that at that moment every kind of enticement and threat had gathered on the Prophet Yusuf, and he feared these strong pulls might sway him. Human strength is not enough to keep oneself safe in such a state, so he turned to Allah for refuge and declared prison dearer to him than what he was being called to. That pleasure would bring blame in this world and punishment in the next, while the prison he disliked would bring praise here and lasting reward hereafter.
Reflection: We cannot guard ourselves by our own strength; let us keep asking Allah for protection, and choose lawful hardship over forbidden pleasure.
فَصَرَفَ
lalu dijauhkan (lit. lalu … menjauhkan)then … was kept away (lit. then … kept away) (DiaHe)
Terjemahan: Maka Tuhannya memperkenankan doanya, lalu dijauhkan daripadanya tipu daya mereka; sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha MengetahuiTranslation: So his Lord granted his prayer, then their trickery was kept away from him; truly it is Allah alone Who is All-Hearing, All-Knowing.
Nota nahu: فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ (ayat 34).Grammar note: فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ (verse 34).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ أَجَابَ دُعَاءَهُ بِدُونِ مُهْلَةٍ لِأَنَّهُ سَرِيعُ الْإِجَابَةِ وَعَلِيمٌ بِالضَّمَائِرِ الْخَالِصَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/267 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–34)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/267 · Shamela ↗ (commentary on 33–34)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Maka Tuhannya memperkenankan doanya” disambung dengan huruf yang menunjukkan susulan segera, isyarat bahawa Allah menyegerakan jawapan doanya. Allah memalingkan kesan tipu daya mereka dengan meneguhkan baginda di atas kesucian, hingga baginda tidak terpedaya walaupun pada saat yang paling sempit. Penutup “sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui” menerangkan sebabnya: Allah mengabulkan doa tanpa bertangguh dan mengetahui hati yang ikhlas.
Renungan: Doa yang ikhlas di saat genting tidak sia-sia; marilah kita mengadu kepada Allah dengan hati yang jujur ketika berdepan godaan.According to Ibn ‘Āshūr, his Lord’s answering him is joined by a particle of swift sequence, showing that Allah hastened the answer to his prayer. Allah turned aside the effect of their schemes by keeping him firm in chastity, so that he was not deceived even in the tightest hour. The closing words, that He hears all and knows all, explain why: Allah grants prayer without delay and knows which hearts are sincere.
Reflection: A sincere prayer in a critical hour is never wasted; let us pour out our hearts honestly to Allah when temptation faces us.
لَهُم
bagi suami perempuan itu, serta orang-orangnya (lit. bagi mereka)for the woman’s husband and his people (lit. for them)
ٱلۡأٓيَٰتِ
tanda-tanda (yang menghendaki supaya Yusuf dijauhkan)the signs (that called for Yusuf to be kept away)
لَيَسۡجُنُنَّهُۥ
hendak memenjarakan Yusuf (lit. sungguh … akan memenjarakannya)to imprison Yusuf (lit. surely … will imprison him) (merekathey)
Terjemahan: Kemudian timbul fikiran bagi suami perempuan itu, serta orang-orangnya hendak memenjarakan Yusuf sesudah mereka nampak tanda-tanda (yang menghendaki supaya Yusuf dijauhkan) hingga ke suatu masaTranslation: Then the thought arose for the woman’s husband and his people to imprison Yusuf, after they saw the signs (that called for Yusuf to be kept away), until a certain time.
Nota nahu: ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا۟ ٱلْءَايَٰتِ لَيَسْجُنُنَّهُۥ (ayat 35).Grammar note: ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا۟ ٱلْءَايَٰتِ لَيَسْجُنُنَّهُۥ (verse 35).
