لَأٓيَةٗ
(sungguh) terdapat satu tanda (yang membuktikan kebijaksanaan Allah)(truly) there is a sign (proving the wisdom of Allah)
يَسۡمَعُونَ
yang mendengar (peringatan ini dan memahaminya)who hear (this reminder and understand it) (merekathey)
Terjemahan: Dan Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Ia menghidupkan dengan air hujan itu akan bumi sesudah matinya; sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat satu tanda (yang membuktikan kebijaksanaan Allah) bagi kaum yang mendengar (peringatan ini dan memahaminya)Translation: And Allah sent down rain from the sky, then with that rain He brought the earth to life after its death; truly in that there is a sign (proving the wisdom of Allah) for a people who hear (this reminder and understand it).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلِهَذَا السَّبَبِ كُلَّمَا امْتَدَّ الْكَلَامُ فِي فَصْلٍ مِنَ الْفُصُولِ فِي وَعِيدِ الْكُفَّارِ عَادَ إِلَى تَقْرِيرِ الْإِلَهِيَّاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/231 · Shamela ↗ (huraian ayat 65–67)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/231 · Shamela ↗ (commentary on 65–67)
Kata ar-Rāzī, antara asas yang hendak ditetapkan oleh al-Qur’an, yang paling utama ialah ilāhiyyāt (perkara-perkara tentang ketuhanan Allah). Kerana itu, setiap kali huraian tentang ancaman kepada orang kafir menjadi panjang, al-Qur’an kembali menetapkan bukti-bukti ketuhanan, seperti di sini: “Allah menurunkan hujan dari langit”. Maksud “menghidupkan dengan air hujan itu akan bumi sesudah matinya” ialah tumbuhnya tanaman, pokok, bunga dan buah setelah bumi tidak berbuah, dan ia memberi manfaat setelah tidak bermanfaat.
Renungan: Hujan yang turun mengingatkan kita kepada Allah; marilah kita menjadikan setiap nikmat yang biasa itu jalan untuk mengenal-Nya.Ar-Rāzī says that among the foundations the Qur’an sets out to establish, the greatest is ilāhiyyāt, the truths about Allah as God. So whenever the discourse on the threat to the disbelievers grows long, it returns to establishing the proofs of His Godhood, as here with the rain He sends down from the sky. The life given to the earth means crops, trees, blossoms and fruit appearing after it bore nothing, and benefit after it gave none.
Reflection: The rain that falls reminds us of Allah; let us make every everyday blessing a path to knowing Him.
لَعِبۡرَةٗۖ
(sungguh) pelajaran yang mendatangkan iktibar(truly) a lesson that leads to reflection
Terjemahan: Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak itu, kamu beroleh pelajaran yang mendatangkan iktibar. Kami beri minum kepada kamu daripada apa yang terbit dari dalam perutnya, yang lahir dari antara hampas makanan dengan darah; (iaitu) susu yang bersih, yang mudah diminum, lagi sedap rasanya bagi orang-orang yang meminumnyaTranslation: And truly in the livestock you gain a lesson that leads to reflection: We give you to drink from what comes out from within their bellies, emerging from between the residue of food and blood — (namely) milk that is pure, easy to drink and pleasant in taste for those who drink it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمُنَاسَبَةُ ذِكْرِ هَذِهِ النِّعْمَةِ هُنَا أَنَّ بِأَلْبَانِ الْأَنْعَامِ حَيَاةَ الْإِنْسَانِ كَمَا تَحْيَا الْأَرْضُ بِمَاءِ السَّمَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/199–200 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/199–200 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah satu lagi hujah dan kurniaan Allah. Kaitannya dengan ayat sebelumnya ialah manusia hidup dengan susu binatang ternak sebagaimana bumi hidup dengan air dari langit. Allah berfirman “Kami beri minum kepada kamu”, dan tidak hanya menyebut bahawa kamu meminumnya, supaya peringatan tentang nikmat-Nya bergabung dengan pelajaran tentang ciptaan-Nya.
