لَتَعُودُنَّ
… menjadi (lit. … benar-benar kembali)… will become (lit. … will surely return) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan berkatalah pula orang-orang yang kafir itu kepada Rasul-rasul mereka: "Demi sesungguhnya, kami akan mengeluarkan kamu dari negeri kami atau kamu menjadi seugama dengan kami". Lalu Tuhan wahyukan kepada Rasul-rasul-Nya: "Demi sesungguhnya! Kami akan membinasakan orang-orang yang zalimTranslation: And those who disbelieve in turn said to their Messengers: “Indeed, we shall expel you from our country, or you will become one in religion with us.” Then the Lord revealed to His Messengers: “Indeed! We will destroy those who do wrong,
Nota nahu: أَوْ لَتَعُودُنَّ فِى مِلَّتِنَا (ayat 13).Grammar note: أَوْ لَتَعُودُنَّ فِى مِلَّتِنَا (verse 13).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالسَّبَبُ فِيهِ أَنَّ أَهْلَ الْحَقِّ فِي كُلِّ زَمَانٍ يَكُونُونَ قَلِيلِينَ وَأَهْلُ الْبَاطِلِ يَكُونُونَ كَثِيرِينَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/76 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–17)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/76 · Shamela ↗ (commentary on 13–17)
Kata ar-Rāzī, selepas Allah menceritakan bahawa para nabi memadai dengan bertawakal kepada-Nya untuk menolak kejahatan musuh mereka, Allah menceritakan pula bahawa orang-orang kafir melampau dalam kebodohan mereka hingga berkata bahawa salah satu daripada dua perkara pasti berlaku: para rasul diusir, atau mereka “menjadi seugama dengan kami”. Sebabnya, ahli kebenaran pada setiap zaman sedikit bilangannya dan ahli kebatilan ramai, manakala orang-orang zalim dan fasik saling bantu-membantu.
Renungan: Janganlah kita gentar apabila pendukung kebenaran sedikit; marilah kita terus berpegang pada kebenaran dan bertawakal kepada Allah sebagaimana para rasul.Ar-Rāzī says that after Allah told how the prophets relied on Him alone to fend off their enemies’ harm, He then told how those who disbelieved went to extremes of folly, saying that one of two things must happen: the Messengers would be driven out, or they would come over to their religion. The reason, he says, is that in every age the people of truth are few and the people of falsehood many, while the unjust and the corrupt band together.
Reflection: Let us not lose heart when those who stand for the truth are few; let us hold on to it and put our trust in Allah, as the Messengers did.
وَلَنُسۡكِنَنَّكُمُ
dan demi sesungguhnya! … akan tempatkan kamuand indeed! … will settle you (KamiWe)
بَعۡدِهِمۡۚ
sesudah binasanya kaum yang zalim itu (lit. sesudah mereka)after the destruction of the people who do wrong (lit. after them)
مَقَامِي
sikap keadilan-Ku (menghitung amalnya) (lit. kedudukan-Ku)My justice (in reckoning their deeds) (lit. My standing)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Kami akan tempatkan kamu di negeri itu sesudah binasanya kaum yang zalim itu; balasan baik yang demikian, adalah bagi orang-orang yang takut akan sikap keadilan-Ku (menghitung amalnya), dan takut akan janji-janji azab-Ku"Translation: And indeed! We will settle you in that land after the destruction of the people who do wrong; that good recompense is for those who fear My justice (in reckoning their deeds), and fear My promises of punishment.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ إِقَامَتِي عَلَى الْعَدْلِ وَالصَّوَابِ فَإِنَّهُ تَعَالَى لَا يَقْضِي إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَحْكُمُ إِلَّا بِالْعَدْلِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/77 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–17)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/77 · Shamela ↗ (commentary on 13–17)
Antara huraian ar-Rāzī tentang “takut akan sikap keadilan-Ku”: Allah sentiasa tegak di atas keadilan dan kebenaran; Dia tidak memutuskan sesuatu melainkan dengan hak dan tidak menghukum melainkan dengan adil, dan Dia tidak sekali-kali menyimpang daripadanya. Kata beliau, ayat ini juga menunjukkan bahawa sesiapa yang bertawakal kepada Tuhannya untuk menolak musuhnya, Allah akan mencukupkan baginya urusan musuh itu.
Renungan: Kesedaran bahawa Allah Maha Adil menjadikan kita takut melakukan kezaliman; marilah kita bertawakal kepada-Nya ketika berdepan dengan kesusahan dan permusuhan.Among ar-Rāzī’s explanations of fearing My justice: Allah stands ever upon justice and right; He decrees nothing but what is true and judges nothing but with justice, never swerving from it at all. He adds that the verse also shows that whoever relies on his Lord to fend off his enemy, Allah will suffice him against that enemy.
Reflection: Knowing that Allah is perfectly just makes us afraid of doing wrong; let us rely on Him in times of hardship and hostility.
وَٱسۡتَفۡتَحُواْ
dan … memohon pertolongan (kepada Allah, untuk mendapat kemenangan)and … sought help (from Allah, to gain victory) (mereka (Rasul‑rasul serta umatnya yang beriman)they (the Messengers together with their people who believed))
Terjemahan: Dan (Rasul-rasul serta umatnya yang beriman) memohon pertolongan (kepada Allah, untuk mendapat kemenangan); dan terkecewalah tiap-tiap orang yang sombong takbur, lagi bersikap degil (dalam keingkarannya)Translation: And (the Messengers together with their people who believed) sought help (from Allah, to gain victory); and disappointed was every one who was proud and haughty, and who behaved stubbornly (in his denial).
