Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu taatkan orang-orang yang kafir nescaya mereka akan menolak kamu kembali kepada kekufuran, lalu menjadilah kamu orang-orang yang rugiTranslation: O you who believe! If you obey those who disbelieve, they will push you back (on your heels) to disbelief, and so you will end up among those who suffer loss.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّفْظَ لَمَّا كَانَ عَامًّا وَجَبَ أَنْ يَدْخُلَ فِيهِ خُسْرَانُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/383 · Shamela ↗ (huraian ayat 149–150)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/383 · Shamela ↗ (commentary on 149–150)
Kata ar-Rāzī, kerana lafaz “lalu menjadilah kamu orang-orang yang rugi” itu umum, ia merangkumi kerugian dunia dan akhirat. Kerugian dunia ialah tunduk dan merendah diri kepada musuh serta menampakkan keperluan kepadanya, perkara paling berat bagi orang yang berakal; kerugian akhirat pula ialah terhalang daripada pahala yang kekal dan terjerumus ke dalam azab yang kekal.
Renungan: Sebelum menurut kata sesiapa, marilah kita bertanya: adakah ia mendekatkan kita kepada Allah, atau menjauhkan kita daripada-Nya?Al-Rāzī says that because the wording about turning back as losers is general, it covers loss in this world and in the Hereafter. Loss in this world is to submit and humble oneself to an enemy and show one’s need of him, the hardest thing for people of sound mind; loss in the Hereafter is to be denied lasting reward and to fall into lasting punishment.
Reflection: Before following anyone’s word, let us ask ourselves: does it bring us closer to Allah, or take us away from Him?
Terjemahan: (Janganlah kamu taatkan mereka!) Bahkan (taatlah kepada) Allah Pelindung kamu, dan Dialah sebaik-baik PenolongTranslation: (Do not obey them!) Rather, (obey) Allah, your Protector; and He is the best of those who give help.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالنَّصْرُ يُقْصَدُ مِنْهُ دَفْعُ الْغَلَبِ عَنِ الْمَغْلُوبِ، فَمَتَى كَانَ الدَّفْعُ أَقْطَعَ لِلْغَالِبِ كَانَ النَّصْرُ أَفْضَلَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/122 · Shamela ↗ (huraian ayat 149–150)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/122 · Shamela ↗ (commentary on 149–150)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “sebaik-baik Penolong” bermaksud yang paling utama dalam sifat menolong: pada tujuannya, kedudukannya dan faedahnya. Pertolongan bertujuan mengangkat kekalahan daripada pihak yang sedang ditewaskan; semakin tuntas ia mematahkan pihak yang menguasai, semakin utama pertolongan itu. Pertolongan juga bertujuan menolak kezaliman.
Renungan: Pertolongan manusia ada hadnya; marilah kita jadikan Allah tempat bergantung yang pertama, kerana Dialah Pelindung kita.According to Ibn ‘Āshūr, the best of helpers means the most excellent in the quality of helping: in its aim, its place and its benefit. Help aims to lift defeat from the one being overpowered; the more decisively it breaks the one who prevails, the better the help. Help also aims to repel injustice.
Reflection: People’s help has its limits; let us make Allah the first One we rely on, for He is our Protector.
وَمَأۡوَىٰهُمُ
dan (dengan yang demikian) tempat kembali merekaand (accordingly) their place of return
وَبِئۡسَ
dan itulah seburuk-burukand that is the worst (tempat tinggal mathwathe dwelling mathwā)
Terjemahan: Kami akan isikan hati orang-orang kafir itu dengan perasaan gerun, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan benda-benda (yang mereka sembah) yang Allah tidak menurunkan sebarang keterangan yang membenarkannya. Dan (dengan yang demikian) tempat kembali mereka ialah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang zalimTranslation: We will fill the hearts of those who disbelieve with dread, because they associated with Allah things (that they worship) for which Allah has not sent down any proof to justify them. And (accordingly) their place of return is the Fire (Hell); and that is the worst dwelling for those who do wrong.
Nota nahu: بِمَآ أَشْرَكُوا۟ بِٱللَّهِ (ayat 151).Grammar note: بِمَآ أَشْرَكُوا۟ بِٱللَّهِ (verse 151).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِذَا لَمْ يَحْصُلْ ذَلِكَ وَجَبَ أَنْ يَحْصُلَ الرُّعْبُ وَالْخَوْفُ فِي قَلْبِهِ، فَثَبَتَ أَنَّ الْإِشْرَاكَ بِاللَّهِ يُوجِبُ الرُّعْبَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/385 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/385 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, doa berada di tempat yang dimakbulkan ketika seseorang benar-benar terdesak (iḍṭirār). Orang yang meyakini Allah ada sekutu tidak merasa terdesak, kerana dia berkata: jika sembahan ini tidak menolongku, yang lain akan menolongku. Tanpa rasa terdesak itu, tiada perkenan dan tiada pertolongan, lalu timbullah rasa gerun dalam hatinya; maka syirik (menyekutukan Allah) membawa rasa gerun.
Renungan: Hati yang bergantung kepada Allah sahaja lebih tenang; marilah kita tumpukan harapan kepada-Nya.Al-Rāzī says a prayer reaches the point of being answered when a person is truly in need (iḍṭirār). One who believes Allah has a partner does not feel that need, for he says: if this deity does not help me, that other one will. Without that sense of need there is no answer and no help, so fear takes hold of his heart; thus associating partners with Allah brings fear.
Reflection: A heart that relies on Allah alone is calmer; let us place all our hope in Him.
تَحُسُّونَهُم
… (berjaya) membunuh mereka (beramai-ramai)… were (successfully) slaying them (in great numbers) (kamu sekalianyou all)
فَشِلۡتُمۡ
… lemah (hilang semangat untuk meneruskan perjuangan)… grew weak (losing the spirit to carry on the struggle) (kamu sekalianyou all)
وَعَصَيۡتُم
serta … pula menderhaka (melanggar perintah Rasulullah)and … then disobeyed (breaking the command of the Messenger of Allah) (kamu sekalianyou all)
تُحِبُّونَۚ
… sukai (kemenangan dan harta rampasan perang)… love (victory and the spoils of war) (kamu sekalianyou all)
لِيَبۡتَلِيَكُمۡۖ
untuk … menguji (iman dan kesabaran) kamuto test (the faith and patience of) you (DiaHe)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya, Allah telah menepati janji-Nya (memberikan pertolongan) kepada kamu ketika kamu (berjaya) membunuh mereka (beramai-ramai) dengan izin-Nya, sehingga ke masa kamu lemah (hilang semangat untuk meneruskan perjuangan) dan kamu berbalah dalam urusan (perang) itu, serta kamu pula menderhaka (melanggar perintah Rasulullah) sesudah Allah perlihatkan kepada kamu akan apa yang kamu sukai (kemenangan dan harta rampasan perang). Di antara kamu ada yang menghendaki keuntungan dunia semata-mata, dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat, kemudian Allah memalingkan kamu daripada menewaskan mereka untuk menguji (iman dan kesabaran) kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu, (semata-mata dengan limpah kurnia-Nya). Dan (ingatlah), Allah sentiasa melimpahkan kurnia-Nya kepada orang-orang yang berimanTranslation: And indeed Allah fulfilled to you His promise (of help) when you were (successfully) slaying them (in great numbers) by His permission, up to the time when you grew weak (losing the spirit to carry on the struggle), and you disputed about the matter (of the battle), and you then disobeyed (breaking the command of the Messenger of Allah) after Allah had shown you what you love (victory and the spoils of war). Of you there were those who wanted the gains of this world only, and of you there were those who wanted the Hereafter. Then Allah turned you away from overcoming them, to test (your faith and patience); and indeed Allah has pardoned you (purely out of His abundant grace). And (remember), Allah ever bestows His bounty upon the believers.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَعَقَّبَ هَذَا الْمَلَامَ بِقَوْلِهِ: وَلَقَدْ عَفا عَنْكُمْ تَسْكِينًا لِخَوَاطِرِهِمْ، وَفِي ذَلِكَ تَلَطُّفٌ مَعَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/130 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/130 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, teguran dalam ayat ini diiringi dengan “dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu” untuk menenangkan hati mereka, sebagai kelembutan Allah terhadap mereka. Kemaafan yang segera diberitahu itu juga menunjukkan kebenaran iman mereka, supaya jiwa mereka tidak gelisah kerana takut akan kemurkaan Allah; penutup ayat tentang kurnia Allah kepada orang-orang yang beriman pula menguatkan kemaafan itu.