Renungan: Setiap teguk susu ialah pemberian Allah; marilah kita meminumnya dengan rasa syukur dan mengambil iktibar (pengajaran) daripadanya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is another proof and another favour from Allah. It is linked to the verse before it because people live on the milk of livestock just as the earth lives by the water of the sky. Allah speaks of Himself as the One Who gives us drink, rather than only saying that we drink, so that the reminder of His favour is woven together with the lesson of His making.
Reflection: Every mouthful of milk is a gift from Allah; let us drink it with gratitude and take a lesson from it.
لَأٓيَةٗ
(sungguh) terdapat satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah)(truly) there is a sign (proving the power of Allah)
Terjemahan: Dan dari buah tamar (kurma) dan anggur kamu jadikan daripadanya minuman haram dan makanan serta minuman yang halal; sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat satu tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mahu menggunakan akalnyaTranslation: And from the fruit of tamar (dates) and grapes you make from it a forbidden drink, and food and drink that are lawful; truly in that there is a sign (proving the power of Allah) for people who are willing to use their minds.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَنْ كَانَ عَاقِلًا، عَلِمَ بِالضَّرُورَةِ أَنَّ هَذِهِ الْأَحْوَالَ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا إِلَّا اللَّهُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/235 · Shamela ↗ (huraian ayat 65–67)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/235 · Shamela ↗ (commentary on 65–67)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyebut sebahagian manfaat binatang pada ayat sebelumnya, Dia menyebut pula dalam ayat ini sebahagian manfaat tumbuh-tumbuhan, iaitu buah tamar dan anggur. Perkara-perkara ini di satu sisi ialah bukti, dan di sisi lain ialah senarai nikmat yang besar; kerana itu ayat ini diakhiri dengan “bagi orang-orang yang mahu menggunakan akalnya”, iaitu sesiapa yang berakal tentu mengetahui dengan pasti bahawa tiada yang berkuasa atas semua keadaan ini melainkan Allah.
Renungan: Akal yang sihat membawa kepada Allah; marilah kita menggunakan akal kita untuk merenung nikmat-Nya, bukan untuk melupakan-Nya.Ar-Rāzī says that after Allah mentioned some benefits of animals in the previous verse, He mentions in this verse some benefits of plants, namely dates and grapes. These things are proofs from one angle and a listing of great favours from another; and so the verse closes by speaking of people who reason, meaning that anyone with sense knows for certain that none has power over all these states except Allah.
Reflection: A sound mind leads to Allah; let us use our minds to reflect on His favours, not to forget Him.
وَمِمَّا
dan juga di bangunan-bangunan yang (lit. dan dari apa yang)and also in the structures that (lit. and of what)
يَعۡرِشُونَ
didirikan oleh manusia (lit. … dirikan)are put up by people (lit. … put up) (merekathey)
Terjemahan: Dan Tuhanmu memberi ilham kepada lebah: "Hendaklah engkau membuat sarangmu di gunung-ganang dan di pokok-pokok kayu, dan juga di bangunan-bangunan yang didirikan oleh manusiaTranslation: And your Lord gave inspiration to the bee: “Make your nests in the mountains and in the trees, and also in the structures that are put up by people,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِذْ أَوْدَعَ فِي خِلْقَةِ الْحَشَرَةِ الضَّعِيفَةِ هَذِهِ الصَّنْعَةَ الْعَظِيمَةَ وَجَعَلَ فِيهَا هَذِهِ الْمَنْفَعَةَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/204–205 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–69)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/204–205 · Shamela ↗ (commentary on 68–69)
Menurut Ibn ‘Āshūr, gaya pengajaran diubah di sini kerana pelajaran ini menunjukkan betapa agungnya hikmah Allah: Dia meletakkan dalam kejadian serangga yang lemah ini kepandaian yang besar dan menjadikan padanya manfaat. Ayat ini dimulakan dengan “Dan Tuhanmu memberi ilham kepada lebah”, kerana kata waḥy (wahyu) di sini membayangkan ilham (petunjuk yang diletakkan dalam nalurinya) yang mengatur kerjanya dengan rapi; maka ilham itu sendiri sudah menjadi bukti hikmah Allah.
