Terjemahan: Haa, MiimTranslation: Ḥā, Mīm.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تَقَدَّمَ الْقَوْلُ فِي نَظَائِره ومواقعها قَبْلَ ذِكْرِ الْقُرْآن وتنزيله»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/159 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/159 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, huruf seperti ini sudah dibincangkan pada surah-surah sebelumnya, dan ia datang sebelum sebutan al-Qur’an dan penurunannya.
Renungan: Kita tidak mentafsirkan huruf-huruf muqaṭṭa‘āt (huruf-huruf terpisah) ini; mari kita membacanya dengan cermat dan penuh hormat, lalu bersedia mendengar firman Allah selepasnya.According to Ibn ‘Āshūr, letters like these were discussed in earlier surahs, and they come before the mention of the Qur’an and its sending down.
Reflection: We do not interpret these muqaṭṭa‘āt (separated letters); let us recite them with care and reverence, and be ready to hear the Speech of Allah that follows.
Terjemahan: Demi Kitab Al-Quran yang menyatakan kebenaranTranslation: By the Book, the Qur’an, which makes the truth clear:
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْقَسَمُ بِالْقُرْآنِ تَنْوِيهٌ بِشَأْنِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/159 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/159 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Menurut Ibn ‘Āshūr, sumpah dengan al-Qur’an ini mengangkat kedudukannya; Kitab yang dijadikan sumpah itu jugalah perkara yang disumpahkan.
Renungan: Allah sendiri memuliakan Kitab ini; mari kita memuliakannya juga dengan membaca, memahami dan mengamalkannya.According to Ibn ‘Āshūr, this oath by the Qur’an raises its standing; the Book sworn by is also the matter sworn upon.
Reflection: Allah Himself honours this Book; let us honour it too by reciting, understanding and acting on it.
عَرَبِيّٗا
yang diturunkan dengan bahasa Arab (lit. berbahasa Arab)sent down in the Arabic language (lit. Arabic)
تَعۡقِلُونَ
(menggunakan akal) memahaminyamay (use reason and) understand it (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Sesungguhnya Kami jadikan Kitab itu sebagai Quran yang diturunkan dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal) memahaminyaTranslation: Truly We have made that Book a Qur’an sent down in the Arabic language, so that you may (use reason and) understand it.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّا يَسَّرْنَا فَهْمَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/161 · Shamela ↗ (huraian ayat 2–3)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/161 · Shamela ↗ (commentary on 2–3)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksudnya Allah telah memudahkan al-Qur’an untuk difahami supaya mereka menggunakan akal, tetapi mereka berpaling.
Renungan: Al-Qur’an dimudahkan untuk kita fahami; mari kita meluangkan masa mentadabburnya, dan tidak sekadar membaca tanpa memahami.According to Ibn ‘Āshūr, the meaning is that Allah made the Qur’an easy to understand so that they might use reason, yet they turned away.
Reflection: The Qur’an is made easy for us to understand; let us make time to reflect on it, and not merely recite without understanding.
وَإِنَّهُۥ
dan sesungguhnya al-Qur’an itu (lit. dan sesungguhnya ia)and truly the Qur’an (lit. and truly it)
حَكِيمٌ
lagi amat banyak mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuh (lit. penuh hikmat)and rich in wisdom and firmly established truth (lit. full of wisdom)
Terjemahan: Dan sesungguhnya Al-Quran itu dalam Ibu Suratan di sisi Kami - sangat tinggi (kemuliaannya), lagi amat banyak mengandungi hikmat-hikmat dan kebenaran yang tetap kukuhTranslation: And truly the Qur’an is with Us in the Mother of the Book, most high (in honour), and rich in wisdom and firmly established truth.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهُوَ هُنَا مَجَازٌ لِمَا يَحْوِي الْحِكْمَةَ بِمَا فِيهِ مِنْ صَلَاحِ أَحْوَالِ النُّفُوسِ وَالْقَوَانِينِ الْمُقِيمَةِ لِنِظَامِ الْأُمَّةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/162 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/162 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sifat hikmah di sini merujuk kepada kandungan al-Qur’an yang memperbaiki keadaan jiwa, serta peraturan yang menegakkan susunan hidup umat.
Renungan: Apabila hati resah atau urusan kusut, mari kita kembali kepada al-Qur’an, kerana padanya ada yang memperbaiki diri kita.According to Ibn ‘Āshūr, the attribute of wisdom here refers to what the Qur’an holds that sets souls right, and the laws that uphold the order of the community.
Reflection: When the heart is restless or affairs are tangled, let us return to the Qur’an, for in it is what sets us right.
أَفَنَضۡرِبُ
patutkah … membiarkan kamu dengan menjauhkanshould … leave you, taking away (KamiWe)
Terjemahan: Patutkah Kami membiarkan kamu dengan mengenepikan dan menjauhkan peringatan Al-Quran daripada kamu, kerana kamu telah menjadi kaum yang melampau buruk keadaannya? (Tidak! Kami tidak akan biarkan, bahkan Kami tetap mengingatkan kamu, sama ada kamu mahu menerimanya atau sebaliknya)Translation: Should We leave you, taking the reminder of the Qur’an away from you and setting it aside, because you have become a people who go to evil extremes? (No! We will not leave you; rather We keep reminding you, whether you wish to accept it or otherwise.)
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَا نَتْرُكَكُمْ مَعَ سُوءِ اخْتِيَارِكُمْ بَلْ نُذَكِّرُكُمْ وَنَعِظُكُمْ إِلَى أَنْ تَرْجِعُوا إِلَى الطَّرِيقِ الْحَقِّ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/618 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/618 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, ayat ini menunjukkan rahmat: Allah tidak membiarkan mereka walaupun pilihan mereka buruk, malah terus mengingatkan dan menasihati sehingga mereka kembali ke jalan yang benar.
Renungan: Setiap peringatan yang sampai kepada kita ialah rahmat; mari kita menyambutnya dan kembali kepada Allah.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī is that this verse shows mercy: Allah does not leave them despite their bad choice, but keeps reminding and advising until they return to the true way.
Reflection: Every reminder that reaches us is a mercy; let us welcome it and return to Allah.
ٱلۡأَوَّلِينَ
umat-umat yang terdahulu zamannya (lit. orang-orang terdahulu)the nations of earlier times (lit. the earlier ones)
Terjemahan: Dan (ingatlah), berapa banyak nabi-nabi yang Kami telah utuskan kepada umat-umat yang terdahulu zamannyaTranslation: And (remember) how many prophets We have sent to the nations of earlier times.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ كَثْرَةَ وُقُوعِهِ تُؤْذِنُ بِأَنَّهُ سُنَّةٌ لَا تَتَخَلَّفُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/165 · Shamela ↗ (huraian ayat 6–8)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/165 · Shamela ↗ (commentary on 6–8)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata yang menunjukkan bilangan banyak dipilih di sini kerana kekerapan peristiwa itu menandakan ia ketetapan yang tidak berubah, dan ini lebih menenangkan Rasulullah ﷺ.
Renungan: Apabila seruan kepada kebaikan ditolak, kita tidak bersendirian; mari kita tetap sabar seperti mereka yang terdahulu.According to Ibn ‘Āshūr, a word of great number is chosen here because the frequency of the event shows it is a law that does not fail, and this gives more comfort to the Messenger ﷺ.
Reflection: When a call to good is refused, we are not alone; let us stay patient like those who came before.
Terjemahan: Dan tidak ada seseorang Nabi pun yang datang kepada mereka, melainkan mereka mempersenda dan mengejek-ejeknyaTranslation: And there never came to them any Prophet except that they mocked and ridiculed him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«عَادَةَ الْأُمَمِ مَعَ الْأَنْبِيَاءِ الَّذِينَ يَدْعُونَهُمْ إِلَى الدِّينِ الْحَقِّ هُوَ التَّكْذِيبُ وَالِاسْتِهْزَاءُ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/619 · Shamela ↗ (huraian ayat 1–8)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/619 · Shamela ↗ (commentary on 1–8)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, kebiasaan umat-umat terhadap para Nabi yang mengajak kepada agama yang benar ialah mendustakan dan mengejek, maka Rasulullah ﷺ tidak patut berasa terganggu oleh perbuatan kaumnya.
Renungan: Ejekan tidak mengubah kebenaran; mari kita terus berpegang pada kebaikan walaupun diketawakan.Tafsir al-Rāzī says that the way of nations towards the Prophets who called them to the true religion was denial and mockery, so the Messenger ﷺ should not be pained by what his people did.
Reflection: Mockery does not change the truth; let us hold on to good even when laughed at.
بَطۡشٗا
(dan lebih kejam serangannya) (lit. dari segi kekuatan)(and fiercer in assault) (lit. in might)
وَمَضَىٰ
dan telahpun disebutkan (berulang-ulang di dalam al-Qur’an) (lit. dan telah berlalu)and there have already been mentioned (repeatedly in the Qur’an) (lit. and there has passed) (kisah‑kisah dan misal perbandingan mathalustories and parables mathalu)
Terjemahan: Lalu Kami binasakan orang-orang yang lebih kekuatannya (dan lebih kejam serangannya) daripada mereka; dan telahpun disebutkan (berulang-ulang di dalam Al-Quran) tentang kisah-kisah dan misal perbandingan mengenai umat-umat yang telah laluTranslation: So We destroyed those greater in strength (and fiercer in assault) than they; and there have already been mentioned (repeatedly in the Qur’an) the stories and parables of past nations.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْغَرَضَ الْأَهَمَّ مِنْ هَذَا الْكَلَامِ هُوَ تَسْلِيَةُ الرَّسُولِ وَوَعْدُهُ بِالنَّصْرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/166 · Shamela ↗ (huraian ayat 6–8)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/166 · Shamela ↗ (commentary on 6–8)
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan terpenting kata-kata ini ialah menenangkan Rasulullah ﷺ dan menjanjikan pertolongan kepada baginda.
Renungan: Kisah umat terdahulu bukan sekadar cerita; mari kita membacanya untuk menguatkan hati dan mengambil pengajaran.According to Ibn ‘Āshūr, the chief aim of these words is to comfort the Messenger ﷺ and promise him victory.
Reflection: The stories of past nations are not mere tales; let us read them to strengthen the heart and take the lesson.
سَأَلۡتَهُم
(wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu(O Muhammad) ask those (people of shirk) (engkauyou)
خَلَقَهُنَّ
yang menciptakannya ialah (lit. menciptakannya)the One Who created them is (lit. created them) (Yang Maha Kuasa al‑‘azizuthe All‑Mighty al‑‘azīzu)
ٱلۡعَزِيزُ
Allah Yang Maha Kuasa (lit. Yang Maha Kuasa)Allah, the All-Mighty (lit. the All-Mighty)
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Yang menciptakannya ialah Allah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengetahui"Translation: And indeed, if you (O Muhammad) ask those (people of shirk): “Who created the heavens and earth?” they are sure to answer: “The One Who created them is Allah, the All-Mighty, the All-Knowing.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُمْ مَعَ كَوْنِهِمْ مُقِرِّينَ بِهَذَا الْمَعْنَى يَعْبُدُونَ مَعَهُ غَيْرَهُ وَيُنْكِرُونَ قُدْرَتَهُ عَلَى الْبَعْثِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/619 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–14)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/619 · Shamela ↗ (commentary on 9–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, maksud ayat ini ialah mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, namun tetap menyembah yang lain bersama-Nya dan mengingkari kuasa-Nya membangkitkan manusia.
Renungan: Mengaku dengan lidah belum cukup; mari kita semak sama ada hidup kita selari dengan apa yang kita akui tentang Allah.Tafsir al-Rāzī says the point is that they acknowledge Allah as Creator, yet still worship others with Him and deny His power to raise the dead.
Reflection: Acknowledging with the tongue is not enough; let us check whether our lives agree with what we affirm about Allah.
تَهۡتَدُونَ
mendapat petunjuk (ke arah yang dituju)may find guidance (to where you are heading) (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: (Dialah Tuhan) yang telah menjadikan bumi bagi kamu sebagai hamparan, dan Ia telah mengadakan bagi kamu di bumi jalan-jalan lalu-lalang, supaya kamu mendapat petunjuk (ke arah yang dituju)Translation: (He is the Lord) Who has made the earth a spread-out place for you, and has set for you on the earth paths to travel, so that you may find guidance (to where you are heading).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَمَّا كَانَ الْمَهْدُ مَوْضِعَ الرَّاحَةِ لِلصَّبِيِّ جَعَلَ الْأَرْضَ مَهْدًا لِكَثْرَةِ مَا فِيهَا مِنَ الرَّاحَاتِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/620 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–14)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/620 · Shamela ↗ (commentary on 9–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, «مَهْد» ialah tempat bayi berehat, dan bumi dijadikan “hamparan” kerana banyaknya kerehatan padanya.
Renungan: Tanah yang kita pijak setiap hari ialah nikmat; mari kita bersyukur dan tidak melupakan Pemberinya.Tafsir al-Rāzī says that «مَهْد» is a place of rest for an infant, and the earth is made “a spread-out place” because of the many comforts in it.
Reflection: The ground we walk on each day is a favour; let us give thanks and not forget its Giver.
تُخۡرَجُونَ
akan dikeluarkan (hidup semula dari kubur)will be brought forth (alive again from the graves) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Dan (Dialah) yang menurunkan hujan dari langit menurut sukatan yang tertentu, lalu Kami hidupkan dengan hujan itu negeri yang kering tandus tanahnya. Sedemikian itulah pula kamu akan dikeluarkan (hidup semula dari kubur)Translation: And (it is He) Who sent down rain from the sky in a fixed measure, then with that rain We brought to life a dry and barren land. In the same way you will be brought forth (alive again from the graves).
Dipulihkan – menunggu semakan naskhah cetak. Teks Basmeih dalam talian bagi ayat ini rosak: perkataan bergaris putus-putus diisi semula berdasarkan lafaz Arab ayat ini dan gaya terjemahan Basmeih sendiri.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَوَجْهُ التَّشْبِيهِ أَنَّهُ يَجْعَلُهُمْ أَحْيَاءً بَعْدَ الْإِمَاتَةِ كَهَذِهِ الْأَرْضِ الَّتِي أُنْشِرَتْ بَعْدَ مَا كَانَتْ مَيْتَةً»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/620 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–14)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/620 · Shamela ↗ (commentary on 9–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, persamaannya ialah Allah menghidupkan manusia selepas mematikan mereka, seperti tanah ini dihidupkan selepas ia mati.
Renungan: Setiap kali hujan menghidupkan tanah yang kering, mari kita ingat hari kita “dikeluarkan (hidup semula dari kubur)”, dan bersedia untuknya.Tafsir al-Rāzī says the likeness is that Allah brings people to life after causing them to die, as this land is revived after being dead.
Reflection: Each time rain revives dry land, let us remember the day we will be “brought forth (alive again from the graves)”, and prepare for it.
ٱلۡأَزۡوَٰجَ
makhluk yang berbagai jenisnya (lit. pasangan-pasangan)creatures of every kind (lit. the pairs)
Terjemahan: Dan (Dialah) yang menciptakan sekalian makhluk yang berbagai jenisnya; dan Ia mengadakan bagi kamu kapal-kapal dan binatang ternak yang kamu dapat mengenderainyaTranslation: And (it is He) Who created creatures of every kind, all of them, and set for you ships and cattle that you can ride,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ خَلَقَ فِي الْإِنْسَانِ قُوَّةَ التَّفْكِيرِ الَّتِي يَنْسَاقُ بِهَا إِلَى اسْتِعْمَالِ الْمَوْجُودَاتِ فِي نَفْعِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/173 · Shamela ↗ (huraian ayat 12–14)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/173 · Shamela ↗ (commentary on 12–14)
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksud Allah menjadikan kapal dan ternakan boleh dinaiki ialah Dia mencipta pada manusia daya berfikir yang mendorongnya menggunakan makhluk untuk manfaatnya.
Renungan: Kebolehan kita membina dan mereka cipta pun nikmat daripada Allah; mari kita menggunakannya dengan syukur, bukan dengan bangga.According to Ibn ‘Āshūr, Allah’s making ships and cattle fit to ride means He created in man the power of thought that leads him to use created things for his benefit.
Reflection: Our skill to build and invent is itself a favour from Allah; let us use it with thanks, not pride.
