ٱلۡعَزِيزِ
Allah Yang Maha Kuasa (lit. Yang Maha Kuasa)Allah, the All-Mighty (lit. the All-Mighty)
Terjemahan: Alif, Laam, Raa'. Ini ialah Kitab (Al-Quran) Kami turunkan dia kepadamu (wahai Muhammad), supaya engkau mengeluarkan umat manusia seluruhnya dari gelap-gelita kufur kepada cahaya iman - dengan izin Tuhan mereka - ke jalan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha TerpujiTranslation: Alif, Lām, Rā’. This is a Book (the Qur’an); We sent it down to you (O Muhammad), so that you bring out all mankind from the darkness of disbelief to the light of faith — by their Lord’s permission — onto the path of Allah, the All-Mighty, the Most Praiseworthy.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْإِيمَانُ يُرْشِدُ إِلَى الْحَقِّ فَهُوَ كَالنُّورِ فِي إِيضَاحِ السَّبِيلِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/180 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/180 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, “mengeluarkan” di sini bermaksud memindahkan manusia dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Kufur diumpamakan kegelapan kerana ia membuatkan pemiliknya keliru dan teraba-raba, manakala iman diumpamakan cahaya kerana ia memandu kepada kebenaran dan menerangkan jalan. Rasulullah mengeluarkan manusia dengan menyampaikan Kitab ini, lalu menghuraikan dan mendekatkan maknanya kepada mereka.
Renungan: Setiap kali kita membaca dan memahami al-Qur’an, marilah kita membiarkannya memindahkan kita sedikit demi sedikit “dari gelap-gelita kufur kepada cahaya iman”, dan dari kekeliruan kepada jalan yang terang.According to Ibn ‘Āshūr, bringing out here means moving people from one state to another. Disbelief is likened to darkness because it leaves its holder confused and groping, while faith is likened to light because it guides to the truth and makes the road plain. The Messenger brings people out by conveying this Book, then explaining it and bringing its meanings close to them.
Reflection: Each time we read and understand the Qur’an, let us allow it to move us, step by step, out of the darkness into the light, and from confusion onto a clear road.
لِّلۡكَٰفِرِينَ
bagi orang-orang yang kufur ingkar (terhadap al-Qur’an)to those who reject (the Qur’an) in disbelief
شَدِيدٍ
yang amat berat (yang akan menimpa mereka kelak)that is very severe (which will befall them later)
Terjemahan: Allah jua yang memiliki segala yang ada di langit serta yang ada di bumi; dan kecelakaan besar bagi orang-orang yang kufur ingkar (terhadap Al-Quran) dari azab yang amat berat (yang akan menimpa mereka kelak)Translation: It is Allah alone Who owns everything there is in the heavens, along with what there is on the earth; and great woe to those who reject (the Qur’an) in disbelief, from a punishment that is very severe (which will befall them later).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَفِيهِ تَعْرِيضٌ بِأَنَّ صِرَاطَ غَيْرِ اللَّهِ مِنْ طُرُقِ آلِهَتِهِمْ لَيْسَ بِوَاصِلٍ إِلَى الْمَقْصُودِ لِنُقْصَانِ ذَوِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/182 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/182 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Menurut Ibn ‘Āshūr, Allah disifatkan sebagai Tuhan yang “memiliki segala yang ada di langit serta yang ada di bumi” untuk menambah keagungan-Nya, kerana memiliki seluruh yang wujud ialah sifat yang besar dan sudah dikenali oleh mereka yang diseru. Di dalamnya ada sindiran bahawa jalan selain jalan Allah, iaitu jalan sembahan-sembahan mereka, tidak akan sampai kepada tujuan, kerana kekurangan pada sembahan itu sendiri.
Renungan: Marilah kita bertanya kepada diri: jalan siapakah yang sedang kita ikuti? Hanya jalan Pemilik langit dan bumi yang benar-benar sampai ke tujuannya.According to Ibn ‘Āshūr, Allah is described as the Owner of everything in the heavens and on earth to add to His majesty, since owning everything that exists is a mighty attribute, one already known to those being addressed. In it lies a hint that any path other than Allah’s, the paths of their gods, will never reach the goal, because of the shortcoming in those gods themselves.