Nota nahu: وَٱسْتَفْتَحُوا۟ (ayat 15).Grammar note: وَٱسْتَفْتَحُوا۟ (verse 15).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الرُّسُلَ اسْتَفْتَحُوا فَنُصِرُوا وَظَفِرُوا بِمَقْصُودِهِمْ وَفَازُوا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/78 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–17)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/78 · Shamela ↗ (commentary on 13–17)
Ar-Rāzī menukil dua makna istiftāḥ (memohon pembukaan) yang disebut oleh para mufassir; yang pertama ialah memohon kemenangan dengan pertolongan Allah, dan menurut makna ini yang memohon ialah para rasul: mereka memohon pertolongan Allah menghadapi musuh, lalu mereka ditolong, mencapai hajat mereka dan berjaya, sedangkan “terkecewalah tiap-tiap orang yang sombong takbur”. Kata beliau, al-jabbār (yang sombong takbur) di sini ialah orang yang menyombong diri daripada mentaati dan beribadah kepada Allah.
Renungan: Kemenangan datang daripada Allah; marilah kita memohon pertolongan-Nya dan menjauhi sifat sombong terhadap perintah-Nya.Ar-Rāzī reports two meanings of istiftāḥ, seeking an opening, given by the commentators; the first is seeking victory through Allah’s help, and on this meaning those who sought it were the Messengers: they asked Allah’s help against their foes, were helped, attained their aim and prevailed, while every haughty and stubborn one was left disappointed. He says al-jabbār, the haughty one, here means one too proud to obey and worship Allah.
Reflection: Victory comes from Allah; let us seek His help and keep far from pride towards His commands.
وَيُسۡقَىٰ
dan … akan diberi minumand … will be given drink (dia (orang yang sombong takbur itu)he (the one who was proud and haughty))NF
صَدِيدٖ
danur (yang keluar dari tubuh ahli neraka)foul discharge (that comes out of the bodies of the people of Hell)
Terjemahan: Di belakangnya disediakan neraka Jahannam, dan ia akan diberi minum dari air danur (yang keluar dari tubuh ahli neraka)Translation: Behind him is prepared Hell (Jahannam), and he will be given drink from water of foul discharge (that comes out of the bodies of the people of Hell).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّ جَهَنَّمَ تَنْتَظِرُهُ، أَيْ فَهُوَ صَائِرٌ إِلَيْهَا بَعْدَ مَوْتِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/210 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–17)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/210 · Shamela ↗ (commentary on 15–17)
Menurut Ibn ‘Āshūr, orang yang sombong lagi degil itu kecewa di dunia, namun itu bukan sahaja bahagian hukumannya; malah “Di belakangnya” ada azab akhirat. Perkataan warā’ (belakang) di sini dipakai bagi sesuatu yang menanti seseorang dan akan menimpanya kemudian, seperti sesuatu di belakang seseorang yang tidak disedarinya kerana dia tidak melihatnya. Maknanya, neraka Jahannam sedang menantinya dan dia akan menuju ke sana selepas matinya.
Renungan: Apa yang tidak kita sedari tetap menanti kita; marilah kita sentiasa sedar akan akhirat dan tidak lalai dalam kehidupan dunia.According to Ibn ‘Āshūr, the haughty, stubborn one is disappointed in this world, yet that is not all his share of punishment: behind him lies the punishment of the Hereafter. The word warā’, behind, is used here for what awaits a person and will befall him later, like something at one’s back that one does not notice because one cannot see it. The meaning is that Hell is waiting for him, and he will come to it after his death.
Reflection: What we do not notice still awaits us; let us stay mindful of the Hereafter and not be heedless in this worldly life.
يُسِيغُهُۥ
dapat diterima oleh tekaknya (kerana busuknya) (lit. … menelannya)be accepted by his throat (because of its foulness) (lit. … swallow it) (diahe)
وَيَأۡتِيهِ
dan ia didatangi (lit. dan … mendatanginya)and he is visited by (lit. and … comes to him) (maut al‑mautudeath al‑mawtu)
Terjemahan: Ia meminumnya dengan terpaksa dan hampir-hampir tidak dapat diterima oleh tekaknya (kerana busuknya), dan ia didatangi (penderitaan) maut dari segala arah, sedang ia tidak pula mati (supaya terlepas dari azab seksa itu); dan selain dari itu, ada lagi azab seksa yang lebih beratTranslation: He drinks it unwillingly, and it can hardly be accepted by his throat (because of its foulness); and he is visited by (the sufferings of) death from every direction, yet he does not die (so as to escape that torment); and besides that, there is yet a torment that is heavier.