Renungan: Jika lebah yang kecil diberi petunjuk sebegitu rapi, marilah kita bersyukur atas akal dan petunjuk yang Allah kurniakan kepada kita.According to Ibn ‘Āshūr, the style of the lesson changes here because it points to the immensity of Allah’s wisdom: He placed in the make-up of this frail insect a great craft and set a benefit within it. The verse opens with the inspiration your Lord gave the bee, because the word waḥy here hints at ilhām, guidance placed in its very nature, by which its work is ordered with care; so that inspiration is itself a proof of Allah’s wisdom.
Reflection: If the little bee is guided with such precision, let us give thanks for the mind and guidance Allah has granted us.
ٱلثَّمَرَٰتِ
bunga-bungaan dan buah-buahan (yang engkau sukai)flowers and fruits (that you like)
ذُلُلٗاۚ
yang diilhamkan dan dimudahkan-Nya kepadamu (lit. dalam keadaan mudah ditempuh)which He has inspired and made easy for you (lit. as made easy to tread)
يَخۡرُجُ
(dengan itu) akan keluarlah(by that) there comes out (minuman syarabuna drink sharābun)
لَأٓيَةٗ
(sungguh) ada tanda (yang membuktikan kemurahan Allah)(truly) there is a sign (proving the generosity of Allah)
Terjemahan: Kemudian makanlah dari segala jenis bunga-bungaan dan buah-buahan (yang engkau sukai), serta turutlah jalan-jalan peraturan Tuhanmu yang diilhamkan dan dimudahkan-Nya kepadamu". (Dengan itu) akan keluarlah dari dalam badannya minuman (madu) yang berlainan warnanya, yang mengandungi penawar bagi manusia (dari berbagai-bagai penyakit). Sesungguhnya pada yang demikian itu, ada tanda (yang membuktikan kemurahan Allah) bagi orang-orang yang mahu berfikirTranslation: then eat of every kind of flowers and fruits (that you like), and follow the ways of your Lord’s rules which He has inspired and made easy for you.” (By that) there comes out from within its body a drink (honey) of differing colours, which contains a remedy for mankind (from many kinds of illness). Truly in that there is a sign (proving the generosity of Allah) for people who are willing to think.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَأَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا خَاطَبَ النَّحْلَ بِمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ خَاطَبَ الْإِنْسَانَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/238 · Shamela ↗ (huraian ayat 68–69)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/238 · Shamela ↗ (commentary on 68–69)
Kata ar-Rāzī, ungkapan “akan keluarlah dari dalam badannya minuman (madu)” beralih daripada khiṭāb (bercakap kepada lebah) kepada ghaybah (bercakap tentang lebah sebagai pihak ketiga). Sebabnya, tujuan menyebut keadaan lebah ialah supaya manusia menjadikannya hujah tentang kekuasaan, hikmah dan baiknya pentadbiran Allah; seolah-olah setelah Allah berbicara kepada lebah, Dia berbicara pula kepada manusia: Kami ilhamkan lebah dengan keajaiban ini supaya keluar daripadanya minuman yang berlainan warnanya.
Renungan: Kisah lebah sebenarnya ditujukan kepada kita; marilah kita membaca setiap ayat tentang alam sebagai pesanan untuk diri kita sendiri.Ar-Rāzī says that the words about a drink coming forth from the bee turn from khiṭāb, speaking to the bee, to ghaybah, speaking of it in the third person. The reason is that these states of the bee are mentioned so that man may take them as proof of Allah’s power, wisdom and fine ordering of things; as if, after speaking to the bee, Allah turned to speak to man: We inspired this bee with these wonders so that a drink of many colours would come forth from it.