(2) مَا dalam مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا۟ diwarnakan merah sebagai maṣdariyyah (ḥarf yang bersama kata kerja selepasnya membentuk makna kata terbitan, “selepas mereka melihat”): Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm): “﴿ما﴾: مصدرية. ﴿رَأَوُا﴾: فعل ماض و (الواو): فاعل” (2/1069 · Shamela ↗); demikian juga Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “﴿ما﴾: مصدرية. ﴿رَأَوُا﴾: ماض مبني على فتح مقدر على الألف المحذوفة لالتقاء الساكنين” (4/583 · Shamela ↗), Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ما) حرف مصدريّ (رأوا) فعل ماض” (6/424 · Shamela ↗) dan Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وما مصدرية وهي مع ما في حيزها مضافة لبعد” (4/492 · Shamela ↗). Data morfologi (Quranic Arabic Corpus) menandakannya sebagai kata nama penghubung (hijau); kami mengikut kitab-kitab i‘rab ini.(1) The fā‘il of بَدَا (Basmeih “timbul fikiran”, “the thought arose”). Our reference book, Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm), says: “﴿بَدا﴾: فعل ماض وفاعله ضمير مستتر يفسره” لَيَسْجُنُنَّهُۥ “أي: بدا لهم أن يسجنوه والتقدير: بدا لهم سجنه” (its fā‘il is a hidden pronoun explained by layasjununnahu, i.e. it became apparent to them to imprison him — the implied sense: his imprisonment occurred to them) (2/1069 · Shamela ↗). So the fā‘il bracket is (it (imprisoning him)). Other scholars give several views, and the bracket changes with each: Abū al-Baqā’ al-‘Ukbarī (al-Tibyān fī I‘rāb al-Qur’ān): “فِي فَاعِلِ «بَدَا» ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ ; أَحَدُهَا: هُوَ مَحْذُوفٌ، وَ (لَيَسْجُنُنَّهُ) : قَائِمٌ مَقَامَهُ ; أَيْ بَدَا لَهُمُ السِّجْنُ” (on the fā‘il of badā there are three views; first, it is omitted and the clause layasjununnahu stands in its place, i.e. “imprisonment occurred to them” — bracket (implied (the imprisonment))), and: “وَالثَّانِي: أَنَّ الْفَاعِلَ مُضْمَرٌ، وَهُوَ مَصْدَرُ بَدَا ; أَيْ بَدَا لَهُمْ بِدَاءٌ، فَأُضْمِرَ. وَالثَّالِثُ: أَنَّ الْفَاعِلَ مَا دَلَّ عَلَيْهِ الْكَلَامُ ; أَيْ بَدَا لَهُمْ رَأَىٌ” (second, the fā‘il is a pronoun for the verbal noun of badā itself, “a consideration arose” — bracket (it (that consideration)); third, the fā‘il is what the speech indicates, “an opinion arose” — bracket (it (that thought))) (2/732 · Shamela ↗). Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “والفاعل محذوف دلّ عليه الكلام المتقدّم في قوله (السجن أحبّ)،والتقدير: بدا لهم أن يسجنوه” (the fā‘il is omitted, understood from the preceding words; the implied sense: it occurred to them to imprison him — bracket (implied (imprisoning him))) (6/424 · Shamela ↗). Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh) gives the same three views, then: “وأجاز هشام وثعلب -وهما كوفيان-اعتبار الجملة القسمية فاعلا للفعل” (Hishām and Tha‘lab, two Kufan scholars, allowed the oath clause itself to be the fā‘il — bracket (the clause: layasjununnahu)) (4/583 · Shamela ↗); and Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh) reports: “قال سيبويه: «وفاعل بدا لهم هو ليسجننه أي ظهر لهم أن يسجنوه»” (Sībawayh said: the fā‘il of badā is layasjununnahu), then: “وقال المبرد: هذا غلط لأن الفاعل لا يكون جملة ولكن الفاعل ما دل عليه بدا وهو المصدر” (al-Mubarrad said: that is a mistake, for a fā‘il is not a clause; the fā‘il is the verbal noun indicated by badā) (4/492 · Shamela ↗); on Sībawayh’s view the bracket is as on the view of Hishām and Tha‘lab, and on al-Mubarrad’s as on al-‘Ukbarī’s second view. Basmeih’s “the thought arose” matches al-‘Ukbarī’s third view; the bracket follows our reference book. The colour does not change.
(2) مَا in مِّنۢ بَعْدِ مَا رَأَوُا۟ is coloured red as maṣdariyyah (a particle that forms with the verb after it the sense of a verbal noun, “after their seeing”): Dār al-Ṣaḥābah (I‘rāb al-Qur’ān al-Karīm): “﴿ما﴾: مصدرية. ﴿رَأَوُا﴾: فعل ماض و (الواو): فاعل” (2/1069 · Shamela ↗); so too Muḥammad ‘Alī Ṭāhā al-Durrah (Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm wa I‘rābuhu wa Bayānuh): “﴿ما﴾: مصدرية. ﴿رَأَوُا﴾: ماض مبني على فتح مقدر على الألف المحذوفة لالتقاء الساكنين” (4/583 · Shamela ↗), Maḥmūd Ṣāfī (al-Jadwal fī I‘rāb al-Qur’ān): “(ما) حرف مصدريّ (رأوا) فعل ماض” (6/424 · Shamela ↗) and Muḥyī al-Dīn Darwīsh (I‘rāb al-Qur’ān wa Bayānuh): “وما مصدرية وهي مع ما في حيزها مضافة لبعد” (4/492 · Shamela ↗). The morphology data (Quranic Arabic Corpus) tags it as a relative noun (green); we follow these i‘rāb books.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ مَا بَدَا لَهُمْ أَعْجَبُ بَعْدَ مَا تَحَقَّقَتْ بَرَاءَتُهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/267–268 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/267–268 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata ‘kemudian’ di sini menunjukkan peningkatan dalam keanehan: keputusan memenjarakan Nabi Yusuf lebih menghairankan kerana dibuat selepas jelas kebersihannya. Yang dimaksudkan dengan “tanda-tanda” itu ialah bukti-bukti kebenaran baginda. Jika ungkapan “hingga ke suatu masa” ialah penceritaan al-Qur’an sendiri, tempohnya tidak dinyatakan kerana ia tidak berkaitan dengan tujuan kisah.