Renungan: Apabila kita tersilap, janganlah berputus asa; Allah memaafkan hamba-Nya yang beriman.According to Ibn ‘Āshūr, the reproach in this verse is followed by Allah’s word that He has pardoned them, to set their hearts at rest, as a gentleness from Allah towards them. Making the pardon known so quickly also shows the truth of their faith, so that their souls would not be shaken by fear of Allah’s anger; the closing words on Allah’s bounty to the believers confirm that pardon.
Reflection: When we err, let us not despair; Allah pardons His believing servants.
وَٱلرَّسُولُ
sedang Rasulullah (yang masih berjuang dengan gagahnya)while the Messenger of Allah (still fighting bravely)
أُخۡرَىٰكُمۡ
kumpulan yang tinggal di belakang kamu (untuk berjuang terus tetapi kamu tidak mematuhinya)the group left behind you (to keep on fighting, but you did not heed him)
بِغَمّٖ
dengan sebab perbuatan (kamu menderhaka) yang mendukacitakan (Rasulullah) itubecause of the deed (of your disobedience) that distressed (the Messenger of Allah)
Terjemahan: (Ingatlah) ketika kamu berundur lari dan tidak menoleh kepada sesiapa pun, sedang Rasulullah (yang masih berjuang dengan gagahnya) memanggil kamu dari kumpulan yang tinggal di belakang kamu (untuk berjuang terus tetapi kamu tidak mematuhinya). Oleh sebab itu Allah membalas kamu (dengan peristiwa) yang mendukacitakan (kekalahan), dengan sebab perbuatan (kamu menderhaka) yang mendukacitakan (Rasulullah) itu, supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput dari kamu, dan tidak (pula bersedih) akan apa yang menimpa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukanTranslation: (Remember) when you were retreating in flight and did not turn to look at anyone, while the Messenger of Allah (still fighting bravely) was calling you from the group left behind you (to keep on fighting, but you did not heed him). So Allah repaid you (with an event) of distress (defeat) because of the deed (of your disobedience) that distressed (the Messenger of Allah), so that you would not grieve over what had slipped away from you, nor (grieve) over what befell you. And (remember), Allah is All-Aware, in depth, of whatever you do.
Nota nahu: وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ (ayat 153).Grammar note: وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ (verse 153).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ لِكَيْلَا تَحْزَنُوا، لِأَنَّ فِي عَفْوِهِ تَعَالَى مَا يُزِيلُ كُلَّ غَمٍّ وَحُزْنٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/392 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/392 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī, ungkapan “supaya kamu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput dari kamu” dihubungkan dengan kemaafan Allah dalam ayat sebelumnya, seolah-olah maksudnya: Allah telah memaafkan kamu supaya kamu tidak bersedih, kerana dalam kemaafan-Nya ada sesuatu yang menghilangkan setiap duka dan kesedihan.
Renungan: Apa pun yang luput daripada kita, kemaafan Allah lebih besar daripadanya; marilah kita memohon keampunan-Nya, nescaya hati menjadi lapang.One of al-Rāzī’s explanations is that the words about not grieving over what slipped away are linked to Allah’s pardon in the previous verse, as though it said: Allah has pardoned you so that you would not grieve, for in His pardon there is what removes every sorrow and grief.
Reflection: Whatever we have missed, Allah’s pardon is greater than it; let us seek His forgiveness, and our hearts will find relief.
أَهَمَّتۡهُمۡ
menjadi kerisauan merekawere preoccupied with (diri mereka sendiri anfusuhumtheir own selves anfusuhum)
أَنفُسُهُمۡ
diri mereka sendiri (mementingkan diri sendiri)their own selves (caring only for themselves)
ٱلۡجَٰهِلِيَّةِۖ
orang-orang jahiliyah (zaman kejahilan)the people of jahiliyyah (the age of ignorance)
وَلِيَبۡتَلِيَ
dan (apa yang berlaku di medan perang Uhud itu dijadikan) untuk mengujiand (what happened on the battlefield of Uhud was made) so that … would test (AllahAllah)
Terjemahan: Kemudian sesudah (kamu mengalami kejadian) yang mendukacitakan itu, Allah menurunkan kepada kamu perasaan aman tenteram, iaitu rasa mengantuk yang meliputi segolongan dari kamu (yang teguh imannya lagi ikhlas), sedang segolongan yang lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti sangkaan orang-orang jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bahagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya tertentu bagi Allah, (Dialah sahaja yang berkuasa melakukannya menurut peraturan yang ditetapkan-Nya)". Mereka sembunyikan dalam hati mereka apa yang mereka tidak nyatakan kepadamu. Mereka berkata (sesama sendiri): "Kalaulah ada sedikit bahagian kita dari pertolongan yang dijanjikan itu, tentulah (orang-orang) kita tidak terbunuh di tempat ini?" Katakanlah (wahai Muhammad): "Kalau kamu berada di rumah kamu sekalipun nescaya keluarlah juga orang-orang yang telah ditakdirkan (oleh Allah) akan terbunuh itu ke tempat mati masing-masing". Dan (apa yang berlaku di medan perang Uhud itu) dijadikan oleh Allah untuk menguji apa yang ada dalam dada kamu, dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kamu. Dan (ingatlah), Allah sentiasa mengetahui akan segala (isi hati) yang ada di dalam dadaTranslation: Then, after (you went through) that distress, Allah sent down upon you a feeling of calm security, namely a drowsiness which overcame a group of you (firm in faith and sincere), while another group, preoccupied only with their own selves, were thinking of Allah what is not true, like the thinking of the people of jahiliyyah (the age of ignorance). They said: “Is there for us any share of that (promised help of victory)?” Say (O Muhammad): “Truly the matter (that was promised) is, all of it, for Allah alone (He alone has the power to bring it about, according to the order He has set).” They conceal within their hearts what they do not disclose to you. They said (among themselves): “If we had some share of that (promised help), (our people) would surely not have been killed here.” Say (O Muhammad): “Even had you been in your own houses, those for whom killing had been decreed (by Allah) would still have gone out to their places of death.” And (what happened on the battlefield of Uhud was made) so that Allah would test what lies in your breasts, and to cleanse what lies in your hearts. And (remember), Allah ever knows all (that the hearts hold) within the breasts.
Nota bahasa: لِلَّهِ (ayat 154).Language note: لِلَّهِ (verse 154).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدِ اسْتَجَدُّوا بِذَلِكَ نَشَاطَهُمْ، وَنَسُوا حُزْنَهُمْ، لِأَنَّ الْحُزْنَ تَبْتَدِئُ خِفَّتُهُ بَعْدَ أَوَّلِ نَوْمَةٍ تُعْفِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/133 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/133 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, nu‘ās (rasa mengantuk) ialah tidur ringan yang menghilangkan penat tanpa menghilangkan kesedaran, maka ia menjadi “perasaan aman tenteram”. Dengannya mereka memperoleh semula semangat dan melupakan kesedihan, kerana kesedihan mula reda selepas tidur yang pertama. Ia disebut “menurunkan” kerana ditentukan Allah dengan hikmah yang khusus, seperti sakinah (ketenangan) yang turun.