وَتَقُولُواْ
serta … (bersyukur dengan) mengucapkanand (give thanks by) saying (kamu sekalianyou all)
Terjemahan: Supaya kamu duduk tetap di atasnya; kemudian kamu mengingati nikmat Tuhan kamu apabila kamu duduk tetap di atasnya, serta kamu (bersyukur dengan) mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah memudahkan kenderaan ini untuk kami, sedang kami sebelum itu tidak terdaya menguasainyaTranslation: so that you may settle firmly upon it; then remember the favour of your Lord once you have settled firmly on it, and (give thanks by) saying: “Glory be to the Lord Who has made this mount easy for us, while before this we were not able to master it,
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِذَا تَأَمَّلَ الْإِنْسَانُ فِي هَذِهِ الْعَجَائِبِ وَغَاصَ بِعَقْلِهِ فِي بِحَارِ هَذِهِ الْأَسْرَارِ، عَظُمَ تَعَجُّبُهُ مِنْ تِلْكَ الْقُدْرَةِ الْقَاهِرَةِ وَالْحِكْمَةِ غَيْرِ الْمُتَنَاهِيَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/622 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–14)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/622 · Shamela ↗ (commentary on 9–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apabila manusia merenung keajaiban ini dan menyelami rahsianya dengan akal, besarlah kekagumannya terhadap kuasa dan hikmah Allah, lalu dia pasti berkata: “Maha Suci Tuhan yang telah memudahkan kenderaan ini untuk kami”.
Renungan: Mari kita jadikan setiap perjalanan saat mengingati nikmat Allah.Tafsir al-Rāzī says that when man reflects on these wonders and dives into their secrets with his mind, his awe of Allah’s power and wisdom grows, and he is bound to say: “Glory be to the Lord Who has made this mount easy for us”.
Reflection: Let us make each journey a moment of remembering the favour of Allah.
Terjemahan: Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali"Translation: and truly to our Lord we will return.”
Nota bahasa: إِلَىٰ رَبِّنَا (ayat 14).Language note: إِلَىٰ رَبِّنَا (verse 14).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ وَجْهَ اتِّصَالِ هَذَا الْكَلَامِ بِمَا قَبْلَهُ أَنَّ رُكُوبَ الْفُلْكِ فِي خَطَرِ الْهَلَاكِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/622 · Shamela ↗ (huraian ayat 9–14)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/622 · Shamela ↗ (commentary on 9–14)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, kaitan ayat ini dengan sebelumnya ialah menaiki kapal membawa risiko kebinasaan, begitu juga haiwan tunggangan; maka orang yang menaikinya patut mengingati mati dan kepulangannya kepada Allah.
Renungan: Setiap perjalanan mengingatkan perjalanan terakhir; mari kita sentiasa bersedia untuk kembali kepada-Nya.Tafsir al-Rāzī says the link with what precedes is that sailing in a ship carries the risk of perishing, and so does riding an animal; so the rider should remember death and his return to Allah.
Reflection: Every journey recalls the last journey; let us always be ready to return to Him.
وَجَعَلُواْ
dan (mempersekutukan Allah dengan) menjadikanand (associating others with Allah) have made (mereka (yang musyrik)they (the people of shirk))
Terjemahan: Dan mereka (yang musyrik mempersekutukan Allah dengan) menjadikan sebahagian dari hamba-hamba Allah sebagai anak bagi-Nya. Sesungguhnya manusia (yang demikian sesatnya) sangat tidak mengenang budi, lagi nyata kufurnyaTranslation: And they (the people of shirk, associating others with Allah,) have made some of the servants of Allah as a child for Him. Truly man (so far astray as this) is most ungrateful and plain in his disbelief.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْأَوَّلُ: وَهُوَ الْمَشْهُورُ أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّهُمْ أَثْبَتُوا لَهُ وَلَدًا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/623 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–19)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/623 · Shamela ↗ (commentary on 15–19)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, iaitu yang masyhur (terkenal), ayat ini bermaksud mereka menisbahkan anak kepada Allah, selaras dengan kata Basmeih “sebagai anak bagi-Nya”.
Renungan: Mari kita membesarkan Allah, dan menjaga lidah daripada kata-kata yang tidak layak bagi-Nya.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī, the well-known one, is that this verse means they ascribed a child to Allah, in line with the words “as a child for Him”.
Reflection: Let us glorify Allah, and guard the tongue from words unworthy of Him.
بَنَاتٖ
menjadi anak-anak perempuan-Nya (lit. anak-anak perempuan)daughters as His own (lit. daughters)
Terjemahan: Patutkah Tuhan mengambil dari makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya menjadi anak-anak perempuan-Nya, dan Ia mengutamakan kamu dengan anak-anak lelakiTranslation: Would the Lord have taken, from the creatures He creates, daughters as His own, and favoured you with sons?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَحَلُّ الِاسْتِدْلَالِ أَنَّ الْإِنَاثَ مَكْرُوهَةٌ عِنْدَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/178 · Shamela ↗ (huraian ayat 16–17)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/178 · Shamela ↗ (commentary on 16–17)
Menurut Ibn ‘Āshūr, hujah ayat ini berdiri atas pandangan mereka sendiri: anak perempuan tidak disukai di sisi mereka, maka bagaimana mereka menisbahkannya kepada Allah?
Renungan: Mari kita menyucikan sebutan kita tentang Allah, dan menimbang diri kita dengan ukuran yang kita kenakan kepada orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, the argument of this verse stands on their own view: daughters were disliked among them, so how could they ascribe them to Allah?
Reflection: Let us keep our speech about Allah pure, and weigh ourselves by the measure we apply to others.
بُشِّرَ
diberitahu kepada (lit. diberi khabar)is told (lit. is given news) (salah seorang dari mereka ahaduhumone of them aḥaduhum)NF
بِمَا
dengan (berita bahawa ia beroleh anak perempuan seperti) yangof (the news that he has a daughter, like) that which
ضَرَبَ
dijadikan (lit. dibuat)made (lit. struck) (dia (salah seorang dari mereka)he (one of them))
لِلرَّحۡمَٰنِ
dengan Allah Yang Maha Pemurah (lit. bagi Yang Maha Pemurah)with Allah, the Most Gracious (lit. for the Most Gracious)
ظَلَّ
sepanjang hari (lit. menjadi)all day long (lit. became) (mukanya wajhuhuhis face wajhuhu)ism
مُسۡوَدّٗا
muramlah (kerana menanggung dukacita) (lit. hitam)stays gloomy (with the grief he bears) (lit. dark)
Terjemahan: Padahal apabila diberitahu kepada salah seorang dari mereka dengan (berita bahawa ia beroleh anak perempuan seperti) yang dijadikannya sekutu yang sejenis dengan Allah Yang Maha Pemurah, muramlah mukanya sepanjang hari (kerana menanggung dukacita), sedang ia menahan perasaan marahnya dalam hatiTranslation: Yet when one of them is told of (the news that he has a daughter, like) that which he made a partner of like kind with Allah, the Most Gracious, his face stays gloomy all day long (with the grief he bears), while he holds back his anger within his heart.
Nota nahu: ظَلَّ وَجْهُهُۥ (ayat 17).Grammar note: ظَلَّ وَجْهُهُۥ (verse 17).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاسْتِعْمَالُ الْبِشَارَةِ هُنَا تَهَكُّمٌ بِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/180 · Shamela ↗ (huraian ayat 16–17)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/180 · Shamela ↗ (commentary on 16–17)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata «بُشِّرَ» (asalnya: diberi khabar gembira) di sini ialah sindiran terhadap mereka, kerana khabar gembira bermaksud makluman tentang perkara yang menyukakan.
Renungan: Setiap anak ialah amanah dan nikmat daripada Allah; mari kita menyambut kelahiran anak perempuan dengan syukur.According to Ibn ‘Āshūr, the word «بُشِّرَ» (at root: given glad tidings) is used here in irony, since glad tidings mean news of something pleasing.
Reflection: Every child is a trust and a favour from Allah; let us welcome the birth of a daughter with thanks.
أَوَمَن
patutkah (yang dikatakan anak Allah itu jenis perempuan) yangshould (what is called a child of Allah be of the female kind,) one who
يُنَشَّؤُاْ
biasanya dididik dan dibesarkanis usually nurtured and raised (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))NF
Terjemahan: Patutkah (yang dikatakan anak Allah itu jenis perempuan) yang biasanya dididik dan dibesarkan dalam perhiasan, sedang ia semasa berbantah dan bertikam lidah tidak dapat memberikan alasan yang jelasTranslation: Should (what is called a child of Allah be of the female kind,) one who is usually nurtured and raised among ornaments, while that one, when arguing and disputing, is unable to give a clear reason?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بِنَاءً عَلَى مُتَعَارَفِهِمْ، فَهَذَا احْتِجَاجٌ إِقْنَاعِيٌّ خِطَابِيٌّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/181 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/181 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, hujah ayat ini dibina atas kebiasaan yang diterima oleh mereka sendiri, maka ia hujah pidato untuk memujuk mereka.
Renungan: Ayat ini membantah dakwaan mereka tentang Allah; mari kita berhati-hati apabila berbicara tentang Allah, dan tidak menjadikan kebiasaan masyarakat sebagai ukuran kebenaran.According to Ibn ‘Āshūr, the argument of this verse is built on what was customary among them, so it is a rhetorical argument to persuade them.
Reflection: This verse answers their claim about Allah; let us take care when speaking of Allah, and not make social custom the measure of truth.
ٱلرَّحۡمَٰنِ
Allah Yang Maha Pemurah itu (lit. Yang Maha Pemurah)of Allah, the Most Gracious (lit. of the Most Gracious)
خَلۡقَهُمۡۚ
kejadian malaikat itu (lit. kejadian mereka)the creation of those angels (lit. their creation)
سَتُكۡتَبُ
akan dituliskanwill be written down (kata‑kata mereka syahadatuhumtheir words shahādatuhum)NF
شَهَٰدَتُهُمۡ
kata-kata mereka (yang dusta itu) (lit. penyaksian mereka)their (false) words (lit. their testimony)
وَيُسۡـَٔلُونَ
dan … akan ditanya kelak (serta akan menerima balasannya)and … will be questioned later (and receive the recompense) (merekathey)NF
Terjemahan: Dan mereka pula menyifatkan malaikat - yang juga menjadi hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah itu - jenis perempuan. Adakah mereka menyaksikan kejadian malaikat itu? Akan dituliskan kata-kata mereka (yang dusta itu), dan mereka akan ditanya kelak (serta akan menerima balasannya)Translation: And they have also described the angels, who are also servants of Allah, the Most Gracious, as female. Did they witness the creation of those angels? Their (false) words will be written down, and they will be questioned later (and receive the recompense).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْقَوْلَ بِغَيْرِ دَلِيلٍ مُنْكَرٌ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/625 · Shamela ↗ (huraian ayat 15–19)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/625 · Shamela ↗ (commentary on 15–19)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ayat ini menunjukkan bahawa berkata tanpa dalil ialah perkara yang ditolak, kerana mereka tidak menyaksikan penciptaan malaikat.
Renungan: Setiap kata kita ditulis dan akan ditanya; mari kita tidak bercakap tentang agama tanpa ilmu.Tafsir al-Rāzī says this verse shows that speaking without proof is rejected, since they did not witness the creation of the angels.
Reflection: Each word of ours is written down and will be asked about; let us not speak of religion without knowledge.
ٱلرَّحۡمَٰنُ
Allah Yang Maha Pemurah (lit. Yang Maha Pemurah)Allah, the Most Gracious (lit. the Most Gracious)
عَبَدۡنَٰهُمۗ
menyembah malaikat itu (lit. menyembah mereka)have worshipped those angels (lit. worshipped them) (kamiwe)
بِذَٰلِكَ
mengenai kata-kata mereka (yang demikian) (lit. tentang itu)about those words (of that kind) (lit. about that)
Terjemahan: Dan mereka berkata: "Kalaulah Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah malaikat itu". (Sebenarnya) mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun mengenai kata-kata mereka (yang demikian), mereka hanyalah orang-orang yang berdustaTranslation: And they said: “If Allah, the Most Gracious, had willed, we would never have worshipped those angels.” (In fact) they have no knowledge at all about those words (of that kind); they are only people who lie.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْخَرْصُ: التَّوَهُّمُ وَالظَّنُّ الَّذِي لَا حُجَّةَ فِيهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/186 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/186 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata «يَخْرُصُونَ» (dalam terjemahan: “berdusta”) berasal daripada kata yang bermaksud sangkaan dan agakan tanpa hujah; kata-kata mereka tidak bersandar pada ilmu.
Renungan: Sangkaan bukan ilmu; mari kita memeriksa dahulu sandaran setiap keyakinan kita.According to Ibn ‘Āshūr, the word «يَخْرُصُونَ» (in the translation: “lie”) comes from a word for fancy and guessing with no proof; their words do not rest on knowledge.
Reflection: Guessing is not knowledge; let us first examine the basis of each thing we hold.
Terjemahan: Pernahkah Kami memberikan mereka sebelum Al-Quran ini sebuah Kitab (yang membenarkan dakwaan mereka), lalu mereka berpegang teguh kepada kitab ituTranslation: Have We given them, before this Qur’an, a Book (confirming their claim), so that they hold firmly to that book?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الْقُرْآنَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْحَقِّ الَّذِي يُسْتَمْسَكُ بِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/186 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/186 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ayat ini secara tersirat memuji al-Qur’an: ia hanya membawa kebenaran yang layak dipegang teguh.
Renungan: Mari kita bertanya kepada diri: apakah sandaran pegangan kita, dan adakah al-Qur’an yang kita pegang?According to Ibn ‘Āshūr, this verse implicitly praises the Qur’an: it brings only the truth that deserves to be held firmly.
Reflection: Let us ask ourselves: what does our belief rest on, and is it the Qur’an that we hold firmly?
Terjemahan: (Tidak ada sebarang bukti bagi mereka) bahkan mereka (hanyalah) berkata: "Sesungguhnya kami telah mendapati datuk nenek kami menurut satu jalan ugama, dan sesungguhnya kami beroleh petunjuk menurut jejak mereka sahaja"Translation: (They have no proof at all;) rather they (merely) said: “Truly we found our forefathers following a way of religion, and truly we are guided by following their footsteps alone.”
Nota bahasa: عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم (ayat 22).Language note: عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم (verse 22).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّ شَأْنَ الْعَاقِلِ أَنْ يُمَيِّزَ مَا يُلْقَى إِلَيْهِ مِنْ الِاخْتِلَافِ وَيَعْرِضَهُ عَلَى مِعْيَارِ الْحَقِّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/187 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/187 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka tercela kerana tidak membandingkan ajaran Rasul dengan warisan datuk nenek, sedangkan orang berakal memilah apa yang sampai kepadanya dan menimbangnya dengan neraca kebenaran.
Renungan: Warisan keluarga kita berharga; mari kita menimbangnya dengan al-Qur’an dan ilmu, bukan menerimanya bulat-bulat.According to Ibn ‘Āshūr, they are blamed for not comparing the Messenger’s teaching with their forefathers’ legacy, since a person of reason sorts what reaches him and weighs it on the scale of truth.
Reflection: Our family legacy is precious; let us weigh it by the Qur’an and knowledge, not take it wholesale.
وَكَذَٰلِكَ
dan demikianlah halnya (orang-orang yang taqlid (ikutan) buta)and such is the way (of those who follow blindly)
نَّذِيرٍ
seseorang Rasul pemberi amaran (lit. pemberi amaran)a Messenger who warns (lit. a warner)
قَالَ
berkatasaid (orang‑orang yang berada dalam kemewahan di negeri itu mutrafuhathose living in luxury in that town mutrafūhā)
مُتۡرَفُوهَآ
orang-orang yang berada dalam kemewahan di negeri ituthose living in luxury in that town
Terjemahan: Dan demikianlah halnya (orang-orang yang taqlid buta); Kami tidak mengutus sebelummu (wahai Muhammad) kepada (penduduk) sesebuah negeri, seseorang Rasul pemberi amaran, melainkan orang-orang yang berada dalam kemewahan di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami dapati datuk nenek kami menurut satu jalan ugama, dan sesungguhnya kami hanya mengikut jejak mereka sahaja"Translation: And such is the way (of those who follow blindly): We have not sent before you (O Muhammad) to (the people of) any town a Messenger who warns, except that those living in luxury in that town said: “Truly we found our forefathers following a way of religion, and truly we only imitate their footsteps.”