Nota nahu: وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ (ayat 17).Grammar note: وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ (verse 17).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّ مُوجِبَاتِ الْمَوْتِ أَحَاطَتْ بِهِ مِنْ جَمِيعِ الْجِهَاتِ، وَمَعَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ لَا يَمُوتُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/80 · Shamela ↗ (huraian ayat 13–17)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/80 · Shamela ↗ (commentary on 13–17)
Kata ar-Rāzī, tajarru‘ (meneguk) ialah meminum sedikit demi sedikit secara berterusan. Maksud “ia didatangi (penderitaan) maut dari segala arah, sedang ia tidak pula mati” ialah segala sebab kematian mengepungnya dari setiap arah, namun dia tetap tidak mati. Antara huraian beliau tentang “azab seksa yang lebih berat”: setiap kali dia menghadapinya, dia menerima azab yang lebih keras daripada sebelumnya.
Renungan: Gambaran ini amat menggerunkan; marilah kita memohon perlindungan Allah daripada azab-Nya dan menjauhi jalan yang membawa kepadanya.Ar-Rāzī says tajarru‘, gulping, is taking a drink one mouthful after another without pause. Death coming at him from every side means that all the causes of death surround him on every side, and still he does not die. Among his explanations of the heavier punishment: each time he meets it, he receives a punishment harsher than the one before.
Reflection: This picture is truly fearsome; let us seek Allah’s protection from His punishment and keep away from the path that leads to it.
مَّثَلُ
bandingan (segala kebaikan amal dan usaha)the likeness of (all the good deeds and efforts of)
ٱشۡتَدَّتۡ
yang diterbangkan (lit. … bertiup kencang)blown away by (lit. … blew hard) (angin ar‑rihuthe wind ar‑rīḥu)
Terjemahan: Bandingan (segala kebaikan amal dan usaha) orang-orang yang kufur ingkar terhadap Tuhannya ialah seperti abu yang diterbangkan angin pada hari ribut yang kencang; mereka tidak memperoleh sesuatu faedah pun dari apa yang mereka telah usahakan itu. Sia-sianya amalan itu ialah kesan kesesatan yang jauh dari dasar kebenaranTranslation: The likeness of (all the good deeds and efforts of) those who disbelieve and deny their Lord is like ashes blown away by the wind on a day of fierce storm; they do not obtain any benefit at all from what they have earned. That futility of deeds is the result of a straying that is far from the foundation of truth.
Nota nahu: أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ … لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ (ayat 18).Grammar note: أَعْمَٰلُهُمْ كَرَمَادٍ … لَّا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا۟ عَلَىٰ شَىْءٍ (verse 18).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شُبِّهَتْ أَعْمَالُهُمُ الْمُتَجَمِّعَةُ الْعَدِيدَةُ بِرَمَادٍ مُكَدَّسٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/212 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/212 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini perumpamaan bagi amal kebaikan orang-orang yang kufur, yang tidak memberi manfaat kepada mereka pada hari kiamat. Pendengar mungkin bertanya: bukankah mereka pernah memberi makan orang fakir, memuliakan tetamu dan menebus tawanan? Maka diberikan perumpamaan ini: amal mereka yang banyak dan terkumpul diumpamakan dengan abu yang bertimbun; apabila angin bertiup kencang, ia berselerak tanpa harapan untuk berkumpul semula.
Renungan: Amal tanpa iman yang benar ibarat abu ditiup angin; marilah kita membina setiap amal kita di atas iman supaya ia kekal bernilai di sisi Allah.According to Ibn ‘Āshūr, this is a likeness for the good deeds of those who disbelieve, which bring them no benefit on the Day of Resurrection. A listener may ask: did they not feed the poor, honour guests and ransom captives? So this likeness is given: their many, gathered deeds are likened to a heap of ash which, when the wind blows hard upon it, scatters beyond any hope of being gathered again.
Reflection: Deeds without true faith are like ash in the wind; let us build every deed of ours upon faith, so that it keeps its worth with Allah.
بِٱلۡحَقِّۚ
dengan cara yang sungguh layak dan berhikmatthrough a manner that is truly fitting and full of wisdom
يُذۡهِبۡكُمۡ
nescaya dibinasakan-Nya kamu (dengan sebab kekufuran kamu) (lit. … menghilangkan kamu)surely you will be destroyed by Him (because of your disbelief) (lit. … will remove you) (DiaHe)
وَيَأۡتِ
dan didatangkan pula (lit. dan … mendatangkan)and in turn will be brought (lit. and … will bring) (DiaHe)
Terjemahan: Tidakkah engkau telah nampak dan mengetahui bahawa Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan cara yang sungguh layak dan berhikmat? Jika Ia kehendaki nescaya dibinasakan-Nya kamu (dengan sebab kekufuran kamu) dan didatangkan pula dengan makhluk-makhluk yang baharuTranslation: Have you not seen and known that Allah has created both the heavens and the earth through a manner that is truly fitting and full of wisdom? If He wills, surely you will be destroyed by Him (because of your disbelief), and in turn will be brought beings that are new.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْحَقُّ هُنَا: الْحِكْمَةُ، أَيْ ضِدُّ الْعَبَثِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/214 · Shamela ↗ (huraian ayat 19–20)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/214 · Shamela ↗ (commentary on 19–20)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Tidakkah engkau telah nampak” di sini bermaksud ilmu yang lahir daripada memerhati dan merenung: langit dan bumi dilihat oleh setiap orang; bahawa ia ciptaan Allah difahami dengan sedikit renungan; tetapi bahawa ia dicipta dengan hak memerlukan renungan yang mendalam. Hak di sini ialah hikmah, lawan kepada sia-sia. Seruan ini ditujukan kepada setiap orang yang layak menerimanya. Allah yang berkuasa mencipta langit dan bumi yang agung itu tentu berkuasa membinasakan apa yang lebih kecil daripadanya.