Reflection: Let us ask ourselves whose path we are following; only the path of the Owner of the heavens and the earth truly arrives.
Terjemahan: Orang-orang yang mengutamakan dunia lebih daripada akhirat, dan menghalangi manusia dari jalan ugama Allah, serta menghendaki jalan itu menjadi bengkok terpesong, mereka itulah orang-orang yang terjerumus ke dalam kesesatan yang jauh terpesongnyaTranslation: Those who prefer the world over the Hereafter, and who hinder people from the path of the religion of Allah, and want that path to become crooked and deviating — those are the people who have fallen into error that is far astray.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَأَمَّا مَنْ أَحَبَّهَا لِيَصِلَ بِهَا إِلَى مَنَافِعِ النَّفْسِ وَإِلَى خَيْرَاتِ الْآخِرَةِ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَكُونُ مَذْمُومًا»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/61 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/61 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Kata ar-Rāzī, ayat ini menghimpunkan dua sifat: mencintai dunia dan mengutamakannya “lebih daripada akhirat”. Mencintai dunia semata-mata tidak tercela; sesiapa yang mencintainya untuk mencapai manfaat diri dan kebaikan akhirat tidaklah dicela. Yang tercela ialah apabila dunia diutamakan sehingga seseorang memilih apa yang memudaratkan akhiratnya. Beliau menyebut tiga peringkat: sesat sendiri, menghalang orang lain dari jalan Allah, dan berusaha membengkokkan jalan itu dengan menabur keraguan.
Renungan: Marilah kita menjadikan dunia jambatan menuju akhirat, dan berhati-hati agar cinta kita kepadanya tidak sampai mengorbankan akhirat.Ar-Rāzī says the verse joins two traits: loving this world and preferring it over the Hereafter. Loving the world in itself is not blameworthy; one who loves it to reach his own benefit and the good of the Hereafter is not blamed. The blame falls when the world is preferred so that a person chooses what harms his Hereafter. He names three ranks: going astray oneself, barring others from Allah’s path, and striving to make that path crooked by spreading doubts.
Reflection: Let us make this world a bridge to the Hereafter, and take care that our love for it never costs us the Hereafter.
لِيُبَيِّنَ
supaya … menjelaskan (hukum-hukum Allah)so that … might make clear (the laws of Allah) (dia (Rasul itu)he (the Messenger))
يَشَآءُ
dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya) (lit. … kehendaki)… wills (according to His laws and rules) (DiaHe)
يَشَآءُۚ
dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya) (lit. … kehendaki)… wills (according to His laws and rules) (DiaHe)
Terjemahan: Dan Kami tidak mengutuskan seseorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia menjelaskan (hukum-hukum Allah) kepada mereka. Maka Allah menyesatkan sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya), juga memberi hidayah petunjuk kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya); dan Dialah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha BijaksanaTranslation: And We have not sent forth a single Messenger but with the language of his people, so that he might make clear (the laws of Allah) to them. Then Allah leads astray whomever He wills (according to His laws and rules), and also gives guidance to whomever He wills (according to His laws and rules); and He alone is the All-Mighty, the All-Wise.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَانَ فَهْمُهُمْ لِأَسْرَارِ تِلْكَ الشَّرِيعَةِ وَوُقُوفُهُمْ عَلَى حَقَائِقِهَا أَسْهَلَ، وَعَنِ الْغَلَطِ وَالْخَطَأِ أَبْعَدَ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/62 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/62 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, setelah ayat pertama menyebut Kitab yang diturunkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan, ayat ini menyempurnakan nikmat itu: Allah tidak mengutus seorang Rasul kepada sesuatu kaum melainkan dengan bahasa kaum itu, “supaya ia menjelaskan (hukum-hukum Allah) kepada mereka”. Apabila demikian, mereka lebih mudah memahami rahsia syariat itu dan mengetahui hakikatnya, serta lebih jauh daripada tersilap dan tersalah faham.
Renungan: Allah memudahkan jalan kefahaman; marilah kita tidak berpuas hati dengan membaca sahaja, tetapi berusaha memahami pesanan al-Qur’an dalam bahasa yang kita fahami.Ar-Rāzī says that after the first verse spoke of the Book sent down to bring people out of darkness, this verse completes that favour: Allah never sent a Messenger to a people except in their own tongue, so that he could explain matters to them clearly. That way they would grasp the inner wisdom of the law and its realities more easily, and stay further from error and misunderstanding.