Renungan: Kadang-kadang orang yang tidak bersalah tetap dizalimi walaupun bukti telah jelas; marilah kita berlaku adil walaupun kebenaran itu menyusahkan kita, dan bersabar jika kita pula yang dizalimi.According to Ibn ‘Āshūr, the word ‘then’ here marks a rise in strangeness: the decision to imprison the Prophet Yusuf is all the more astonishing for coming after his innocence was proven. The signs they saw are the proofs of his truthfulness. If the words until a certain time are the Qur’an’s own telling, the length is left unstated because it has no bearing on the purpose of the story.
Reflection: The innocent are sometimes wronged even when proof is plain; let us be just even when the truth is costly to us, and be patient when we are the ones wronged.
قَالَ
… (bertanya kepada Yusuf dengan) berkata… (asking Yusuf) said (salah seorang di antaranya ahaduhumaone of them aḥaduhumā)
تَأۡكُلُ
yang sebahagiannya dimakan (lit. … memakan)part of which was eaten (lit. … ate) (burung at‑tairubirds aṭ‑ṭayru)
نَبِّئۡنَا
(kemudian keduanya berkata): terangkanlah kepada kami(then the two of them said): tell us (engkauyou)
Terjemahan: Dan masuklah bersama-samanya ke penjara dua orang khadam raja. Salah seorang di antaranya (bertanya kepada Yusuf dengan) berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi melihat diriku memerah anggur". Dan berkata pula yang seorang lagi: "Sesungguhnya aku bermimpi melihat diriku menjunjung roti atas kepalaku, yang sebahagiannya dimakan oleh burung." (kemudian keduanya berkata): "Terangkanlah kepada kami akan takbirnya. Sesungguhnya kami memandangmu: dari orang-orang yang berbuat kebaikan (untuk umum)"Translation: And together with him there entered the prison two servants of the king. One of them (asking Yusuf) said: “Truly I dreamt of seeing myself pressing grapes.” And the other one in turn said: “Truly I dreamt of seeing myself carrying bread on my head, part of which was eaten by birds.” (Then the two of them said): “Tell us its interpretation. Truly we see you as one of those who do good (for the public).”
Nota nahu: تَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِنْهُ (ayat 36).Grammar note: تَأْكُلُ ٱلطَّيْرُ مِنْهُ (verse 36).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَعْنَاهُ إِنَّا نَرَاكَ تُؤْثِرُ الْإِحْسَانَ وَتَأْتِي بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَجَمِيعِ الْأَفْعَالِ الْحَمِيدَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/454 · Shamela ↗ (huraian ayat 35–36)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/454 · Shamela ↗ (commentary on 35–36)
Antara huraian ar-Rāzī tentang “kami memandangmu: dari orang-orang yang berbuat kebaikan”: maksudnya, kami melihat engkau mengutamakan kebaikan, melakukan akhlak yang mulia dan segala perbuatan yang terpuji. Beliau juga menukil pandangan lain: baginda tekun dalam ketaatan, atau mahir dalam takbir mimpi; dan orang yang begitu keadaannya dipercayai kata-katanya.
Renungan: Akhlak yang baik tetap terserlah walaupun di dalam penjara; marilah kita menjaga akhlak di mana sahaja kita berada, kerana orang menilai kita daripada perbuatan kita.Among ar-Rāzī’s explanations of their seeing him as one who does good: we see you put kindness first and practise noble character and every praiseworthy deed. He also reports other views: that he was constant in worship, or skilled in interpreting dreams; and one who is like that is trusted in what he says.
Reflection: Good character shines even inside a prison; let us keep our character wherever we are, for people judge us by our deeds.
لَا
(aku bukan sahaja dapat menerangkan takbir (tafsiran) mimpi kamu itu, bahkan) tidak(not only can I interpret your dreams, but) no
تُرۡزَقَانِهِۦٓ
yang … diberikan (tiap-tiap hari dalam penjara)that … are given (each day in prison) (kamu berduayou both)NF
بِتَأۡوِيلِهِۦ
akan nama dan jenisnya (lit. dengan takwilnya)its name and kind (lit. its interpretation)
يَأۡتِيَكُمَاۚ
… dibawa kepada kamu (lit. … datang kepada kamu)… is brought to you (lit. … comes to you) (ia (makanan itu)it (the food))
عَلَّمَنِي
diajarkan kepadaku (lit. … mengajarku)was taught to me (lit. … taught me) (Tuhanku rabbimy Lord rabbī)
كَٰفِرُونَ
tidak … percayakan (lit. orang-orang yang kafir)do not … believe in (lit. are disbelievers)
Terjemahan: Yusuf menjawab: "(Aku bukan sahaja dapat menerangkan takbir mimpi kamu itu, bahkan) tidak datang kepada kamu sesuatu makanan yang diberikan kepada kamu (tiap-tiap hari dalam penjara), melainkan aku juga dapat memberitahu kepada kamu akan nama dan jenisnya, sebelum ia dibawa kepada kamu. Yang demikian itu ialah sebahagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Dengan sebab itu aku meninggalkan ugama kaum yang tidak beriman kepada Allah serta tidak pula percayakan hari akhiratTranslation: Yusuf replied: “(Not only can I interpret your dreams, but) no food comes to you that you are given (each day in prison) except that I am also able to tell you its name and kind, before it is brought to you. That is part of what was taught to me by my Lord. That is why I abandoned the religion of the people who do not have faith in Allah and who also do not believe in the Hereafter.
