Terjemahan: Maha Suci Allah yang telah menjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjid Al-Haraam (di Makkah) ke Masjid Al-Aqsa (di Palestin), yang Kami berkati sekelilingnya, untuk memperlihatkan kepadanya tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran) Kami. Sesungguhnya Allah jualah yang Maha Mendengar, lagi Maha MengetahuiTranslation: Glory be to Allah, Who made His servant (Muhammad) travel in the night from the Sacred Mosque (in Makkah) to the Masjid al-Aqsa (in Palestine), which We have blessed all around it, so as to show him Our signs (of power and greatness). Truly it is Allah alone Who is All-Hearing, All-Seeing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْإِضَافَةُ إِضَافَةُ تَشْرِيفٍ لَا إِضَافَةُ تَعْرِيفٍ لِأَنَّ وَصْفَ الْعُبُودِيَّةِ لِلَّهِ مُتَحَقِّقٌ لِسَائِرِ الْمَخْلُوقَاتِ فَلَا تُفِيدُ إِضَافَتُهُ تَعْرِيفًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/10–12 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/10–12 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ungkapan tasbih (menyucikan Allah) “Maha Suci Allah” di sini tidak didahului kata-kata yang memberi gambaran kekurangan, maka ia membawa makna lebih daripada penyucian, iaitu ta‘jīb (menimbulkan rasa takjub) pada diri pendengar terhadap berita yang menakjubkan. Apabila terzahir tanda kekuasaan yang agung, orang yang merenung akan menyucikan Allah daripada sifat lemah. Sandaran perkataan hamba kepada Allah dalam “hamba-Nya” pula ialah sandaran kemuliaan, bukan untuk memperkenalkan, kerana sifat kehambaan kepada Allah ada pada semua makhluk.
Renungan: Kemuliaan tertinggi seorang insan ialah menjadi hamba Allah yang sebenar; marilah kita memperhambakan diri kepada-Nya dan menyucikan-Nya setiap kali melihat tanda kebesaran-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the tasbīḥ that opens this verse, declaring Allah free of every imperfection, comes with nothing before it that hints at a flaw, so it carries more than that declaration: ta‘jīb, stirring wonder in the listeners at astonishing news. When a sign of mighty power appears, whoever reflects on it declares Allah free of any weakness. Linking the word servant to Allah here is a link of honour, not of identification, since servanthood to Allah is true of every creature.
Reflection: The highest honour a person can have is to be a true servant of Allah; let us devote ourselves to Him and glorify Him whenever we see a sign of His greatness.
وَكِيلٗا
sebagai Tuhan (untuk menyerahkan urusan kamu kepadanya)a Lord (to whom you hand over your affairs)
Terjemahan: Dan Kami telah memberikan Nabi Musa Kitab Taurat, dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (serta Kami perintahkan mereka): "Janganlah kamu jadikan yang lain daripada-Ku sebagai Tuhan (untuk menyerahkan urusan kamu kepadanya)Translation: And We gave the Prophet Musa the Book of the Torah, and We made that Book to be guidance for the Children of Israel (and We commanded them): “Do not make anyone other than Me a Lord (to whom you hand over your affairs).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَرَجَعَ حَاصِلُ الْكَلَامِ بَعْدَ رِعَايَةِ هَذِهِ الْمَرَاتِبِ أَنَّهُ لَا مِعْرَاجَ أَعْلَى وَلَا دَرَجَةَ أَشْرَفُ وَلَا مَنْقَبَةَ أَعْظَمُ مِنْ أَنْ يَصِيرَ الْمَرْءُ غَرِقًا فِي بَحْرِ التَّوْحِيدِ وَأَنْ لَا يُعَوِّلَ فِي أَمْرٍ مِنَ الْأُمُورِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/297–298 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/297–298 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyebut kemuliaan Nabi Muhammad dengan perjalanan malam itu, Dia menyebut pula kemuliaan Nabi Musa dengan Taurat, lalu menyifatkan kitab itu sebagai “petunjuk bagi Bani Israil”; ia menjadi petunjuk kerana mengandungi larangan menjadikan selain Allah sebagai tempat berserah, dan itulah tauhid (mengesakan Allah). Kesimpulannya, tiada darjat yang lebih tinggi daripada tenggelam dalam lautan tauhid dan tidak bergantung dalam apa jua urusan melainkan kepada Allah: jika berkata, dia menyebut Allah; jika berfikir, dia merenung tanda kesucian-Nya; jika meminta, dia meminta kepada-Nya.
Renungan: Marilah kita menyerahkan segala urusan kita kepada Allah semata-mata, dan menjadikan lidah, fikiran dan doa kita milik-Nya.Ar-Rāzī says that after Allah mentioned the honour given to the Prophet Muhammad through the night journey, He mentioned the honour given to the Prophet Musa through the Torah, and described that Book as guiding the Children of Israel; it guided because it forbade taking anyone besides Allah as the one to whom affairs are entrusted, and that is tawḥīd, belief in the Oneness of Allah. In sum, no rank is higher than being immersed in the ocean of tawḥīd and relying on none but Allah in any matter: when such a person speaks, he speaks of Allah; when he thinks, he reflects on the signs of His transcendence; when he asks, he asks of Him.
Reflection: Let us entrust all our affairs to Allah alone, and make our tongues, thoughts and prayers His.
Terjemahan: (Wahai) keturunan orang-orang yang telah Kami bawa bersama-sama dengan Nabi Nuh (di dalam bahtera)! Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang bersyukur"Translation: (O) descendants of those whom We carried together with the Prophet Nuh (in the ark)! Truly he was a servant who was grateful.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَعْنَى كَوْنِ نُوحٍ عَبْداً أَنَّهُ مُعْتَرِفٌ لِلَّهِ بِالْعُبُودِيَّةِ غَيْرُ مُتَكَبِّرٍ بِالْإِشْرَاكِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/25–27 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/25–27 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini berkait dengan larangan sebelumnya. Antara huraian Ibn ‘Āshūr tentang kedudukan kata keturunan (beliau menyebut tiga kemungkinan i‘rab (analisis tatabahasa)): yang ketiga, ia seruan, bertujuan mendorong mereka mensyukuri nikmat Allah dan menjauhi kufur dengan mengambil sekutu selain-Nya. Ungkapan “Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang bersyukur” menjadi sebab larangan itu: datuk nenek mereka diselamatkan bersama Nabi Nuh dengan nikmat Allah, maka contohilah mereka. Hamba bermaksud mengakui kehambaan kepada Allah tanpa menyombong dengan syirik (menyekutukan Allah), dan bersyukur bermaksud bersungguh mensyukuri Allah dengan menurut perintah-Nya.