Reflection: Allah has made the way to understanding easy; let us not be content with reading alone, but strive to understand the message of the Qur’an in a language we know.
لَأٓيَٰتٖ
(sungguh) mengandungi tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah(truly) contains signs which show Allah’s power
Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah mengutuskan Nabi Musa (pada masa yang lalu) dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami sambil Kami berfirman: "Hendaklah engkau mengeluarkan kaummu dari gelap-gelita kufur kepada cahaya iman; dan ingatkanlah mereka dengan Hari-hari Allah". Sesungguhnya yang demikian itu, mengandungi tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi tiap-tiap seorang yang kuat bersabar, lagi kuat bersyukurTranslation: And truly We have sent the Prophet Musa (in times past) bearing Our miracles, while We said: “You should bring your people out from the darkness of disbelief to the light of faith, and make them remember the Days of Allah.” Truly that contains signs which show Allah’s power for every one who is greatly patient and greatly grateful.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْحَالَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ حَالَ مِحْنَةٍ وَبَلِيَّةٍ أَوْ حَالَ مِنْحَةٍ وَعَطِيَّةٍ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/65 · Shamela ↗ (huraian ayat 5–6)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/65 · Shamela ↗ (commentary on 5–6)
Kata ar-Rāzī, mengingatkan mereka dengan Hari-hari Allah bererti menasihati mereka dengan harapan dan ancaman: menyebut nikmat Allah kepada orang yang beriman dan azab-Nya ke atas orang yang mendustakan. Peringatan itu menjadi tanda “bagi tiap-tiap seorang yang kuat bersabar, lagi kuat bersyukur”, kerana keadaan manusia sama ada ujian dan musibah, atau kurniaan dan pemberian; dalam ujian dia bersabar, dalam kurniaan dia bersyukur. Ini peringatan bahawa waktu seorang mukmin patut tidak kosong daripada salah satu daripada keduanya.
Renungan: Marilah kita memeriksa diri setiap hari: adakah kita sedang bersabar, atau sedang bersyukur?Ar-Rāzī says reminding them of the Days of Allah means counselling them with hope and warning: recalling Allah’s favours to those who believed and His punishment on those who denied. That reminder holds signs for everyone who is very patient and very thankful, since a person’s state is either trial and hardship, or gift and bounty; in trial he is patient, in bounty he is thankful. This alerts us that a believer’s time ought never to be empty of one or the other.
Reflection: Let us check ourselves each day: are we being patient, or are we being thankful?
نِسَآءَكُمۡۚ
anak-anak perempuan kamu (lit. perempuan-perempuan kamu)your daughters (lit. your women)
Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: "Kenanglah nikmat Allah kepada kamu, semasa Ia menyelamatkan kamu dari Firaun dan orang-orangnya yang sentiasa menyeksa kamu dengan berbagai seksa yang buruk dan mereka pula menyembelih anak-anak lelaki kamu dan membiarkan hidup anak-anak perempuan kamu; dan kejadian yang demikian itu mengandungi bala bencana dan cubaan yang besar dari Tuhan kamu"Translation: And (remember) when the Prophet Musa said to his people: “Recall Allah’s favour to you at the time He rescued you from Pharaoh and his people, who always afflicted you with various torments that are evil, and they also slaughtered your sons, and allowed your daughters to live; and that event contains an affliction and trial that is great from your Lord.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«سُمِّيَ بِاسْمِ الِاخْتِبَارِ لِأَنَّهُ اخْتِبَارٌ لِمِقْدَارِ الصَّبْرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/192 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/192 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, asal makna balā’ (bala atau ujian) ialah cubaan. Di sini ia bermaksud musibah yang berat, dinamakan dengan nama ujian kerana ia menguji sejauh mana kesabaran seseorang. Sifat “Tuhan kamu” (al-Rabb, Tuhan yang memelihara) dipilih dalam ayat ini sebagai isyarat bahawa dengan ujian itu Allah menghendaki kebaikan masa depan mereka dan menyedarkan mereka supaya menjauhi penyembahan berhala dan penyelewengan agama.