Renungan: Alam ini dicipta dengan hikmah, bukan sia-sia; marilah kita meluangkan masa merenung langit dan bumi sehingga kita mengenali hikmah Penciptanya.According to Ibn ‘Āshūr, seeing here means knowledge born of looking and reflecting: everyone sees the heavens and the earth; that Allah created them needs only a little thought; but that they were created with truth needs deep reflection. Truth here means wisdom, the opposite of idle play. The address is to everyone fit to receive it. Allah, Who was able to create the heavens and the earth in all their greatness, is surely able to destroy what is lesser than them.
Reflection: This universe was made with wisdom, not in vain; let us take time to ponder the heavens and the earth until we come to know the wisdom of their Maker.
Terjemahan: Dan yang demikian itu tidaklah sukar bagi Allah melakukannyaTranslation: And that thing is not hard for Allah to carry out.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْقَادِرَ عَلَى الْأَصْعَبِ الْأَعْظَمِ بِأَنْ يَكُونَ قَادِرًا عَلَى الْأَسْهَلِ الْأَضْعَفِ أَوْلَى»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/82 · Shamela ↗ (huraian ayat 18–20)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/82 · Shamela ↗ (commentary on 18–20)
Kata ar-Rāzī, makna ayat sebelumnya ialah: Tuhan yang berkuasa mencipta langit dan bumi lebih-lebih lagi berkuasa membinasakan suatu kaum dan mendatangkan kaum yang lain, kerana yang berkuasa atas perkara yang lebih sukar dan lebih besar tentu lebih berkuasa atas perkara yang lebih mudah dan lebih kecil. Maka “tidaklah sukar bagi Allah melakukannya”, iaitu tiada apa yang dapat menghalang-Nya.
Renungan: Kekuasaan Allah tiada batasnya dan Dia berkuasa menggantikan sesiapa yang dikehendaki-Nya; janganlah kita merasa kedudukan kita kekal, marilah kita bersyukur dan taat kepada-Nya.Ar-Rāzī says the sense of the previous verse is that the One able to create the heavens and the earth is all the more able to do away with a people and bring others into being, for whoever has power over the harder and greater has all the more power over the easier and lesser. So it is no hard thing for Allah, meaning nothing can hold Him back from it.
Reflection: Allah’s power has no limit, and He can replace whom He wills; let us not think our place secure, but be grateful and obedient to Him.
فَقَالَ
kemudian … akan berkatathen … will say (orang‑orang yang lemah adh‑dhu‘afa’uthose who were weak aḍ‑ḍu‘afā’u)
ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ
orang-orang yang lemah (yang menjadi pengikut)those who were weak (who were followers)
ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ
sombong takbur itu … kepada mereka (yang menjadi pemimpinnya)were proud and haughty … to them (who were their leaders) (merekathey)
لَهَدَيۡنَٰكُمۡۖ
tentulah … tunjukkan jalan itu kepada kamusurely … would have shown that way to you (kamiwe)
مَّحِيصٖ
sebarang jalan … untuk melepaskan diri (dari azab itu)way at all … to escape (from that punishment)
Terjemahan: Dan mereka sekalian tetap akan berhimpun mengadap Allah (untuk dihisab pada hari kiamat); kemudian orang-orang yang lemah (yang menjadi pengikut) kepada orang-orang yang sombong takbur itu akan berkata kepada mereka (yang menjadi pemimpinnya): "Sesungguhnya kami telah menjadi pengikut kamu; maka adakah kamu dapat menolak daripada kami sedikit dari azab Allah?" Mereka menjawab: "Kalaulah Allah menunjukkan jalan selamat kepada kami, tentulah kami tunjukkan jalan itu kepada kamu. (Sekarang) sama sahaja kepada kita, sama ada kita menggelisah dan mengeluh atau kita bersabar, tiadalah sebarang jalan bagi kita untuk melepaskan diri (dari azab itu)"Translation: And they all will surely gather before Allah (to be reckoned on the Day of Resurrection); then those who were weak (who were followers) of those who were proud and haughty will say to them (who were their leaders): “Truly we became your followers; so can you avert from us a little of the punishment of Allah?” They will answer: “Had Allah shown us the way of safety, surely we would have shown that way to you. (Now) it makes no difference to us whether we are restless and complaining or we are patient; there is no way at all for us to escape (from that punishment).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْبَوَاطِنَ تَظْهَرُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ وَالْأَحْوَالَ الْكَامِنَةَ تَنْكَشِفُ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/83 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/83 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, pada hari itu segala yang tersembunyi akan terserlah dan keadaan batin akan tersingkap. Para pengikut bertanya kepada ketua-ketua mereka sama ada mereka mampu menolak azab Allah; maksudnya, kami mengikut kamu untuk hari ini. Pengakuan para ketua yang diikuti tentang kelemahan dan kehinaan mereka sendiri mendatangkan rasa malu yang amat besar; maka maksud disebut ayat ini ialah menggambarkan azab malu dan kehinaan yang menguasai mereka, di samping jenis-jenis azab yang lain.