Renungan: Ketenangan ialah kurnia Allah; ketika diuji, marilah kita memohon agar Dia menurunkan ketenangan ke dalam hati kita.According to Ibn ‘Āshūr, nu‘ās (drowsiness) is light sleep that removes tiredness without taking away awareness, so it became a sense of safety and calm. Through it they regained their energy and forgot their grief, for grief begins to ease after the first sleep. It is described as sent down because Allah decreed it for a special wisdom, like sakīnah (tranquillity) that comes down.
Reflection: Calm is a gift from Allah; when we are tested, let us ask Him to send tranquillity down into our hearts.
ٱلۡجَمۡعَانِ
dua angkatan tentera (Islam dan kafir dalam perang Uhud) ituthe two armies (of Islam and of disbelief, in the Battle of Uhud)
ٱسۡتَزَلَّهُمُ
telah menggelincirkan merekathat made them slip (Syaitan asy‑syaitanuSatan ash‑shayṭānu)
Terjemahan: Bahawasanya orang-orang yang telah berpaling (melarikan diri) di antara kamu pada hari bertemu dua angkatan tentera (Islam dan kafir dalam perang Uhud) itu, sesungguhnya mereka telah digelincirkan oleh Syaitan dengan sebab sebahagian dari perbuatan-perbuatan (yang salah) yang mereka telah lakukan (pada masa yang lalu); dan demi sesungguhnya Allah telah memaafkan mereka, kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha PenyabarTranslation: Truly, those among you who turned away (in flight) on the day the two armies (of Islam and of disbelief, in the Battle of Uhud) met — it was only Satan that made them slip, because of some of (the wrong deeds) that they had done (in the past). And indeed Allah has pardoned them; for truly Allah is Most Forgiving, Most Forbearing.
Nota nahu: بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا۟ (ayat 155).Grammar note: بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا۟ (verse 155).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ تَعَالَى لَمْ يُبَيِّنْ أَنَّ الشَّيْطَانَ فِي أَيِّ شَيْءٍ اسْتَزَلَّهُمْ، وَذَلِكَ لِأَنَّ مَعَ الْعَفْوِ لَا حَاجَةَ إِلَى تَعْيِينِ الْمَعْصِيَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/398 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/398 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, Allah tidak menerangkan dalam perkara apa Syaitan menggelincirkan mereka, kerana apabila sudah ada kemaafan, tidak perlu lagi kesalahan itu disebut satu per satu. Apa pun bentuknya, telah sah bahawa Allah memaafkan mereka: “dan demi sesungguhnya Allah telah memaafkan mereka”.
Renungan: Jika Allah sendiri tidak mengungkit kesalahan yang telah dimaafkan-Nya, lebih patut kita tidak mengungkit kesilapan orang lain; marilah kita sibuk memperbaiki diri sendiri.Al-Rāzī says Allah did not make clear in what matter Satan made them slip, because once there is pardon there is no need to name the wrongdoing one by one. Whatever it was, it is established that Allah pardoned them, as the verse states.
Reflection: If Allah Himself does not bring up a fault He has pardoned, we have even more reason not to bring up the slips of others; let us busy ourselves with mending our own selves.
لِيَجۡعَلَ
(apa yang mereka katakan itu tidak ada faedahnya) bahkan akibatnya … menjadikan(what they say is of no benefit;) rather, the result is that … makes (AllahAllah)
ذَٰلِكَ
(kesan perkataan dan kepercayaan mereka) yang demikian ituthat (effect of their words and belief)
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) yang telah kufur dan berkata kepada saudara-saudaranya apabila mereka pergi mengembara di muka bumi untuk berniaga, atau keluar berperang (lalu mati atau terbunuh): "Kalau mereka tinggal bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh". (Apa yang mereka katakan itu tidak ada faedahnya) bahkan akibatnya Allah menjadikan (kesan perkataan dan kepercayaan mereka) yang demikian itu: penyesalan dalam hati mereka. Dan (ingatlah), Allah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Allah sentiasa melihat akan segala yang kamu lakukanTranslation: O you who believe! Do not be like those (hypocrites) who have disbelieved and said to their brothers, when they travelled in the land (to trade) or went out to fight (and then died or were killed): “Had they stayed with us, they would surely not have died nor been killed.” (What they say is of no benefit;) rather, the result is that Allah makes that (effect of their words and belief) a regret in their hearts. And (remember), Allah is the One Who gives life and causes death, and Allah ever sees all that you do.
Nota nahu: كَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ … وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (ayat 156).Grammar note: كَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ … وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (verse 156).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُؤْمِنُ يَبْذُلُ جُهْدَهُ فَإِذَا خَابَ سَلَّمَ لِحُكْمِ الْقَدَرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/142 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/142 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata “Kalau mereka tinggal bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak terbunuh” menjadi ḥasrah (penyesalan yang amat sangat) dalam hati mereka, kerana mereka menyangka musibah itu berpunca daripada sikap kurang berhati-hati, lalu terus meratapi apa yang luput. Orang beriman pula berusaha sedaya upaya, dan jika tidak berjaya, dia berserah kepada ketentuan takdir.
Renungan: Selepas berusaha, marilah kita redha dengan takdir Allah dan tidak menyeksa diri dengan perkataan kalaulah.According to Ibn ‘Āshūr, the claim that, had their brothers stayed with them, they would have been spared from dying and from being killed became ḥasrah (bitter regret) in their hearts, because they imagined the calamity came from a lack of caution, so they kept grieving over what was lost. The believer, however, does his utmost, and if he does not succeed, he submits to what has been decreed.
Reflection: After striving, let us accept Allah’s decree and not torment ourselves with the words if only.
مُتُّمۡ
… mati (mati biasa – semasa mengerjakan kebajikan umum)… die (an ordinary death, while doing works of public good) (kamu sekalianyou all)
يَجۡمَعُونَ
(orang-orang kafir dan munafik) itu … himpunkan (meliputi segala jenis kesenangan hidup)(the disbelievers and hypocrites) … gather (of every kind of worldly comfort) (merekathey)
Terjemahan: Demi sesungguhnya! Jika kamu terbunuh pada jalan Allah (dalam perang Sabil), atau kamu mati (mati biasa - semasa mengerjakan kebajikan umum), sesungguhnya keampunan dari Allah dan rahmat-Nya adalah lebih baik (bagi kamu) dari apa yang mereka (orang-orang kafir dan munafik) itu himpunkan (meliputi segala jenis kesenangan hidup)Translation: And indeed, if you are killed in the way of Allah (in battle in His way) or you die (an ordinary death, while doing works of public good), surely forgiveness from Allah and His mercy are better (for you) than what they (the disbelievers and hypocrites) gather (of every kind of worldly comfort).
Nota nahu: خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (ayat 157).Grammar note: خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (verse 157).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَجَعَلَ الْمَوْتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَوْتَ فِي غَيْرِ سَبِيلِ اللَّهِ، إِذَا أَعْقَبَتْهُمَا الْمَغْفِرَةُ خَيْرًا مِنَ الْحَيَاةِ وَمَا يَجْمَعُونَ فِيهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/143 · Shamela ↗ (huraian ayat 157–158)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/143 · Shamela ↗ (commentary on 157–158)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini membawa galakan dan amaran: mati di jalan Allah dan mati bukan di jalan Allah, apabila diiringi keampunan, dijadikan lebih baik daripada hidup dan segala yang dihimpunkan di dalamnya. Mati dan terbunuh di jalan Allah pula dijadikan jalan menuju perhimpunan dan hisab, maka hendaklah setiap orang tahu dengan bekal apa dia akan bertemu Tuhannya.
Renungan: Yang paling penting ialah kita pulang dengan keampunan Allah; marilah kita siapkan bekal amal dari sekarang.According to Ibn ‘Āshūr, this verse carries encouragement and warning: death in Allah’s path and death outside it, when followed by forgiveness, are made better than life and all that is gathered in it. Death and being killed in Allah’s path are also made a way to the gathering and the reckoning, so let each person know with what he will meet his Lord.
Reflection: What matters most is that we return with Allah’s forgiveness; let us prepare our provision of deeds from now.