Renungan: Apabila kita ditimpa kesusahan, marilah kita melihatnya sebagai ujian kesabaran daripada Tuhan yang memelihara kita, yang mungkin sedang menyediakan kebaikan untuk masa depan kita.According to Ibn ‘Āshūr, the root meaning of balā’, trial, is testing. Here it means a severe misfortune, named after testing because it tests how much patience a person has. The title your Lord, al-Rabb, the One Who nurtures, is chosen here to hint that through this trial Allah intended their future good and to awaken them to keep away from idol worship and from twisting the religion.
Reflection: When hardship strikes us, let us see it as a test of patience from the Lord Who nurtures us, Who may be preparing good for our future.
لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ
nescaya … akan tambahi nikmat-Ku kepada kamusurely … will increase My favours to you (AkuI)
Terjemahan: Dan (ingatlah) ketika Tuhan kamu memberitahu: "Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmat-Ku kepada kamu, dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah keras"Translation: And (remember) when your Lord made it known: “Most surely! If you are grateful, surely I will increase My favours to you; and most surely, if you disbelieve, truly My punishment is very severe.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا الشُّكْرُ فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنِ الِاعْتِرَافِ بِنِعْمَةِ الْمُنْعِمِ مَعَ تَعْظِيمِهِ وَتَوْطِينِ النَّفْسِ عَلَى هَذِهِ الطَّرِيقَةِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/66 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/66 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, tujuan ayat ini ialah menerangkan bahawa sesiapa yang menyibukkan diri dengan mensyukuri nikmat Allah, Allah akan menambah nikmat-Nya. Syukur ialah mengakui nikmat Pemberi nikmat sambil mengagungkan-Nya, dan membiasakan jiwa di atas jalan itu. Antara tambahan itu ialah nikmat rohani: orang yang bersyukur sentiasa merenung pelbagai nikmat dan kurniaan Allah, dan sesiapa yang banyak menerima kebaikan pasti mencintai pemberinya; maka syukur menguatkan cinta hamba kepada Allah.
Renungan: “Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambahi nikmat-Ku kepada kamu”; marilah kita mengira nikmat Allah setiap hari, supaya bertambah syukur dan cinta kita kepada-Nya.Ar-Rāzī says the aim of the verse is to make clear that whoever busies himself with thanking Allah for His favours, Allah will add to them. Gratitude is acknowledging the Giver’s favour while honouring Him, and settling the soul firmly on that way. Among the increase are favours of the spirit: the grateful one keeps gazing at Allah’s many favours and kindnesses, and one who receives much kindness surely loves the one who gives it; so gratitude deepens the servant’s love for Allah.
Reflection: Let us count Allah’s favours every day, so that our thanks and our love for Him keep growing.
فَإِنَّ
maka (hal yang demikian tidak merugikan Allah), kerana sesungguhnyathen (that does not harm Allah), for truly
Terjemahan: Dan Nabi Musa berkata: "Kalau kamu dan sesiapa jua yang ada di muka bumi seluruhnya berlaku kufur ingkar, maka (hal yang demikian tidak merugikan Allah), kerana sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji"Translation: And the Prophet Musa said: “If you, and whoever there is on the face of the earth all together disbelieve, then (that does not harm Allah), for truly Allah is All-Rich, Most Praiseworthy.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْغَرَضُ مِنْهُ بَيَانُ أَنَّهُ تَعَالَى إِنَّمَا أَمَرَ بِهَذِهِ الطَّاعَاتِ لِمَنَافِعَ عَائِدَةٍ إِلَى الْعَابِدِ لَا لِمَنَافِعَ عَائِدَةٍ إِلَى الْمَعْبُودِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/67 · Shamela ↗ (huraian ayat 8–9)Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/67 · Shamela ↗ (commentary on 8–9)
Kata ar-Rāzī, setelah Nabi Musa menerangkan bahawa syukur membawa tambahan kebaikan di dunia dan akhirat, dan kufur nikmat membawa azab yang berat, Nabi Musa menjelaskan pula bahawa manfaat syukur dan mudarat kufur hanya kembali kepada pelakunya sendiri. Allah Yang disembah dan disyukuri Maha Tinggi daripada mendapat manfaat dengan syukur atau mudarat dengan kufur. Tujuannya ialah menerangkan bahawa Allah memerintahkan ketaatan demi manfaat yang kembali kepada hamba, bukan kepada-Nya, “kerana sesungguhnya Allah adalah Maha Kaya, lagi Maha Terpuji”.