Reflection: The account of the bee is really addressed to us; let us read every verse about the natural world as a message for our own selves.
خَلَقَكُمۡ
… menciptakan kamu (dari tiada kepada ada)… created you (from nothing into being) (DiaHe)
يَتَوَفَّىٰكُمۡۚ
… menyempurnakan tempoh umur kamu (maka ada di antara kamu yang disegerakan matinya)… completes the term of your life (so among you there is one whose death is hastened) (DiaHe)
يَعۡلَمَ
menjadilah … ingat (lit. … mengetahui)becomes one who … remember (lit. … know) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Dan Allah yang menciptakan kamu (dari tiada kepada ada); kemudian Ia menyempurnakan tempoh umur kamu; (maka ada di antara kamu yang disegerakan matinya), dan ada pula di antara kamu yang dikembalikan-Nya kepada peringkat umur yang lemah (peringkat tua kebudak-budakan), sehingga menjadilah ia tidak ingat akan sesuatu yang telah diketahuinya; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha KuasaTranslation: And it is Allah Who created you (from nothing into being); then He completes the term of your life (so among you there is one whose death is hastened), and among you also there is one who is returned by Him to the stage of feeble age (the stage of old age that is like childhood), so that he becomes one who does not remember anything that he had known; truly Allah is All-Knowing, All-Powerful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ الرَّذَالَةُ رَذَالَةٌ فِي الصِّحَّةِ لَا تَعَلُّقَ لَهَا بِحَالَةِ النَّفْسِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/211–212 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/211–212 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini berpindah daripada bukti kehalusan ciptaan Allah kepada bukti kekuasaan-Nya mentadbir makhluk: manusia diciptakan tanpa pilihan mereka, lalu dibawa kepada keadaan yang tidak mampu mereka tolak; dengan itu makna ‘ubūdiyyah (kehambaan kepada Allah) terserlah dengan paling jelas. Beliau menegaskan bahawa “peringkat umur yang lemah” itu ialah kelemahan dalam kesihatan, tidak berkaitan dengan keadaan jiwa seseorang.
Renungan: Kelemahan di hari tua ialah kelemahan tubuh, bukan kehinaan diri; marilah kita memuliakan orang tua di sekeliling kita dan menyedari bahawa kita sepenuhnya hamba kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, this verse moves from proofs drawn from the fine detail of Allah’s making to proofs of His overpowering control of His creatures: people are created without any choice of their own and brought to states they cannot push away, and in this the meaning of ‘ubūdiyyah, servanthood to Allah, shows most clearly. He stresses that the feeble stage of life is a weakness of health, unconnected with the state of a person’s soul.
Reflection: Frailty in old age is a weakness of the body, not a disgrace of the self; let us honour the elderly around us and recognise that we are wholly servants of Allah.
رِزۡقِهِمۡ
sebahagian dari kelebihan hartanya (lit. rezeki mereka)part of the excess of their wealth (lit. their provision)
أَفَبِنِعۡمَةِ
maka mengapa … nikmat (lit. adakah maka dengan nikmat)then why … the favour of (lit. is it then with the favour of)
يَجۡحَدُونَ
… tergamak mengingkari … dengan perbuatan syirik… dare to deny … by the act of shirk (merekathey)
Terjemahan: Dan Allah telah melebihkan sebahagian dari kamu atas sebahagian yang lain pada rezeki yang dikurniakan-Nya; dalam pada itu, orang-orang yang diberi kelebihan itu tidak mahu memberikan sebahagian dari kelebihan hartanya kepada hamba-hamba mereka, supaya orang-orang itu dapat sama mempunyai harta. Maka mengapa mereka tergamak mengingkari nikmat Allah itu dengan perbuatan syirikTranslation: And Allah has given some of you an excess over others in the provision He bestows; yet those who have been given that excess are unwilling to give part of the excess of their wealth to their bondservants, so that those people may come to have wealth equally. Then why do they dare to deny the favour of Allah by the act of shirk?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا التَّفَاوُتَ غَيْرُ مُخْتَصٍّ بِالْمَالِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/243–244 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/243–244 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, perbezaan ini tidak terhad kepada harta, bahkan berlaku juga pada kecerdasan, rupa, akal dan kesihatan. Beliau pernah menemani seorang raja yang kaya dalam satu perjalanan; raja itu tidak mampu menunggang tunggangannya atau menjamah makanan lazatnya, sedangkan seorang daripada rombongan mereka sihat dan kuat tetapi tidak cukup makan. Antara huraian ar-Rāzī tentang “mengingkari nikmat Allah itu dengan perbuatan syirik” (beliau menyebut dua wajah (kemungkinan makna)): yang pertama, Allah pemberi segala kebaikan, maka sesiapa yang menjadikan sekutu bagi-Nya telah menyandarkan sebahagian kebaikan itu kepada yang lain.