Nota nahu: ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ (ayat 37).Grammar note: ذَٰلِكُمَا مِمَّا عَلَّمَنِى رَبِّىٓ (verse 37).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَيُدْمَجُ فِي ذَلِكَ دَعَوْتُهُمَا إِلَى الْإِيمَانِ الصَّحِيحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/270–271 · Shamela ↗ (huraian ayat 37–38)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/270–271 · Shamela ↗ (commentary on 37–38)
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Yusuf ingin mengambil peluang ketika kedua-dua sahabatnya memberi perhatian sepenuhnya kerana menanti takbir mimpi mereka; maka baginda menyelitkan seruan kepada iman yang benar. Kemudian baginda menyebut bahawa ilmu itu “sebahagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku”, lalu menyambungnya dengan seruan tauhid (mengesakan Allah).
Renungan: Setiap perhatian orang kepada kita ialah peluang untuk menyampaikan kebaikan; marilah kita menggunakan kepercayaan orang untuk mendekatkan mereka kepada Allah dengan bijaksana.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Yusuf wished to seize the moment when his two companions were giving him full attention, waiting for him to interpret their dreams; so he wove in a call to true faith. He then said this knowledge was taught to him by his Lord, and moved from it to the call to Tauhid, the Oneness of Allah.
Reflection: Every bit of attention people give us is a chance to share good; let us use people’s trust to bring them nearer to Allah, with wisdom.
ذَٰلِكَ
mentauhid - mengesakan Allah ialah (lit. yang demikian itu)believing in Tawhid, affirming the Oneness of Allah, is (lit. that)
Terjemahan: Dan aku menurut ugama bapa dan datuk nenekku: Ibrahim dan Ishak serta Yaakub. Tidaklah sepatutnya kita mempersekutukan sesuatupun dengan Allah. Mentauhid - mengesakan Allah ialah hasil dari limpah kurnia Allah kepada kita dan kepada umat manusia. Tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukurTranslation: And I follow the religion of my fathers and forefathers: Ibrahim and Ishaq along with Ya‘qub. It is not fitting for us to associate anything at all with Allah. Believing in Tawhid, affirming the Oneness of Allah, is the fruit of Allah’s abundant bounty upon us and upon mankind. But most of mankind do not give thanks.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِرْشَادٌ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ، وَهُوَ أَنَّهُ لَا مُوجِدَ إِلَّا اللَّه وَلَا خَالِقَ إِلَّا اللَّه وَلَا رَازِقَ إِلَّا اللَّه»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/456–457 · Shamela ↗ (huraian ayat 37–38)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/456–457 · Shamela ↗ (commentary on 37–38)
Kata ar-Rāzī, baginda menyebut “Ibrahim dan Ishak serta Yaakub” kerana kedudukan mereka masyhur, maka apabila orang tahu baginda keturunan mereka, mereka akan memuliakannya dan lebih terkesan dengan kata-katanya. Ungkapan “sesuatupun” pula menolak segala jenis syirik (menyekutukan Allah), sama ada menyembah berhala, api, bintang atau selainnya, dan membimbing kepada agama yang benar: tiada yang mengadakan, mencipta dan memberi rezeki kecuali Allah. Menurut beliau, ayat ini menunjukkan setiap mukmin mesti bersyukur kepada Allah atas nikmat iman.
Renungan: Iman ialah nikmat terbesar yang sering kita lupa syukuri; marilah kita bersyukur atas iman setiap hari.Ar-Rāzī says he named Ibrahim, Ishaq and Ya‘qub because their rank was well known, so that people learning he was their descendant would honour him and be more moved by his words. The words anything at all reject every kind of shirk, associating partners with Allah, whether worship of idols, fire, stars or other things, and guide to the true religion: none brings into being, creates or provides but Allah. In his view the verse shows that every believer must thank Allah for the gift of faith.
Reflection: Faith is the greatest gift, one we often forget to give thanks for; let us give thanks for our faith every day.