Nota bahasa: عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم (ayat 23).Language note: عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم (verse 23).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الدَّاعِيَ إِلَى الْقَوْلِ بِالتَّقْلِيدِ وَالْحَامِلَ عَلَيْهِ، إِنَّمَا هُوَ حُبُّ التنعم فِي طَيِّبَاتِ الدُّنْيَا وَحُبُّ الْكَسَلِ وَالْبِطَالَةِ وَبُغْضُ تَحَمُّلِ مَشَاقِّ النَّظَرِ وَالِاسْتِدْلَالِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–25)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (commentary on 20–25)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, pendorong mengikut nenek moyang secara buta ialah cinta kesenangan dunia, sukakan kemalasan, dan benci kepayahan berfikir serta mencari dalil; sebab itu “orang-orang yang berada dalam kemewahan” yang berkata begitu.
Renungan: Kesenangan boleh membuat kita malas berfikir; mari kita sanggup bersusah mencari kebenaran.Tafsir al-Rāzī says that what drives blind following is love of worldly ease, love of idleness, and dislike of the hardship of thinking and seeking proof; hence it is “those living in luxury” who say this.
Reflection: Comfort can make us lazy to think; let us be willing to take trouble in seeking the truth.
Terjemahan: Rasul itu berkata: "Adakah (kamu akan menurut juga mereka) walaupun aku membawa kepada kamu ugama yang lebih jelas hidayah petunjuknya daripada jalan ugama yang kamu dapati datuk nenek kamu menurutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami tetap mengingkari apa yang kamu diutuskan membawanya"Translation: That Messenger said: “(Will you still follow them,) even if I bring you a religion clearer in its guidance than the way of religion that you found your forefathers following?” They answered: “Truly we firmly reject what you have been sent with.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَحَصَلَ مِنَ الْقِرَاءَتَيْنِ أَنَّ جَمِيعَ الرُّسُلِ أَجَابُوا أَقْوَامَهُمْ بِهَذَا الْجَوَابِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/189 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/189 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, ada dua bacaan pada ayat ini, dan daripada kedua-duanya terhasil maksud bahawa semua Rasul menjawab kaum mereka dengan jawapan ini.
Renungan: Soalan para Rasul sangat adil: bagaimana jika ada yang lebih jelas? Mari kita membuka hati apabila ditunjukkan yang lebih benar.According to Ibn ‘Āshūr, there are two readings of this verse, and together they show that all the Messengers answered their peoples with this reply.
Reflection: The Messengers’ question is most fair: what if there is something clearer? Let us open our hearts when shown what is truer.
فَٱنتَقَمۡنَا
lalu … balas keingkaran mereka (lit. lalu … membalas)so … repaid their rejection (lit. so … took retribution) (KamiWe)
مِنۡهُمۡۖ
dengan azab yang membinasakan (lit. dari mereka)with a destroying punishment (lit. on them)
ٱلۡمُكَذِّبِينَ
umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnya (lit. orang-orang yang mendustakan)of the nations that belied their Messengers (lit. of those who belied)
Terjemahan: Lalu Kami balas keingkaran mereka dengan azab yang membinasakan; maka perhatikanlah bagaimana buruknya kesudahan umat-umat yang mendustakan Rasul-rasulnyaTranslation: So We repaid their rejection with a destroying punishment; then look at how evil was the end of the nations that belied their Messengers.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَعِنْدَ هَذَا لَمْ يَبْقَ لَهُمْ عُذْرٌ وَلَا عِلَّةٌ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (huraian ayat 20–25)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (commentary on 20–25)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apabila mereka berkeras menolak walaupun dibawa yang lebih benar, tiada lagi alasan bagi mereka, lalu datanglah balasan itu.
Renungan: Selepas kebenaran jelas, alasan tidak lagi berguna; mari kita segera menerima sebelum masa berakhir.Tafsir al-Rāzī says that when they insisted on refusing even what was truer, no excuse remained for them, and then came the recompense.
Reflection: Once the truth is clear, excuses no longer serve; let us accept it swiftly before time runs out.
Terjemahan: Dan (ingatkanlah peristiwa) ketika Nabi Ibrahim berkata kepada bapanya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembahTranslation: And (recall the event) when the Prophet Ibrahim said to his father and to his people: “Truly I am free of what you worship,
Nota nahu: مِّمَّا تَعْبُدُونَ (ayat 26).Grammar note: مِّمَّا تَعْبُدُونَ (verse 26).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ تَبَرَّأَ عَنْ دِينِ آبَائِهِ بِنَاءً عَلَى الدَّلِيلِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (huraian ayat 26–30)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/628 · Shamela ↗ (commentary on 26–30)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah menceritakan bahawa Nabi Ibrahim berlepas diri daripada agama nenek moyangnya berdasarkan dalil.
Renungan: Sayang kepada keluarga tidak bermaksud mengikut mereka dalam kesilapan; mari kita berpegang pada kebenaran, dengan adab kepada mereka.Tafsir al-Rāzī says Allah relates that the Prophet Ibrahim freed himself from the religion of his forefathers on the basis of proof.
Reflection: Love for family does not mean following them in error; let us hold to the truth, with good manners towards them.
Terjemahan: Yang lain dari Tuhan yang menciptakan daku, kerana sesungguhnya Ia tetap memberi hidayah petunjuk kepadaku"Translation: other than the Lord Who created me, for truly He will give me guidance.”
Nota nahu: إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى (ayat 27).Grammar note: إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى (verse 27).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَيَدُلَّانِ عَلَى اسْتِمْرَارِ الْهِدَايَةِ فِي الْحَالِ وَالِاسْتِقْبَالِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/629 · Shamela ↗ (huraian ayat 26–30)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/629 · Shamela ↗ (commentary on 26–30)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/246), ayat ini digabung dengan ayat lain yang menyebut Allah memberi hidayah, lalu kedua-duanya menunjukkan hidayah (petunjuk) berterusan kini dan pada masa depan.
Renungan: Hidayah bukan sekali sahaja; mari kita sentiasa memohonnya daripada Allah.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also does in al-Kashshāf (4/246), that this verse is joined with another saying that He guides, and together they show guidance continuing now and in the future.
Reflection: Guidance is not once only; let us always ask Allah for it.
وَجَعَلَهَا
dan … menjadikan kalimah tauhid (mengesakan Allah) itu (lit. dan … menjadikannya)and … made the word of tawhid (affirming Allah’s oneness) (lit. and … made it) (dia (Nabi Ibrahim)he (the Prophet Ibrahim))
يَرۡجِعُونَ
kembali (kepada tauhid itu, jika ada yang menyeleweng kepada syirik)would return (to that tawhid, if any strayed into shirk) (merekathey)
Terjemahan: Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimah tauhid itu tetap kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada tauhid itu, jika ada yang menyeleweng kepada syirik)Translation: And the Prophet Ibrahim made the word of tawhid (affirming Allah’s oneness) endure among his descendants, so that they would return (to that tawhid, if any strayed into shirk).
Nota nahu: وَجَعَلَهَا (ayat 28).Grammar note: وَجَعَلَهَا (verse 28).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ جَعَلَ إِبْرَاهِيمُ كَلِمَةَ التَّوْحِيدِ بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ بِالْوِصَايَةِ عَلَيْهَا رَاجِيًا أَنَّهُمْ يَرْجِعُونَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/194 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/194 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, Nabi Ibrahim menjadikan kalimah tauhid kekal pada keturunannya dengan mewasiatkannya, dengan harapan mereka kembali kepadanya.
Renungan: Warisan terbaik kepada anak ialah kalimah tauhid; mari kita menanamkannya dalam keluarga kita.According to Ibn ‘Āshūr, the Prophet Ibrahim made the word of tawhid endure among his descendants by charging them with it, hoping they would return to it.
Reflection: The best legacy for children is the word of tawhid; let us plant it in our families.
بَلۡ
(kebanyakan mereka tidak kembali kepada tauhid, dan Aku pula tidak segerakan azab mereka) bahkan(most of them did not return to tawhid, nor did I hasten their punishment;) rather
مُّبِينٞ
yang menerangkan tauhid (lit. yang menerangkan)who makes tawhid clear (lit. who makes clear)
Terjemahan: (Kebanyakan mereka tidak kembali kepada tauhid, dan Aku pula tidak segerakan azab mereka) bahkan Aku memberikan mereka dan datuk nenek mereka menikmati kesenangan hidup, sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al-Quran), dan seorang Rasul yang menerangkan tauhidTranslation: (Most of them did not return to tawhid, nor did I hasten their punishment;) rather I gave them and their forefathers the enjoyment of a life of ease, until the truth (the Qur’an) came to them, and a Messenger who makes tawhid clear.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُمْ لَمَّا عَوَّلُوا عَلَى تَقْلِيدِ الْآبَاءِ وَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي الْحُجَّةِ اغْتَرُّوا بِطُولِ الْإِمْهَالِ وَإِمْتَاعِ اللَّهِ إِيَّاهُمْ بِنَعِيمِ الدُّنْيَا فَأَعْرَضُوا عَنِ الْحَقِّ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/629 · Shamela ↗ (huraian ayat 26–30)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/629 · Shamela ↗ (commentary on 26–30)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, apabila mereka bersandar pada ikutan nenek moyang dan tidak memikirkan hujah, mereka terpedaya oleh panjangnya tempoh tangguh dan nikmat dunia, lalu berpaling daripada kebenaran.
Renungan: Kelapangan hidup boleh jadi ujian; mari kita tidak terpedaya oleh nikmat dan tempoh yang diberi.Tafsir al-Rāzī says that when they relied on following their forefathers and did not think over the proof, they were deceived by the long respite and worldly favours, and turned from the truth.
Reflection: An easy life can be a test; let us not be deceived by favours and the time given.
جَآءَهُمُ
disampaikan kepada mereka (lit. datang kepada mereka)was conveyed to them (lit. came to them) (kebenaran al‑haqquthe truth al‑ḥaqqu)
Terjemahan: Dan ketika kebenaran (Al-Quran) itu disampaikan kepada mereka, berkatalah mereka: "Sesungguhnya ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami tetap mengingkarinya"Translation: And when the truth (the Qur’an) was conveyed to them, they said: “Truly this is magic, and truly we firmly reject it.”
Nota nahu: وَلَمَّا (ayat 30).Grammar note: وَلَمَّا (verse 30).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَكَانَ الشَّأْنُ أَنْ يَسْتَيْقِظُوا لَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ وَرَسُولٌ مُبِينٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/198 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/198 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, sepatutnya mereka tersedar apabila kebenaran dan Rasul yang menerangkan datang, lalu mengingati kalimah bapa mereka Ibrahim; namun mereka menyebutnya sihir.
Renungan: Kelalaian lama boleh menutup hati; mari kita bangkit segera apabila kebenaran sampai.According to Ibn ‘Āshūr, they should have awoken when the truth and a Messenger who makes it clear came, and recalled the word of their father Ibrahim; yet they called it magic.
Reflection: Long heedlessness can cover the heart; let us rise at once when the truth reaches us.
وَقَالُواْ
dan (kerana mereka mencemuh Nabi Muhammad) … berkataand (because they scorned the Prophet Muhammad) … said (merekathey)
لَوۡلَا
(kalaulah al-Qur’an ini menjadi bukti kenabian seseorang, maka) sepatutnya(if this Qur’an were proof of anyone’s prophethood, then) it should
Terjemahan: Dan (kerana mereka mencemuh Nabi Muhammad) mereka berkata: "(Kalaulah Al-Quran ini menjadi bukti kenabian seseorang, maka) sepatutnya Al-Quran ini diturunkan kepada seorang besar (yang kaya dan berpengaruh) dari salah sebuah dua bandar yang (terkenal) itu"Translation: And (because they scorned the Prophet Muhammad) they said: “(If this Qur’an were proof of anyone’s prophethood, then) it should have been sent down to a great man (rich and influential) from one of the two (well-known) cities.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِلَّا أَنَّهُمْ ضَمُّوا إِلَيْهِ مُقَدِّمَةً فَاسِدَةً وَهِيَ أَنَّ الرَّجُلَ الشَّرِيفَ هُوَ الَّذِي يَكُونُ كَثِيرَ الْمَالِ وَالْجَاهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/630 · Shamela ↗ (huraian ayat 31–32)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/630 · Shamela ↗ (commentary on 31–32)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka benar bahawa tugas kerasulan itu mulia, tetapi mereka menambah andaian yang rosak: orang mulia ialah yang banyak harta dan pangkat.
Renungan: Kemuliaan tidak diukur dengan harta; mari kita tidak menilai orang menurut kekayaan dan kedudukannya.Tafsir al-Rāzī says they were right that the office of Messenger is noble, but they added a false premise: that a noble man is one with much wealth and rank.
Reflection: Nobility is not measured by wealth; let us not judge people by their riches and status.
أَهُمۡ
(mengapa pemberian Kami itu mereka ingkarkan?) adakah mereka(why do they reject what We have given?) is it they
يَقۡسِمُونَ
berkuasa membahagi-bahagikan (perkara-perkara keruhanian dan keugamaan yang menjadi sebesar-besar)who have power to divide (the spiritual and religious matters that are the greatest) (merekathey)
رَبِّكَۚ
Tuhanmu (wahai Muhammad, seolah-olah Kami hanya berkuasa dalam perkara kebendaan dan keduniaan sahaja? mereka tidak ingkarkan)of your Lord (O Muhammad, as though We had power only over material and worldly matters? They do not deny that)
ٱلدُّنۡيَاۚ
dunia ini (setengahnya Kami jadikan kaya raya dan setengahnya miskin menderita)of this world (some We made very rich, and some poor and suffering)
وَرَفَعۡنَا
dan juga … telah menjadikan … tertinggi (lit. dan … mengangkat)and also … have made … higher (lit. and … raised) (KamiWe)
بَعۡضَهُمۡ
darjat setengah mereka (lit. setengah mereka)the rank of some of them (lit. some of them)
لِّيَتَّخِذَ
(semuanya itu) supaya … senang mendapat kemudahan menjalankan kehidupannya (lit. supaya … mengambil)(all of that) so that … may readily get ease in carrying on their living (lit. so that … may take) (sebahagian dari mereka ba‘dhuhumsome of them ba‘ḍuhum)
بَعۡضٗا
dari (bantuan) setengahnya yang lain (lit. setengah)from the (help of) others (lit. some)
رَبِّكَ
Tuhanmu (yang meliputi kebahagiaan dunia dan akhirat)of your Lord (which covers happiness in this world and the Hereafter)
مِّمَّا
dari kebendaan dan keduniaan semata-mata yang (lit. dari apa yang)than the mere material and worldly things that (lit. than what)
Terjemahan: (Mengapa pemberian Kami itu mereka ingkarkan?) Adakah mereka berkuasa membahagi-bahagikan (perkara-perkara keruhanian dan keugamaan yang menjadi sebesar-besar) rahmat Tuhanmu (wahai Muhammad, seolah-olah Kami hanya berkuasa dalam perkara kebendaan dan keduniaan sahaja? Mereka tidak ingkarkan): Kami membahagi-bahagikan antara mereka segala keperluan hidup mereka dalam kehidupan dunia ini, (setengahnya Kami jadikan kaya raya dan setengahnya miskin menderita); dan juga Kami telah menjadikan darjat setengah mereka tertinggi dari darjat setengahnya yang lain; (semuanya itu) supaya sebahagian dari mereka senang mendapat kemudahan menjalankan kehidupannya dari (bantuan) setengahnya yang lain. Dan lagi rahmat Tuhanmu (yang meliputi kebahagiaan dunia dan akhirat) adalah lebih baik dari kebendaan dan keduniaan semata-mata yang mereka kumpulkanTranslation: (Why do they reject what We have given?) Is it they who have power to divide (the spiritual and religious matters that are the greatest) mercy of your Lord (O Muhammad, as though We had power only over material and worldly matters? They do not deny that): We have divided among them all their needs of living in the life of this world, (some We made very rich, and some poor and suffering); and We have also made the rank of some of them higher than the rank of others; (all of that) so that some of them may readily get ease in carrying on their living from the (help of) others. And the mercy of your Lord (which covers happiness in this world and the Hereafter) is better than the mere material and worldly things that they gather.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَهَذِهِ الرَّحْمَةُ خَيْرٌ مِنَ الْأَمْوَالِ الَّتِي يَجْمَعُهَا لِأَنَّ الدُّنْيَا عَلَى شَرَفِ الِانْقِضَاءِ وَالِانْقِرَاضِ وَفَضْلُ اللَّهِ وَرَحْمَتُهُ تَبْقَى أَبَدَ الآباد»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/630 · Shamela ↗ (huraian ayat 31–32)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/630 · Shamela ↗ (commentary on 31–32)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, rahmat Allah dalam agama lebih baik daripada harta yang dikumpul, kerana dunia hampir habis dan hilang, sedangkan kurnia dan rahmat-Nya kekal selama-lamanya.