Renungan: Syukur sebenar ialah ketaatan; marilah kita mencontohi Nabi Nuh dengan mensyukuri setiap nikmat melalui ketaatan kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is tied to the prohibition before it. Among Ibn ‘Āshūr’s explanations of how the word descendants functions (he gives three possible i‘rab, grammatical analyses): the third, it is a call, meant to urge them to thank Allah for His favour and to shun disbelief by taking partners besides Him. The statement that he was a grateful servant gives the reason for that prohibition: their forefathers were saved along with the Prophet Nuh by Allah’s favour, so they should follow their example. Servant means acknowledging one’s servanthood to Allah without the arrogance of shirk, joining partners with Allah, and grateful means thanking Allah intensely by obeying His commands.
Reflection: True gratitude is obedience; let us follow the Prophet Nuh by thanking Allah for every blessing through obeying Him.
لَتُفۡسِدُنَّ
sesungguhnya … akan melakukan kerosakantruly … will do damage (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan Kami menyatakan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau"Translation: And We made known in that Book to the Children of Israel: “Truly you will do damage in the land (Palestine) two times, and truly you will behave with arrogance and haughtiness, going to excess.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا ذَكَرَ إِنْعَامَهُ عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِإِنْزَالِ التَّوْرَاةِ عَلَيْهِمْ، وَبِأَنَّهُ جَعَلَ التَّوْرَاةَ هُدًى لَهُمْ، بَيَّنَ أَنَّهُمْ مَا اهْتَدَوْا بِهُدَاهُ، بَلْ وَقَعُوا فِي الْفَسَادِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/299 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–6)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/299 · Shamela ↗ (commentary on 4–6)
Kata ar-Rāzī, setelah Allah menyebut nikmat-Nya kepada Bani Israil dengan menurunkan Taurat dan menjadikannya petunjuk bagi mereka, Dia menjelaskan bahawa mereka tidak mengikut petunjuk itu, bahkan terjerumus ke dalam kerosakan. Menurut huraian beliau, “melakukan kerosakan” di sini bermaksud melakukan maksiat dan menyalahi hukum-hakam Taurat.
Renungan: Memiliki kitab petunjuk tidak cukup jika kita tidak mengikutnya; marilah kita bertanya kepada diri sendiri sejauh mana kita mengamalkan al-Qur’an yang ada di tangan kita.Ar-Rāzī says that after Allah mentioned His favour to the Children of Israel in sending down the Torah and making it guidance for them, He made clear that they did not follow that guidance but fell into corruption instead. In his explanation, doing damage here means committing sins and going against the rulings of the Torah.
Reflection: Owning a book of guidance is not enough if we do not follow it; let us ask ourselves how far we live by the Qur’an that is in our hands.
وَعۡدُ
masa janji (membalas kederhakaan kamu)the time … of the promise (of repaying your disobedience)
أُولَىٰهُمَا
kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itufor the first of those two (disobediences)
Terjemahan: Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka menjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu); dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlakuTranslation: So when the time came of the promise (of repaying your disobedience) for the first of those two (disobediences), We brought upon you servants of Ours who were strong and mighty and very fierce in their assault; then they roamed through every corner of the land (killing and destroying you); and (in truth that event) was a promise sure to be fulfilled.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَتَعَلَّقُ كَثِيرُ غَرَضٍ فِي مَعْرِفَةِ أُولَئِكَ الْأَقْوَامِ بِأَعْيَانِهِمْ، بَلِ الْمَقْصُودُ هُوَ أَنَّهُمْ لَمَّا أَكْثَرُوا مِنَ الْمَعَاصِي سَلَّطَ عَلَيْهِمْ أَقْوَامًا قَتَلُوهُمْ وَأَفْنَوْهُمْ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/299–300 · Shamela ↗ (huraian ayat 4–6)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/299–300 · Shamela ↗ (commentary on 4–6)
Kata ar-Rāzī, al-ba’s (kekuatan) yang disifatkan dalam “hamba-hamba Kami yang kuat gagah” ialah kekuatan dalam peperangan. Beliau menyebut ada beberapa pendapat tentang siapa kaum itu, tetapi menegaskan bahawa tidak banyak faedah mengenali mereka secara khusus; yang dimaksudkan ialah apabila mereka memperbanyak maksiat, Allah menguasakan ke atas mereka kaum yang membunuh dan membinasakan mereka.
Renungan: Pengajaran kisah ini bukan pada nama dan tempat, tetapi pada sebab dan akibat; marilah kita menjauhi maksiat yang mengundang kemurkaan Allah.Ar-Rāzī says that al-ba’s, the strength ascribed to those servants of Allah, is might in battle. He notes that there are several views on who those people were, but stresses that little is gained by knowing exactly who they were; the point is that when they multiplied their sins, Allah gave power over them to people who killed and destroyed them.
Reflection: The lesson of this account lies not in names and places but in cause and effect; let us keep away from the sins that invite Allah’s anger.
Terjemahan: Kemudian (setelah kamu bertaubat), Kami kembalikan kepada kamu kekuasaan untuk mengalahkan mereka, dan Kami beri kepada kamu dengan banyaknya harta kekayaan dan anak pinak, serta Kami jadikan kamu kaum yang lebih ramai pasukannyaTranslation: Then (after you repented), We restored to you the power to defeat them, and We gave you plenty of wealth and children, and We made you a people with forces greater in number.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ (إِذَا) ظَرْفٌ لِمَا يُسْتَقْبَلُ. وَجِيءَ بِهِ فِي صِيغَةِ الْمَاضِي لِتَحْقِيقِ وُقُوعِ ذَلِكَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/32–33 · Shamela ↗ (huraian ayat 6–8)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/32–33 · Shamela ↗ (commentary on 6–8)
Menurut Ibn ‘Āshūr, apa yang disebut dalam ayat ini termasuk perkara yang dijanjikan dalam ketetapan itu, dan ia disebut dengan bentuk kata kerja lampau untuk menegaskan kepastiannya. Perkataan “Kemudian” menunjukkan jarak masa dan juga perbezaan martabat keadaan. Maksud “lebih ramai pasukannya” ialah lebih ramai daripada keadaan mereka sebelumnya, dan makna ini sesuai dengan konteks menyebut nikmat.