ءَأَرۡبَابٞ
memuja dan menyembah berbilang-bilang tuhan … itukah (lit. adakah tuhan-tuhan)is revering and worshipping many … gods (lit. are lords)
Terjemahan: Wahai sahabatku berdua yang sepenjara, memuja dan menyembah berbilang-bilang tuhan yang bercerai-berai itukah yang lebih baik atau menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa, lagi Maha KuasaTranslation: O my two companions in prison, is revering and worshipping many scattered gods better, or worshipping Allah, the God Who is One, the All-Powerful?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَمَنْ عَرَفَ اللَّه وَأَحَبَّهُ طُولَ عُمُرِهِ أَوْلَى بِأَنْ يَبْقَى عَلَيْهِ اسْمُ الْمُؤْمِنِ الْعَارِفِ الْمُحِبِّ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/457–458 · Shamela ↗ (huraian ayat 39–40)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/457–458 · Shamela ↗ (commentary on 39–40)
Kata ar-Rāzī, seruan “Wahai sahabatku berdua yang sepenjara” bermaksud sahabat dalam penjara; antara kemungkinan yang beliau sebut: jika persahabatan yang singkat dalam penjara sudah cukup untuk menamakan mereka sahabat, maka orang yang mengenal dan mencintai Allah sepanjang umurnya lebih layak kekal bergelar mukmin yang mengenal dan mencintai. Kemudian baginda berhujah: banyak tuhan membawa kerosakan, sedangkan satu Tuhan membawa ketersusunan; berhala pula dibuat dan dikuasai, bukan yang membuat dan menguasai.
Renungan: Hubungan kita dengan Allah sepanjang hidup ialah persahabatan yang paling berharga; marilah kita menjaganya hingga ke akhir hayat.Ar-Rāzī says the address to his two prison companions means companions in prison; among the possibilities he names: if a brief fellowship in prison was enough to call them companions, then one who has known and loved Allah all his life is all the more worthy to keep the name of a believer who knows and loves. He then argues: many gods bring disorder, while one God brings order; and idols are made and mastered, not makers and masters.
Reflection: Our bond with Allah over a lifetime is the most precious companionship; let us keep it to our last breath.
Terjemahan: Apa yang kamu sembah, yang lain dari Allah, hanyalah nama-nama yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan sebarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah Ugama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuiTranslation: What you worship apart from Allah is only names which you have named, you and your forefathers; Allah has never sent down any proof that confirms them. In truth the judgement (that determines deeds of worship) belongs to Allah alone. He gives the command that you are not to worship other than Him. That is the religion that is right, but most of mankind do not know.
Nota nahu: مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً (ayat 40).Grammar note: مَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسْمَآءً (verse 40).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِدْمَاجًا لِتَلْقِينِ الْمَعْذِرَةِ لَهُمَا لِيَسْهُلَ لَهُمَا الْإِقْلَاعُ عَنْ عِبَادَةِ آلِهَةٍ مُتَعَدِّدَةٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/276–277 · Shamela ↗ (huraian ayat 39–40)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/276–277 · Shamela ↗ (commentary on 39–40)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “hanyalah nama-nama yang kamu menamakannya” bermaksud tuhan-tuhan itu tiada hakikatnya, hanya nama tanpa sesuatu yang dinamakan. Disebut “kamu dan datuk nenek kamu” untuk menutup hujah bahawa itu sembahan nenek moyang, dan pada masa yang sama memberi alasan yang memudahkan mereka berdua meninggalkan penyembahan banyak tuhan. Kemudian baginda berpindah daripada dalil keesaan Allah kepada pengajaran mematuhi perintah-Nya: “Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia”.
Renungan: Menyeru kepada kebenaran perlu disertai kelembutan yang memudahkan orang kembali; marilah kita memberi jalan keluar yang terhormat kepada orang yang ingin berubah.According to Ibn ‘Āshūr, calling their gods mere names they had named means those gods have no reality, only names with nothing named. Mentioning both them and their forefathers shuts off the plea that these were their ancestors’ deities, while also offering the two an excuse that eases their leaving the worship of many gods. He then moves from proofs of Allah’s Oneness to teaching obedience to His command that none be worshipped but Him.
Reflection: Calling to the truth should come with a gentleness that makes return easy; let us offer an honourable way out to those who wish to change.