Renungan: Setiap orang dilebihkan pada sesuatu; marilah kita mensyukuri bahagian kita dan menyandarkan semua nikmat kepada Allah.Ar-Rāzī says that this disparity is not limited to wealth; it is found also in intelligence, looks, understanding and health. He once travelled with a rich king who could neither ride his mounts nor touch his fine food, while one of their company was healthy and strong yet had too little to eat. Among ar-Rāzī’s explanations of denying Allah’s favour through shirk, associating partners with Allah (he gives two wujūh, possible meanings): the first, Allah is the Giver of every good, so whoever sets up a partner beside Him has credited part of that good to another.
Reflection: Each of us is favoured in something; let us be grateful for our share and credit every blessing to Allah.
وَجَعَلَ
dan dijadikan (lit. dan … menjadikan)and … there have been made (lit. and … made) (DiaHe)
وَرَزَقَكُم
serta dikurniakan kepada kamu (lit. dan … mengurniakan rezeki kepada kamu)and there has been bestowed on you (lit. and … provided you) (DiaHe)
أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ
maka patutkah … kepada perkara yang salah (penyembahan berhala)so is it right that … in what is false (the worship of idols)
Terjemahan: Dan Allah menjadikan bagi kamu dari diri kamu sendiri pasangan-pasangan (isteri), dan dijadikan bagi kamu dari pasangan kamu: anak-anak dan cucu-cicit, serta dikurniakan kepada kamu dari benda yang baik lagi halal; maka patutkah mereka (yang ingkar itu) percaya kepada perkara yang salah (penyembahan berhala), dan mereka kufur pula akan nikmat AllahTranslation: And Allah has made mates (wives) for you from your own selves, and from your mates there have been made for you children and grandchildren, and there has been bestowed on you of things that are good and lawful; so is it right that they (who deny) believe in what is false (the worship of idols), and that they disbelieve in the favour of Allah?
Nota nahu: وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ (ayat 72).Grammar note: وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ (verse 72).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأُطْلِقَ عَلَى ابْنِ الِابْنِ لِأَنَّهُ يَكْثُرُ أَنْ يَخْدِمَ جَدَّهُ لِضَعْفِ الْجَدِّ بِسَبَبِ الْكِبَرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/217–219 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/217–219 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah bukti keindahan ciptaan Allah: keturunan dijadikan seiring dengan kemesraan antara suami isteri. Perkataan ḥafadah (cucu) asalnya bermaksud orang yang segera berkhidmat; ia digunakan bagi cucu kerana cucu sering berkhidmat kepada datuknya yang lemah kerana usia tua, dan kehadiran “cucu-cicit” menambah kegembiraan sesebuah keluarga.
Renungan: Anak cucu ialah nikmat yang menggembirakan; marilah kita menghargai mereka dan mendidik mereka supaya berkhidmat kepada orang tua dengan penuh kasih.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is a proof of the beauty of Allah’s making: offspring are made to come together with the closeness between husband and wife. The word ḥafadah, grandchildren, at root means those who hurry to serve; it is used for grandchildren because they so often serve a grandfather weakened by old age, and grandchildren add to the happiness of a family.