Renungan: Ibadah kita tidak menambah apa-apa bagi Allah; marilah kita beribadah dengan rendah hati, kerana kitalah yang memerlukannya.Ar-Rāzī says that after the Prophet Musa explained that gratitude brings increasing good in this world and the Hereafter, and ingratitude brings severe punishment, the Prophet Musa then made clear that the benefit of gratitude and the harm of ingratitude return only to the one who does them. Allah, the One worshipped and thanked, is far above gaining from thanks or being harmed by ingratitude. The aim is to show that Allah commands acts of obedience for benefits that come back to the servant, not to Him, for He is Rich beyond need and worthy of all praise.
Reflection: Our worship adds nothing to Allah; let us worship humbly, for it is we who need it.
يَعۡلَمُهُمۡ
… mengetahui bilangan mereka (lit. … mengetahui mereka)… knows their number (lit. … knows them) (AllahAllah)
جَآءَتۡهُمۡ
mereka telah didatangi (lit. … datang kepada mereka)they were visited (lit. … came to them) (Rasul‑rasul mereka rusuluhumtheir Messengers rusuluhum)
أُرۡسِلۡتُم
– mengikut dakwaan kamu – … diutus— as you claim — … were sent (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: (Mengapa kamu masih berdegil) bukankah telah datang kepada kamu khabar berita orang-orang yang terdahulu daripada kamu, iaitu kaum Nabi Nuh, dan Aad juga Thamud serta orang-orang yang kemudian daripada mereka? Tiada sesiapapun yang mengetahui bilangan mereka melainkan Allah. Mereka telah didatangi oleh rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, lalu mereka meletakkan tangan mereka ke mulut mereka sambil berkata: "Sesungguhnya kami kufur ingkarkan apa yang - mengikut dakwaan kamu - kamu diutus membawanya, dan sesungguhnya kami adalah dalam keadaan yang meragukan terhadap iman dan tauhid yang kamu ajak kami kepadanya"Translation: (Why do you still persist?) Has not the news come to you of those who lived before you — namely the people of the Prophet Nuh, and ‘Ād, also Thamud, and those who came after them? No one at all knows their number except Allah. They were visited by their Messengers bringing clear proofs, then they put their hands to their mouths, while saying: “Truly we disbelieve in what — as you claim — you were sent with, and truly we are in a state that is doubtful about the faith and Tauhid (the Oneness of Allah) which you invite us to.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ كِنَايَةٌ عَنِ الْكَثْرَةِ الَّتِي يَسْتَلْزِمُهَا انْتِفَاءُ عِلْمِ النَّاسِ بِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/196 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/196 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, pertanyaan “bukankah telah datang kepada kamu khabar berita” ialah pertanyaan yang mengingkari, kerana khabar mereka memang telah sampai. Ayat ini menyamakan keadaan orang yang diseru ketika itu dengan umat-umat terdahulu, yang serupa cara fikir dan hujah batil mereka. Ungkapan “Tiada sesiapapun yang mengetahui bilangan mereka melainkan Allah” ialah kinayah (sindiran) tentang betapa ramainya mereka, sehingga manusia tidak mengetahui mereka; dan setiap umat itu didatangi rasulnya sendiri.
Renungan: Begitu banyak umat telah berlalu dan dilupakan manusia; marilah kita mengambil iktibar (pengajaran) daripada mereka sebelum kita sendiri menjadi khabar bagi orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the question whether the news had not reached them is a question of denial, since their news had indeed reached them. The verse likens the state of those being called at that time to earlier nations, alike in their way of thinking and their false arguments. The phrase that none but Allah knows their number is kināyah, an indirect way of speaking, about how very many they were, so many that people do not know them; and each of those nations had its own messenger come to it.
Reflection: So many nations have passed and been forgotten; let us take their lesson before we ourselves become a story told to others.