Renungan: Apabila kita mengira apa yang kita miliki, mari kita mengira dahulu nikmat iman, dan memeliharanya.Tafsir al-Rāzī says Allah’s mercy in religion is better than the wealth gathered, since the world is near its end and vanishing, while His bounty and mercy last forever.
Reflection: When we count what we own, let us first count the favour of faith, and guard it.
Terjemahan: Dan kalaulah tidak kerana manusia akan menjadi umat yang satu (dalam kekufuran), nescaya Kami jadikan bagi orang-orang yang kufur ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, bumbung rumah-rumah mereka dari perak, dan tangga-tangga yang mereka naik turun di atasnya (dari perak juga)Translation: And if it were not for the fact that mankind would become one nation (in disbelief), We would have set up, for those who reject the Most Gracious Lord, roofs made of silver for their houses, and stairways on which they go up and down (of silver too),
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ مَنَافِعَ الدُّنْيَا وَطَيِّبَاتِهَا حَقِيرَةٌ خَسِيسَةٌ عِنْدَ اللَّهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/631 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/631 · Shamela ↗ (commentary on 33–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, Allah menerangkan bahawa manfaat dan kesenangan dunia itu kecil dan rendah nilainya di sisi-Nya, dan ayat ini menunjukkannya.
Renungan: Kemewahan bukan tanda kemuliaan di sisi Allah; mari kita tidak iri melihat kekayaan orang lain.Tafsir al-Rāzī says Allah makes clear that the gains and pleasures of the world are small and of low worth with Him, and this verse shows it.
Reflection: Luxury is no sign of honour with Allah; let us not envy the wealth of others.
وَلِبُيُوتِهِمۡ
dan juga … rumah mereka (lit. dan bagi rumah-rumah mereka)and also … for their houses
Terjemahan: Dan juga pintu-pintu rumah mereka (dari perak juga), dan kerusi-kerusi panjang yang mereka berbaring di atasnya (dari perak juga)Translation: and also doors for their houses (of silver too), and couches on which they recline (of silver too),
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الثَّرَاءَ وَالرَّفَاهِيَةَ لَا يُقِيمُ الْمُدَبِّرُ الْحَكِيمُ لَهُمَا وَزْنًا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/204 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–35)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/204 · Shamela ↗ (commentary on 33–35)
Menurut Ibn ‘Āshūr, daripada kedua-dua kemungkinan makna ayat ini, kesimpulannya ialah kekayaan dan kemewahan tidak diberi nilai oleh Allah, Pentadbir Yang Maha Bijaksana.
Renungan: Pintu, kerusi dan rumah indah tidak mengangkat darjat kita; mari kita mencari apa yang bernilai di sisi Allah.According to Ibn ‘Āshūr, on both possible meanings of this verse the conclusion is that wealth and luxury are given no weight by Allah, the All-Wise Disposer of affairs.
Reflection: Fine doors, couches and houses do not raise our rank; let us seek what has worth with Allah.
وَٱلۡأٓخِرَةُ
dan (sebaliknya) kesenangan hari akhirat (lit. dan akhirat)and (on the other hand) the enjoyment of the Hereafter (lit. and the Hereafter)
Terjemahan: Serta berbagai barang perhiasan (keemasan). Dan (ingatlah), segala yang tersebut itu tidak lain hanyalah merupakan kesenangan hidup di dunia; dan (sebaliknya) kesenangan hari akhirat di sisi hukum Tuhanmu adalah khas bagi orang-orang yang bertaqwaTranslation: and all kinds of ornaments (of gold). And (remember,) all that is mentioned is nothing other than the enjoyment of life in this world; and (on the other hand) the enjoyment of the Hereafter, in the judgement of your Lord, is specially for those who have taqwa.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَإِنَّمَا سَمَّاهُ مَتَاعًا لِأَنَّ الْإِنْسَانَ يَسْتَمْتِعُ بِهِ قَلِيلًا ثُمَّ يَنْقَضِي فِي الْحَالِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/631 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/631 · Shamela ↗ (commentary on 33–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, ia dinamakan “kesenangan” kerana manusia menikmatinya sebentar, lalu ia habis serta-merta, sedangkan akhirat kekal.
Renungan: Nikmat dunia hanya sekejap; mari kita menggunakan yang sekejap ini untuk yang kekal.Tafsir al-Rāzī says it is called “enjoyment” because man enjoys it a little and then it ends at once, while the Hereafter lasts.
Reflection: Worldly pleasure is brief; let us use what is brief for what lasts.
ذِكۡرِ
pengajaran (al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah)to the teaching (of the Qur’an, sent down by Allah)
شَيۡطَٰنٗا
Syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya)a Satan (who incites him and leads him astray)
Terjemahan: Dan sesiapa yang tidak mengindahkan pengajaran (Al-Quran yang diturunkan oleh Allah) Yang Maha Pemurah, Kami akan adakan baginya Syaitan (yang menghasut dan menyesatkannya), lalu menjadilah Syaitan itu temannya yang tidak renggang daripadanyaTranslation: And whoever pays no heed to the teaching (of the Qur’an, sent down by Allah) the Most Gracious, We will assign for him a Satan (who incites him and leads him astray), so that Satan becomes his companion who never leaves him.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ كَثْرَةَ الْمَالِ وَالْجَاهَ تَجْعَلُ الْإِنْسَانَ كَالْأَعْشَى عَنْ مُطَالَعَةِ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/633 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/633 · Shamela ↗ (commentary on 33–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, banyaknya harta dan pangkat menjadikan manusia seperti orang rabun daripada memandang peringatan Allah, dan sesiapa jadi begitu, menjadi teman duduk Syaitan.
Renungan: Mari kita berjaga-jaga agar kesibukan dunia tidak membuat kita rabun daripada al-Qur’an.Tafsir al-Rāzī says that much wealth and rank make a person like one of dim sight towards the remembrance of Allah, and whoever becomes so is a companion of Satan.
Reflection: Let us take care that worldly busyness does not dim our sight of the Qur’an.
وَإِنَّهُمۡ
dan sesungguhnya Syaitan-syaitan itu (lit. dan sesungguhnya mereka)and truly those Satans (lit. and truly they)
لَيَصُدُّونَهُمۡ
(sungguh) tetap menghalangi mereka(truly) keep barring them (mereka (Syaitan‑syaitan itu)they (those Satans))
وَيَحۡسَبُونَ
sedang … menyangkawhile … think (mereka (yang dihalangi itu)they (who are barred))
Terjemahan: Dan sesungguhnya Syaitan-syaitan itu tetap menghalangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahawa mereka orang-orang yang mendapat hidayah petunjukTranslation: And truly those Satans keep barring them from the right path, while they think that they are ones who have guidance;
Nota nahu: وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ … وَيَحْسَبُونَ (ayat 37).Grammar note: وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ … وَيَحْسَبُونَ (verse 37).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بِحَالِ مَنِ اسْتَهْدَى قَوْمًا لِيَدُلُّوهُ عَلَى طَرِيقٍ مُوصِلٍ لِبُغْيَتِهِ فَضَلَّلُوهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/212 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/212 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, keadaan mereka diumpamakan dengan orang yang meminta sekumpulan manusia menunjukkan jalan ke tujuannya, lalu mereka menyesatkannya, sedangkan dia menyangka sedang menuju matlamatnya.
Renungan: Yakin belum tentu betul; mari kita menyemak jalan kita dengan al-Qur’an.According to Ibn ‘Āshūr, their state is likened to one who asks some people to show him the way to his goal, and they lead him astray, while he thinks he is heading for it.
Reflection: Being sure is not the same as being right; let us check our path by the Qur’an.
جَآءَنَا
datang kepada Kami (pada hari kiamat)comes to Us (on the Day of Resurrection) (dia (yang terjerumus dalam kesesatan itu)he (who sank into that misguidance))
قَالَ
berkatalah (kepada Syaitannya)says (to his Satan) (dia (yang terjerumus dalam kesesatan itu)he (who sank into that misguidance))
يَٰلَيۡتَ
alangkah baiknya (kalau di dunia dahulu ada sekatan yang memisahkan)if only (in the world before there had been a barrier separating)
فَبِئۡسَ
kerana (engkau) adalah sejahat-jahat (lit. maka seburuk-buruk)for (you) are the worst (lit. so how evil is) (teman al‑qarinucompanion al‑qarīnu)
Terjemahan: Sehingga apabila ia (yang terjerumus dalam kesesatan itu) datang kepada Kami (pada hari kiamat), berkatalah ia (kepada Syaitannya): "Alangkah baiknya (kalau di dunia dahulu ada sekatan yang memisahkan) antaraku denganmu sejauh timur dengan barat! Kerana (engkau) adalah sejahat-jahat teman"Translation: until, when he (who sank into that misguidance) comes to Us (on the Day of Resurrection), he says (to his Satan): “If only (in the world before there had been a barrier separating) me and you as far as east from west! For (you) are the worst companion.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِأَنَّ الْمَقْصُودَ مِنْ قَوْلِهِ يا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ الْمُبَالَغَةُ فِي حُصُولِ الْبُعْدِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/633 · Shamela ↗ (huraian ayat 33–39)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/633 · Shamela ↗ (commentary on 33–39)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, tujuan kata-kata itu ialah menyatakan jarak yang sejauh-jauhnya daripada teman tersebut.
Renungan: Teman yang menyesatkan akan disesali, dan penyesalan itu datang terlambat; mari kita memilih teman yang mendekatkan kita kepada Allah.Tafsir al-Rāzī says the aim of those words is to express the greatest possible distance from that companion.
Reflection: A companion who misleads will be regretted, and that regret comes too late; let us choose companions who bring us nearer to Allah.
وَلَن
(lalu dikatakan kepada mereka) tidak sekali-kali (lit. dan tidak sekali-kali)(then it is said to them:) never (lit. and never)
يَنفَعَكُمُ
akan memberi faedah kepada kamuwill benefit you (ayat: annakum fi al‑‘adzabi musytarikunthe clause: annakum fī al‑‘adhābi mushtarikūn)
ظَّلَمۡتُمۡ
telah menganiaya diri sendiri (lit. menganiaya)have wronged yourselves (lit. wronged) (kamu sekalianyou all)
مُشۡتَرِكُونَ
dan teman-teman kamu itu tetap menderita bersama-sama (lit. berkongsi)and your companions suffer together (lit. sharing)
Terjemahan: (Lalu dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini, setelah nyata bahawa kamu telah menganiaya diri sendiri, (maka apa yang kamu cita-citakan itu) tidak sekali-kali akan memberi faedah kepada kamu, kerana sesungguhnya kamu dan teman-teman kamu itu tetap menderita bersama-sama di dalam azab"Translation: (Then it is said to them:) “This day, now that it is clear that you have wronged yourselves, (what you wished for) will never benefit you, for truly you and your companions suffer together in the punishment.”
Nota nahu: وَلَن يَنفَعَكُمُ (ayat 39).Grammar note: وَلَن يَنفَعَكُمُ (verse 39).
Nota nahu: إِذ ظَّلَمْتُمْ (ayat 39).Grammar note: إِذ ظَّلَمْتُمْ (verse 39).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لَا تُلْقُوا التَّبِعَةَ عَلَى الْقُرَنَاءِ فَأَنْتُمْ مُؤَاخَذُونَ بِطَاعَتِهِمْ وَهُمْ مُؤَاخَذُونَ بِإِضْلَالِكُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/214 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/214 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata ini mengisyaratkan maksud yang tidak disebut: jangan dilemparkan tanggungjawab kepada teman-teman itu; kamu dipertanggungjawabkan kerana mentaati mereka, dan mereka dipertanggungjawabkan kerana menyesatkan kamu.
Renungan: Menyalahkan orang lain tidak menghapuskan tanggungjawab kita sendiri; mari kita memikul tanggungjawab atas pilihan kita sekarang.According to Ibn ‘Āshūr, these words point to an unstated sense: do not throw the responsibility on those companions; you are held to account for obeying them, and they are held to account for misleading you.
Reflection: Blaming others does not remove our own responsibility; let us own our choices now.
أَفَأَنتَ
maka (mengapa engkau berdukacita wahai Muhammad) adakah engkauso (why do you grieve, O Muhammad?) have you
Terjemahan: Maka (mengapa engkau berdukacita wahai Muhammad) adakah engkau berkuasa menjadikan orang-orang yang pekak mendengar, atau menunjuk jalan kepada orang-orang yang buta (mata hatinya), dan juga orang-orang yang berada dalam kesesatan yang nyataTranslation: So (why do you grieve, O Muhammad?) Have you the power to make the deaf hear, or to show the way to the blind (in their hearts’ eyes), and also those who are in plain misguidance?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ الْإِنْسَانَ فِي أَوَّلِ اشْتِغَالِهِ بِطَلَبِ الدُّنْيَا يَكُونُ كَمَنْ حَصَلَ بِعَيْنِهِ رَمَدٌ ضَعِيفٌ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (commentary on 40–45)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, manusia pada awal sibuk mengejar dunia seperti orang yang sakit mata ringan; jika berterusan dia menjadi rabun, kemudian buta; ayat ini menyusunnya dengan indah.
Renungan: Kerosakan hati bermula kecil; mari kita merawatnya sebelum menjadi parah.Tafsir al-Rāzī says that when a person first busies himself with chasing the world, he is like one with a slight eye ailment; if it goes on he grows dim-sighted, then blind; this verse orders it beautifully.
Reflection: Damage to the heart starts small; let us treat it before it grows grave.
بِكَ
engkau (sebelum Kami perlihatkan kepadamu azab yang akan menimpa mereka) (lit. denganmu)you (before We show you the punishment that will befall them) (lit. with you)
Terjemahan: Oleh itu (bertenanglah engkau, kerana) kalaulah Kami wafatkan engkau (sebelum Kami perlihatkan kepadamu azab yang akan menimpa mereka), maka sesungguhnya Kami tetap menyeksakan merekaTranslation: So (be at peace, for) if We take you in death (before We show you the punishment that will befall them), then truly We will surely punish them;
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْكَلَامَ يُفِيدُ كَمَالَ التَّسْلِيَةِ لِلرَّسُولِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (commentary on 40–45)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, kata-kata ini memberi ketenangan yang sempurna kepada Rasulullah ﷺ, kerana Allah menerangkan bahawa balasan itu pasti, sama ada semasa hayat baginda atau selepas wafat.
Renungan: Tugas kita berusaha dan bersabar; mari kita menyerahkan kesudahan segala urusan kepada Allah.Tafsir al-Rāzī says these words give complete comfort to the Messenger ﷺ, since Allah makes clear that the recompense is certain, whether in his lifetime or after his death.
Reflection: Our task is to strive and be patient; let us leave the outcome of all affairs to Allah.
وَعَدۡنَٰهُمۡ
janjikan kepada mereka (dari azab seksa itu)promised them (of that punishment) (KamiWe)
Terjemahan: Atau sekiranya Kami (hendak) memperlihatkan kepadamu apa yang Kami janjikan kepada mereka (dari azab seksa itu), maka Kami tetap berkuasa terhadap merekaTranslation: or if We (were to) show you what We promised them (of that punishment), then We have full power over them.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالِاقْتِدَارُ: شِدَّةُ الْقُدْرَةِ، وَاقْتَدَرَ أَبْلَغُ مِنْ قَدَرَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/218 · Shamela ↗ (huraian ayat 41–42)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/218 · Shamela ↗ (commentary on 41–42)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata «مُقْتَدِرُونَ» menunjukkan kuasa yang sangat kuat, dan «اقْتَدَرَ» lebih kuat maknanya daripada «قَدَرَ».
Renungan: Tiada siapa berada di luar kuasa Allah; mari kita tenang menyerahkan kepada-Nya perkara yang di luar kemampuan kita.According to Ibn ‘Āshūr, the word «مُقْتَدِرُونَ» shows very great power, and «اقْتَدَرَ» is stronger in meaning than «قَدَرَ».
Reflection: No one is beyond the power of Allah; let us calmly leave to Him what is beyond our ability.
Terjemahan: Dengan yang demikian, berpegang teguhlah engkau kepada Al-Quran yang telah diwahyukan kepadamu; kerana sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurusTranslation: So hold firmly to the Qur’an that has been revealed to you, for truly you are on a straight path.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«بِأَنْ تَعْتَقِدَ أَنَّهُ حَقٌّ وَبِأَنْ تَعْمَلَ بِمُوجِبِهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/634 · Shamela ↗ (commentary on 40–45)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, berpegang teguh ialah meyakini wahyu itu benar dan beramal dengan tuntutannya, kerana itulah jalan yang lurus.