Renungan: Allah memulihkan kekuatan hamba-Nya apabila mereka kembali kepada-Nya; marilah kita segera bertaubat apabila tersilap, dengan yakin akan rahmat-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, what this verse mentions is part of what was promised in that decree, and it is put in the past tense to stress that it will surely come about. The word then signals a gap in time and also a change in the rank of their state. Having greater forces means more than they had been before, a sense that suits a context of recounting favours.
Reflection: Allah restores the strength of His servants when they return to Him; let us repent quickly whenever we slip, trusting in His mercy.
أَحۡسَنتُمۡ
(maka faedah) kebaikan yang … lakukan(the benefit of) the good … do (kamu sekalianyou all)
فَلَهَاۚ
maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga (lit. maka baginya)then (its bad effect) turns back upon your own selves too (lit. then for them)
وَعۡدُ
masa janji (membalas perbuatan derhaka kamu)the time of the promise (of repaying your disobedient deeds)
لِيَسُـُٔواْ
(Kami datangkan musuh-musuh kamu) untuk memuramkan(We brought your enemies) to darken (merekathey)
وُجُوهَكُمۡ
muka kamu (dengan penghinaan dan keganasannya)your faces (with humiliation and their violence)
Terjemahan: Jika kamu berbuat kebaikan, (maka faedah) kebaikan yang kamu lakukan adalah untuk diri kamu; dan jika kamu berbuat kejahatan, maka (kesannya yang buruk) berbalik kepada diri kamu juga. Oleh itu, apabila sampai masa janji (membalas perbuatan derhaka kamu) kali kedua, (Kami datangkan musuh-musuh kamu) untuk memuramkan muka kamu (dengan penghinaan dan keganasannya); dan untuk memasuki masjid (BaitulMaqdis) sebagaimana mereka telah memasukinya pada kali yang pertama; dan untuk menghancurkan apa sahaja yang mereka telah kuasai, dengan sehancur-hancurnyaTranslation: If you do good, (the benefit of) the good you do is for your own selves; and if you do evil, then (its bad effect) turns back upon your own selves too. So when the time of the promise (of repaying your disobedient deeds) came for the second time, (We brought your enemies) to darken your faces (with humiliation and their violence), and to enter the mosque (Baitul Maqdis) just as they had entered it on the first occasion, and to crush whatever they had taken control of, crushing it utterly.
Nota nahu: وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا (ayat 7).Grammar note: وَلِيُتَبِّرُوا۟ مَا عَلَوْا۟ تَتْبِيرًا (verse 7).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدْ تَقَرَّرَ فِي الْعُقُولِ أَنَّ الْإِحْسَانَ إِلَى النَّفْسِ حَسَنٌ مَطْلُوبٌ، وَأَنَّ الْإِسَاءَةَ إِلَيْهَا قَبِيحَةٌ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/301 · Shamela ↗ (huraian ayat 7–8)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/301 · Shamela ↗ (commentary on 7–8)
Kata ar-Rāzī, apabila mereka derhaka, Allah menguasakan ke atas mereka kaum yang menyerang mereka, dan apabila mereka bertaubat, Dia menghilangkan ujian itu; maka nyatalah bahawa jika mereka taat, mereka berbuat baik kepada diri sendiri, dan jika berkeras dalam maksiat, mereka merugikan diri sendiri. Akal sendiri mengakui bahawa berbuat baik kepada diri itu terpuji, dan merugikannya itu buruk. Ar-Rāzī menukil ahli isyarat (ulama yang menyingkap makna halus): perbuatan baik disebut dua kali, sedangkan kejahatan disebut sekali, menunjukkan rahmat Allah mengatasi kemurkaan-Nya.
Renungan: Setiap kebaikan kita kembali kepada diri kita; marilah kita memperbanyak kebaikan sambil berharap kepada rahmat-Nya.Ar-Rāzī says that when they disobeyed, Allah gave power over them to people who attacked them, and when they repented, He lifted that trial; so it became clear that if they obeyed they did good to themselves, and if they persisted in sin they harmed themselves. Reason itself affirms that doing good to oneself is praiseworthy and harming oneself is ugly. Ar-Rāzī reports the people of ishārāt, scholars of subtle meanings: doing good is mentioned twice while evil is mentioned once, showing that Allah’s mercy prevails over His anger.
Reflection: Every good we do comes back to us; let us do more good while hoping for His mercy.
عُدۡنَاۚ
maka … pula akan kembali (menyeksa kamu di dunia)then … too will return (to punishing you in the world) (KamiWe)
لِلۡكَٰفِرِينَ
bagi orang-orang kafir (pada hari akhirat)for the disbelievers (in the Hereafter)
Terjemahan: Mudah-mudahan Tuhan kamu akan mengasihani kamu (kalau kamu bertaubat); dan jika kamu kembali (menderhaka), maka Kami pula akan kembali (menyeksa kamu di dunia); dan Kami telah jadikan neraka: penjara bagi orang-orang kafir (pada hari akhirat)Translation: Perhaps your Lord will show mercy to you (if you repent); and if you return (to disobedience), then We too will return (to punishing you in the world); and We have made Hell to be a prison for the disbelievers (in the Hereafter).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِإِفَادَةِ أَنَّ مَا ذُكِرَ قَبْلَهُ مِنْ عِقَابٍ إِنَّمَا هُوَ عِقَابٌ دُنْيَوِيٌّ وَأَنَّ وَرَاءَهُ عِقَابَ الْآخِرَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/38–39 · Shamela ↗ (huraian ayat 6–8)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/38–39 · Shamela ↗ (commentary on 6–8)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud “jika kamu kembali (menderhaka), maka Kami pula akan kembali” ialah: setelah Tuhan mengasihani kamu, jika kamu kembali melakukan kerosakan, Kami kembali menghukum kamu seperti hukuman dunia sebelum ini. Ungkapan tentang neraka selepasnya menjelaskan bahawa hukuman tadi hanya di dunia, dan di sebaliknya ada azab akhirat. Beliau menambah, ia memberi isyarat bahawa hukuman dunia itu bukan hanya kerana kekufuran, tetapi juga kerana melakukan kerosakan di bumi dan melampaui batas syariat. Ḥaṣīr (penjara) ialah tempat yang dikurung sehingga tidak dapat keluar.