Renungan: Kita tidak patut mengikut sesiapa secara membuta tuli; marilah kita memilih ikutan yang membawa kita kepada Allah, kerana pada hari itu tiada ketua yang dapat menolak azab-Nya.Ar-Rāzī says that on that Day all that is hidden will come out and inner states will be laid bare. The followers ask their chiefs whether they can keep Allah’s punishment from them, meaning: we followed you for this very Day. When leaders who were followed own up to such helplessness and disgrace, it brings them the deepest shame; so the aim of this verse is to show the torment of exposure, shame and disgrace that overwhelms them, on top of the other kinds of punishment.
Reflection: We should not follow anyone blindly; let us choose to follow those who lead us to Allah, for on that Day no leader can turn away His punishment.
وَلُومُوٓاْ
tetapi salahkan (lit. dan salahkanlah)but blame (lit. and blame) (kamu sekalianyou all)
ٱلظَّٰلِمِينَ
orang-orang yang zalim (yang meletakkan sesuatu pada bukan tempatnya)those who do wrong (who put things where they do not belong)
Terjemahan: Dan berkatalah pula Syaitan setelah selesai perkara itu: "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kamu dengan janji yang benar dan aku telah menjanjikan kamu lalu aku mungkiri janjiku itu kepada kamu; dan tiadalah bagiku sebarang alasan dan kuasa mempengaruhi kamu selain daripada aku telah mengajak kamu lalu kamu terburu-buru menurut ajakanku itu; maka janganlah kamu salahkan daku tetapi salahkan diri kamu sendiri. Aku tidak dapat menyelamatkan kamu dan kamu juga tidak dapat menyelamatkan daku. Sesungguhnya dari dahulu lagi aku telah kufur ingkarkan (perintah Tuhan) yang kamu sekutukan daku dengan-Nya". Sesungguhnya orang-orang yang zalim (yang meletakkan sesuatu pada bukan tempatnya) beroleh azab yang tidak terperi sakitnyaTranslation: And Satan in turn said, when the matter was settled: “Truly Allah promised you a promise that is true, and I promised you, then I broke my promise to you; and I had no excuse or power at all to influence you, except that I invited you, then you hastened to follow my invitation; so do not put the blame on me, but blame your own selves. I cannot save you, and you too cannot save me. Truly, from long before, I have rejected in disbelief (the command of the Lord) with Whom you associated me.” Truly those who do wrong (who put things where they do not belong) will have a punishment whose pain is beyond words.
Nota nahu: وَقَالَ ٱلشَّيْطَٰنُ لَمَّا قُضِىَ ٱلْأَمْرُ … إِنِّى كَفَرْتُ بِمَآ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ (ayat 22).Grammar note: وَقَالَ ٱلشَّيْطَٰنُ لَمَّا قُضِىَ ٱلْأَمْرُ … إِنِّى كَفَرْتُ بِمَآ أَشْرَكْتُمُونِ مِن قَبْلُ (verse 22).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ أَصْلٌ عَظِيمٌ فِي الْمَوْعِظَةِ وَالتَّرْبِيَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/218 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/218 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, perbantahan antara pengikut yang lemah dan ketua-ketua mereka berakhir dengan ucapan sumber kesesatan itu sendiri, iaitu Syaitan. Tujuan gambaran ini ialah membangkitkan rasa benci terhadap Syaitan dalam jiwa orang yang ingkar supaya mereka berwaspada dan menolak bisikannya, kerana ucapannya penuh kejahatan, tipu daya dan ejekan terhadap mereka. Kata beliau, ini ialah asas yang besar dalam nasihat dan pendidikan.
Renungan: Syaitan hanya mengajak, kemudian menyuruh pengikutnya “salahkan diri kamu sendiri”; marilah kita membenci tipu dayanya dari sekarang dan menolak bisikannya.According to Ibn ‘Āshūr, the dispute between the weak followers and their chiefs ends with the speech of the very source of misguidance, Satan. The aim of describing this scene is to stir up hatred of Satan in the hearts of those who deny, so that they take care to push back his whisperings, for what he says is full of malice, scheming and mockery towards them. This, he says, is a great principle in admonition and upbringing.
Reflection: Satan only calls, and then tells his followers to put the blame on themselves; let us hate his scheming from now on and push back his whisperings.
وَأُدۡخِلَ
dan dimasukkanlahand … are admitted (orang‑orang yang alladzinathose who alladhīna)NF
تَحِيَّتُهُمۡ
ucapan … sentiasa mereka dapati (dari malaikat) (lit. ucapan hormat mereka)a greeting of … they always receive (from the angels) (lit. their greeting)
Terjemahan: Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal soleh, ke dalam Syurga-syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai; mereka kekal di dalamnya dengan izin Tuhan mereka; ucapan selamat sentiasa mereka dapati (dari malaikat) di dalam Syurga-syurga ituTranslation: And those who believe and do righteous deeds are admitted into abodes of Paradise with rivers flowing beneath them; they will abide in them by the permission of their Lord; a greeting of peace they always receive (from the angels) in those abodes of Paradise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَنْزِيهًا لَهُمْ عَنِ الْخَوْضِ فِي تِلْكَ الْغَمْرَةِ، مَعَ التَّنْبِيهِ عَلَى أَنَّهُمْ حِينَئِذٍ فِي سَلَامَةٍ وَدَعَةٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/222 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/222 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, setelah digambarkan keadaan orang yang sesat, ayat ini beralih kepada keadaan orang-orang yang beriman pada hari itu, untuk menzahirkan perbezaan antara kedua-dua keadaan. Orang-orang yang beriman tidak terlibat dalam pertengkaran dan perbantahan itu; mereka dipelihara daripada kekalutan tersebut dan berada dalam keselamatan dan ketenangan. Ungkapan “dengan izin Tuhan mereka” pula mengisyaratkan perhatian dan pemeliharaan khusus daripada Allah.