Renungan: Pegangan bukan sekadar keyakinan dalam hati; mari kita membuktikannya dengan amal setiap hari.Tafsir al-Rāzī says that holding firmly means believing the revelation to be true and acting on what it requires, for that is the straight path.
Reflection: Holding firm is more than belief in the heart; let us prove it by deeds each day.
وَإِنَّهُۥ
dan sesungguhnya al-Qur’an itu (lit. dan sesungguhnya ia)and truly the Qur’an (lit. and truly it)
تُسۡـَٔلُونَ
akan ditanya (tentang isi kandungannya yang kamu telah amalkan)will be questioned (about its contents, which you have acted on) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: Dan sesungguhnya Al-Quran itu memberikan kemuliaan dan peringatan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada kaummu; dan kamu akan ditanya kelak (tentang isi kandungannya yang kamu telah amalkan)Translation: And truly the Qur’an brings honour and a reminder to you (O Muhammad) and to your people; and you will later be questioned (about its contents, which you have acted on).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«تُسْأَلُونَ هَلْ عَمِلْتُمْ بِمَا دَلَّ عَلَيْهِ مِنَ التَّكَالِيفِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/635 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/635 · Shamela ↗ (commentary on 40–45)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, kamu akan ditanya sama ada kamu mengamalkan perintah yang ditunjukkan oleh al-Qur’an.
Renungan: Al-Qur’an ialah kemuliaan dan juga amanah; mari kita bersedia dengan jawapan melalui amal kita hari ini.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī is that you will be asked whether you acted on the duties the Qur’an points to.
Reflection: The Qur’an is an honour and also a trust; let us prepare our answer through our deeds today.
أَجَعَلۡنَا
pernahkah … memberi hukum menetapkan (lit. adakah … menjadikan)have … ever decreed (lit. did … make) (KamiWe)
ٱلرَّحۡمَٰنِ
Allah Yang Maha Pemurah (lit. Yang Maha Pemurah)Allah, the Most Gracious (lit. the Most Gracious)
Terjemahan: Dan bertanyalah kepada umat mana-mana Rasul yang Kami telah utuskan sebelummu; pernahkah Kami memberi hukum menetapkan sebarang tuhan untuk disembah, selain dari Allah Yang Maha PemurahTranslation: And ask the nation of any Messenger We have sent before you: have We ever decreed any gods to be worshipped besides Allah, the Most Gracious?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِنَّهُمْ سَيُخْبِرُونَكَ أَنَّهُ لَمْ يَرِدْ فِي دِينِ أَحَدٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ عِبَادَةُ الْأَصْنَامِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/635 · Shamela ↗ (huraian ayat 40–45)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/635 · Shamela ↗ (commentary on 40–45)
Antara huraian dalam Tafsir ar-Rāzī, mereka yang ditanya itu akan memberitahu bahawa penyembahan berhala tidak pernah ada dalam agama mana-mana Nabi.
Renungan: Seruan semua Rasul satu sahaja: sembahlah Allah; mari kita meneguhkan tauhid dalam hati kita.One of the explanations in Tafsir al-Rāzī is that those asked will tell you that the worship of idols never came in the religion of any Prophet.
Reflection: The call of all the Messengers is one: worship Allah; let us make tawhid firm in our hearts.
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Kami telah mengutus Nabi Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami, kepada Firaun dan kaumnya, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku ini ialah Rasul dari Tuhan sekalian alam"Translation: And indeed We sent the Prophet Musa with Our miracles to Pharaoh and his people, and he said: “Truly I am a Messenger from the Lord of all the worlds.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَثَبَتَ أَنَّهُ لَيْسَ الْمَقْصُودُ مِنْ إِعَادَةِ هَذِهِ الْقِصَّةِ عَيْنَ هَذِهِ الْقِصَّةِ، بَلِ الْمَقْصُودُ تَقْرِيرُ الْجَوَابِ عَنِ الشُّبْهَةِ الْمَذْكُورَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/636 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–56)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/636 · Shamela ↗ (commentary on 46–56)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, tujuan mengulang kisah ini bukan kisah itu sendiri, tetapi mengukuhkan jawapan kepada kekeliruan tadi, bahawa orang kaya lebih layak menjadi Rasul.
Renungan: Apabila bertemu kisah yang berulang dalam al-Qur’an, mari kita bertanya: apakah pengajaran baharunya bagi kita di tempat ini?Tafsir al-Rāzī says the aim of repeating this story is not the story itself, but to confirm the answer to the confusion above, that a rich man is worthier to be a Messenger.
Reflection: When a story recurs in the Qur’an, let us ask: what is its new lesson for us at this place?
Terjemahan: Maka apabila ia datang kepada mereka dengan membawa tanda-tanda kekuasaan Kami, mereka dengan serta-merta mencemuh dan menggelakkan (apa yang dibawanya) ituTranslation: So when he came to them with the signs of Our power, at once they were scorning and laughing at (what he brought).
Nota nahu: فَلَمَّا جَآءَهُم (ayat 47).Grammar note: فَلَمَّا جَآءَهُم (verse 47).
Nota nahu: إِذَا هُم (ayat 47).Grammar note: إِذَا هُم (verse 47).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالضَّحِكُ: كِنَايَةً عَنِ الِاسْتِخْفَافِ بِالْآيَاتِ وَالتَّكْذِيبِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/225 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–47)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/225 · Shamela ↗ (commentary on 46–47)
Menurut Ibn ‘Āshūr, ketawa di sini ialah kiasan bagi memandang ringan tanda-tanda itu dan mendustakannya.
Renungan: Memandang ringan peringatan Allah bermula dengan gurauan kecil; mari kita menyambut ayat-ayat-Nya dengan hati yang serius.According to Ibn ‘Āshūr, the laughing here is a figure for making light of the signs and denying them.
Reflection: Making light of Allah’s reminders begins with small jokes; let us meet His verses with a serious heart.
ءَايَةٍ
sesuatu tanda kebenaran Nabi Musa (lit. sesuatu tanda)any sign of the truth of the Prophet Musa (lit. any sign)
Terjemahan: Dan tidaklah Kami memperlihatkan kepada mereka sesuatu tanda kebenaran Nabi Musa melainkan tanda itu adalah lebih terang dari yang terdahulu daripadanya; Dan Kami timpakan mereka dengan berbagai azab (bala bencana), supaya mereka kembali (bertaubat)Translation: And We do not show them any sign of the truth of the Prophet Musa except that that sign is clearer than the one before it. And We struck them with various punishments (trials and disasters), so that they might return (in repentance).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يَحْتَمِلُ أَنْ يُرَادَ بِهِ أَنَّ كُلَّ آيَةٍ تَأْتِي تَكُونُ أَعْظَمَ مِنَ الَّتِي قَبْلَهَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/225 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/225 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, boleh jadi maksudnya setiap tanda yang datang lebih besar daripada yang sebelumnya.
Renungan: Allah terus menghantar peringatan demi peringatan dalam hidup kita; mari kita kembali kepada-Nya sebelum peringatan itu berakhir.According to Ibn ‘Āshūr, it may mean that each sign that came was greater than the one before it.
Reflection: Allah keeps sending reminder after reminder in our lives; let us return to Him before the reminders end.
وَقَالُواْ
dan (apabila bala bencana itu menimpa mereka), … merayu kepada Nabi Musa dengan berkataand (when those disasters struck them,) … pleaded with the Prophet Musa, saying (merekathey)
بِمَا
dengan (kemuliaan) pangkat Nabi yang (lit. dengan apa yang)by the (honour of the) rank of Prophet that (lit. by what)
Terjemahan: Dan (apabila bala bencana itu menimpa mereka), mereka merayu kepada Nabi Musa dengan berkata: "Wahai orang yang bijak pandai, pohonkanlah kepada Tuhanmu keselamatan untuk kami dengan (kemuliaan) pangkat Nabi yang diberikan kepadamu; sesungguhnya kami (sesudah itu) akan patuh beriman"Translation: And (when those disasters struck them,) they pleaded with the Prophet Musa, saying: “O learned one, ask of your Lord safety for us by the (honour of the) rank of Prophet given to you; truly we (after that) will obey and believe.”
Nota bahasa: يَٰٓأَيُّهَ ٱلسَّاحِرُ (ayat 49).Language note: يَٰٓأَيُّهَ ٱلسَّاحِرُ (verse 49).
Nota nahu: بِمَا عَهِدَ (ayat 49).Grammar note: بِمَا عَهِدَ (verse 49).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مُخَاطَبَةُ تَعْظِيمٍ تَزَلُّفًا إِلَيْهِ لِأَنَّ السَّاحِرَ عِنْدَهُمْ كَانَ هُوَ الْعَالِمَ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/227 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/227 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, panggilan mereka kepada Nabi Musa ialah panggilan memuliakan untuk mengambil hati, kerana «السَّاحِر» di sisi mereka bermaksud orang berilmu. Terjemahan Basmeih: “orang yang bijak pandai”.
Renungan: Kata manis ketika susah belum tentu ikhlas; mari kita jujur dengan Allah dalam senang dan susah.According to Ibn ‘Āshūr, their address to the Prophet Musa was one of respect, to win his favour, since «السَّاحِر» among them meant a man of knowledge. The verse line renders it “learned one”.
Reflection: Sweet words in hardship are not always sincere; let us be true with Allah in ease and hardship.
Terjemahan: Setelah Kami hapuskan azab itu daripada mereka, mereka terus mencabuli janjinyaTranslation: When We removed that punishment from them, at once they were breaking their promise.
Nota nahu: فَلَمَّا كَشَفْنَا (ayat 50).Grammar note: فَلَمَّا كَشَفْنَا (verse 50).
Nota nahu: إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ (ayat 50).Grammar note: إِذَا هُمْ يَنكُثُونَ (verse 50).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالنَّكْثُ: نَقْضُ الْحَبْلِ الْمُبْرَمِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/228 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/228 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata asal bagi mencabuli janji di sini bermaksud merungkai tali yang dipintal kuat, lalu digunakan bagi orang yang memungkiri janji.
Renungan: Janji ketika susah mudah dilupakan ketika senang; mari kita menunaikan apa yang kita janjikan kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, the root word for breaking a promise here means undoing a tightly twisted rope, and it is used of those who go back on their word.
Reflection: Promises made in hardship are easily forgotten in ease; let us fulfil what we promised Allah.
وَنَادَىٰ
dan … pula menyeru (dengan mengisytiharkan)and … then called (in proclamation) (Firaun Fir‘aunuPharaoh Fir‘awnu)
Terjemahan: Dan Firaun pula menyeru (dengan mengisytiharkan) kepada kaumnya, katanya: "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan negeri Mesir ini - akulah yang menguasainya, dan sungai-sungai ini mengalir di bawah (istana)ku? Tidakkah kamu melihatnyaTranslation: And Pharaoh then called (in proclamation) to his people, declaring: “O my people! Is it not I who rule this kingdom of the land of Egypt, and these rivers flow beneath my (palace)? Do you not see it?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَحَاصِلُ الْأَمْرِ أَنَّهُ احْتَجَّ بِكَثْرَةِ أَمْوَالِهِ وَقُوَّةِ جَاهِهِ عَلَى فَضِيلَةِ نَفْسِهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/637 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–56)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/637 · Shamela ↗ (commentary on 46–56)
Tafsir ar-Rāzī menyimpulkan, Firaun berhujah dengan banyaknya harta dan kuatnya pangkat untuk menunjukkan kelebihan dirinya.
Renungan: Apabila memiliki sesuatu, mudah kita menyangka ia hak kita sendiri; mari kita mengingati bahawa semua itu pemberian Allah.Tafsir al-Rāzī concludes that Pharaoh argued from his many riches and strong rank to show his own superiority.
Reflection: When we own something, it is easy to think it ours alone; let us remember that all of it is a gift from Allah.
Terjemahan: Bahkan bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina keadaannya ini, dan yang hampir-hampir tidak dapat menjelaskan perkataannyaTranslation: Rather, am I not better than this man who is of low standing and almost unable to make his speech clear?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَمَقْصُودُهُ: تَصْغِيرُ شَأْنِ مُوسَى فِي نُفُوسِهِمْ بِأَشْيَاءَ هِيَ عَوَارِضُ لَيْسَتْ مُؤَثِّرَةً»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/230 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/230 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, tujuan kata-kata Firaun ialah mengecilkan kedudukan Nabi Musa pada pandangan kaumnya dengan perkara sampingan yang tidak memberi kesan.
Renungan: Merendahkan orang dengan keadaan luarannya ialah cara orang yang tiada hujah; mari kita menilai kata-kata seseorang, bukan rupa dan tutur katanya.According to Ibn ‘Āshūr, the aim of Pharaoh’s words was to belittle the Prophet Musa in the eyes of his people by passing things that carry no weight.
Reflection: Belittling people for outward things is the way of those with no argument; let us weigh what a person says, not his looks or his manner of speaking.
أُلۡقِيَ
dipakaikan (oleh Tuhannya) (lit. dicampakkan)should have been fitted (by his Lord) (lit. cast) (gelang‑gelang aswiratunbracelets aswiratun)NF
مُقۡتَرِنِينَ
(sebagai saksi tentang kebenarannya) (lit. beriringan)(as witnesses to his truth) (lit. accompanying)
Terjemahan: (Kalau betul ia seorang Rasul) maka sepatutnya ia dipakaikan (oleh Tuhannya) gelang-gelang emas (yang menandakan ia seorang pemimpin), atau datang malaikat bersama-sama dengannya (sebagai saksi tentang kebenarannya)"Translation: (If he is truly a Messenger,) then he should have been fitted (by his Lord) with bracelets of gold (marking him as a leader), or angels should have come along with him (as witnesses to his truth).”
Nota nahu: أُلْقِىَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ (ayat 53).Grammar note: أُلْقِىَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌ (verse 53).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُرَادُ أَنَّ عَادَةَ الْقَوْمِ جَرَتْ بِأَنَّهُمْ إِذَا جَعَلُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ رَئِيسًا لَهُمْ سَوَّرُوهُ بِسِوَارٍ مَنْ ذَهَبٍ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/637 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–56)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/637 · Shamela ↗ (commentary on 46–56)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, yang dekat dengan kata-kata al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/258), adat kaum itu apabila melantik seorang ketua ialah memakaikannya gelang emas.
Renungan: Tanda kebesaran luaran bukan bukti kebenaran; mari kita mencari kebenaran pada isi, bukan pada perhiasan.Tafsir al-Rāzī says, close to the words of al-Zamakhsharī in al-Kashshāf (4/258), that the custom of those people when appointing a chief was to fit him with a bracelet of gold.
Reflection: Outward marks of greatness are no proof of truth; let us seek truth in substance, not in adornment.
فَٱسۡتَخَفَّ
(dengan yang demikian), maka … memperbodohkan(in that way) … made fools of (dia (Firaun)he (Pharaoh))
Terjemahan: (Dengan yang demikian), maka Firaun memperbodohkan kaumnya, lalu mereka mematuhinya; sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang fasik - derhakaTranslation: (In that way) Pharaoh made fools of his people, so they obeyed him; truly they were a people wicked and rebellious.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«حَيْثُ أَطَاعُوا ذَلِكَ الْجَاهِلَ الْفَاسِقَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/638 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–56)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/638 · Shamela ↗ (commentary on 46–56)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka dinamakan kaum yang derhaka kerana mentaati pemimpin yang jahil lagi derhaka itu.
Renungan: Sesiapa yang kita ikut menentukan arah kita; mari kita menilai dengan akal dan ilmu sebelum mengikut sesiapa.Tafsir al-Rāzī says they are called rebellious because they obeyed that ignorant and rebellious leader.
Reflection: Whom we follow decides where we go; let us weigh with reason and knowledge before following anyone.
ءَاسَفُونَا
menyebabkan kemurkaan Kami (dengan perbuatan derhaka itu)provoked Our wrath (by that rebellion) (merekathey)
Terjemahan: Setelah mereka menyebabkan kemurkaan Kami (dengan perbuatan derhaka itu), Kami menyeksa mereka, iaitu menenggelamkan mereka semuanya di laut (sehingga binasa)Translation: When they provoked Our wrath (by that rebellion), We punished them by drowning them all in the sea (until they perished).
Nota nahu: فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا (ayat 55).Grammar note: فَلَمَّآ ءَاسَفُونَا (verse 55).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«الْأُمُورُ الثَّلَاثَةُ الْمُتَرَتِّبَةُ الْمُتَفَرِّعُ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ وَهِيَ: الِانْتِقَامُ، فَالْإِغْرَاقُ، فَالِاعْتِبَارُ بِهِمْ فِي الْأُمَمِ بَعْدَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/234 · Shamela ↗ (huraian ayat 55–56)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/234 · Shamela ↗ (commentary on 55–56)
Menurut Ibn ‘Āshūr, inilah tujuan kisah itu: tiga perkara yang saling berturutan, iaitu hukuman, penenggelaman, dan pengajaran bagi umat selepas mereka.