Renungan: Marilah kita menjaga diri daripada melampaui batas Allah, kerana di sebalik akibat dunia ada akibat akhirat yang lebih berat.According to Ibn ‘Āshūr, the warning that if they return to disobedience Allah too will return means: after your Lord has shown you mercy, if you go back to spreading corruption, We will go back to punishing you as in the worldly punishment before. The words about Hell that follow make clear that the punishment mentioned was only in this world, and beyond it lies the punishment of the Hereafter. He adds that this hints that worldly punishment is not only for disbelief but also for spreading corruption in the land and overstepping the bounds of the sharī‘ah. Ḥaṣīr, prison, is a place of confinement with no way out.
Reflection: Let us guard ourselves from overstepping Allah’s bounds, for beyond the worldly consequences lie heavier ones in the Hereafter.
وَيُبَشِّرُ
dan memberikan berita yang menggembirakanand brings news that gladdens (ia (al‑Qur’an)it (the Qur’an))
Terjemahan: Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang amat betul (ugama Islam), dan memberikan berita yang menggembirakan orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal-amal soleh, bahawa mereka beroleh pahala yang besarTranslation: Truly this Qur’an gives guidance to the path that is most upright (the religion of Islam), and brings news that gladdens the people of faith who do good deeds that are righteous, that they will gain a reward that is great.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَخْبَرُوا بِأَنَّ فِي الْقُرْآنِ مَا يَعْصِمُهُمْ عَنِ الْوُقُوعِ فِيمَا وَقَعَ فِيهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/39–40 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–10)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/39–40 · Shamela ↗ (commentary on 9–10)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kisah Bani Israil sebelum ini mengandungi peringatan supaya orang Islam tidak terjatuh ke dalam apa yang menimpa mereka, dan itulah faedah terbesar kisah-kisah al-Qur’an. Ayat ini pula datang melegakan hati orang beriman yang gerun mendengar kisah itu: al-Qur’an memelihara mereka daripada terjatuh ke dalamnya kerana ia memberi petunjuk ke “jalan yang amat betul”. Bimbingannya tidak meninggalkan satu sudut pun daripada akhlak dan tabiat manusia, sehingga orang yang mentadabbur (merenung dengan mendalam) maknanya pasti memetik buahnya.
Renungan: Kisah umat terdahulu ialah cermin untuk kita; marilah kita mentadabbur al-Qur’an supaya terpelihara daripada mengulangi kesilapan mereka.According to Ibn ‘Āshūr, the account of the Children of Israel before this carries a warning to the Muslims not to fall into what befell them, and that is the greatest benefit of the Qur’an’s stories. This verse then comes to ease the hearts of believers made fearful by that account: the Qur’an protects them from falling into the same, since it guides to the straightest way. Its guidance leaves no side of human character and nature untouched, so that whoever reflects deeply on its meanings is sure to gather its fruits.
Reflection: The stories of earlier nations are a mirror for us; let us reflect deeply on the Qur’an so that we are kept from repeating their mistakes.
Terjemahan: Dan bahawa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, Kami sediakan bagi mereka azab seksa yang tidak terperi sakitnyaTranslation: And that as for those who do not have faith in the Hereafter, We have made ready for them a punishment whose pain is beyond words.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ لِأَنَّ الِاعْتِقَادَ الْأَصْوَبَ وَالْعَمَلَ الْأَصْلَحَ، كَمَا يُوجِبُ لِفَاعِلِهِ النَّفْعَ الْأَكْمَلَ الْأَعْظَمَ، فَكَذَلِكَ تَرْكُهُ يُوجِبُ لِتَارِكِهِ الضَّرَرَ الْأَعْظَمَ الْأَكْمَلَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/303–304 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–10)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/303–304 · Shamela ↗ (commentary on 9–10)
Kata ar-Rāzī, al-Qur’an disifatkan dengan tiga sifat: ia memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus; ia memberi berita gembira tentang pahala yang besar kepada orang yang beramal soleh, kerana jalan yang paling lurus pasti membawa keuntungan yang paling besar; dan, dalam ayat ini, ia memberitahu bahawa bagi orang yang tidak beriman kepada hari akhirat disediakan “azab seksa yang tidak terperi sakitnya”. Sebabnya, sebagaimana akidah (kepercayaan) yang paling benar dan amalan yang paling baik membawa manfaat paling sempurna kepada pelakunya, meninggalkannya pula membawa mudarat paling besar kepada yang meninggalkannya.
Renungan: Marilah kita memegang akidah yang benar dan amalan yang baik, kerana keduanya menentukan untung rugi kita.Ar-Rāzī says that the Qur’an is described with three qualities: it guides to the straightest way; it gives glad tidings of a great reward to those who do righteous deeds, since the straightest way must bring the greatest gain; and, in this verse, it makes known that a painful punishment has been prepared for those without faith in the Hereafter. The reason is that just as the soundest belief and the best deeds bring the fullest benefit to the one who holds them, abandoning them brings the greatest harm to the one who abandons them.
Reflection: Let us hold firmly to sound belief and good deeds, for they decide our gain or loss.
Terjemahan: Dan manusia berdoa dengan (memohon supaya ia ditimpa) kejahatan sebagaimana ia berdoa dengan memohon kebaikan, dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buruTranslation: And man prays with (a plea that he be struck by) evil just as he prays with a plea for good; and man is indeed (by nature) hasty.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ مِنْ قَوْلِهِ: وَكانَ الْإِنْسانُ عَجُولًا الْكِنَايَةُ عَنْ عَدَمِ تَبَصُّرِهِ وَأَنَّ اللَّهَ أَعْلَمُ بِمُقْتَضَى الْحِكْمَةِ فِي تَوْقِيتِ الْأَشْيَاءِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/42 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/42 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ungkapan “dan sememangnya manusia itu (bertabiat) terburu-buru” ialah tadhyīl (penutup yang merumuskan), dan manusia di sini ialah jenis manusia seluruhnya; kata kāna (adalah) menunjukkan sifat itu tertanam kukuh padanya. Maksudnya ialah kināyah (kiasan) tentang kurangnya pandangan jauh manusia, sedangkan Allah lebih mengetahui hikmah dalam menetapkan waktu bagi segala sesuatu; Dia menyampaikan kebaikan dan keburukan kepada manusia secara beransur-ansur sebagai kelembutan kepada mereka.