أَمَّآ
(takbir (tafsiran) mimpi kamu itu ialah): adapun(the interpretation of your dreams is this): as for
فَيَسۡقِي
maka … akan memberi minumthen … will give … to drink (dia (salah seorang dari kamu)he (one of you))
فَيُصۡلَبُ
maka … akan dipalangthen … will be crucified (dia (yang seorang lagi)he (the other))NF
قُضِيَ
telah selesailah (dan tetaplah berlakunya)settled already (and fixed in its happening) is (perkara al‑amruthe matter al‑amru)NF
Terjemahan: Wahai sahabatku berdua yang sepenjara! (Takbir mimpi kamu itu ialah): adapun salah seorang dari kamu, maka ia akan memberi minum arak kepada tuannya. Ada pun yang seorang lagi, maka ia akan dipalang, serta burung pula akan makan dari kepalanya. Telah selesailah (dan tetaplah berlakunya) perkara yang kamu tanyakan itu"Translation: O my two companions in prison! (The interpretation of your dreams is this): as for one of you, then he will give his master wine to drink. And regarding the other one, then he will be crucified, while birds in turn will eat from his head. Settled already (and fixed in its happening) is the matter that you asked about.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«قَصْدًا لِتَلَقِّيهِ مَا يَسُوءُ بَعْدَ تَأَمُّلٍ قَلِيلٍ كَيْلَا يَفْجَأَهُ مِنْ أَوَّلِ الْكَلَامِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/277 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/277 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Yusuf memulakan dengan seruan “Wahai sahabatku berdua yang sepenjara!” kerana mementingkan takbir yang hendak disampaikan. Yang zahir, takbir kedua-dua mimpi dihimpunkan dalam satu ungkapan umum kerana salah satunya membawa berita buruk; tujuannya supaya pemilik mimpi itu menerimanya selepas berfikir sejenak, dan tidak dikejutkan dari awal kata.
Renungan: Berita yang berat perlu disampaikan dengan cara yang lembut; marilah kita memilih kata-kata yang menjaga hati ketika menyampaikan khabar duka kepada orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Yusuf opened by calling his two prison companions because of the weight of the interpretation he was about to give. The apparent sense is that both interpretations were joined in one general phrase because one of them carried bad news, so that its owner would grasp it after a moment’s thought rather than be struck by it at the first word.
Reflection: Heavy news should be delivered gently; let us choose words that spare hearts when we bring sad tidings to others.
فَأَنسَىٰهُ
(setelah orang itu dibebaskan dari penjara) maka ia dilupakan (lit. lalu … melupakannya)(after that man was released from prison) then he was made to forget (lit. then … made him forget) (syaitan asy‑syaitanuSatan ash‑shayṭānu)
فَلَبِثَ
dengan sebab itu tinggallah … (lit. lalu … tinggal)because of that … remained (dia (Yusuf)he (Yusuf))
Terjemahan: Dan berkatalah Yusuf kepada orang yang ia percaya akan terselamat di antara mereka berdua: "Sebutkanlah perihalku kepada tuanmu". (Setelah orang itu dibebaskan dari penjara) maka ia dilupakan oleh syaitan untuk menyebutkan (hal Yusuf) kepada tuannya. Dengan sebab itu tinggallah Yusuf dalam penjara beberapa tahunTranslation: And Yusuf said to the one he believed would be saved from among the two of them: “Mention my situation to your master.” (After that man was released from prison) then he was made to forget, by Satan, to mention (Yusuf’s case) to his master. Because of that Yusuf remained in prison for some years.
Nota nahu: فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيْطَٰنُ (ayat 42).Grammar note: فَأَنسَىٰهُ ٱلشَّيْطَٰنُ (verse 42).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ يُمْكِنُهُ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ بِوَسْوَسَتِهِ يَدْعُو إِلَى سَائِرِ الْأَعْمَالِ وَاشْتِغَالُ الْإِنْسَانِ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ يَمْنَعُهُ عَنِ اسْتِحْضَارِ ذَلِكَ الْعِلْمِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/461–462 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/461–462 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, maksud “Sebutkanlah perihalku kepada tuanmu” ialah: sebutkan kepadanya bahawa aku dizalimi, oleh saudara-saudaraku yang mengeluarkan dan menjualku, dan dalam peristiwa yang menyebabkan aku dipenjara. Tentang bagaimana syaitan boleh menyebabkan lupa, beliau menjelaskan bahawa dengan waswas (bisikan jahat) syaitan mengajak manusia sibuk dengan pelbagai urusan lain, dan kesibukan itulah yang menghalangnya daripada mengingati apa yang diketahuinya.
Renungan: Kesibukan yang dibisikkan syaitan boleh melalaikan kita daripada perkara penting; marilah kita menjaga zikir dan segera menunaikan pesanan orang yang memerlukan pertolongan kita.Ar-Rāzī says the request to mention him to the master means: tell him I have been wronged, by my brothers who took me out and sold me, and in the affair for which I was imprisoned. On how Satan can cause forgetting, he explains that by his waswas, evil whispering, Satan calls a person to busy himself with other matters, and that busyness keeps him from recalling what he knows.
Reflection: Busyness prompted by Satan can make us neglect what matters; let us keep up our remembrance of Allah and promptly fulfil what those in need have asked of us.
يَأۡكُلُهُنَّ
dimakan (lit. … memakannya)eaten (lit. … eat them) (tujuh ekor sab‘unseven sab‘un)
Terjemahan: Dan (pada suatu hari) raja Mesir berkata: "Sesungguhnya aku mimpi melihat: tujuh ekor lembu yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu yang kurus, dan aku melihat tujuh tangkai (biji-bijian) yang hijau dan tujuh tangkai lagi yang kering. Wahai ketua-ketua kaum (yang hadir, terangkanlah kepadaku tentang mimpiku ini, kalau kamu orang yang pandai menafsirkan mimpi)"Translation: And (one day) the king of Egypt said: “Truly I dreamt of seeing seven cows that were fat, eaten by seven cows that were thin, and I saw seven ears (of grain) that were green and seven other ears that were dry. O chiefs of the people (who are present)! Explain to me about this dream of mine, if you are people skilled at interpreting dreams.”