Renungan: Setiap kesudahan buruk menyimpan pengajaran; mari kita mengambilnya sebelum kita sendiri menjadi pengajaran.According to Ibn ‘Āshūr, this is the point of the story: three things in sequence, the punishment, the drowning, and the lesson for the nations after them.
Reflection: Every bad end holds a lesson; let us take it before we become a lesson ourselves.
Terjemahan: Maka Kami jadikan mereka contoh dan pengajaran bagi orang-orang yang datang kemudianTranslation: So We made them both an example and a lesson to those who came after.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«يُرِيدُ عِظَةً لِمَنْ بَقِيَ بَعْدَهُمْ وَآيَةً وَعِبْرَةً»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/638 · Shamela ↗ (huraian ayat 46–56)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/638 · Shamela ↗ (commentary on 46–56)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, maksudnya mereka dijadikan nasihat bagi orang yang tinggal selepas mereka, juga tanda dan pengajaran.
Renungan: Sejarah umat terdahulu ialah cermin; mari kita melihat diri kita padanya dan memperbaiki apa yang perlu.Tafsir al-Rāzī says it means they were made an admonition for those left after them, and a sign and a lesson.
Reflection: The history of past nations is a mirror; let us see ourselves in it and mend what needs mending.
ضُرِبَ
dikemukakanwas put forward ((Nabi Isa) anak Maryam ibnu Maryama(the Prophet Isa) son of Maryam ibnu Maryama)NF
مَثَلًا
sebagai satu misal perbandingan, (untuk membantahmu wahai Muhammad)as a parable (to dispute with you, O Muhammad)
يَصِدُّونَ
bersorak-sorak kesukaan (kerana menyangka bahawa mereka telah menang)shout with joy (thinking they have won) (merekathey)
Terjemahan: Dan ketika (Nabi Isa) anak Maryam dikemukakan sebagai satu misal perbandingan, (untuk membantahmu wahai Muhammad), tiba-tiba kaummu bersorak-sorak kesukaan terhadapnya (kerana menyangka bahawa mereka telah menang)Translation: And when (the Prophet Isa) son of Maryam was put forward as a parable (to dispute with you, O Muhammad), suddenly your people shout with joy over it (thinking they have won).
Nota nahu: وَلَمَّا ضُرِبَ (ayat 57).Grammar note: وَلَمَّا ضُرِبَ (verse 57).
Nota nahu: إِذَا قَوْمُكَ (ayat 57).Grammar note: إِذَا قَوْمُكَ (verse 57).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَلَفْظُ الْآيَةِ لَا يَدُلُّ إِلَّا عَلَى أَنَّهُ لَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلًا أَخَذَ الْقَوْمُ يَضِجُّونَ وَيَرْفَعُونَ أَصْوَاتَهُمْ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/639 · Shamela ↗ (huraian ayat 57–62)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/639 · Shamela ↗ (commentary on 57–62)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, lafaz ayat ini hanya menunjukkan bahawa apabila anak Maryam dikemukakan sebagai misal, kaum itu riuh dan meninggikan suara; bentuk misal itu tidak ditunjukkan oleh lafaznya.
Renungan: Sorak dalam berbantah bukan tanda kebenaran; mari kita berbincang dengan tenang.Tafsir al-Rāzī says the wording of this verse shows only that when the son of Maryam was put forward as a parable, those people clamoured and raised their voices; the wording does not show what the parable was.
Reflection: Cheering in an argument is no sign of truth; let us discuss calmly.
ءَأَٰلِهَتُنَا
manakah, benda-benda yang kami sembah (lit. adakah tuhan-tuhan kami)which one: the things we worship (lit. are our gods)
ضَرَبُوهُ
mengemukakan perbandingan itu (lit. mengemukakannya)put that comparison (lit. put it) (merekathey)
Terjemahan: Dan mereka berkata lagi: "Manakah yang lebih baik, benda-benda yang kami sembah atau Isa?" Dan (sebenarnya) mereka tidak mengemukakan perbandingan itu kepadamu (wahai Muhammad) melainkan kerana membantah semata-mata (bukan kerana mencari kebenaran); bahkan mereka itu adalah kaum yang suka sekali mengemukakan bantahanTranslation: And they said further: “Which one is better: the things we worship, or Isa?” And (in fact) they put that comparison to you (O Muhammad) merely to argue (not to seek the truth); rather they are a people fond of raising arguments.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«شَدِيدُ التَّمَسُّكِ بِالْخُصُومَةِ وَاللَّجَاجِ مَعَ ظُهُورِ الْحَقِّ عِنْدَهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/240 · Shamela ↗ (huraian ayat 57–58)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/240 · Shamela ↗ (commentary on 57–58)
Menurut Ibn ‘Āshūr, «خَصِمُونَ» bermaksud orang yang sangat berpegang pada pertengkaran dan berkeras, walaupun kebenaran sudah jelas kepadanya.
Renungan: Berbantah demi menang boleh menutup kebenaran; mari kita berani berhenti apabila yang benar sudah jelas.According to Ibn ‘Āshūr, «خَصِمُونَ» means those who cling hard to dispute and persist in it, even when the truth is clear to them.
Reflection: Arguing to win can hide the truth; let us have the courage to stop when what is right is clear.
Terjemahan: Nabi Isa itu tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah Kami kurniakan nikmat kepadanya (dengan pangkat Nabi), dan Kami jadikan dia satu contoh (kekuasaan Kami yang menakjubkan) bagi kaum Bani IsrailTranslation: The Prophet Isa is nothing other than a servant to whom We gave favour (with the rank of Prophet), and We made him an example (of Our wondrous power) for the Children of Israel.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّهُ قَدْ فُضِّلَ بِنِعْمَةِ الرِّسَالَةِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/240 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/240 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata-kata “Kami kurniakan nikmat kepadanya” menunjukkan Nabi Isa dimuliakan dengan nikmat kerasulan.
Renungan: Kemuliaan seorang Nabi datang daripada kurnia Allah kepada hamba-Nya; mari kita juga merasa mulia menjadi hamba Allah, dan bersyukur atas nikmat-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the words “We gave favour” show that the Prophet Isa was honoured with the favour of Messengership.
Reflection: A Prophet’s honour comes from Allah’s bounty to His servant; let us too feel honoured to be servants of Allah, and give thanks for His favours.
لَجَعَلۡنَا
berkuasa melahirkan (lit. nescaya menjadikan)would have power to bring forth (lit. would make) (KamiWe)
يَخۡلُفُونَ
mengganti kamu (menjalankan urusan)replacing you (in running affairs) (mereka (malaikat)they (the angels))
Terjemahan: Dan kalaulah Kami kehendaki, Kami berkuasa melahirkan daripada kamu (wahai kaum lelaki): malaikat mengganti kamu (menjalankan urusan) di muka bumiTranslation: And if We willed, We would have power to bring forth from you (O men) angels replacing you (in running affairs) on the face of the earth.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«كَمَا وَلَّدْنَا عِيسَى مِنْ أُنْثَى مِنْ غَيْرِ فَحْلٍ لِتَعْرِفُوا تَمَيُّزَنَا بِالْقُدْرَةِ الْبَاهِرَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/640 · Shamela ↗ (huraian ayat 57–62)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/640 · Shamela ↗ (commentary on 57–62)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/261), Allah berkuasa menjadikan yang demikian sebagaimana Nabi Isa dilahirkan oleh seorang ibu tanpa bapa, supaya kamu mengetahui kuasa-Nya yang menakjubkan.
Renungan: Kuasa Allah tidak terikat dengan kebiasaan kita; mari kita membesarkan-Nya dengan yakin.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also does in al-Kashshāf (4/261), that Allah has power to do this, just as the Prophet Isa was born of a mother with no father, so that you may know His wondrous power.
Reflection: The power of Allah is not bound by what we are used to; let us glorify Him with certainty.
وَإِنَّهُۥ
dan sesungguhnya Nabi Isa (lit. dan sesungguhnya dia)and truly the Prophet Isa (lit. and truly he)
لَعِلۡمٞ
(sungguh) menjadi tanda kedatangan (lit. pengetahuan)(truly) is a sign of the coming (lit. knowledge)
Terjemahan: Dan sesungguhnya Nabi Isa menjadi tanda kedatangan hari kiamat, maka janganlah kamu ragu-ragu tentang (hari kiamat) itu, dan turutlah (petunjuk-Ku); inilah jalan yang lurusTranslation: And truly the Prophet Isa is a sign of the coming of the Day of Resurrection, so do not doubt about that (Day), and follow (My guidance); this is a path that is straight.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيِ اتَّبَعُوا مَا أَرْسَلْتُ إِلَيْكُمْ مِنْ كَلَامِي وَرَسُولِي»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/244 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/244 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, boleh jadi kata-kata “turutlah” bermaksud ikutilah Kalam dan Rasul yang Allah utuskan kepada kamu.
Renungan: Hari kiamat pasti tiba; persediaan terbaik ialah mengikut petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka mari kita meneruskan jalan yang lurus ini.According to Ibn ‘Āshūr, the word “follow” may mean: follow the Speech and the Messenger that Allah has sent to you.
Reflection: The Day of Resurrection will surely come; the best preparation is to follow the guidance of Allah and His Messenger, so let us keep to this straight path.
يَصُدَّنَّكُمُ
menghalang kamu (daripada menurut jalan yang benar)bar you (from following the right path) (Syaitan asy‑syaitanuSatan ash‑shayṭānu)
Terjemahan: Dan janganlah Syaitan menghalang kamu (daripada menurut jalan yang benar); sesungguhnya Syaitan itu musuh yang nyata bagi kamuTranslation: And do not let Satan bar you (from following the right path); truly Satan is a plain enemy to you.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِلْإِشَارَةِ إِلَى أَنَّ فِي مُكْنَتِهِمُ الِاحْتِفَاظَ مِنَ الِارْتِبَاقِ فِي شِبَاكِ الشَّيْطَانِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/245 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/245 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, larangan ini disusun dalam bentuk larangan kepada Syaitan, untuk menunjukkan bahawa manusia mampu memelihara diri daripada terjerat dalam perangkapnya.
Renungan: Kita tidak lemah di hadapan bisikan Syaitan; mari kita menjaga diri dan memohon perlindungan Allah.According to Ibn ‘Āshūr, this prohibition is worded as one addressed to Satan, to show that people are able to guard themselves from being caught in his snares.
Reflection: We are not helpless before Satan’s whispers; let us guard ourselves and ask Allah’s protection.
Terjemahan: Dan ketika Nabi Isa datang (kepada kaumnya) dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, berkatalah ia: "Sesungguhnya aku datang kepada kamu dengan membawa hikmat (ajaran Tuhan), dan untuk menerangkan kepada kamu: sebahagian dari (perkara-perkara ugama) yang kamu berselisihan padanya. Oleh itu, bertaqwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadakuTranslation: And when the Prophet Isa came (to his people) with clear proofs, he said: “Truly I have come to you bringing wisdom (the teaching of the Lord), and to explain to you some of the (matters of religion) that you differ on. So have taqwa of Allah and obey me.
Nota nahu: وَلَمَّا جَآءَ (ayat 63).Grammar note: وَلَمَّا جَآءَ (verse 63).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَإِذَا أَطَاعُوهُ عَمِلُوا بِمَا يُبَيِّنُ لَهُمْ فَيَحْصُلُ الْمَقْصُودُ مِنَ الْبَيَانِ وَهُوَ الْعَمَلُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/248 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–64)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/248 · Shamela ↗ (commentary on 63–64)
Menurut Ibn ‘Āshūr, apabila mereka mentaati Nabi Isa, mereka beramal dengan apa yang diterangkan, lalu tercapailah tujuan penerangan itu, iaitu amal.
Renungan: Tujuan ilmu ialah amal; mari kita tidak berhenti pada mendengar, tetapi mengamalkan apa yang kita pelajari.According to Ibn ‘Āshūr, when they obeyed the Prophet Isa they would act on what he explained, and so the aim of the explaining is reached, which is action.
Reflection: The aim of knowledge is action; let us not stop at listening, but practise what we learn.
Terjemahan: Sesungguhnya Allah ialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah kamu akan Dia; inilah jalan yang lurus"Translation: Truly Allah is my Lord and the Lord of you all, so worship Him; this is a path that is straight.”
Nota bahasa: إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ رَبِّى (ayat 64).Language note: إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ رَبِّى (verse 64).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ هَذَا طَرِيقُ الْوُصُولِ إِلَى الْفَوْزِ عَنْ بَصِيرَةٍ وَدُونَ تَرَدُّدٍ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/249 · Shamela ↗ (huraian ayat 63–64)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/249 · Shamela ↗ (commentary on 63–64)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “jalan yang lurus” ialah taqwa dan ketaatan itu, jalan menuju kejayaan dengan pandangan yang jelas tanpa ragu, seperti jalan lurus yang tidak mengelirukan orang yang melaluinya.
Renungan: Mari kita berpegang pada taqwa, jalan yang jelas ini, dan tidak ragu-ragu.According to Ibn ‘Āshūr, “a path that is straight” is that taqwa and obedience, the way to success with clear sight and no wavering, as a straight road does not confuse the traveller.
Reflection: Let us hold on to taqwa, this clear path, and not waver.
فَٱخۡتَلَفَ
kemudian, … berselisihanthen … differed (golongan‑golongan al‑ahzabuthe factions al‑aḥzābu)
Terjemahan: Kemudian, golongan-golongan (dari kaumnya) itu berselisihan sesama sendiri. Maka kecelakaan dan kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu, dari (paluan) azab seksa yang tidak terperi sakitnya, pada hari pembalasanTranslation: Then those factions (of his people) differed among themselves. So woe and ruin to those who did wrong, from the (blows of) punishment on the Day of Recompense, beyond telling in its pain.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«هَذَا التَّفْرِيعُ هُوَ الْمَقْصُودُ مَنْ سَوْقِ الْقِصَّةِ مَسَاقَ التَّنْظِيرِ بَيْنَ أَحْوَالِ الرُّسُلِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/249 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/249 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, inilah tujuan kisah ini, yang membandingkan keadaan para Rasul: selepas seruan, berlaku perselisihan antara golongan.
Renungan: Perselisihan mudah timbul walaupun ajaran sudah jelas; mari kita tidak menjadikan perbezaan sebagai sebab menzalimi sesama kita.According to Ibn ‘Āshūr, this is the point of the story, which compares the states of the Messengers: after the call, the factions differed.
Reflection: Differences arise easily even when teaching is clear; let us not make them a reason to wrong one another.
هَلۡ
(mereka yang menentang Nabi Muhammad) tidak ada lagi (lit. adakah)(those who oppose the Prophet Muhammad,) nothing more (lit. do)
تَأۡتِيَهُم
akan datang kepada merekawill come to them (ia (saat kiamat)it (the Hour of Resurrection))
يَشۡعُرُونَ
lalai leka dengan perkara-perkara keduniaan (lit. sedar)are heedless, absorbed in worldly matters (lit. perceive) (merekathey)
Terjemahan: (Mereka yang menentang Nabi Muhammad) tidak ada lagi yang mereka tunggu melainkan saat kiamat yang akan datang kepada mereka secara mengejut, dan dalam keadaan mereka lalai leka dengan perkara-perkara keduniaanTranslation: (Those who oppose the Prophet Muhammad) wait for nothing more except the Hour of Resurrection, that it will come to them suddenly, while they are heedless, absorbed in worldly matters.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمَعْنَى: أَنَّ هَذَا الْعَذَابَ وَاقِعٌ لَا مَحَالَةَ سَوَاءٌ قُرْبَ زَمَانِ وُقُوعِهِ أَمْ بَعْدُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/251 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/251 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksudnya azab itu pasti berlaku, sama ada masanya dekat atau jauh; maka jangan ragu kerana ia tidak disegerakan.
Renungan: Kita tidak tahu bila Saat itu tiba; mari kita tidak menangguhkan taubat dan amal.According to Ibn ‘Āshūr, the meaning is that this punishment will surely come, whether its time is near or far; so its delay should not cause doubt.
Reflection: We do not know when the Hour will come; let us not delay repentance and good deeds.