Reflection: Children and grandchildren are a joyful blessing; let us value them and raise them to serve their elders with love.
يَمۡلِكُ
berkuasa memberikan (lit. memiliki)have power to give (lit. own) (ia (benda‑benda itu)it (those things))
يَسۡتَطِيعُونَ
berdaya sama sekali mendapat kuasa ituable at all to obtain that power (mereka (benda‑benda itu)they (those things))
Terjemahan: Dan mereka menyembah benda-benda yang lain dari Allah, yang tidak berkuasa memberikan mereka sebarang rezeki pemberian dari langit dan bumi, dan mereka pula tidak berdaya sama sekali mendapat kuasa ituTranslation: And they worship things other than Allah, which do not have power to give them any provision bestowed from the heavens and the earth; and they, for their part, are not able at all to obtain that power.
Nota nahu: pelaku (fā‘il) يَمْلِكُ dan يَسْتَطِيعُونَ (ayat 73).Grammar note: the doer (fā‘il) of يَمْلِكُ and يَسْتَطِيعُونَ (verse 73).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ الْعِبَادَةَ شُكْرٌ، فَهُمْ عَبَدُوا مَا لَا يَسْتَحِقُّ الْعِبَادَةَ وَلَا بِيَدِهِ نِعْمَةٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/221 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/221 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menambah teguran: ibadah itu sendiri ialah satu bentuk syukur, sedangkan mereka menyembah sesuatu yang tidak layak disembah dan tiada nikmat di tangannya. Benda-benda itu “tidak berkuasa memberikan mereka sebarang rezeki pemberian dari langit dan bumi” kerana ia sendiri berhajat, dan tidak mampu memberi rezeki kerana ia lemah.
Renungan: Ibadah ialah tanda terima kasih; marilah kita menujukan syukur dan ibadah kita hanya kepada Allah, Pemberi segala rezeki.According to Ibn ‘Āshūr, this verse adds to the rebuke: worship is itself a form of thanks, yet they worship what does not deserve worship and holds no favour in its hand. Those things cannot own any provision to give because they are themselves in need, and cannot provide for anyone because they are powerless.
Reflection: Worship is a sign of gratitude; let us direct our thanks and our worship to Allah alone, the Giver of all provision.
ٱلۡأَمۡثَالَۚ
sesuatu yang sebanding (lit. perumpamaan-perumpamaan)anything as comparable (lit. likenesses)
يَعۡلَمُ
… mengetahui (setakat mana buruknya perbuatan syirik kamu)… knows (how far the evil of your shirk goes) (DiaHe)
Terjemahan: Oleh itu, janganlah kamu mengadakan sesuatu yang sebanding dengan Allah, kerana sesungguhnya Allah mengetahui (setakat mana buruknya perbuatan syirik kamu) sedang kamu tidak mengetahuinyaTranslation: So do not set up anything as comparable to Allah, for truly Allah knows (how far the evil of your shirk goes), while you do not know it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اتْرُكُوا عِبَادَةَ هَذِهِ الْأَصْنَامِ وَالْكَوَاكِبِ وَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ الَّتِي ذَكَرْتُمُوهَا وَكُونُوا مُخْلِصِينَ فِي عِبَادَةِ الْإِلَهِ الْحَكِيمِ الْقَدِيرِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/246 · Shamela ↗ (huraian ayat 73–74)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/246 · Shamela ↗ (commentary on 73–74)
Antara huraian ar-Rāzī tentang larangan “janganlah kamu mengadakan sesuatu yang sebanding dengan Allah” (beliau menyebut tiga wajah (kemungkinan makna)): yang kedua, beliau menukil al-Zajjāj: jangan jadikan bagi Allah sesuatu yang serupa, kerana Dia Esa, tiada yang menyamai-Nya; yang ketiga, kemungkinan yang beliau kemukakan sendiri: para penyembah berhala berkata Tuhan terlalu agung untuk disembah terus oleh mereka, lalu mereka menyembah bintang dan berhala sebagai hamba-Nya, seperti orang kecil berkhidmat kepada pembesar istana raja; maka Allah menyuruh mereka meninggalkan perbandingan itu dan mengikhlaskan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Berkuasa.