Renungan: Tidak semua yang kita minta dengan tergesa-gesa itu baik untuk kita; marilah kita bersabar dan menyerahkan waktu yang terbaik kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the closing words on human haste are a tadhyīl, a summing-up close, and man here means the human race as a whole; the verb kāna shows that the trait is firmly rooted in him. The aim is a kināyah, an indirect expression, for man’s lack of foresight, while Allah knows best the wisdom in setting the time for all things; He brings good and harm to people step by step, out of gentleness towards them.
Reflection: Not everything we ask for in haste is good for us; let us be patient and leave the best timing to Allah.
شَيۡءٖ
sesuatu (yang kamu perlukan untuk dunia dan ugama kamu)thing (that you need for your world and your religion)
تَفۡصِيلٗا
satu persatu (dalam al-Qur’an) dengan sejelas-jelasnyaone by one (in the Qur’an) as clearly as can be
Terjemahan: Dan Kami jadikan malam dan siang itu dua tanda (yang membuktikan kekuasaan Kami), maka Kami hapuskan tanda malam itu (sehingga menjadi gelap-gelita), dan Kami jadikan tanda siang itu terang-benderang supaya kamu mudah mencari rezeki dari limpah kurnia Tuhan kamu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan hisab (bulan dan hari); dan (ingatlah) tiap-tiap sesuatu (yang kamu perlukan untuk dunia dan ugama kamu), Kami telah menerangkannya satu persatu (dalam Al-Quran) dengan sejelas-jelasnyaTranslation: And We have set the night and the day to be two signs (proving Our power); then We wiped out the sign of the night (so that it became pitch dark), and the sign of the day We made shining bright, so that you may easily seek provision from the abundant bounty of your Lord, and so that you may know the count of years and the reckoning (of months and days); and (remember) every thing (that you need for your world and your religion), We have explained it one by one (in the Qur’an) as clearly as can be.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَلَمَّا شَرَحَ اللَّهُ تَعَالَى حَالَهُمَا وَفَصَّلَ مَا فِيهِمَا مِنْ وُجُوهِ الدَّلَالَةِ عَلَى الْخَالِقِ وَمِنْ وُجُوهِ النِّعَمِ الْعَظِيمَةِ عَلَى الْخَلْقِ، كَانَ ذَلِكَ تَفْصِيلًا نَافِعًا وَبَيَانًا كَامِلًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/307 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/307 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, Allah menyebut manfaat malam dan siang dalam banyak ayat. Dua tanda itu, dari satu sudut, ialah bukti yang putus tentang tauhid (keesaan Allah), dan dari sudut lain, dua nikmat besar Allah kepada penghuni dunia. Setelah Allah menghuraikan bukti tentang Pencipta dan nikmat kepada makhluk yang ada pada keduanya, maka itulah penjelasan yang bermanfaat dan sempurna; kerana itu Dia menyatakan bahawa tiap-tiap sesuatu yang diperlukan untuk agama dan dunia telah diterangkan (makna ini turut terdapat dalam al-Kashshāf karya al-Zamakhsharī).
Renungan: Setiap pergantian malam dan siang ialah tanda dan nikmat; marilah kita menjadikannya peringatan tentang keesaan Allah dan sebab untuk bersyukur.Ar-Rāzī says that Allah mentions the benefits of night and day in many verses. The two signs are, in one respect, decisive proofs of tawḥīd, the Oneness of Allah, and in another respect, two great favours of Allah to the people of this world. Since Allah laid out the proofs of the Creator and the favours to creation found in them, that was a beneficial and complete explanation; so He declares that everything needed for religion and worldly life has been made clear (a meaning also found in al-Kashshāf by al-Zamakhsharī).
Reflection: Every turn of night and day is both a sign and a favour; let us take it as a reminder of Allah’s Oneness and a reason to give thanks.
يَلۡقَىٰهُ
yang akan didapatinya (lit. … akan mendapatinya)which … will find (dia (setiap manusia)he (every human being))
Terjemahan: Dan tiap-tiap seorang manusia Kami kalongkan bahagian nasibnya di lehernya, dan pada hari kiamat kelak Kami akan keluarkan kepadanya kitab (suratan amalnya) yang akan didapatinya terbuka (untuk di tatapnya)Translation: And every single human being, We have hung his share of fate around his neck; and We will bring out a book (the record of his deeds) to him on the Day of Resurrection, which he will find open (for him to look over).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ يَقْتَضِي وُجُوبَ اشْتِغَالِهِمْ بِخِدْمَتِهِ وَطَاعَتِهِ فَلَا جَرَمَ كُلُّ مَنْ وَرَدَ عَرْصَةَ القيامة فإنه يكون مسؤولا عَنْ أَعْمَالِهِ وَأَقْوَالِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/308 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–14)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/308 · Shamela ↗ (commentary on 13–14)
Antara huraian ar-Rāzī tentang kaitan ayat ini dengan ayat sebelumnya (beliau menyebut tiga wajah (kemungkinan kaitan)): yang kedua, setelah Allah menjelaskan bahawa Dia menyampaikan kepada makhluk pelbagai perkara yang bermanfaat untuk agama dan dunia, seperti tanda malam dan siang, Dia ialah Pemberi nikmat yang paling agung, dan itu menuntut mereka sibuk berkhidmat dan taat kepada-Nya; maka setiap orang yang tiba di padang kiamat akan ditanya tentang amalan dan kata-katanya. Yang ketiga, Allah menjadikan semua itu supaya manusia mampu taat; maka setiap orang akan ditanya, adakah dia taat atau derhaka.
Renungan: Setiap nikmat yang kita kecapi hari ini akan ditanya “pada hari kiamat”; marilah kita menggunakannya untuk ketaatan.Among ar-Rāzī’s explanations of how this verse links to the one before (he gives three wujūh, possible links): the second, after Allah made clear that He brings creation all kinds of things that benefit them in religion and worldly life, such as the signs of night and day, He is the greatest Giver of favours, and that calls for them to busy themselves in serving and obeying Him; so everyone who arrives at the plain of the Day of Resurrection will be questioned about his deeds and words. The third, Allah made all of this so that people would be able to obey; so each will be asked whether he obeyed or rebelled.
Reflection: Every blessing we enjoy today will be asked about on the Day of Resurrection; let us use it in obedience.