Nota nahu: يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ (ayat 43).Grammar note: يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ (verse 43).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى إِذَا أَرَادَ شَيْئًا هَيَّأَ لَهُ أَسْبَابًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/463–464 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–44)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/463–464 · Shamela ↗ (commentary on 43–44)
Kata ar-Rāzī, apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia menyediakan sebab-sebabnya. Ketika semakin hampir kelapangan bagi Nabi Yusuf, raja Mesir bermimpi, lalu Allah menjadikan mimpi itu sebab baginda keluar dari penjara. Raja itu gelisah kerana melihat yang lemah menguasai yang kuat; fitrahnya merasakan ia petanda buruk tetapi tidak tahu hakikatnya, lalu Allah menguatkan keinginannya untuk mengetahui takbirnya, dan menjadikan para penafsir mimpi yang hadir tidak mampu menjawab, supaya menjadi sebab kelepasan Nabi Yusuf.
Renungan: Pintu kelapangan sering dibuka Allah melalui sebab yang tidak kita sangka; marilah kita terus bersabar dan bersangka baik kepada Allah ketika menunggu jalan keluar.Ar-Rāzī says that when Allah wills a thing, He readies its causes. As relief for the Prophet Yusuf drew near, the king of Egypt had a dream, and Allah made that dream the cause of his release from prison. The king was troubled at seeing the weak overpower the strong; his nature sensed an ill omen without knowing its truth, so Allah strengthened his urge to learn its meaning, and left the interpreters present unable to answer, so that this would become the cause of the Prophet Yusuf’s release.
Reflection: Allah often opens the door of relief through causes we never expected; let us stay patient and think well of Allah while we wait for a way out.
أَضۡغَٰثُ
yang demikian itu ialah … yang bercampur aduk (lit. campuran)those are … that are all jumbled together (lit. jumbles of)
Terjemahan: Mereka menjawab: "Yang demikian itu ialah mimpi-mimpi yang bercampur aduk, dan kami bukanlah orang-orang yang mengetahui mimpi-mimpi (yang sedemikian) itu"Translation: They replied: “Those are dreams that are all jumbled together, and we are not people who know about dreams (of that kind).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شُبِّهَتْ تِلْكَ الرُّؤْيَا بِالْأَضْغَاثِ فِي اخْتِلَاطِهَا وَعَدَمِ تَمَيُّزِ مَا تَحْتَوِيهِ لَمَّا أُشْكِلَ عَلَيْهِمْ تَأْوِيلُهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/282 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–45)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/282 · Shamela ↗ (commentary on 43–45)
Menurut Ibn ‘Āshūr, para pembesar menyamakan mimpi itu dengan aḍghāth (ikatan rumput dan ranting yang bercampur aduk) kerana ia kelihatan bercampur dan tidak jelas isinya, setelah mereka tidak dapat mentakbirkannya. Perkataan ‘mimpi-mimpi’ dijamakkan kerana banyak perkara yang dilihat dalam satu mimpi itu. Ungkapan “kami bukanlah orang-orang yang mengetahui” pula menafikan kemampuan mereka mentakbirkan mimpi itu.
Renungan: Mengaku tidak tahu lebih mulia daripada berpura-pura tahu; marilah kita berani berkata ‘saya tidak tahu’ apabila sesuatu di luar ilmu kita, dan mencari orang yang lebih mengetahui.According to Ibn ‘Āshūr, the chiefs likened the dream to aḍghāth, bundles of mixed grass and twigs, because it seemed jumbled and unclear once they could not interpret it. The word for dreams is plural because that one dream held many things seen. Their saying they were not people who know denies any ability to interpret this dream.
Reflection: Admitting we do not know is nobler than pretending; let us have the courage to say ‘I do not know’ when a matter is beyond our knowledge, and seek those who know better.