Renungan: Iman dan amal soleh memelihara kita daripada pertengkaran yang sia-sia di akhirat; marilah kita menjauhi pertengkaran yang sia-sia sejak di dunia lagi.According to Ibn ‘Āshūr, after the state of the misguided, the verse turns to the state of the believers on that Day, to show how far apart the two conditions are. The believers take no part in that wrangling and dispute; they are kept above that turmoil and remain in safety and ease. The words with their Lord’s leave point to Allah’s special care and concern for them.
Reflection: Faith and righteous deeds keep us from fruitless quarrels in the Hereafter; let us keep away from fruitless quarrels already in this world.
Terjemahan: Tidakkah engkau melihat (wahai Muhammad) bagaimana Allah mengemukakan satu perbandingan, iaitu: kalimah yang baik adalah sebagai sebatang pohon yang baik, yang pangkalnya (akar tunjangnya) tetap teguh, dan cabang pucuknya menjulang ke langitTranslation: Have you not seen (O Muhammad) how Allah has set forth a comparison, namely: a good word is as a good tree, whose base (its taproot) is firm and steady, and whose top branches tower up to the sky?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالطَّيِّبَةُ: النَّافِعَةُ. اسْتُعِيرَ الطَّيِّبُ لِلنَّفْعِ لِحُسْنِ وَقْعِهِ فِي النُّفُوسِ كَوَقْعِ الرَّوَائِحِ الذَّكِيَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/224 · Shamela ↗ (huraian ayat 24–26)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/224 · Shamela ↗ (commentary on 24–26)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “kalimah yang baik” bermaksud kalimah yang bermanfaat; sifat baik dipinjam bagi manfaat kerana ia menyenangkan jiwa seperti bau yang harum. Pangkal pokok ialah akarnya dan cabangnya ialah dahannya yang menjulang; ketinggiannya menambah keindahan pokok itu. Yang diumpamakan ialah keadaan yang membawa keindahan pada pandangan, kegembiraan dalam jiwa dan manfaat yang terus bertambah, seperti akar yang teguh, rupa yang indah, dahan yang tumbuh dan buah yang banyak lagi enak dimakan.
Renungan: Ucapan yang baik membawa manfaat yang berpanjangan; marilah kita memelihara lidah kita supaya hanya menuturkan kata-kata yang baik dan bermanfaat.According to Ibn ‘Āshūr, the good word means the beneficial word; goodness is borrowed for benefit because it pleases the soul as a sweet scent does. The base of a tree is its root and its top is its branch rising high, and that height adds to the tree’s beauty. What is likened is a state that brings beauty to the eye, joy to the soul and benefit that keeps on growing, just like a firm root, a fair look, spreading branches and plentiful fruit that is pleasant to eat.
Reflection: Good speech brings lasting benefit; let us guard our tongues so that they speak only words that are good and beneficial.
Terjemahan: Dia mengeluarkan buahnya pada tiap-tiap masa dengan izin Tuhannya. Dan Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia, supaya mereka beringat (mendapat pelajaran)Translation: It brings out its fruit at every time by the permission of its Lord. And Allah sets forth those comparisons for mankind, so that they may take heed (gaining a lesson).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَنْبَغِي لِكُلِّ عَاقِلٍ أَنْ يَسْعَى فِي تَحْصِيلِهَا وَتَمَلُّكِهَا لِنَفْسِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/92–93 · Shamela ↗ (huraian ayat 24–26)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/92–93 · Shamela ↗ (commentary on 24–26)
Kata ar-Rāzī, pokok yang disifatkan dengan empat sifat itu ialah pokok yang mulia; setiap orang yang berakal patut berusaha memperolehnya dan memilikinya untuk dirinya, sama ada pokok seperti itu wujud di dunia atau tidak, kerana sifat-sifat itulah yang dituntut. Tentang “Allah mengemukakan perbandingan-perbandingan itu untuk manusia”, beliau menjelaskan bahawa makna akal yang abstrak sukar diterima oleh pancaindera dan khayalan; apabila disebut perkara yang dapat dirasa yang setara dengannya, barulah kefahaman menjadi sempurna.
Renungan: Perumpamaan al-Qur’an bukan sekadar cerita; marilah kita berusaha agar pohon kebaikan itu tumbuh dalam diri kita dan berbuah pada setiap masa.Ar-Rāzī says the tree described by those four qualities is a noble tree that every person of sense should strive to gain and make his own, whether or not such a tree exists in this world, for these qualities are what is to be sought. On Allah setting forth likenesses for mankind, he explains that purely rational meanings are hard for the senses and imagination to accept, but when something that can be felt and matches them is set beside them, understanding becomes complete.