يَعۡبُدُ
disembah oleh (lit. … sembah)been worshipped by (lit. … worship) (datuk nenek kami aba’unaour forefathers ābā’unā)
Terjemahan: Rasul-rasul mereka bertanya: "Patutkah berlakunya sebarang keraguan tentang wujudnya Allah, yang menciptakan langit dan bumi? Ia menyeru kamu beriman kerana hendak membersih dan melepaskan kamu dari dosa-dosa kamu, dan memberi tempoh kepada kamu hingga ke suatu masa yang tertentu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami. Kamu bertujuan hendak menyekat kami daripada menyembah apa yang telah disembah oleh datuk nenek kami. Oleh itu, bawalah kepada kami satu bukti yang jelas nyata"Translation: Their Messengers asked: “Is it proper that any doubt should arise about the existence of Allah, Who created the heavens and earth? He is calling on you to believe in order to cleanse and free you from your sins, and grant you a respite until a time that is fixed.” They answered: “You are nothing but human beings like us. You aim to hold us back from worshipping what has been worshipped by our forefathers. So bring us a proof that is clear and plain.”
Nota nahu: عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا (ayat 10).Grammar note: عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا (verse 10).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّا لَا نَدْعُوكُمْ إِلَّا إِلَى عِبَادَةِ هَذَا الْإِلَهِ الْمُنْعِمِ وَلَا نَمْنَعُكُمْ إِلَّا عَنْ عِبَادَةِ غَيْرِهِ»
Fakhr al-Dīn ar-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/70 · Shamela ↗Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, 19/70 · Shamela ↗
Kata ar-Rāzī, apabila orang-orang kafir itu berkata mereka berada dalam keraguan, rasul-rasul mereka menjawab: “Patutkah berlakunya sebarang keraguan tentang wujudnya Allah, yang menciptakan langit dan bumi?” Dialah juga yang mencipta diri, roh, rezeki dan segala kepentingan kita; dan kami tidak menyeru kamu melainkan kepada menyembah Tuhan Pemberi nikmat ini, dan tidak menegah kamu melainkan daripada menyembah selain-Nya. Makna-makna ini disaksikan kebenarannya oleh akal yang jelas, maka bagaimana kamu boleh ragu?
Renungan: Setiap nikmat dalam diri kita menjadi bukti tentang Pemberinya; marilah kita membalasnya dengan beribadah hanya kepada-Nya.Ar-Rāzī says that when the disbelievers said they were in doubt, their messengers answered by asking how anyone could doubt Allah, Who brought the heavens and earth into being. He also created our selves, our souls, our provision and all that is good for us; and we call you only to worship this God, the Giver of favours, and forbid you only from worshipping anything besides Him. Plain reason bears witness to the truth of these meanings, so how can you doubt?
Reflection: Every favour within us is a proof of its Giver; let us repay it by worshipping Him alone.
كَانَ
berkuasa (lit. adalah)able (lit. it was) (ayat: an na’tiyakum…the clause: an na’tiyakum…)ism
فَلۡيَتَوَكَّلِ
hendaknya … berserah dirishould … put their trust (orang‑orang yang beriman al‑mu’minunathe believers al‑mu’minūna)
Terjemahan: Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu juga, tetapi Allah melimpahkan kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya; dan kami tiadalah berkuasa membawa kepada kamu sebarang bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Dan dengan yang demikian maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diriTranslation: Their Messengers told them: “We ourselves are nothing but human beings like you too, but Allah bestows His grace on whomever He wills from among His servants; and we are not able to bring you any proof (miracle) except by the permission of Allah. And accordingly, upon Allah alone should the believers put their trust.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّ الْمُمَاثَلَةَ فِي الْبَشَرِيَّةِ لَا تَقْتَضِي الْمُمَاثَلَةَ فِي زَائِدٍ عَلَيْهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/201–202 · Shamela ↗ (huraian ayat 11–12)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/201–202 · Shamela ↗ (commentary on 11–12)
Menurut Ibn ‘Āshūr, para rasul menerima kata-kata kaum mereka bahawa mereka hanyalah manusia, lalu menunjukkan silapnya kesimpulan itu: sama-sama manusia tidak bererti sama dalam segala kelebihan, kerana semua manusia ialah hamba Allah, “tetapi Allah melimpahkan kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya”. Bukti yang diminta pula bukan di tangan para rasul, tetapi dengan kehendak Allah. Perintah supaya orang beriman berserah diri ditujukan kepada pengikut mereka, dan terutamanya kepada diri para rasul sendiri.