تُحۡشَرُونَ
… akan dihimpunkan (untuk menerima balasan)… will be gathered (to receive recompense) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Demi sesungguhnya! Jika kamu mati atau terbunuh, sudah tentu kepada Allah jualah kamu akan dihimpunkan (untuk menerima balasan)Translation: And indeed, if you die or are killed, surely it is to Allah alone that you will be gathered (to receive recompense).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا حَاكِمَ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَا ضَارَّ وَلَا نَافِعَ إِلَّا هُوَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/404 · Shamela ↗ (huraian ayat 156–158)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/404 · Shamela ↗ (commentary on 156–158)
Antara huraian ar-Rāzī, dalam “kepada Allah jualah kamu akan dihimpunkan” nama Allah didahulukan, dan susunan ini memberi makna pengkhususan (ḥaṣr): seluruh alam dihimpunkan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Ini menunjukkan bahawa pada hari itu tiada yang menghakimi, tiada yang memberi mudarat dan tiada yang memberi manfaat melainkan Dia.
Renungan: Sama ada kita mati atau terbunuh, kita pasti kembali kepada-Nya; marilah kita hidup dengan menjaga hubungan kita dengan Allah.One of al-Rāzī’s explanations is that in the words that it is to Allah that you will be gathered, Allah’s name comes first, and this order gives the sense of restriction (ḥaṣr): all the worlds are gathered to Allah and to no one else. This shows that on that Day there is no judge, no one who harms and no one who benefits except Him.
Reflection: Whether we die or are killed, we will surely return to Him; let us live guarding our bond with Allah.
عَنۡهُمۡ
mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu)them (for the wrongs they did to you)
عَزَمۡتَ
… telah berazam (sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu)… have resolved (after consulting, to do something) (engkauyou)
ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
orang-orang yang bertawakal (berserah diri) kepada-Nyathose who put their trust (in Him)
Terjemahan: Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan hal-hal keduniaan) itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (sesudah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepada-NyaTranslation: So it is by an (abundant) mercy from Allah (to you, O Muhammad) that you have been gentle with them (your Companions and followers); and had you been rough in manner and hard of heart, they would surely have fled from around you. So pardon them (for the wrongs they did to you), ask forgiveness for them, and also consult them in the affair (of war and worldly matters). Then when you have resolved (after consulting, to do something), put your trust in Allah; truly Allah loves those who put their trust in Him.
Nota nahu: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ (ayat 159).Grammar note: فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ (verse 159).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَانَ الْمَعْنَى: وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ بِرَحْمَتِهِ فَلَانَ لَهُمُ الرَّسُولُ بِإِذْنِ اللَّهِ وَتَكْوِينِهِ إِيَّاهُ رَاحِمًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/144 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/144 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kemaafan Allah terhadap mereka dapat dilihat pada layanan Rasulullah kepada mereka; maka Allah melembutkan Baginda terhadap mereka untuk merealisasikan rahmat dan kemaafan-Nya. Maknanya: Allah telah memaafkan mereka dengan rahmat-Nya, lalu Rasul berlemah-lembut kepada mereka dengan izin Allah, kerana Allah menjadikan Baginda seorang yang penyayang. Kelembutan itu tidak mengabaikan kepentingan mereka dan tidak bermudah-mudah dalam urusan agama.
Renungan: Lemah-lembut ialah rahmat Allah; marilah kita berlembut dengan keluarga dan sahabat tanpa mengorbankan prinsip agama.According to Ibn ‘Āshūr, Allah’s pardon of them could be seen in the way the Messenger treated them; so Allah made him gentle towards them to bring about His mercy and pardon. The meaning is: Allah pardoned them by His mercy, and the Messenger was gentle with them by Allah’s leave, since Allah made him merciful by nature. That gentleness neglected none of their interests and made no easy concessions in matters of religion.
Reflection: Gentleness is a mercy from Allah; let us be gentle with our family and friends without giving up the principles of our religion.
فَلۡيَتَوَكَّلِ
hendaknya … berserah dirilet … put their trust (orang‑orang yang beriman al‑mu’minunathe believers al‑mu’minūna)
Terjemahan: Jika Allah menolong kamu mencapai kemenangan maka tidak ada sesiapa pun yang akan dapat mengalahkan kamu; dan jika Ia mengalahkan kamu, maka siapakah yang akan dapat menolong kamu sesudah Allah (menetapkan yang demikian)? Dan (ingatlah), kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman itu berserah diriTranslation: If Allah helps you (to gain victory), then there is no one who can overcome you; and if He lets you be defeated, then who is it that can help you after Allah (has decreed so)? And (remember), it is in Allah alone that the believers should put their trust.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«رَدَّ الْأُمُورِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عِنْدَ الْعَجْزِ عَنْ تَدَارُكِهَا مَسْلَاةٌ لِلنَّفْسِ، وَعَزَاءٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/152 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/152 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, makna terbaik ayat ini ialah menenangkan hati orang-orang beriman supaya tidak bersedih atas apa yang luput, kerana menyerahkan urusan kepada Allah ketika tidak mampu lagi memperbaikinya ialah penghibur jiwa dan pujukan ketika ditimpa musibah. Di dalamnya ada peringatan bahawa pertolongan dan kekalahan berlaku kerana hikmah dan sebab, maka usahakanlah sebab-sebab keredhaan Allah dan jauhilah sebab-sebab kemurkaan-Nya.
Renungan: Selepas berusaha, marilah kita serahkan hasilnya kepada Allah dengan hati yang tenang.According to Ibn ‘Āshūr, the best meaning of this verse is to console the believers so that they would not grieve over what was lost, for returning matters to Allah when one can no longer put them right is a comfort to the soul and a solace in calamity. Within it is a reminder that help and defeat come about for wisdom and causes, so one should pursue the causes of Allah’s pleasure and avoid the causes of His anger.
Reflection: After striving, let us leave the outcome to Allah with a calm heart.
يَغُلَّۚ
berkhianat (menggelapkan harta rampasan perang)acting treacherously (embezzling the spoils of war) (diahe)
تُوَفَّىٰ
akan disempurnakan (balasan bagi)will be paid in full (the recompense for) (tiap‑tiap kulluevery kullu)NF
يُظۡلَمُونَ
akan dikurangkan sedikitpun (balasannya)will be shortchanged in the least (in their recompense) (merekathey)NF
Terjemahan: Dan tiadalah patut bagi seseorang Nabi itu (disangkakan) berkhianat (menggelapkan harta rampasan perang), dan sesiapa yang berkhianat (menggelapkan sesuatu), ia akan bawa bersama pada hari kiamat kelak apa yang dikhianatinya itu; kemudian tiap-tiap seorang akan disempurnakan (balasan bagi) apa yang telah diusahakannya, sedang mereka tidak akan dikurangkan sedikitpun (balasannya)Translation: And it is not fitting for any Prophet to be (suspected of) acting treacherously (embezzling the spoils of war); and whoever acts treacherously (embezzling anything) will bring along what he embezzled on the Day of Resurrection. Then every person will be paid in full (the recompense for) what he has earned, and they will not be shortchanged in the least (in their recompense).
Nota nahu: ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ (ayat 161).Grammar note: ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ (verse 161).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ النُّبُوَّةَ وَالْخِيَانَةَ لَا يَجْتَمِعَانِ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْخِيَانَةَ سَبَبٌ لِلْعَارِ فِي الدُّنْيَا وَالنَّارِ فِي الْآخِرَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/413 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/413 · Shamela ↗
Antara huraian ar-Rāzī, maksud ayat ini ialah sifat kenabian dan sifat khianat tidak mungkin berhimpun. Khianat membawa aib di dunia dan neraka di akhirat, maka jiwa yang cenderung kepadanya berada pada tahap yang paling hina; sedangkan kenabian ialah kedudukan manusia yang paling tinggi, yang hanya layak bagi jiwa yang paling mulia.