Reflection: The likenesses of the Qur’an are more than stories; let us strive for that good tree to grow within us and bear fruit at every time.
ٱجۡتُثَّتۡ
yang mudah tercabut akar-akarnya (lit. yang telah dicabut)whose roots are easily torn out (lit. which has been uprooted) (ia (pohon itu)it (the tree))NF
Terjemahan: Dan bandingan Kalimah yang jahat dan buruk samalah seperti sebatang pohon yang tidak berguna yang mudah tercabut akar-akarnya dari muka bumi; tidak ada tapak baginya untuk tetap hidupTranslation: And the likeness of a word that is evil and foul is just like a tree that is of no use, whose roots are easily torn out from the face of the earth; it has no footing on which to remain alive.
Nota nahu: كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ ٱلْأَرْضِ (ayat 26).Grammar note: كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ ٱجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ ٱلْأَرْضِ (verse 26).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَذَلِكَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ تَعَالَى لَيْسَ لَهُ حُجَّةٌ وَلَا ثَبَاتٌ وَلَا قُوَّةٌ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/93 · Shamela ↗ (huraian ayat 24–26)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/93 · Shamela ↗ (commentary on 24–26)
Kata ar-Rāzī, perumpamaan kalimah yang jahat ini amat sempurna: sifat khabīthah (jahat dan buruk) menunjukkan ia penuh mudarat, manakala ia “tercabut akar-akarnya dari muka bumi” dan “tidak ada tapak baginya” menunjukkan ia kosong daripada segala manfaat. Ia tiada pangkal dan tiada akar; begitulah syirik (menyekutukan Allah): tiada hujah, tiada keteguhan dan tiada kekuatan baginya. Beliau juga menyatakan tidak perlu memperincikan jenis pokok itu.
Renungan: Kepercayaan dan ucapan yang tidak berdiri di atas hujah tidak akan kekal; marilah kita membina iman kita di atas ilmu dan dalil yang kukuh.Ar-Rāzī says this likeness of the evil word is perfect: its being khabīthah, evil and foul, shows it is full of harm, while its being torn up from the earth with no footing shows it is empty of every benefit. It has no base and no root; so it is with shirk, ascribing partners to Allah: it has no proof, no firmness and no strength. He adds there is no need to name the kind of tree.
Reflection: A belief or a saying not resting on proof will not last; let us build our faith on sound knowledge and proof.
ٱلظَّٰلِمِينَۚ
orang-orang yang berlaku zalim (kepada diri mereka sendiri)those who do wrong (to their own selves)
وَيَفۡعَلُ
dan … berkuasa melakukan (lit. dan … melakukan)and … has the power to carry out (lit. and … does) (AllahAllah)
Terjemahan: Allah menetapkan (pendirian) orang-orang yang beriman dengan kalimah yang tetap teguh dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang berlaku zalim (kepada diri mereka sendiri); dan Allah berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-NyaTranslation: Allah makes firm (the stand of) those who believe through the word that is firm and steady, in the life of this world and the Hereafter; and Allah leads astray those who do wrong (to their own selves); and Allah has the power to carry out whatever He wills.
Nota nahu: وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ (ayat 27).Grammar note: وَيَفْعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ (verse 27).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالثَّابِتُ الصَّادِقُ الَّذِي لَا شَكَّ فِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/226 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/226 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini menjawab persoalan yang timbul daripada perumpamaan pokok yang teguh akarnya: apakah kesan keteguhan itu? Jawapannya, keteguhan itu terzahir dalam hati orang-orang yang beriman apabila mereka teguh di atas agama dan tidak goyah. Maksud “kalimah yang tetap teguh” ialah perkataan yang benar tanpa sebarang keraguan, iaitu kata-kata al-Qur’an. Allah memudahkan mereka memahaminya dan mengenali dalil-dalilnya hingga hati mereka tenang, lalu mereka teguh beriman dan beramal tanpa ragu. Di akhirat pula, mereka mendapati segala keadaan seperti yang mereka ketahui di dunia, maka tiada penyesalan bagi mereka.
Renungan: Keteguhan iman lahir daripada memahami al-Qur’an; marilah kita mempelajarinya supaya hati kita tenang dan pendirian kita teguh.According to Ibn ‘Āshūr, this verse answers a question raised by the likeness of the tree with a firm root: what is the effect of that firmness? The answer is that it shows in the hearts of the believers when they stand firm in the religion without wavering. The firm word is speech that is true beyond all doubt, namely the sayings of the Qur’an. Allah eases for them the understanding of it and the grasp of its proofs until their hearts are at rest, so they stay firm in faith and act on it without hesitation. In the Hereafter, they find every state as they had learned of it in this world, so no regret touches them.
Reflection: Firm faith grows from understanding the Qur’an; let us study it so that our hearts find rest and our stand stays firm.