Renungan: Marilah kita menyedari bahawa setiap kelebihan ialah kurnia Allah, lalu kita berserah diri kepada-Nya, bukan kepada kemampuan sendiri.According to Ibn ‘Āshūr, the messengers granted their people’s claim that they were only human, then showed the flaw in the conclusion drawn from it: being alike as humans does not mean being alike in every added merit, for all humans are Allah’s servants and Allah grants favours to whomever He wills of them. The proof they demanded was not in the messengers’ hands but rests on Allah’s will. The command for believers to trust in Allah is aimed at their followers, and first of all at the messengers themselves.
Reflection: Let us recognise that every merit is a gift from Allah, and so place our trust in Him, not in our own abilities.
هَدَىٰنَا
… telah menunjukkan … untuk tiap-tiap seorang dari kami… has shown … to each one of us (DiaHe)
وَلَنَصۡبِرَنَّ
dan demi sesungguhnya, … akan bersabarand most surely … will be patient (kamiwe)
فَلۡيَتَوَكَّلِ
hendaknya berserah dirishould … put their trust (orang‑orang yang mahu berserah al‑mutawakkilunathose willing to trust al‑mutawakkilūna)
Terjemahan: Dan mengapa pula kami tidak berserah diri kepada Allah padahal Ia telah menunjukkan jalan untuk tiap-tiap seorang dari kami menjalaninya? Dan demi sesungguhnya, kami akan bersabar terhadap segala perbuatan kamu menyakiti kami. Dan dengan yang demikian, maka kepada Allah jualah hendaknya berserah diri orang-orang yang mahu berserah"Translation: And why then should we not entrust ourselves to Allah, while He has shown to each one of us the way to follow? And most surely we will be patient with all your acts of hurting us. And accordingly, upon Allah alone should those willing to trust put their trust.”
Nota nahu: وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيْتُمُونَا (ayat 12).Grammar note: وَلَنَصْبِرَنَّ عَلَىٰ مَآ ءَاذَيْتُمُونَا (verse 12).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّهُمْ رَأَوْا بِوَارِقَ عِنَايَتِهِ بِهِمْ إِذْ هَدَاهُمْ إِلَى طَرَائِقِ النَّجَاةِ وَالْخَيْرِ، وَمَبَادِئُ الْأُمُورِ تَدُلُّ عَلَى غَايَاتِهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/203–204 · Shamela ↗ (huraian ayat 11–12)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 13/203–204 · Shamela ↗ (commentary on 11–12)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “Dan mengapa pula kami tidak berserah diri kepada Allah” ialah hujah para rasul bahawa benar pendirian mereka menyerahkan urusan kepada Allah: mereka telah melihat tanda-tanda pemeliharaan-Nya apabila Dia menunjukkan jalan keselamatan dan kebaikan, dan permulaan sesuatu menunjukkan kesudahannya. Kemudian mereka bersumpah untuk terus bersabar: sebagaimana mereka telah bersabar atas gangguan yang lalu, mereka akan bersabar atas gangguan yang akan datang. Tawakal (berserah diri) pula ialah menyerahkan urusan kepada Allah kerana yakin Dia lebih mengetahui apa yang baik.
Renungan: Marilah kita mengenang petunjuk yang telah Allah berikan, lalu menghadapi kesusahan hari ini dengan sabar dan tawakal.According to Ibn ‘Āshūr, the messengers’ question why they should not rely on Allah is their proof that they were right to hand their affairs to Him: they had seen glimpses of His care when He guided them to the ways of safety and good, and the beginnings of things point to their ends. Then they swore to keep on being patient: as they had borne the harm already done, so they would bear the harm still to come. Tawakkul, trust, is entrusting one’s affairs to Allah, sure that He knows best what is good.
Reflection: Let us remember the guidance Allah has already given us, and meet today’s hardship with patience and trust.