Renungan: Amanah ialah tanda kemuliaan jiwa; marilah kita menjaga setiap amanah, kecil atau besar, yang diserahkan kepada kita.One of al-Rāzī’s explanations is that this verse means prophethood and treachery can never be found together. Treachery brings disgrace in this world and the Fire in the Hereafter, so the soul drawn to it is at the lowest level; while prophethood is the highest rank a human can hold, fitting only for the noblest of souls.
Reflection: Trustworthiness is a sign of a noble soul; let us keep every trust placed in our hands, small or great.
وَبِئۡسَ
dan itulah seburuk-burukand that is the worst (tempat kembali al‑masiruthe place of return al‑maṣīru)
Terjemahan: Adakah orang yang menurut keredhaan Allah itu sama seperti orang yang kesudahannya mendapat kemurkaan dari Allah? Sedang tempat kembalinya ialah neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembaliTranslation: Is the one who follows the pleasure of Allah the same as the one who ends up with wrath from Allah? While his place of return is Hell (Jahannam), and that is the worst place of return.
Nota nahu: أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٍ مِّنَ ٱللَّهِ (ayat 162).Grammar note: أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٍ مِّنَ ٱللَّهِ (verse 162).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَتْبَعَهُ بِتَفْصِيلِ هَذِهِ الْجُمْلَةِ، وَبَيَّنَ أَنَّ جَزَاءَ الْمُطِيعِينَ مَا هُوَ، وَجَزَاءَ الْمُسِيئِينَ مَا هُوَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/415 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/415 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyebut bahawa setiap jiwa akan disempurnakan balasan amalnya, Dia memperincikannya dengan menerangkan balasan orang yang taat dan balasan orang yang berbuat jahat. Ar-Rāzī menukil al-Qāḍī bahawa lafaz ayat ini umum: sesiapa yang melakukan ketaatan termasuk dalam golongan yang menurut keredhaan Allah, dan sesiapa yang tenggelam mengikut nafsu dan syahwat termasuk dalam golongan yang mendapat kemurkaan-Nya.
Renungan: Setiap hari kita memilih jalan; marilah kita pilih keredhaan Allah, kerana neraka “itulah seburuk-buruk tempat kembali”.Al-Rāzī says that after Allah stated that every soul will be paid in full for what it earned, He set out the details, making clear the recompense of those who obey and the recompense of those who do evil. Al-Rāzī reports al-Qāḍī that the wording of the verse is general: whoever does acts of obedience is among those who follow Allah’s pleasure, and whoever sinks into following the self and its desires is among those who earn His anger.
Reflection: Every day we choose a path; let us choose Allah’s pleasure, for the Fire is the worst place of return.
هُمۡ
mereka itu (yang menurut keredhaan Allah dan yang mendapat kemurkaan-Nya)they (those who follow Allah’s pleasure and those who earn His wrath)
دَرَجَٰتٌ
mempunyai tingkatan-tingkatan (pahala atau dosa yang berlainan)have ranks (of differing reward or sin)
Terjemahan: Mereka itu (yang menurut keredhaan Allah, dan yang mendapat kemurkaan-Nya), mempunyai tingkatan-tingkatan (pahala atau dosa yang berlainan) di sisi Allah; dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakanTranslation: They (those who follow Allah’s pleasure and those who earn His wrath) have ranks (of differing reward or sin) with Allah; and Allah is All-Seeing of all that they do.
Nota nahu: وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ (ayat 163).Grammar note: وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ (verse 163).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا لَا يَتِمُّ إِلَّا إِذَا كَانَ عَالِمًا بِجَمِيعِ أَفْعَالِ الْعِبَادِ عَلَى التَّفْصِيلِ الْخَالِي عَنِ الظَّنِّ وَالرَّيْبِ وَالْحُسْبَانِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/417 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/417 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyebut bahawa Dia membalas setiap orang menurut kadar amalnya, dan hal itu tidak sempurna kecuali jika Dia mengetahui segala perbuatan hamba-Nya secara terperinci tanpa sangkaan dan keraguan, Allah mengiringinya dengan “dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan” untuk menguatkan makna itu.
Renungan: Tingkatan kita di sisi Allah mengikut amal kita, dan tiada satu amal pun terlepas daripada penglihatan-Nya; marilah kita perelokkan amal, walaupun yang kecil.Al-Rāzī says that once Allah had mentioned that He repays each person according to the measure of his deeds, and since this is complete only if He knows all the deeds of His servants in detail, free of guesswork and doubt, He followed it by stating that He sees all that they do, to confirm that meaning.
Reflection: Our ranks with Allah follow our deeds, and not a single deed escapes His sight; let us make our deeds good, even the small ones.
ءَايَٰتِهِۦ
ayat-ayat Allah (kandungan al-Qur’an yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya)the verses of Allah (the contents of the Qur’an that prove Allah’s Oneness and His power)
وَيُزَكِّيهِمۡ
dan membersihkan mereka (dari iktiqad (pegangan akidah) yang sesat)and purifies them (from misguided beliefs) (diahe)
وَٱلۡحِكۡمَةَ
dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum Syariat)and Wisdom (deep knowledge of the rulings of the Shariah)
Terjemahan: Sesungguhnya Allah telah mengurniakan (rahmat-Nya) kepada orang-orang yang beriman, setelah Ia mengutuskan dalam kalangan mereka seorang Rasul dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (kandungan Al-Quran yang membuktikan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya), dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajar mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan Hikmah (pengetahuan yang mendalam mengenai hukum-hukum Syariat). Dan sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyataTranslation: Truly Allah has bestowed (His mercy) upon the believers when He sent in their midst a Messenger of their own people, who recites to them the verses of Allah (the contents of the Qur’an that prove Allah’s Oneness and His power), and purifies them (from misguided beliefs), along with teaching them the Book of Allah (the Qur’an) and Wisdom (deep knowledge of the rulings of the Shariah). And indeed, before that (the coming of the Prophet Muhammad), they were in misguidance that is clear.
Nota nahu: إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا (ayat 164).Grammar note: إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا (verse 164).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّزْكِيَةُ: التَّطْهِيرُ، أَيْ يُطَهِّرُ النُّفُوسَ بِهَدْيِ الْإِسْلَامِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/159 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/159 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah” bermaksud membacakan al-Qur’an kepada mereka. Tazkiyah (membersihkan) ialah menyucikan jiwa dengan petunjuk Islam, manakala mengajar Kitab ialah menjelaskan maksud-maksud al-Qur’an dan menyuruh mereka menghafal lafaznya, supaya maknanya sentiasa hadir dalam diri mereka.
Renungan: Marilah kita bukan sahaja membaca al-Qur’an, tetapi juga memahami maksudnya dan membiarkannya membersihkan jiwa kita.According to Ibn ‘Āshūr, reciting His verses to them means reciting the Qur’an to them. Tazkiyah (purifying) is cleansing souls through the guidance of Islam, while teaching the Book is making clear the aims of the Qur’an and bidding them memorise its words, so that its meanings stay present with them.
Reflection: Let us not only recite the Qur’an, but also understand its meaning and let it purify our souls.