ٱلۡمُتَّقِينَ
orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh) (lit. orang-orang yang bertaqwa)those whose friendship rests on taqwa (faith and righteous deeds) (lit. those who have taqwa)
Terjemahan: Pada hari itu sahabat-sahabat karib: setengahnya akan menjadi musuh kepada setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan taqwa (iman dan amal soleh)Translation: On that day close friends will be enemies, some of them to others, except those whose friendship rests on taqwa (faith and righteous deeds).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَمَّا إِنْ كَانَ الْمُوجِبُ لِحُصُولِ الْمَحَبَّةِ فِي الدُّنْيَا الِاشْتِرَاكَ فِي مَحَبَّةِ اللَّهِ وَفِي خِدْمَتِهِ وَطَاعَتِهِ، فَهَذَا السَّبَبُ غَيْرُ قَابِلٍ لِلنَّسْخِ وَالتَّغَيُّرِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/641–642 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/641–642 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Tafsir ar-Rāzī menukil ahli hikmah: jika kasih sayang di dunia lahir kerana sama-sama mencintai Allah dan mentaati-Nya, sebab itu tidak berubah, maka kasih itu kekal pada hari kiamat.
Renungan: Mari kita membina persahabatan atas ketaatan kepada Allah, kerana itulah yang kekal.Tafsir al-Rāzī reports the wise: if love in this world arises from sharing in the love of Allah and obedience to Him, that cause does not change, so that love lasts on the Day of Resurrection.
Reflection: Let us build friendships on obedience to Allah, for that is what lasts.
يَٰعِبَادِ
(mereka - yang bertaqwa - itu, diberi penghormatan serta diseru oleh Allah Taala dengan firman-Nya) wahai hamba-hamba-Ku(those who have taqwa are honoured and called by Allah the Exalted, in His word:) O My servants
Terjemahan: (Mereka - yang bertaqwa - itu, diberi penghormatan serta diseru oleh Allah Taala dengan firman-Nya): "Wahai hamba-hamba-Ku! Pada hari ini kamu tidak akan merasai sebarang kebimbangan (dari sesuatu yang tidak baik); dan kamu pula tidak akan berdukacita"Translation: (Those who have taqwa are honoured and called by Allah the Exalted, in His word:) “O My servants! This day you will not feel any fear (of anything bad), and you, too, will not grieve.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّهُ تَعَالَى وَصَفَهُمْ بِالْعُبُودِيَّةِ، وَهَذَا تَشْرِيفٌ عَظِيمٌ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/642 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/642 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, antara perkara yang menggembirakan mereka ialah Allah menyifatkan mereka sebagai hamba-hamba-Nya, dan ini kemuliaan yang besar.
Renungan: Tiada gelaran lebih tinggi daripada hamba Allah; mari kita hidup sebagai hamba-Nya hari ini, supaya dipanggil begitu pada hari itu.Tafsir al-Rāzī says that among what gladdens them is that Allah describes them as His servants, and this is a great honour.
Reflection: No title is higher than servant of Allah; let us live as His servants today, so that we are called so on that Day.
Terjemahan: (Mereka itu ialah) orang-orang yang beriman akan ayat-ayat keterangan Kami, serta mereka menjadi orang-orang Islam yang taat patuhTranslation: (They are) those who believed in Our verses of clear proof and became Muslims, obedient and submissive.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«جِيءَ فِيهَا بِالْمَوْصُولِ لِدَلَالَةِ الصِّلَةِ عَلَى عِلَّةِ انْتِفَاءِ الْخَوْفِ وَالْحُزْنِ عَنْهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/254 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/254 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Menurut Ibn ‘Āshūr, sifat ini disebut untuk menunjukkan sebab mereka bebas daripada takut dan dukacita, iaitu iman mereka dan ketaatan mereka.
Renungan: Ketenangan pada hari itu berpunca daripada iman dan amal hari ini; mari kita memelihara kedua-duanya.According to Ibn ‘Āshūr, this description is given to show why they are free of fear and grief, namely their faith and their obedience.
Reflection: Peace on that Day comes from faith and deeds today; let us guard both.
ٱدۡخُلُواْ
(mereka diberi sebaik-baik balasan dengan dikatakan kepada mereka) masuklah(they are given the best recompense, it being said to them:) enter (kamu sekalianyou all)
وَأَزۡوَٰجُكُمۡ
bersama-sama isteri-isteri kamu (yang beriman) (lit. dan isteri-isteri kamu)together with your (believing) wives (lit. and your wives)
تُحۡبَرُونَ
dengan menikmati sepenuh-penuh kegembiraan dan kesenangan (lit. digembirakan)enjoying the fullness of joy and delight (lit. made joyful) (kamu sekalianyou all)NF
Terjemahan: (Mereka diberi sebaik-baik balasan dengan dikatakan kepada mereka): "Masuklah kamu ke dalam Syurga bersama-sama isteri-isteri kamu (yang beriman), dengan menikmati sepenuh-penuh kegembiraan dan kesenangan"Translation: (They are given the best recompense, it being said to them:) “Enter Paradise, you together with your (believing) wives, enjoying the fullness of joy and delight.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَعَطَفَ أَزْوَاجَهُمْ عَلَيْهِمْ فِي الْإِذْنِ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ مِنْ تَمَامِ نِعْمَةِ التَّمَتُّعِ بِالْخُلَّةِ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ أَزْوَاجِهِمْ فِي الدُّنْيَا»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/254 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/254 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Menurut Ibn ‘Āshūr, isteri-isteri disebut bersama mereka dalam izin memasuki Syurga kerana itu kesempurnaan nikmat menikmati kasih mesra yang ada antara mereka di dunia.
Renungan: Rumah tangga yang dibina atas iman boleh berlanjutan ke Syurga; mari kita saling membantu dalam ketaatan.According to Ibn ‘Āshūr, wives are named with them in the leave to enter Paradise, for this completes the favour of enjoying the close bond they had in this world.
Reflection: A home built on faith can continue into Paradise; let us help one another in obedience.
وَفِيهَا
dan di dalam Syurga itu pula disediakan (lit. dan di dalamnya)and in Paradise there is also provided (lit. and in it)
تَشۡتَهِيهِ
diingini oleh (lit. ingini)is desired by (lit. desire) (nafsu al‑anfusuthe souls al‑anfusu)
وَتَلَذُّ
serta dipandang indah oleh (lit. dan disukai)and held beautiful by (lit. and delights) (mata al‑a‘yunuthe eyes al‑a‘yunu)
Terjemahan: Diedarkan kepada mereka pinggan-pinggan besar dan piala-piala dari emas; dan di dalam Syurga itu pula disediakan segala yang diingini oleh nafsu serta dipandang indah oleh mata; dan (dikatakan kepada mereka): "Kamu adalah tetap kekal di dalamnya"Translation: Large platters and goblets of gold are passed round to them; and in Paradise there is also provided all that is desired by the souls and held beautiful by the eyes; and (it is said to them:) “You will remain forever in it.”
Nota nahu: يُطَافُ عَلَيْهِم (ayat 71).Grammar note: يُطَافُ عَلَيْهِم (verse 71).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«ثُمَّ إِنَّهُ تَعَالَى تَرَكَ التَّفْصِيلَ وَذَكَرَ بَيَانًا كُلِّيًّا»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/642 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/642 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, selepas menyebut makanan dan minuman, Allah meninggalkan perincian dan memberi penerangan menyeluruh: “segala yang diingini oleh nafsu”.
Renungan: Nikmat Syurga melebihi apa yang boleh disenaraikan; mari kita merinduinya dan beramal untuknya.Tafsir al-Rāzī says that after mentioning food and drink, Allah leaves off detail and gives an all-embracing statement: “all that is desired by the souls”.
Reflection: The joys of Paradise go beyond any list; let us long for it and work for it.
وَتِلۡكَ
dan (dikatakan lagi kepada mereka) inilah (lit. itulah)and (it is said further to them:) this is (lit. that is)
Terjemahan: Dan (dikatakan lagi kepada mereka): "Inilah Syurga yang diberikan kamu mewarisinya, disebabkan apa yang kamu telah kerjakan"Translation: And (it is said further to them:) “This is the Paradise that you have been given to inherit because of what you have done.”
Nota nahu: بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (ayat 72).Grammar note: بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (verse 72).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْبَاءُ فِي بِما كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ لِلسَّبَبِيَّةِ وَهِيَ سَبَبِيَّةٌ بِجَعْلِ اللَّهِ وَوَعْدِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/256 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/256 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Menurut Ibn ‘Āshūr, “disebabkan” di sini menunjukkan sebab yang Allah sendiri tetapkan dan janjikan, dan kata kerjanya menunjukkan amal mereka berulang hingga wafat.
Renungan: Amal kita bernilai kerana janji dan kurnia Allah; mari kita meneruskannya hingga akhir hayat.According to Ibn ‘Āshūr, “because of” here shows a cause that Allah Himself set and promised, and the verb shows their deeds recurred until death.
Reflection: Our deeds have worth through Allah’s promise and bounty; let us keep them up to the end of life.
Terjemahan: Kamu beroleh di dalamnya berbagai jenis buah-buahan, untuk kamu makan daripadanyaTranslation: You have in it many kinds of fruit to eat of.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَنَّ ذَلِكَ مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي لَا تَخْتَلِفُ الطِّبَاعُ الْبَشَرِيَّةُ فِي اسْتِلْذَاذِهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/257 · Shamela ↗ (huraian ayat 67–73)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/257 · Shamela ↗ (commentary on 67–73)
Menurut Ibn ‘Āshūr, nikmat makanan dan minuman di Syurga diulang kerana ia nikmat yang dirasai sedap oleh semua tabiat manusia.
Renungan: Allah menggembirakan kita dengan apa yang kita faham; mari kita menyambut janji-Nya dengan syukur, dan berkongsi rezeki kita hari ini.According to Ibn ‘Āshūr, the favours of food and drink in Paradise are repeated because all human natures alike enjoy them.
Reflection: Allah gladdens us with what we understand; let us welcome His promise with thanks, and share our provision today.
Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang berdosa (dengan kekufurannya), kekal selama-lamanya di dalam azab seksa neraka JahannamTranslation: Truly those who sin (by their disbelief) remain forever in the punishment of Hell.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالْمُجْرِمُونَ: الَّذِينَ يَفْعَلُونَ الْإِجْرَامَ، وَهُوَ الذَّنْبُ الْعَظِيمُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/257 · Shamela ↗ (huraian ayat 74–75)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/257 · Shamela ↗ (commentary on 74–75)
Menurut Ibn ‘Āshūr, al-mujrimūn (orang-orang yang berdosa) ialah pelaku dosa yang besar, dan di sini mereka ialah orang yang mendustakan, menurut konteks ayat.
Renungan: Selepas khabar gembira datang amaran; mari kita hidup antara harap dan takut, dan menjauhi dosa besar.According to Ibn ‘Āshūr, al-mujrimūn (those who sin) are those who commit great sin, and here they are the deniers, as the context shows.
Reflection: After glad tidings comes the warning; let us live between hope and fear, and keep away from great sin.
مُبۡلِسُونَ
dengan berputus asa (daripada mendapat sebarang pertolongan)in despair (of getting any help)
Terjemahan: Tidak diringankan azab itu daripada mereka, dan mereka tinggal menderitainya dengan berputus asa (daripada mendapat sebarang pertolongan)Translation: That punishment is not lightened for them, and they remain suffering it in despair (of getting any help).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«والإبلاس: الْيَأْسُ وَالذُّلُّ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/258 · Shamela ↗ (huraian ayat 74–75)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/258 · Shamela ↗ (commentary on 74–75)
Menurut Ibn ‘Āshūr, kata «مُبْلِسُونَ» bermaksud putus asa dan hina.
Renungan: Selagi kita masih di dunia, pintu harapan terbuka; mari kita memohon keampunan Allah sekarang, sebelum sampai saat tiada lagi harapan.According to Ibn ‘Āshūr, the word «مُبْلِسُونَ» means despair and abasement.
Reflection: While we are still in this world, the door of hope is open; let us ask Allah’s forgiveness now, before the time when no hope is left.
ٱلظَّٰلِمِينَ
yang menganiaya diri sendiri (lit. orang-orang yang zalim)are the ones who wronged themselves (lit. the ones doing wrong)
Terjemahan: Dan tidaklah Kami menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiriTranslation: And We never wronged them, but they are the ones who wronged themselves.
Nota bahasa: كَانُوا۟ هُمُ ٱلظَّٰلِمِينَ (ayat 76).Language note: كَانُوا۟ هُمُ ٱلظَّٰلِمِينَ (verse 76).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَنَفْيُهُ عَنِ اللَّهِ فِي مُعَامَلَتِهِ إِيَّاهُمْ بِتِلْكَ الْمُعَامَلَةِ لِأَنَّهَا كَانَتْ جَزَاءً عَلَى ظُلْمِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/258 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/258 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, penganiayaan dinafikan daripada Allah dalam layanan itu kerana ia balasan atas kezaliman mereka sendiri.
Renungan: Allah Maha Adil, dan kita sendiri yang menganiaya diri apabila berdosa; mari kita memeriksa diri sebelum menyalahkan orang lain.According to Ibn ‘Āshūr, wrong is denied of Allah in this treatment because it was recompense for their own wrongdoing.
Reflection: Allah is perfectly just, and it is we who wrong ourselves when we sin; let us examine ourselves before blaming others.
وَنَادَوۡاْ
dan … menyeru (ketua malaikat penjaga neraka, dengan berkata)and … call out (to the chief angel guarding Hell, saying) (merekathey)
عَلَيۡنَا
kami (kerana kami tidak tahan menderita) (lit. atas kami)upon us (for we cannot bear the suffering)
مَّٰكِثُونَ
tetap kekal di dalam azab (lit. tinggal)will remain forever in the punishment (lit. remaining)
Terjemahan: Dan mereka menyeru (ketua malaikat penjaga neraka, dengan berkata): "Wahai Malik! Biarlah hendaknya Tuhanmu mematikan kami (kerana kami tidak tahan menderita)!" Maalik menjawab: "Sesungguhnya kamu tetap kekal di dalam azab"Translation: And they call out (to the chief angel guarding Hell, saying): “O Malik! Let your Lord bring death upon us (for we cannot bear the suffering)!” Malik answers: “Truly you will remain forever in the punishment.”
Nota nahu: قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ (ayat 77).Grammar note: قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ (verse 77).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«اسْمُ الْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِجَهَنَّمَ خَاطَبُوهُ لِيَرْفَعَ دَعْوَتَهُمْ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى شَفَاعَةً»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/259 · Shamela ↗ (huraian ayat 77–78)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/259 · Shamela ↗ (commentary on 77–78)
Menurut Ibn ‘Āshūr, Malik ialah nama malaikat yang ditugaskan menjaga Jahannam; mereka menyerunya supaya dia menyampaikan rayuan mereka kepada Allah.
Renungan: Rayuan yang datang terlambat tidak berguna; mari kita berdoa kepada Allah sekarang, ketika doa masih membawa manfaat.According to Ibn ‘Āshūr, Malik is the name of the angel in charge of Hell; they call on him to carry their plea to Allah.
Reflection: A plea that comes too late is of no use; let us call on Allah now, while prayer still brings benefit.
لَقَدۡ
(bagi menyatakan sebabnya mereka dibiarkan di dalam azab, Allah Taala berfirman) demi sesungguhnya!(to state why they are left in the punishment, Allah the Exalted says:) indeed
جِئۡنَٰكُم
telah menyampaikan … kepada kamu (melalui Rasul Kami) (lit. telah datang kepada kamu)have conveyed to you (through Our Messenger) (lit. have come to you) (KamiWe)
أَكۡثَرَكُمۡ
kebanyakan kamu (telah menentangnya, kerana kamu)most of you (opposed it, because you)
Terjemahan: (Bagi menyatakan sebabnya mereka dibiarkan di dalam azab, Allah Taala berfirman): "Demi sesungguhnya! Kami telah menyampaikan kebenaran kepada kamu (melalui Rasul Kami), akan tetapi kebanyakan kamu (telah menentangnya, kerana kamu) tidak suka kepada kebenaran itu"Translation: (To state why they are left in the punishment, Allah the Exalted says:) “Indeed We have conveyed the truth to you (through Our Messenger), but most of you (opposed it, because you) dislike that truth.”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَأُولَئِكَ إِنَّمَا كَرِهُوا الْحَقَّ لِأَنَّهُ يَرْمِي إِلَى زَوَالِ سُلْطَانِهِمْ وَتَعْطِيلِ مَنَافِعِهِمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/261 · Shamela ↗ (huraian ayat 77–78)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/261 · Shamela ↗ (commentary on 77–78)
Menurut Ibn ‘Āshūr, mereka tidak suka kepada kebenaran kerana ia menuju kepada hilangnya kuasa mereka dan terhentinya kepentingan mereka.