Renungan: Allah tidak boleh diukur dengan raja dunia; marilah kita beribadah kepada-Nya secara langsung dengan ikhlas.Among ar-Rāzī’s explanations of the command against making anything equal to Allah (he gives three wujūh, possible meanings): the second, which he reports from al-Zajjāj: do not make any likeness for Allah, for He is One and nothing is like Him; the third, a possibility he puts forward himself: the idol-worshippers claimed that God was too great for them to worship directly, so they worshipped stars and idols as His servants, just as common people serve the great men of a king’s court; so Allah told them to drop such comparisons and to be sincere in worshipping the All-Wise, All-Powerful God.
Reflection: Allah is not to be measured by the kings of this world; let us worship Him directly and sincerely.
يَسۡتَوُۥنَۚ
kedua orang itu sama (lit. … bersamaan)the two of them equal (lit. … are equal) (merekathey)
لِلَّهِۚ
bagi Allah (dan Allah jualah yang berhak disembah)belongs to Allah (and Allah alone is the One deserving of worship)
Terjemahan: Allah memberikan satu misal perbandingan: Seorang hamba abdi yang menjadi milik orang, yang tidak berkuasa melakukan dengan bebasnya sesuatupun; dan seorang lagi (yang merdeka) yang Kami kurniakan kepadanya pemberian yang baik (harta kekayaan) dari Kami, maka dia pun membelanjakan hartanya dengan bebasnya, sama ada secara bersembunyi atau terbuka, adakah kedua orang itu sama? Segala puji tertentu bagi Allah (dan Allah jualah yang berhak disembah), tetapi kebanyakan mereka (yang musyrik) tidak mengetahui (hakikat tauhid itu)Translation: Allah has put forward a comparison: a slave owned by someone, who has no power to do anything freely; and another (who is free), to whom We have granted a good provision (wealth) from Us, so he spends from his wealth freely, whether in secret or openly. Are the two of them equal? All praise belongs to Allah (and Allah alone is the One deserving of worship); yet most of them (the people of shirk) do not know (the reality of that tawhid).
Nota nahu: هَلْ يَسْتَوُۥنَ (ayat 75).Grammar note: هَلْ يَسْتَوُۥنَ (verse 75).
Nota bahasa: لِلَّهِ (ayat 75).Language note: لِلَّهِ (verse 75).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ الْقَوْلَ الْأَوَّلَ أَقْرَبُ، لِأَنَّ مَا قَبْلَ هَذِهِ الْآيَةِ وَمَا بَعْدَهَا إِنَّمَا وَرَدَ فِي إِثْبَاتِ التَّوْحِيدِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/246–247 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/246–247 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī tentang perumpamaan ini (beliau menyebut dua pandangan): yang pertama, jika seorang hamba yang tidak berkuasa apa-apa dan seorang merdeka yang kaya lagi banyak berbelanja secara bersembunyi dan terbuka tidak boleh disamakan dalam penghormatan, sedangkan kedua-duanya sama-sama manusia, maka bagaimana orang berakal boleh menyamakan Allah Yang Maha Kuasa memberi rezeki dengan berhala yang tidak memiliki dan tidak berkuasa apa-apa. Beliau menganggap pandangan pertama ini lebih dekat, kerana ayat-ayat sebelum dan sesudahnya membicarakan tauhid (keesaan Allah).