عَلَيۡكَ
terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan)against yourself (about all that you have done)
Terjemahan: (Lalu Kami perintahkan kepadanya): "Bacalah Kitab (suratan amalmu), cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu (tentang segala yang telah engkau lakukan)"Translation: (Then We command him): “Read your Book (the record of your deeds); it is enough that you yourself, on this day, be the one who reckons against yourself (about all that you have done).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْأَمْرُ فِي اقْرَأْ مُسْتَعْمَلٌ فِي التَّسْخِيرِ وَمُكَنًّى بِهِ عَنِ الْإِعْذَارِ لَهُمْ وَالِاحْتِجَاجِ عَلَيْهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/48–49 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/48–49 · Shamela ↗ (commentary on 13–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kitab itu didapati terbuka sebagai kināyah (kiasan) betapa cepatnya seseorang mengetahui seluruh amalannya, sehingga kitab itu hadir dalam keadaan terbuka sebelum pemiliknya tiba. Perintah “Bacalah Kitab” ialah taskhīr (perintah yang tidak memberi pilihan), dan kiasan bahawa tiada lagi alasan bagi mereka serta hujah ditegakkan ke atas mereka, sebagaimana ditunjukkan oleh “cukuplah engkau sendiri pada hari ini menjadi penghitung terhadap dirimu”. Penghitung (ḥasīb) bermaksud yang menghitung dan mencatat, dan ia membawa juga makna saksi.
Renungan: Pada hari itu diri kita sendiri menjadi saksi; marilah kita menghitung diri sekarang sebelum dihitung.According to Ibn ‘Āshūr, the book being found open is a kināyah, an indirect expression, for how quickly a person learns all that he did, so that the book is already there, open, before its owner arrives. The command to read is taskhīr, a command that leaves no choice, and an indirect way of saying that no excuse remains for them and the case against them is made, as the words that follow show, where each person is enough to reckon against himself. Ḥasīb means the one who counts and records, and here it also carries the sense of witness.
Reflection: On that Day we ourselves will be the witness; let us take account of ourselves now, before we are taken to account.
ٱهۡتَدَىٰ
beroleh hidayah petunjuk (menurut panduan al-Qur’an)obtains guidance (following the direction of the Qur’an) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
يَهۡتَدِي
faedah petunjuk yang didapatinya itu (lit. … mendapat petunjuk)the benefit of the guidance … gains (lit. … is guided) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
يَضِلُّ
kesan buruk kesesatannya … ditanggung (lit. … sesat)the bad effect of his straying is borne (lit. … strays) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
أُخۡرَىٰۗ
orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja)another’s deeds (rather only the sin of his own efforts)
رَسُولٗا
seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah)a Messenger (to explain what is right and what is wrong)
Terjemahan: Sesiapa yang beroleh hidayah petunjuk (menurut panduan Al-Quran), maka sesungguhnya faedah petunjuk yang didapatinya itu hanya terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang sesat maka sesungguhnya kesan buruk kesesatannya hanya ditanggung oleh dirinya juga. Dan seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah)Translation: Whoever obtains guidance (following the direction of the Qur’an), then truly the benefit of the guidance he gains returns only to his own self; and whoever goes astray, then truly the bad effect of his straying is borne only by his own self too. And a person who is able to carry will not carry the sin of another’s deeds (rather only the sin of his own efforts). And We never punish anyone before We send a Messenger (to explain what is right and what is wrong).
Nota nahu: فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ … فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا (ayat 15).Grammar note: فَإِنَّمَا يَهْتَدِى لِنَفْسِهِۦ … فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا (verse 15).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«عَبَّرَ عَنْ هَذَا الْمَعْنَى بِعِبَارَةٍ أُخْرَى أَقْرَبَ إِلَى الْأَفْهَامِ وَأَبْعَدَ عَنِ الْغَلَطِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/311 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/311 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, ayat ini mengungkapkan makna ayat 13 dengan ungkapan lain yang lebih mudah difahami dan lebih jauh daripada salah faham: ganjaran amal soleh khusus bagi pelakunya dan tidak berpindah kepada orang lain. Kemudian Allah mengulang penegasan itu dengan “seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain”, iaitu setiap orang menanggung kesan perbuatannya sendiri.
Renungan: Tiada siapa boleh beramal atau menanggung dosa bagi pihak kita; marilah kita bertanggungjawab atas pilihan kita sendiri dan bersungguh mencari hidayah (petunjuk).Ar-Rāzī says that this verse puts the meaning of verse 13 in other words, easier to grasp and further from misunderstanding: the reward of a righteous deed belongs to the one who does it and does not pass to anyone else. Then Allah repeats that point by saying that no one who bears a burden bears the sin of another, meaning that each person carries the effect of his own deeds.
Reflection: No one can do good or bear sin on our behalf; let us take responsibility for our own choices and strive earnestly for guidance.
مُتۡرَفِيهَا
orang-orang yang melampau dengan kemewahan di antara mereka (supaya taat)those among them who are excessive in luxury (to obey)
فَحَقَّ
maka berhaklahso … deserves (ketetapan (azab) al‑qauluthe decree (of punishment) al‑qawlu)
Terjemahan: Dan apabila sampai tempoh Kami hendak membinasakan penduduk sesebuah negeri, Kami perintahkan (lebih dahulu) orang-orang yang melampau dengan kemewahan di antara mereka (supaya taat), lalu mereka menderhaka dan melakukan maksiat padanya; maka berhaklah negeri itu dibinasakan, lalu Kami menghancurkannya sehancur-hancurnyaTranslation: And when the time comes that We intend to destroy the people of a town, We command (first) those among them who are excessive in luxury (to obey), then they rebel and commit sins in it; so that town deserves to be destroyed, and We crush it utterly.
Nota nahu: فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ (ayat 16).Grammar note: فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ (verse 16).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ عِصْيَانَهُمُ الْأَمْرَ الْمُوَجَّهَ إِلَيْهِمْ هُوَ سَبَبُ فِسْقِهِمْ وَفسق بَقِيَّة قَومهمْ إِذْ هُمْ قَادَةُ الْعَامَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/55 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/55 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, al-mutraf (“orang-orang yang melampau dengan kemewahan”) ialah orang yang diberi nikmat dan hidup senang. Perintah itu ditujukan khusus kepada mereka walaupun para rasul menyeru semua manusia, kerana keingkaran mereka terhadap perintah itulah yang menyebabkan kefasikan mereka dan kefasikan kaum mereka, sebab merekalah pemimpin orang ramai; apabila mereka keluar daripada perintah, orang ramai mengikut, lalu kefasikan merata dan negeri itu layak dibinasakan. Fisq (kefasikan) ialah keluar daripada apa yang Allah perintahkan.