أَوَلَمَّآ
(patutkah kamu melanggar perintah Rasulullah)? Dan (kemudiannya) apabila(was it right for you to disobey the command of the Messenger of Allah)? And (afterwards) when
أَصَبۡتُم
memenangi (dengan menimpakan kemalangan kepada musuh)won (by inflicting disaster on the enemy) (kamu sekalianyou all)
مِّثۡلَيۡهَا
seperti itu sebanyak dua kali ganda (dalam peperangan Badar)twice over its like (in the Battle of Badr)
أَنفُسِكُمۡۗ
diri kamu sendiri (melanggar perintah Rasulullah)your own selves (disobeying the command of the Messenger of Allah)
Terjemahan: (Patutkah kamu melanggar perintah Rasulullah)? Dan (kemudiannya) apabila kamu ditimpa kemalangan (dalam peperangan Uhud), yang kamu telahpun memenangi seperti itu sebanyak dua kali ganda (dengan menimpakan kemalangan kepada musuh dalam peperangan Badar), kamu berkata: "Dari mana datangnya (kemalangan) ini?" Katakanlah (wahai Muhammad): "(Kemalangan) itu ialah dari kesalahan diri kamu sendiri (melanggar perintah Rasulullah)". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatuTranslation: (Was it right for you to disobey the command of the Messenger of Allah)? And (afterwards), when a disaster struck you (in the Battle of Uhud) — one which you had already won twice over (by inflicting disaster on the enemy in the Battle of Badr) — you said: “From where has this (disaster) come?” Say (O Muhammad): “It (the disaster) is from the fault of your own selves (disobeying the command of the Messenger of Allah).” Truly Allah is All-Powerful over every thing.
Nota nahu: أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ (ayat 165).Grammar note: أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ (verse 165).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«هُوَ التَّنْبِيهُ عَلَى أَنَّ أُمُورَ الدُّنْيَا لَا تَبْقَى عَلَى نَهْجٍ وَاحِدٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/420 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/420 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, faedah “yang kamu telahpun memenangi seperti itu sebanyak dua kali ganda” ialah peringatan bahawa urusan dunia tidak kekal pada satu keadaan; apabila mereka sendiri pernah menimpakan kepada musuh dua kali ganda seperti itu, tidak patut dianggap pelik jika mereka pula ditimpa sekali.
Renungan: Kemenangan dan ujian silih berganti dalam hidup; apabila musibah datang, sebelum bertanya “Dari mana datangnya (kemalangan) ini?”, marilah kita menilai diri sendiri dahulu.Al-Rāzī says the point of mentioning that they had already inflicted twice as much is to remind them that the affairs of this world do not stay in one state; since they themselves had once dealt the enemy twice such a loss, it was not strange that they in turn should suffer one.
Reflection: Victory and trial take turns in life; when a calamity comes, before asking where it came from, let us first look at ourselves.
ٱلۡجَمۡعَانِ
dua kumpulan (angkatan tentera – di medan perang Uhud) ituthe two hosts (armies, on the battlefield of Uhud)
وَلِيَعۡلَمَ
dan dengan tujuan … hendak melahirkan dengan nyata akanand so that … may make plainly evident (DiaHe)
Terjemahan: Dan apa yang telah menimpa kamu pada hari bertemu dua kumpulan (angkatan tentera - di medan perang Uhud) itu, maka (adalah ia) dengan izin Allah, dan dengan tujuan Allah hendak melahirkan dengan nyata akan orang-orang yang (sebenar-benarnya) berimanTranslation: And what befell you on the day the two hosts (armies, on the battlefield of Uhud) met was by the permission of Allah, and so that He may make plainly evident those who (truly) believe.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهِيَ بِقَدَرِ اللَّهِ، فَالْوَاجِبُ التَّسْلِيمُ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى ذِكْرِ بَعْضِ مَا فِي ذَلِكَ مِنَ الْحِكْمَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/162 · Shamela ↗ (huraian ayat 166–168)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/162 · Shamela ↗ (commentary on 166–168)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini datang secara mengandaikan: anggaplah ia satu musibah tanpa sebarang gantian, namun ia tetap berlaku dengan takdir Allah, maka yang wajib ialah berserah (taslīm); kemudian ayat kembali menyebut sebahagian hikmah di sebaliknya. Musibah yang dimaksudkan ialah kekalahan pada hari bertemu dua kumpulan itu, iaitu hari Uhud.
Renungan: Apabila ditimpa musibah, kita berserah kepada takdir Allah sambil mencari hikmah yang Dia sediakan di sebaliknya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse comes by way of granting the point: suppose it was a calamity with nothing to make up for it, it still happened by Allah’s decree, so what is due is to submit (taslīm); then the verse returns to mention some of the wisdom behind it. The calamity meant is the defeat on the day the two forces met, the day of Uhud.
Reflection: When a calamity befalls us, let us submit to Allah’s decree while seeking the wisdom He has placed behind it.
وَلِيَعۡلَمَ
dan juga dengan tujuan … hendak melahirkan dengan nyata akanand also so that … may make plainly evident (DiaHe)
نَافَقُواْۚ
berlaku munafik (berpura-pura beriman)act as hypocrites (pretending to believe) (merekathey)
ٱدۡفَعُواْۖ
pertahankanlah (diri, keluarga dan harta benda kamu)defend (yourselves, your families and your property) (kamu sekalianyou all)
لَّٱتَّبَعۡنَٰكُمۡۗ
tentulah … mengikut kamu (turut berperang)surely … would follow you (and join the fighting) (kamiwe)
Terjemahan: Dan juga dengan tujuan Ia hendak melahirkan dengan nyata akan orang-orang munafik; dan (apabila) dikatakan kepada mereka: "Marilah berperang pada jalan Allah (untuk membela Islam), atau pertahankanlah (diri, keluarga dan harta benda kamu)". Mereka menjawab: "Kalaulah kami faham ada peperangan (dengan sebenar-benarnya), tentulah kami mengikut kamu (turut berperang)". Mereka ketika (mengeluarkan perkataan) itu lebih dekat kepada kufur dari dekatnya kepada iman. Mereka selalu menyebut dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan apa yang mereka sembunyikanTranslation: And also so that He may make plainly evident those who act as hypocrites (pretending to believe); and (when) it was said to them: “Come and fight in the way of Allah (to defend Islam), or defend (yourselves, your families and your property).” They answered: “If we understood there to be a fight (in earnest), we would surely follow you (and join the fighting).” At that time (when they said it) they were closer to disbelief than they were close to faith. They keep uttering with their mouths what is not in their hearts. And (remember), Allah is All-Knowing of what they conceal.
Dipulihkan – menunggu semakan naskhah cetak. Teks Basmeih dalam talian bagi ayat ini rosak: perkataan bergaris putus-putus diisi semula mengikut lafaz Arab ayat ini.
Nota nahu: وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ (ayat 167).Grammar note: وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُونَ (verse 167).
Nota nahu: nā’ib fā‘il وَقِيلَ (ayat 167).Grammar note: the nā’ib fā‘il of وَقِيلَ (verse 167).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُسْلِمَ لَا بُدَّ وَأَنْ يُقَدِّمَ الدِّينَ عَلَى الدُّنْيَا فِي كُلِّ الْمُهِمَّاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/423 · Shamela ↗ (huraian ayat 166–167)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/423 · Shamela ↗ (commentary on 166–167)
Kata ar-Rāzī, seruan “Marilah berperang pada jalan Allah (untuk membela Islam), atau pertahankanlah (diri, keluarga dan harta benda kamu)” jelas mendahulukan tuntutan agama atas tuntutan dunia; ini menunjukkan seorang Muslim mesti mendahulukan agama atas dunia dalam semua urusan yang penting.
Renungan: Dalam setiap keputusan besar, marilah kita bertanya kepada diri: adakah agama kita didahulukan, atau dunia kita?Al-Rāzī says the call to fight in the way of Allah, or else to defend themselves, their families and their property, plainly puts what religion asks before what this world asks; this shows that a Muslim must put religion before this world in every matter of weight.
Reflection: In every major decision, let us ask ourselves: is our religion put first, or our worldly life?