وَقَالَ
dan (pada saat itu) berkatalahand (at that moment) … said (orang yang alladzithe one who alladhī)
وَٱدَّكَرَ
dan yang baharu mengingati (akan pesanan Yusuf)and who only now remembered (Yusuf’s request) (dia (merujuk orang yang)he (refers to the one who))
فَأَرۡسِلُونِ
oleh itu hantarkanlah daku pergi (kepada orang yang mengetahui tafsirannya)therefore send me off (to someone who knows its interpretation) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan (pada saat itu) berkatalah orang yang terselamat di antara mereka yang berdua itu, dan yang baharu mengingati (akan pesanan Yusuf) sesudah berlalu suatu masa yang lanjut: "Aku akan memberi tahu kepada kamu tafsirannya. Oleh itu hantarkanlah daku pergi (kepada orang yang mengetahui tafsirannya)"Translation: And (at that moment) the one who had been saved from among the two, and who only now remembered (Yusuf’s request) after a long time had passed, said: “I shall let you know its interpretation; therefore send me off (to someone who knows its interpretation).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِذْ لَيْسَ مِثْلُهُ مَظِنَّةَ أَنْ يَكُونَ بَين المساجين»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/283–284 · Shamela ↗ (huraian ayat 43–45)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 12/283–284 · Shamela ↗ (commentary on 43–45)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “sesudah berlalu suatu masa yang lanjut” (ba‘da ummah) ialah ungkapan yang menekankan panjangnya tempoh dia lupa. Lelaki yang terselamat itu memulakan dengan “Aku akan memberi tahu kepada kamu tafsirannya” untuk menarik rasa hairan raja, dan dia tidak menyebut siapa yang hendak ditemuinya kerana mahu mengejutkan mereka dengan berita Nabi Yusuf selepas takbir itu terbukti, supaya lebih berkesan; sebab orang seperti baginda tidak disangka berada dalam kalangan banduan.
Renungan: Orang yang berilmu dan mulia kadang-kadang tersembunyi di tempat yang tidak disangka; marilah kita tidak menilai seseorang hanya dengan tempat atau keadaannya.According to Ibn ‘Āshūr, ba‘da ummah, after a long stretch, stresses how long he had forgotten. The man who had been saved began by saying he would bring them its meaning, to draw the king’s wonder, and he did not name the one he would visit because he wished to surprise them with news of the Prophet Yusuf once the interpretation had proved true, so it would strike harder; for no one would expect a man like him among prisoners.
Reflection: People of knowledge and honour are sometimes hidden where no one looks; let us not judge anyone only by his place or circumstances.
يُوسُفُ
(setelah ia berjumpa dengan Yusuf, berkatalah ia): Yusuf(after he met Yusuf, he said): Yusuf
أَفۡتِنَا
tafsirkanlah kepada kami (seorang bermimpi melihat)interpret for us (one who dreamt of seeing) (engkauyou)
يَأۡكُلُهُنَّ
dimakan (lit. … memakannya)eaten (lit. … eat them) (tujuh ekor sab‘unseven sab‘un)
وَأُخَرَ
serta tujuh tangkai lagi (lit. dan yang lain)along with seven other ears (lit. and others)
Terjemahan: (Setelah ia berjumpa dengan Yusuf, berkatalah ia): "Yusuf, Wahai orang yang benar (pada segala-galanya)! tafsirkanlah kepada kami (seorang bermimpi melihat): tujuh ekor lembu yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu yang kurus; dan tujuh tangkai (biji-bijian) yang hijau serta tujuh tangkai lagi yang kering; (tafsirkanlah) supaya aku kembali kepada orang-orang yang mengutusku itu, semoga mereka dapat mengetahui tafsirannya"Translation: (After he met Yusuf, he said): “Yusuf, O you who are truthful (in all things)! Interpret for us (one who dreamt of seeing): seven cows that were fat, eaten by seven cows that were thin; and seven ears (of grain) that were green along with seven other ears that were dry; (interpret it) so that I may go back to the people who sent me, in the hope that they may get to know its interpretation.”
Nota nahu: يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ (ayat 46).Grammar note: يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ (verse 46).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ رَجُلٍ شَيْئًا فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُعَظِّمَهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/465 · Shamela ↗ (huraian ayat 45–46)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 18/465 · Shamela ↗ (commentary on 45–46)
Kata ar-Rāzī, al-ṣiddīq ialah orang yang amat benar; lelaki itu memanggil Nabi Yusuf dengan sifat ini kerana dia tidak pernah mendapati baginda berdusta. Ini menunjukkan sesiapa yang ingin belajar sesuatu daripada seseorang mesti memuliakannya dan berbicara dengannya dengan kata-kata yang menunjukkan hormat. Dia juga mengulang soalan dengan lafaz raja sendiri. Maksud “supaya aku kembali kepada orang-orang yang mengutusku itu, semoga mereka dapat mengetahui tafsirannya” ialah supaya mereka mengetahui kelebihan dan ilmu baginda.
Renungan: Adab kepada guru membuka pintu ilmu; marilah kita memuliakan orang yang kita belajar daripadanya, dalam panggilan dan tutur kata.Ar-Rāzī says al-ṣiddīq is one utterly truthful; the man addressed the Prophet Yusuf so because he had never found him lying. This shows that whoever wishes to learn something from a person must honour him and speak to him in words that convey respect. He also repeated the question in the king’s own wording. His hope of going back to those who sent him was so that they might know Yusuf’s merit and learning.
Reflection: Courtesy to a teacher opens the door to knowledge; let us honour those we learn from, in how we address them and how we speak.