Renungan: Semakin besar nikmat dan pengaruh, semakin besar tanggungjawab; marilah kita menjadi contoh ketaatan bagi orang yang mengikut kita, di rumah dan di tempat kerja.According to Ibn ‘Āshūr, al-mutraf, those given to luxury, are people granted favour and an easy life. The command is directed at them in particular, though the messengers call all people, because their defiance of the command is what causes their own fisq and the fisq of their people, since they are the leaders of the common folk; when they depart from the command, the common folk follow, so fisq spreads and the town deserves destruction. Fisq means departing from what Allah has commanded.
Reflection: The greater the favour and influence, the greater the responsibility; let us be examples of obedience for those who follow us, at home and at work.
Terjemahan: Dan berapa banyak umat-umat yang Kami telah binasakan sesudah zaman Nabi Nuh; dan cukuplah Tuhanmu (wahai Muhammad) mengetahui lagi melihat akan dosa-dosa hamba-NyaTranslation: And how many nations We have destroyed after the time of the Prophet Nuh; and it is enough that your Lord (O Muhammad) knows and sees the sins of His servants.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَقَدَّمَ مَا هُوَ مُتَعَلِّقٌ بِالضَّمَائِرِ وَالنَّوَايَا لِأَنَّ الْعَقَائِدَ أَصْلُ الْأَعْمَالِ فِي الْفَسَادِ وَالصَّلَاحِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/56–57 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/56–57 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini memberi contoh kebinasaan negeri yang disebut sebelumnya, kerana contoh lebih jelas dan lebih kuat sebagai peringatan. Zaman Nabi Nuh dijadikan permulaan kisah umat-umat kerana baginda rasul yang pertama. Ungkapan “mengetahui lagi melihat” ialah kiasan bahawa tiada satu pun dosa mereka terlepas, sama ada yang terlihat atau yang tersembunyi dalam hati, iaitu amalan dan niat mereka. Sifat yang berkaitan dengan isi hati dan niat didahulukan kerana akidah (kepercayaan) ialah asal segala amalan, sama ada rosak atau baik.
Renungan: Allah melihat niat sebelum amalan; marilah kita membetulkan niat dan isi hati kita, kerana daripadanyalah lahir amalan.According to Ibn ‘Āshūr, this verse gives an example of the destruction of towns described before it, since an example is clearer and a stronger warning. The era of the Prophet Nuh is made the starting point of the stories of nations because he was the first messenger. The words knowing and seeing are an indirect way of saying that none of their sins escapes, whether seen or hidden in the heart, meaning their deeds and their intentions. The quality tied to hearts and intentions comes first because beliefs are the root of all deeds, in corruption and in righteousness.
Reflection: Allah sees the intention before the deed; let us set right our intentions and what lies in our hearts, for from them our deeds are born.
يَصۡلَىٰهَا
untuk membakarnya (lit. … terbakar di dalamnya)to burn him (lit. … burns in it) (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Sesiapa yang menghendaki (kesenangan hidup) dunia, Kami akan segerakan kepadanya dalam dunia apa yang Kami kehendaki, bagi sesiapa yang Kami kehendaki; kemudian Kami sediakan baginya neraka Jahannam (di akhirat kelak), untuk membakarnya dalam keadaan yang hina lagi tersingkir dari rahmat AllahTranslation: Whoever desires (the pleasures of the life of) the world, We will hasten to him in the world whatever We will, for whomever We wish; then We prepare for him the Hell of Jahannam (in the Hereafter later), to burn him in a state of disgrace and driven away from the mercy of Allah.
Nota nahu: جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا (ayat 18).Grammar note: جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا (verse 18).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ مُسَاعَدَةَ الدُّنْيَا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْتَدَلَّ بِهَا عَلَى رِضَا اللَّهِ تَعَالَى، لِأَنَّ الدُّنْيَا قَدْ تَحْصُلُ مَعَ أَنَّ عَاقِبَتَهَا هِيَ الْمَصِيرُ إِلَى عَذَابِ اللَّهِ وَإِهَانَتِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/316–317 · Shamela ↗ (huraian ayat 18–21)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/316–317 · Shamela ↗ (commentary on 18–21)
Antara huraian ar-Rāzī tentang faedah lafaz ayat ini (beliau menyebut tiga faedah, selepas menukil al-Qaffāl): yang kedua, ada orang jahil yang apabila dunia menyebelahinya, dia terpedaya dan menyangka itu kerana kemuliaannya di sisi Allah; maka Allah menjelaskan bahawa kesenangan dunia tidak patut dijadikan bukti keredhaan Allah, kerana dunia boleh diperoleh sedangkan kesudahannya ialah azab dan kehinaan daripada Allah.
Renungan: Kesenangan dunia bukan ukuran keredhaan Allah; marilah kita menilai diri dengan niat dan ketaatan kita, bukan dengan harta dan kejayaan.Among ar-Rāzī’s explanations of the benefits in the wording of this verse (he gives three, after quoting al-Qaffāl): the second, some ignorant people, when the world favours them, are deceived and think it is because of their high standing with Allah; so Allah makes clear that worldly success should not be taken as proof of His pleasure, since the world may be gained while its end is punishment and disgrace from Allah.
Reflection: Worldly comfort is not the measure of Allah’s pleasure; let us judge ourselves by our intentions and obedience, not by wealth and success.
وَسَعَىٰ
dan berusaha mengerjakan amal-amal yang baikand strives to do good deeds (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
Terjemahan: Dan sesiapa yang menghendaki akhirat dan berusaha mengerjakan amal-amal yang baik untuk akhirat dengan usaha yang layak baginya, sedang ia beriman, maka mereka yang demikian keadaannya, diberi pahala akan amal usahanyaTranslation: And whoever desires the Hereafter and strives to do good deeds for the Hereafter with the striving fitting for it, while he has faith, then those whose state is such are given reward for their efforts.