Terjemahan: Tidakkah engkau melihat (dan merasa ajaib) terhadap orang-orang kafir yang telah menukar kesyukuran nikmat Allah dengan kekufuran, dan yang telah menempatkan kaum mereka dalam kebinasaanTranslation: Have you not looked (and wondered) at those who disbelieve, who have exchanged gratitude for the favour of Allah with disbelief, and who have settled their people in ruin?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«والحذر مِنْهَا مُقَدَّمٌ عَلَى التَّحَلِّي بِضِدِّهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/227–228 · Shamela ↗ (huraian ayat 28–29)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/227–228 · Shamela ↗ (commentary on 28–29)
Menurut Ibn ‘Āshūr, selepas perumpamaan dua jenis agama itu, disebut pula kesan kedua-duanya pada penganutnya. Didahulukan keadaan orang yang menyekutukan Allah kerana ia lebih menghairankan, iktibar daripadanya lebih utama, dan berwaspada daripadanya didahulukan sebelum menghiasi diri dengan lawannya. Kufur di sini ialah kufur nikmat, lawan kepada syukur; maksudnya mereka “menukar kesyukuran nikmat Allah dengan kekufuran”.
Renungan: Kufur nikmat ialah lawan kepada syukur; marilah kita mula membersihkan diri daripada sikap tidak mensyukuri nikmat, kemudian menghiasinya dengan syukur dalam setiap keadaan.According to Ibn ‘Āshūr, after the likeness of the two faiths come their effects on those who hold them. The state of the people of shirk is mentioned first because it is the more astonishing, the lesson from it is weightier, and guarding against it comes before adorning oneself with its opposite. Kufr here is ingratitude for favour, the opposite of thanks; in place of Allah’s favour and the thanks due for it, they put ingratitude.
Reflection: Ingratitude is the opposite of thanks; let us first clear ourselves of failing to be thankful, and then adorn ourselves with gratitude in every state.
وَبِئۡسَ
dan (ingatlah), seburuk-burukand (remember), the worst (tempat tetap al‑qararuthe place to stay al‑qarāru)
ٱلۡقَرَارُ
tempat tetap ialah neraka Jahannam (lit. tempat tetap)place to stay is Hell (Jahannam) (lit. place to stay)
Terjemahan: (Iaitu) neraka Jahannam yang mereka akan menderita bakarannya; dan (ingatlah), seburuk-buruk tempat tetap ialah neraka JahannamTranslation: (Namely) Hell (Jahannam), whose burning they will suffer; and (remember), the worst place to stay is Hell (Jahannam).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأَرَادَ بِدَارِ الْبَوَارِ جَهَنَّمَ بِدَلِيلِ أَنَّهُ فَسَّرَهَا بِجَهَنَّمَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/94 · Shamela ↗ (huraian ayat 28–30)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/94 · Shamela ↗ (commentary on 28–30)
Kata ar-Rāzī, al-bawār ialah kebinasaan; yang dimaksudkan dengan tempat kebinasaan itu ialah neraka Jahannam, kerana ayat ini sendiri menjelaskannya dengan “neraka Jahannam yang mereka akan menderita bakarannya”. Al-qarār pula bermaksud tempat menetap; maka “seburuk-buruk tempat tetap ialah neraka Jahannam”.
Renungan: Tempat menetap kita di akhirat bergantung pada pilihan kita di dunia; marilah kita memohon perlindungan Allah daripada seburuk-buruk tempat itu dan memilih jalan yang diredhai-Nya.Ar-Rāzī says al-bawār is ruin, and the abode of ruin means Hell, since the verse itself explains it as Hell, whose burning they will suffer. Al-qarār means the place where one stays, so Hell is the worst place to stay.
Reflection: Where we stay in the Hereafter hangs on the choices we make in this world; let us seek Allah’s protection from that worst of places and choose the path that pleases Him.
تَمَتَّعُواْ
bersenang-senanglah (bagi sementara di dunia)enjoy yourselves (for a while in this world) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Dan mereka mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya. Katakanlah (wahai Muhammad): "Bersenang-senanglah kamu (bagi sementara di dunia), kerana sesungguhnya kesudahan kamu ke neraka"Translation: And they set up partners for Allah in order to lead mankind astray from His path. Say (O Muhammad): “Enjoy yourselves (for a while in this world), for truly your final end is to the Fire.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَسَبِيلُ اللَّهِ: كُلُّ عَمَلٍ يَجْرِي عَلَى مَا يُرْضِي اللَّهَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/231 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/231 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, jalan Allah ialah setiap amal yang berjalan menurut apa yang diredhai Allah; amal diumpamakan dengan jalan yang membawa ke tempat tujuan. Perintah “Bersenang-senanglah kamu” menjawab persoalan orang yang melihat keadaan mereka: bagaimana Allah membiarkan mereka hidup dalam kesenangan? Jawapannya, mereka akan mati lalu menuju azab. Nabi Muhammad diperintah menyampaikannya kerana mereka berbangga dengan kesenangan dan kedudukan mereka.
Renungan: Kesenangan dunia tidak semestinya tanda keredhaan Allah; marilah kita tidak terpedaya oleh kemewahan, dan menggunakan nikmat-Nya untuk menempuh jalan-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, Allah’s path is every deed that runs in line with what pleases Allah, deeds being likened to a road leading to a destination. The command to enjoy themselves answers one who sees their state and wonders how Allah leaves them to revel in comfort: they will die and then go on to the punishment. The Prophet Muhammad was told to convey this because they took pride in their comfort and high standing.
Reflection: Worldly comfort is not always a sign of Allah’s good pleasure; let us not be deceived by luxury, and let us use His favours to walk on His path.