Renungan: Perbandingan yang mudah ini membuka mata hati; marilah kita meneguhkan tauhid kita dan tidak menyamakan apa pun dengan Allah.Among ar-Rāzī’s explanations of this parable (he gives two views): the first, if a slave with no power over anything and a free man, rich and spending generously both in secret and in the open, cannot be held equal in honour, though both are equally human, how can anyone with sense make Allah, Who is able to provide, equal to idols that own nothing and can do nothing at all? He considers this first view the nearer one, since the verses before and after it are about establishing tawḥīd, the Oneness of Allah.
Reflection: This simple comparison opens the eye of the heart; let us make our tawḥīd firm and never treat anything as equal to Allah.
يَقۡدِرُ
menyatakan apa yang difikirkannya dan tidak dapat mendengar apa yang dikatakan kepadanya (lit. berkuasa)to express what he thinks and unable to hear what is said to him (lit. has power) (dia (yang kelu itu)he (the mute one))
يُوَجِّههُّ
ia diarahkan pergi oleh (lit. … mengarahkannya)he is sent by (lit. … directs him) (dia (penjaganya)he (his guardian))
وَمَن
seperti orang (yang boleh berkata-kata serta dapat) (lit. dan sesiapa yang)to one (who can speak and is able to) (lit. and whoever)
Terjemahan: Dan Allah memberikan satu misal perbandingan lagi: Dua orang lelaki, salah seorangnya kelu pekak dari semulajadinya, tidak dapat menyatakan apa yang difikirkannya dan tidak dapat mendengar apa yang dikatakan kepadanya; dan ia pula menjadi beban kepada orang yang menjaganya; ke mana sahaja ia diarahkan pergi oleh penjaganya, tak dapatlah dia membawa sesuatu yang berfaedah; adakah dia (yang demikian sifatnya) sama seperti orang (yang boleh berkata-kata serta dapat) menyuruh orang ramai melakukan keadilan, dan ia sendiri pula berada di atas jalan yang lurus (jalan yang benar)Translation: And Allah has put forward another comparison: two men, one of whom is mute and deaf by nature, unable to express what he thinks and unable to hear what is said to him, and he is also a burden to the one who looks after him; wherever he is sent by his guardian, he cannot bring anything of benefit. Is he (of such a nature) equal to one (who can speak and is able to) tell people to act with justice, and he himself is also on a path that is straight (the path of truth)?
Nota nahu: أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ (ayat 76).Grammar note: أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ (verse 76).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَدَلَّتْ صِلَةُ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ عَلَى أَنَّهُ حَكِيمٌ عَالِمٌ بِالْحَقَائِقِ نَاصِحٌ لِلنَّاسِ يَأْمُرُهُمْ بِالْعَدْلِ لِأَنَّهُ لَا يَأْمُرُ بِذَلِكَ إِلَّا وَقَدْ عَلِمَهُ وَتَبَصَّرَ فِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/227–228 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 14/227–228 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ini perumpamaan kedua: al-abkam (orang yang kelu) ialah orang yang bisu sejak lahir sehingga dia tidak memahami dan tidak dapat memahamkan; dia menjadi tanggungan kepada penjaganya dan tidak berjaya dalam apa jua tugas yang diberikan. Sebaliknya, orang yang “menyuruh orang ramai melakukan keadilan” itu tentu seorang yang bijaksana, mengetahui hakikat dan menasihati manusia, kerana dia tidak menyuruh berbuat adil melainkan setelah mengetahuinya dan memahaminya dengan teliti; dan jalan yang lurus itu ialah amal yang soleh.
Renungan: Sebelum mengajak orang lain kepada keadilan, marilah kita memahaminya dengan teliti dan menempuh jalan yang lurus itu sendiri.According to Ibn ‘Āshūr, this is a second parable: al-abkam is one mute from birth, so that he neither understands nor can make himself understood; he is a burden on his guardian and fails at every task he is given. In contrast, the one who calls people to justice must be wise, aware of the true nature of things and sincere towards people, since he would only call to justice after knowing it and examining it with insight; and the straight path here means righteous deeds.
Reflection: Before calling others to justice, let us understand it carefully and walk that straight path ourselves.