Nota nahu: فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا (ayat 19).Grammar note: فَأُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا (verse 19).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِي الْآيَةِ تَنْبِيهٌ عَلَى أَنَّ إِرَادَةَ خَيْرِ الْآخِرَةِ مِنْ غَيْرِ سَعْيٍ غُرُورٌ وَأَنَّ إِرَادَةَ كُلِّ شَيْءٍ لَا بُدَّ لِنَجَاحِهَا مِنَ السَّعْيِ فِي أَسْبَابِ حُصُولِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/60–61 · Shamela ↗ (huraian ayat 18–19)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/60–61 · Shamela ↗ (commentary on 18–19)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kehendak kepada akhirat disebut dengan kata kerja lampau untuk menunjukkan ia tertanam kukuh, sebagai peringatan bahawa kebaikan akhirat lebih layak dikehendaki; syaratnya hanyalah berusaha untuknya dan beriman. Sa‘y (usaha) asalnya berjalan tanpa berlari; usaha untuk akhirat ialah amal soleh, dan orang yang beramal soleh seolah-olah berjalan pantas menuju akhirat. Ayat ini mengingatkan bahawa menghendaki kebaikan akhirat tanpa usaha ialah tipu daya diri, dan setiap kehendak memerlukan usaha pada sebab-sebabnya. Ungkapan “sedang ia beriman” pula menunjukkan iman yang tetap dan teguh.
Renungan: Cita-cita akhirat tanpa amal hanyalah angan-angan; marilah kita menyusun langkah amal yang nyata, berpaksikan iman yang teguh.According to Ibn ‘Āshūr, desiring the Hereafter is expressed with a past-tense verb to show that it is firmly rooted, as a reminder that the good of the Hereafter is more worthy of being desired; its only conditions are striving for it and having faith. Sa‘y, striving, is at root walking without running; striving for the Hereafter is righteous deeds, and the one who does them is as if walking swiftly towards the Hereafter. The verse warns that wanting the good of the Hereafter without striving is self-deception, and that every aim needs effort in its means. The words about him being a believer point to faith that is steady and firm.
Reflection: Hopes for the Hereafter without deeds are mere wishes; let us take real steps in good deeds, anchored in firm faith.
Terjemahan: Tiap-tiap golongan dari keduanya, golongan dunia dan golongan akhirat Kami hulurkan kepada mereka dari pemberian Tuhanmu (wahai Muhammad); dan tiadalah pemberian Tuhanmu itu tersekat (dari sesiapapun)Translation: Each group of the two, the group of the world and the group of the Hereafter, We extend to them from the giving of your Lord (O Muhammad); and the giving of your Lord is not held back (from anyone).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذِهِ الْآيَةُ فَذْلَكَةٌ لِلتَّنْبِيهِ عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَتْرُكْ خَلْقَهُ مِنْ أَثَرِ رَحْمَتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/61–62 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 15/61–62 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini ialah fadhlakah (rumusan) yang mengingatkan bahawa Allah tidak membiarkan makhluk-Nya tanpa kesan rahmat-Nya, termasuk orang kafir yang tidak beriman dengan pertemuan dengan-Nya; mereka diberi nikmat dunia menurut kadar yang ditetapkan untuk mereka, manakala orang beriman diberi kebaikan dunia dan akhirat. Perkataan hulurkan (al-imdād) bermaksud pemberian yang berterusan, yang baru menyambung yang lama tanpa putus; dan “tersekat” bermaksud terhalang, sedangkan setiap makhluk ada bahagian daripadanya.
Renungan: Rahmat Allah meliputi semua; marilah kita membalas pemberian-Nya yang tidak putus itu dengan syukur dan ketaatan.According to Ibn ‘Āshūr, this verse is a fadhlakah, a summing-up, pointing out that Allah has not left His creatures without some trace of His mercy, even the disbelievers who do not believe in meeting Him; they are given worldly favours in the measure set for them, while the believers are given the good of both this world and the Hereafter. Al-imdād, extending, means giving that goes on and on, each new gift joined to the last without a break; and being held back means being withheld, whereas every creature has a share of it.
Reflection: Allah’s mercy embraces all; let us answer His unceasing giving with gratitude and obedience.
بَعۡضٖۚ
sebahagian yang lain (dalam rezeki pemberian Kami itu)others (in that provision We give)
Terjemahan: Lihatlah bagaimana Kami lebihkan sebahagian dari mereka atas sebahagian yang lain (dalam rezeki pemberian Kami itu) dan sesungguhnya pemberian di akhirat lebih besar tingkatan-tingkatan perbezaannya dan lebih besar tambahan-tambahan kelebihannyaTranslation: Look how We have favoured some of them above others (in that provision We give); and truly the giving in the Hereafter is greater in its levels of difference and greater in its added measures of excellence.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ تَشْتَدُّ رَغْبَتُهُ فِي طَلَبِ فَضِيلَةِ الدُّنْيَا فَبِأَنْ تَقْوَى رَغْبَتُهُ فِي طَلَبِ فَضِيلَةِ الْآخِرَةِ أَوْلَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/319 · Shamela ↗ (huraian ayat 18–21)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 20/319 · Shamela ↗ (commentary on 18–21)
Antara huraian ar-Rāzī tentang ayat ini (beliau menyebut dua pendapat): yang pertama, lihatlah pemberian dunia kepada kedua-dua golongan: Allah memberikannya kepada seorang mukmin dan menahannya daripada mukmin yang lain, dan memberikannya kepada seorang kafir dan menahannya daripada kafir yang lain. Perbezaan darjat dunia dapat dirasai, sedangkan perbezaan darjat akhirat lebih besar dan agung. Maka jika manusia begitu bersungguh mengejar kelebihan dunia, lebih utama dia bersungguh mengejar kelebihan akhirat.
Renungan: Marilah kita mengalihkan semangat bersaing kita daripada dunia kepada darjat akhirat yang lebih tinggi dan kekal.Among ar-Rāzī’s explanations of this verse (he gives two views): the first, look at the worldly giving to both groups: Allah grants it to one believer and withholds it from another, and grants it to one disbeliever and withholds it from another. Differences in worldly rank can be felt, while differences in rank in the Hereafter are far greater and more momentous. So if a person strives so hard after worldly distinction, he has more reason to strive after distinction in the Hereafter.
Reflection: Let us turn our spirit of competition away from this world towards the higher and lasting ranks of the Hereafter.