لِإِخۡوَٰنِهِمۡ
tentang hal saudara-saudaranya (yang telah terbunuh di medan perang Uhud)about their brothers (who had been killed on the battlefield of Uhud)
وَقَعَدُواْ
sedang … sendiri tidak turut berperangwhile … themselves stayed back from fighting (merekathey)
Terjemahan: Merekalah juga yang mengatakan tentang hal saudara-saudaranya (yang telah terbunuh di medan perang Uhud), sedang mereka sendiri tidak turut berperang: "Kalaulah mereka taatkan kami (turut menarik diri) tentulah mereka tidak terbunuh". Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika demikian, hindarkanlah maut dari diri kamu, jika betul kamu orang-orang yang benar"Translation: They are also the ones who said about their brothers (who had been killed on the battlefield of Uhud), while they themselves stayed back from fighting: “Had they obeyed us (and withdrawn too), they would not have been killed.” Say (O Muhammad): “If so, keep death away from yourselves, if you really are those who are truthful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْمَعْلُومَ مِنَ الطِّبَاعِ مَحَبَّةُ الْحَيَاةِ فَكَانَ وُقُوعُ هَذِهِ الشُّبْهَةِ فِي الْقُلُوبِ يَجْرِي مَجْرَى مَا يُورِدُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْوَسْوَاسِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/424 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/424 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, sebagaimana mereka sendiri tidak turut berperang lalu memberi alasan, mereka juga melemahkan semangat orang lain dengan berkata bahawa jika yang keluar itu menurut mereka, tentulah tidak terbunuh. Oleh sebab tabiat manusia memang cintakan hidup, kekeliruan (syubhah) seperti ini apabila masuk ke dalam hati berlaku seperti bisikan (waswas) yang dilontarkan syaitan.
Renungan: Marilah kita jaga lidah daripada kata-kata yang melemahkan semangat orang lain untuk berbuat kebaikan, dan ingatlah bahawa maut tidak dapat kita hindarkan.Al-Rāzī says that just as they themselves stayed behind and made excuses, they also weakened the resolve of others by saying that, had those who went out obeyed them, they would not have been killed. Since human nature loves life, such a doubt (shubhah), once it enters the heart, works like the whispers (waswas) that Satan casts.
Reflection: Let us guard our tongues from words that weaken others in doing good, and remember that death is not something we can ward off.
Terjemahan: Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (yang gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezekiTranslation: And do not ever suppose that those who are killed (falling as syahid, martyrs) in the way of Allah are dead; (they are not dead,) rather they are alive (in a special way) with their Lord, and are granted provision.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«عِنْدَ رَبِّهِمْ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ حياتهم حَيَاة خَاصَّةٌ بِهِمْ، لَيْسَتْ هِيَ الْحَيَاةُ الْمُتَعَارَفَةُ فِي هَذَا الْعَالَمِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/165 · Shamela ↗ (huraian ayat 169–172)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/165 · Shamela ↗ (commentary on 169–172)
Menurut Ibn ‘Āshūr, al-Qur’an menetapkan kematian yang zahir bagi mereka dengan perkataan “terbunuh”, dan menafikan kematian yang hakiki dengan “bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki”. Ungkapan “di sisi Tuhan mereka” menjadi dalil bahawa kehidupan mereka ialah kehidupan khusus bagi mereka, bukan kehidupan yang biasa dikenali di alam ini.
Renungan: Apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal; marilah kita tidak menilai kehilangan hanya dengan ukuran dunia.According to Ibn ‘Āshūr, the Qur’an affirms for them an outward death by saying they were killed, and denies them real death by saying that they are alive, in a special way, with their Lord, receiving provision. The words with their Lord are a proof that their life is a life particular to them, not the life known in this world.
Reflection: What is with Allah is better and more lasting; let us not measure loss only by the scale of this world.
بِٱلَّذِينَ
mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang) yangabout (their brothers,) those (Muslims still striving) who
Terjemahan: (Dan juga) mereka bersukacita dengan kurniaan Allah (balasan mati Syahid) yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka bergembira dengan berita baik mengenai (saudara-saudaranya) orang-orang (Islam yang sedang berjuang), yang masih tinggal di belakang, yang belum (mati dan belum) sampai kepada mereka, (iaitu) bahawa tidak ada kebimbangan (dari berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka, dan mereka pula tidak akan berdukacitaTranslation: (Also) they rejoice in what Allah has given them from His bounty (the reward of dying as syahid), and they rejoice at good news about (their brothers,) those (Muslims still striving) who remain behind them and have not yet (died and) joined them: (namely) that there is no worry (of any ill befalling) them, and they too will not be sad.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَهُمْ بَيْنَ الْمَسَرَّةِ بِأَنْفُسِهِمْ وَالْمَسَرَّةِ بِمَنْ بَقِيَ مِنْ إِخْوَانِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/166 · Shamela ↗ (huraian ayat 169–172)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/166 · Shamela ↗ (commentary on 169–172)
Menurut Ibn ‘Āshūr, istibsyār (bergembira dengan berita baik) ialah memperoleh khabar gembira. Allah menghimpunkan bagi mereka dua kegembiraan: gembira dengan keadaan diri mereka sendiri, dan gembira dengan saudara-saudara mereka yang masih tinggal, iaitu rakan-rakan yang dahulu berjuang bersama mereka tetapi belum gugur syahid.
Renungan: Kegembiraan seorang mukmin tidak terhenti pada dirinya; marilah kita turut bergembira dengan kebaikan dan keselamatan saudara-saudara kita.According to Ibn ‘Āshūr, istibshār (rejoicing at good news) is receiving glad tidings. Allah joined for them two joys: joy in their own state, and joy in their brothers who remain behind, namely the companions who used to strive alongside them but have not yet fallen as martyrs.
Reflection: A believer’s joy does not stop at himself; let us also rejoice at the good and the safety of our brothers and sisters.
Terjemahan: Mereka bergembira dengan balasan nikmat dari Allah dan limpah kurnia-Nya; dan (ingatlah), bahawa Allah tidak menghilangkan pahala orang-orang yang berimanTranslation: They rejoice in a reward of blessing from Allah and His abundant bounty, and (remember) that Allah does not let the reward of the believers go to waste.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَنْبِيهٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى أَنَّ فَرَحَ الْإِنْسَانِ بِصَلَاحِ أَحْوَالِ إِخْوَانِهِ وَمُتَعَلِّقِيهِ، يَجِبُ أَنْ يَكُونَ أَتَمَّ وَأَكْمَلَ مِنْ فَرَحِهِ بِصَلَاحِ أَحْوَالِ نَفْسِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/431 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/431 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini menunjukkan kegembiraan mereka dengan kebahagiaan saudara-saudara mereka lebih sempurna daripada kegembiraan dengan kebahagiaan diri sendiri, kerana kegembiraan yang disebut dahulu ialah tentang keadaan saudara-saudara mereka. Ini peringatan daripada Allah bahawa gembira seseorang dengan baiknya keadaan saudara dan orang yang berkaitan dengannya patut lebih sempurna daripada gembiranya dengan baiknya keadaan diri sendiri.
Renungan: Marilah kita belajar bergembira dengan kebaikan yang diterima orang lain, dan yakinlah bahawa “Allah tidak menghilangkan pahala orang-orang yang beriman”.Al-Rāzī says this verse shows that their joy at their brothers’ happiness is fuller than their joy at their own, since the rejoicing mentioned first concerns their brothers’ state. This is a reminder from Allah that a person’s joy at the good state of his brothers and those close to him should be fuller and more complete than his joy at the good state of himself.
Reflection: Let us learn to rejoice at the good that others receive, and be sure that Allah does not let the reward of the believers go to waste.
وَٱلرَّسُولِ
dan Rasul-Nya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh)and His Messenger (to go out against the attacking enemy)
أَصَابَهُمُ
mengenai mereka (mereka mendapat)befell them (they suffered) (luka al‑qarhuthe wound al‑qarḥu)
Terjemahan: Iaitu orang-orang yang menjunjung perintah Allah dan Rasul-Nya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh), sesudah mereka mendapat luka (tercedera di medan perang Uhud). Untuk orang-orang yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang bertaqwa, ada balasan yang amat besarTranslation: Namely, those who upheld the command of Allah and His Messenger (to go out against the attacking enemy) after wounds had befallen them (injuries on the battlefield of Uhud). For those among them who did good and had taqwa, there is a reward that is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَحْسَنُوا دَخَلَ تَحْتَهُ الِائْتِمَارُ بِجَمِيعِ الْمَأْمُورَاتِ، وَقَوْلُهُ: وَاتَّقَوْا دَخَلَ تَحْتَهُ الِانْتِهَاءُ عَنْ جَمِيعِ الْمَنْهِيَّاتِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/432 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/432 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, maksud menjunjung perintah di sini ialah mereka menyahut dan mentaati Allah dalam perintah-perintah-Nya serta mentaati Rasul “sesudah mereka mendapat luka” yang berat. Antara huraian ar-Rāzī, berbuat baik (aḥsanū) merangkumi melaksanakan semua suruhan, dan bertaqwa (ittaqaw) merangkumi meninggalkan semua larangan; dengan kedua-duanya seseorang layak mendapat balasan yang amat besar.
Renungan: Ketaatan sebenar teruji ketika kita letih dan terluka; marilah kita tetap menyahut seruan Allah sambil bertawakal (berserah diri kepada Allah).Al-Rāzī says that upholding the command here means that they responded to and obeyed Allah in His commands, and obeyed the Messenger, after they had suffered severe wounds. One of al-Rāzī’s explanations is that doing good (aḥsanū) covers carrying out every command, and having taqwa (ittaqaw) covers keeping away from every prohibition; with both, a person deserves a reward that is very great.
Reflection: True obedience is tested when we are weary and wounded; let us keep answering Allah’s call while relying on Him (tawakkul).
ٱلۡوَكِيلُ
pengurus (yang terserah kepada-Nya segala urusan kami)Manager (to Whom all our affairs are entrusted)
Terjemahan: Mereka juga ialah yang diberitahu oleh orang-orang (pembawa berita) kepada mereka: "Bahawa kaum (kafir musyrik) telah mengumpulkan tentera untuk memerangi kamu, oleh itu hendaklah kamu gerun kepadanya". Maka berita itu makin menambahkan iman mereka lalu berkata: "Cukuplah Allah untuk (menolong) kami, dan Ia sebaik-baik pengurus (yang terserah kepada-Nya segala urusan kami)"Translation: They are also the ones to whom people (bearing news) said: “Truly the people (the idolatrous disbelievers) have gathered an army to fight you, so be afraid of them.” Then (the news) only added to their faith, and they said: “Allah is sufficient for us (as our Helper), and He is the best Manager (to Whom all our affairs are entrusted).”
Dipulihkan – menunggu semakan naskhah cetak. Teks Basmeih dalam talian bagi ayat ini rosak: perkataan bergaris putus-putus diisi semula mengikut lafaz Arab ayat ini.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَاهَا: إِنَّهُمُ اكْتَفَوْا بِاللَّهِ نَاصِرًا وَإِنْ كَانُوا فِي قِلَّةٍ وَضَعْفٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/170 · Shamela ↗ (huraian ayat 173–175)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/170 · Shamela ↗ (commentary on 173–175)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ḥasb bermaksud yang mencukupi; makna ucapan mereka ialah mereka merasa cukup dengan Allah sebagai Penolong walaupun mereka sedikit dan lemah. Al-Wakīl pula ialah yang diserahkan urusan kepadanya; seseorang dikatakan menyerahkan keperluannya kepada pihak lain apabila dia bergantung kepadanya untuk menyelesaikannya dan menyerahkan kepadanya usaha mendapatkannya.
Renungan: Apabila berita yang menakutkan datang, marilah kita ucapkan “Cukuplah Allah untuk (menolong) kami, dan Ia sebaik-baik pengurus” sambil benar-benar menyerahkan urusan kita kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, ḥasb means one who suffices; the meaning of their words is that they were content with Allah as their Helper even though they were few and weak. Al-Wakīl is the one to whom a matter is entrusted; a person is said to entrust his need to another when he relies on him to fulfil it and leaves to him the work of obtaining it.
Reflection: When frightening news comes, let us say that Allah is sufficient for us as our Helper and He is the best Manager, while truly entrusting our affairs to Him.
فَٱنقَلَبُواْ
setelah (pergi mengejar musuh), … kembaliafter (going out to pursue the enemy), … returned (merekathey)
Terjemahan: Setelah (pergi mengejar musuh), mereka kembali dengan mendapat nikmat dan limpah kurnia dari Allah, mereka tidak disentuh oleh sesuatu bencana pun, serta mereka pula menurut keredhaan Allah. Dan (ingatlah), Allah mempunyai limpah kurnia yang amat besarTranslation: After (going out to pursue the enemy), they returned with a blessing and abundant bounty from Allah; no harm at all touched them, and they followed the pleasure of Allah. And (remember), Allah has bounty that is very great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاتَّبَعُوا رِضْوانَ اللَّهِ فِي طَاعَةِ رَسُولِهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ قَدْ تَفَضَّلَ عَلَيْهِمْ بِالتَّوْفِيقِ فِيمَا فَعَلُوا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/434 · Shamela ↗ (huraian ayat 173–174)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 9/434 · Shamela ↗ (commentary on 173–174)
Kata ar-Rāzī, “kembali” menunjukkan mereka telah keluar dahulu; perkataan keluar tidak disebut kerana “kembali” sudah menunjukkannya. Mereka menurut keredhaan Allah dengan mentaati Rasul-Nya, dan Allah yang mempunyai limpah kurnia yang besar telah mengurniakan kepada mereka taufik (pertolongan Allah) dalam apa yang mereka lakukan.
Renungan: Apabila kita melangkah menyahut perintah Allah dengan bertawakal kepada-Nya, kita boleh berharap kembali dengan nikmat dan kurnia-Nya; dan taufik untuk beramal itu sendiri ialah kurnia daripada-Nya.Al-Rāzī says that their returning shows they had first gone out; the going out is left unsaid because the returning already points to it. They followed what pleases Allah by obeying His Messenger, and Allah, Who has bounty that is great, granted them tawfīq (Allah’s help) in what they did.
Reflection: When we step out to answer Allah’s command relying on Him, we may hope to return with His blessing and bounty; and the tawfīq to do good is itself a bounty from Him.
يُخَوِّفُ
yang (bertujuan) menakut-nakutkan (kamu terhadap)who (aims to) frighten (you of) (diahe)
أَوۡلِيَآءَهُۥ
pengikut-pengikutnya (kaum kafir musyrik)his followers (the idolatrous disbelievers)
وَخَافُونِ
tetapi takutlah kepada-Ku (jangan cuaikan perintah-Ku)but be afraid of Me (do not neglect My commands) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Sesungguhnya (pembawa berita) yang demikian itu ialah syaitan yang (bertujuan) menakut-nakutkan (kamu terhadap) pengikut-pengikutnya (kaum kafir musyrik). Oleh itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku (jangan cuaikan perintah-Ku), jika betul kamu orang-orang yang berimanTranslation: Truly that (bearer of news) is Satan, who (aims to) frighten (you of) his followers (the idolatrous disbelievers). So do not be afraid of them, but be afraid of Me (do not neglect My commands), if you really are believers.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ تَذْكِيرٌ وَإِحْمَاءٌ لِإِيمَانِهِمْ وَإِلَّا فَقَدْ عُلِمَ أَنَّهُمْ مُؤمنُونَ حقّا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/172 · Shamela ↗ (huraian ayat 173–175)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 4/172 · Shamela ↗ (commentary on 173–175)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “jika betul kamu orang-orang yang beriman” ialah syarat yang diletakkan di akhir, dan ia peringatan serta pembakar semangat iman mereka; jika tidak, memang telah diketahui bahawa mereka benar-benar orang yang beriman.
Renungan: Apabila rasa takut kepada manusia menguasai hati, ingatlah bahawa iman menuntut kita takut kepada Allah sahaja dan bertawakal kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the words if you are believers are a condition placed at the end, and they serve to remind them and to stir up their faith; otherwise it was already known that they were true believers.
Reflection: When fear of people takes hold of our hearts, let us remember that faith calls us to fear Allah alone and to rely on Him.