Renungan: Kadang-kadang kita menolak kebenaran kerana kepentingan diri; mari kita jujur memeriksa sebab sebenar penolakan kita.According to Ibn ‘Āshūr, they disliked the truth because it aimed at ending their power and halting their interests.
Reflection: Sometimes we refuse the truth for self-interest; let us honestly examine the real reason for our refusal.
أَبۡرَمُوٓاْ
telah mengambil keputusan menjalankanhave resolved to carry out (mereka (yang kafir) ituthey (who disbelieve))
مُبۡرِمُونَ
mengambil keputusan (menggagalkan rancangan mereka)have resolved (to bring their plan to nothing)
Terjemahan: Bahkan mereka (yang kafir) itu telah mengambil keputusan menjalankan satu rancangan (hendak membunuh Rasul Kami), maka Kami juga mengambil keputusan (menggagalkan rancangan mereka)Translation: Rather they (who disbelieve) have resolved to carry out a plan (to kill Our Messenger), so We, too, have resolved (to bring their plan to nothing).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُوَ اسْتِفْهَامٌ تَقْرِيرِيٌّ وَتَهْدِيدٌ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/261 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/261 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, pertanyaan dalam ayat ini ialah pertanyaan untuk mengesahkan, disertai ancaman.
Renungan: Sebaik mana pun manusia merancang, rancangan Allah mengatasinya; mari kita merancang dalam kebaikan dan bertawakal kepada-Nya.According to Ibn ‘Āshūr, the question in this verse is one of affirmation, joined with a warning.
Reflection: However well people plan, the plan of Allah prevails; let us plan for good and place our trust in Him.
سِرَّهُمۡ
apa yang mereka sembunyikan (di dalam hati) (lit. rahsia mereka)what they hide (in their hearts) (lit. their secret)
وَنَجۡوَىٰهُمۚ
dan apa yang mereka perkatakan (dengan berbisik) sesama sendiri (lit. dan bisikan mereka)and what they say (in whispers) among themselves (lit. and their whispers)
يَكۡتُبُونَ
ada menulis segala yang mereka lakukanare writing all that they do (mereka (utusan‑utusan Kami)they (Our messengers))
Terjemahan: Patutkah mereka menyangka bahawa Kami tidak mendengar apa yang mereka sembunyikan (di dalam hati) dan apa yang mereka perkatakan (dengan berbisik) sesama sendiri? (Bukan sebagaimana yang mereka sangka) bahkan utusan-utusan Kami (malaikat) yang menjaga mereka, ada menulis segala yang mereka lakukanTranslation: Do they suppose that We do not hear what they hide (in their hearts) and what they say (in whispers) among themselves? (It is not as they think;) rather Our messengers (angels) who guard them are writing all that they do.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«السِّرُّ مَا حَدَّثَ بِهِ الرَّجُلُ نَفْسَهُ أَوْ غَيْرَهُ فِي مَكَانٍ خَالٍ، وَالنَّجْوَى مَا تَكَلَّمُوا بِهِ فِيمَا بَيْنَهُمْ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/644 · Shamela ↗ (huraian ayat 74–80)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/644 · Shamela ↗ (commentary on 74–80)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, seperti juga al-Zamakhsharī dalam al-Kashshāf (4/265), rahsia ialah apa yang seseorang bisikkan kepada dirinya atau orang lain di tempat sunyi, manakala bisikan ialah apa yang mereka bicarakan sesama sendiri.
Renungan: Tiada yang tersembunyi daripada Allah; mari kita menjaga kata-kata ketika bersendirian.Tafsir al-Rāzī says, as al-Zamakhsharī also does in al-Kashshāf (4/265), that a secret is what a person tells himself or another in an empty place, while whispered talk is what they say among themselves.
Reflection: Nothing is hidden from Allah; let us guard our words when alone.
قُلۡ
katakanlah (wahai Muhammad, kepada mereka yang musyrik itu)say (O Muhammad, to those people of shirk) (engkauyou)
لِلرَّحۡمَٰنِ
Allah Yang Maha Pemurah, mempunyai (lit. bagi Yang Maha Pemurah)that Allah, the Most Gracious, has (lit. for the Most Gracious)
ٱلۡعَٰبِدِينَ
yang akan menyembah anak itu; (tetapi dakwaan kamu itu tidak berasas) (lit. orang-orang yang menyembah)to worship that child; (but your claim has no basis) (lit. of those who worship)
Terjemahan: Katakanlah (wahai Muhammad, kepada mereka yang musyrik itu): "Kalau betul Allah Yang Maha Pemurah, mempunyai anak (sebagaimana yang kamu dakwakan) maka akulah orang yang awal pertama yang akan menyembah anak itu; (tetapi dakwaan kamu itu tidak berasas)"Translation: Say (O Muhammad, to those people of shirk): “If it were true that Allah, the Most Gracious, has a child (as you claim), then I would be the very first to worship that child; (but your claim has no basis.)”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«إِلَّا أَنَّهُ لَمْ يُوجَدْ هَذَا الْوَلَدُ وَلَمْ يَقُمِ الدَّلِيلُ عَلَى ثُبُوتِهِ الْبَتَّةَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/646 · Shamela ↗ (huraian ayat 81–89)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/646 · Shamela ↗ (commentary on 81–89)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, pengandaian dalam ayat ini tidak bermakna mengakui anak itu: ia tidak wujud, dan tiada langsung dalil yang menyokongnya.
Renungan: Tauhid berdiri atas hujah yang jelas; mari kita mendalami dalil keesaan Allah, dan membesarkan-Nya daripada apa yang tidak layak.Tafsir al-Rāzī says the supposition in this verse does not admit that child: it does not exist, and no proof at all supports it.
Reflection: Tawhid stands on clear proof; let us deepen our grasp of the proofs of Allah’s oneness, and glorify Him above what is unworthy.
Terjemahan: Maha Suci Allah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, - Tuhan yang mempunyai Arasy (yang melambangkan kebesaran-Nya), - (Maha Sucilah Ia) dari apa yang mereka katakan ituTranslation: Glory be to Allah, the Lord Who created the heavens and earth, the Lord Who owns the Throne (symbol of His greatness); (glorified is He) above what they say.
Nota nahu: عَمَّا يَصِفُونَ (ayat 82).Grammar note: عَمَّا يَصِفُونَ (verse 82).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَالتَّقْدِيرِ: مَعَ تَنْزِيهٍ عَنْ تَحَقُّقِ ذَلِكَ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/265 · Shamela ↗ (huraian ayat 81–82)Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/265 · Shamela ↗ (commentary on 81–82)
Menurut Ibn ‘Āshūr, boleh jadi ayat ini sambungan ucapan yang Rasulullah ﷺ diperintah sampaikan: pengandaian tadi hanya andaian, disertai penyucian Allah daripada perkara itu pada hakikatnya.
Renungan: Mari kita membanyakkan tasbih, menyucikan Allah dalam hati dan pada lidah.According to Ibn ‘Āshūr, this verse may continue what the Messenger ﷺ was told to say: the supposition is only a supposition, joined with declaring Allah free of it in reality.
Reflection: Let us glorify Allah often, declaring Him free of all flaw in heart and on the tongue.
وَيَلۡعَبُواْ
dan leka bermain-main (dalam dunia mereka)and be absorbed in play (in their world) (merekathey)
يُوعَدُونَ
dijanjikan kepada … (untuk menerima balasan)… are promised (to receive recompense) (merekathey)NF
Terjemahan: Oleh itu, biarkanlah mereka (wahai Muhammad) tenggelam dalam kesesatan mereka dan leka bermain-main (dalam dunia mereka), sehingga mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka (untuk menerima balasan)Translation: So leave them (O Muhammad) to sink in their misguidance and be absorbed in play (in their world) until they meet the day that is promised to them (to receive recompense).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهُمْ لَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَيْهَا لِأَجْلِ كَوْنِهِمْ مُسْتَغْرِقِينَ فِي طَلَبِ الْمَالِ وَالْجَاهِ وَالرِّيَاسَةِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/647 · Shamela ↗ (huraian ayat 81–89)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/647 · Shamela ↗ (commentary on 81–89)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, mereka tidak menghiraukan hujah itu kerana tenggelam dalam mengejar harta, pangkat dan kuasa, dan ayat ini ialah ancaman.
Renungan: Kesibukan dunia boleh menulikan kita daripada kebenaran; mari kita meluangkan masa untuk berhenti dan berfikir tentang hari yang dijanjikan.Tafsir al-Rāzī says they paid no heed to the proof because they were sunk in chasing wealth, rank and power, and this verse is a warning.
Reflection: Worldly busyness can deafen us to the truth; let us make time to pause and think of the promised day.
Terjemahan: Dan (ingatlah), Allah jualah Tuhan yang berhak disembah di langit, dan Dialah Tuhan yang berhak disembah di bumi; dan Dialah jua Yang Maha Bijaksana, lagi Maha MengetahuiTranslation: And (remember,) Allah alone is God (deserving of worship) in the sky, and He is God (deserving of worship) on the earth; and He alone is the All-Wise and All-Knowing.
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«لِإِفَادَةِ قَصْرِ صِفَةِ الْإِلَهِيَّةِ فِي السَّمَاءِ وَفِي الْأَرْضِ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى لَا يُشَارِكُهُ فِي ذَلِكَ غَيْرُهُ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/267 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/267 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, susunan ayat ini mengkhususkan sifat ketuhanan di langit dan di bumi bagi Allah sahaja; tiada yang berkongsi dengan-Nya.
Renungan: Di mana pun kita berada, hanya Dia yang berhak disembah; mari kita menghadapkan ibadah dan harapan kita kepada-Nya sahaja.According to Ibn ‘Āshūr, the wording of this verse reserves divinity in the sky and on the earth for Allah alone; no one shares it with Him.
Reflection: Wherever we are, He alone deserves worship; let us turn our worship and hope to Him alone.
Terjemahan: Dan Maha Tinggilah Kebesaran Tuhan yang menguasai langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya; dan Dialah jua yang mengetahui tentang (masa datangnya) hari kiamat; dan kepada-Nyalah kamu semua akan dikembalikanTranslation: And most exalted in greatness is the Lord Who rules the heavens and earth, with everything found between the two; and He alone knows of (the time of the coming of) the Day of Resurrection; and to Him alone you all will be returned.
Nota bahasa: وَإِلَيْهِ (ayat 85).Language note: وَإِلَيْهِ (verse 85).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«فَالْمَقْصُودُ مِنْهُ أَنَّهُ لَمَّا شَرَحَ كَمَالَ قُدْرَتِهِ فَكَذَلِكَ شَرَحَ كَمَالَ عِلْمِهِ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/648 · Shamela ↗ (huraian ayat 81–89)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/648 · Shamela ↗ (commentary on 81–89)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, selepas menerangkan kesempurnaan kuasa-Nya, Allah menerangkan pula kesempurnaan ilmu-Nya.
Renungan: Hanya Allah yang mengetahui masa kiamat; mari kita tidak sibuk bertanya bilakah ia, tetapi bersedia kerana kita akan dikembalikan kepada-Nya.Tafsir al-Rāzī says that after setting out the perfection of His power, Allah sets out the perfection of His knowledge.
Reflection: Allah alone knows the time of the Resurrection; let us not be busy asking when, but be ready, for we will be returned to Him.
شَهِدَ
memberi penerangan mengakuibear witness, acknowledging (dia (merujuk sesiapa yang)he (refers to whoever))
بِٱلۡحَقِّ
kebenaran dengan mentauhidkan Allah, Tuhan Yang Sebenar-benarnya (lit. dengan kebenaran)the truth by affirming the oneness of Allah, the True Lord (lit. to the truth)
يَعۡلَمُونَ
mengetahui-Nya dengan yakin (bukan dengan kata-kata orang; maka merekalah yang mungkin diizinkan memberi dan mendapat syafaat itu) (lit. mengetahui)know Him with certainty (not by what others say; so they are the ones who may be permitted to give and receive that intercession) (lit. know) (merekathey)
Terjemahan: Dan segala yang mereka sembah yang lain dari Allah, tidak mempunyai sebarang kuasa untuk memberikan syafaat pertolongan, kecuali sesiapa yang memberi penerangan mengakui kebenaran dengan mentauhidkan Allah, Tuhan Yang Sebenar-benarnya secara mereka mengetahui-Nya dengan yakin (bukan dengan kata-kata orang; maka merekalah yang mungkin diizinkan memberi dan mendapat syafaat itu)Translation: And all those they worship besides Allah have no power to give intercession, except those who bear witness, acknowledging the truth by affirming the oneness of Allah, the True Lord, while they know Him with certainty (not by what others say; so they are the ones who may be permitted to give and receive that intercession).
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَهَذَا الْقَيْدُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الشَّهَادَةَ بِاللِّسَانِ فَقَطْ لَا تُفِيدُ الْبَتَّةَ»
Tafsir ar-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/648 · Shamela ↗ (huraian ayat 81–89)Tafsir al-Rāzī (Mafātīḥ al-Ghayb), 27/648 · Shamela ↗ (commentary on 81–89)
Tafsir ar-Rāzī menyebut, syarat “mereka mengetahui” menunjukkan bahawa penyaksian dengan lidah semata-mata langsung tidak berguna.
Renungan: Syahadah kita perlu disertai keyakinan hati; mari kita mendalami makna kalimah yang kita ucapkan setiap hari.Tafsir al-Rāzī says the condition that they know shows that witnessing with the tongue alone is of no use at all.
Reflection: Our testimony must come with certainty of heart; let us go deeper into the meaning of the words we say each day.
يُؤۡفَكُونَ
rela dipesongkan (dari menyembah dan mengesakan-Nya)are … willing to be turned away (from worshipping Him and affirming His oneness) (merekathey)NF
Terjemahan: Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah!". (Jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan (dari menyembah dan mengesakan-Nya)Translation: And indeed, if you (O Muhammad) ask them: “Who is it that created them?” they will certainly answer: “Allah!” (If so,) then how are they willing to be turned away (from worshipping Him and affirming His oneness)?
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«وَذَلِكَ كَافٍ فِي سَفَاهَةِ رَأْيِهِمْ إِذْ كَيْفَ يَكُونُ إِلَهًا مَنْ لَمْ يَخْلُقْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/271 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/271 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, pengakuan bahawa Allah yang mencipta mereka sudah cukup menunjukkan kelemahan fikiran mereka, kerana bagaimana yang tidak mencipta boleh menjadi tuhan?
Renungan: Mari kita bertanya kepada diri: jika Allah Pencipta kita, adakah hidup kita benar-benar untuk-Nya?According to Ibn ‘Āshūr, admitting that Allah created them is enough to show the folly of their view, for how can one who does not create be a god?
Reflection: Let us ask ourselves: if Allah is our Creator, is our life truly for Him?
وَقِيلِهِۦ
(Dialah Tuhan yang mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata (lit. dan ucapannya)(He is the Lord Who knows the plea of the Prophet Muhammad,) who said (lit. and his saying)
يُؤۡمِنُونَ
mahu beriman (maka terserahlah kepada-Mu untuk mengadilinya)willing to believe (so it rests with You to judge them) (merekathey)
Terjemahan: Dan (Dialah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: "Wahai Tuhanku! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepada-Mu untuk mengadilinya)"Translation: (He is the Lord Who knows the plea of the Prophet Muhammad,) who said: “O my Lord! Truly these are a people who are not willing to believe (so it rests with You to judge them).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«مَقَامُ مَنْ أَعْيَتْهُ الْحِيلَةُ فِيهِمْ فَفَوَّضَ أَمْرَهُ إِلَى رَبِّهِ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/273 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/273 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, seruan ini menunjukkan keadaan orang yang sudah habis ikhtiar terhadap mereka, lalu menyerahkan urusannya kepada Tuhannya.
Renungan: Selepas berusaha, serahkanlah hasilnya kepada Allah; mari kita mengadu kepada-Nya, dan bukan berputus asa atau marah.According to Ibn ‘Āshūr, this call shows the state of one who has run out of means with them, and so leaves his affair to his Lord.
Reflection: After striving, leave the result to Allah; let us take our complaint to Him, and not despair or grow angry.
فَٱصۡفَحۡ
(Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman) jika demikian, maka janganlah … (wahai Muhammad) hiraukan(the Lord answers his plea, saying:) if so, then pay no heed (O Muhammad) (engkauyou)
يَعۡلَمُونَ
akan mengetahui (akibat keingkarannya)will know (the result of their rejection) (merekathey)
Terjemahan: (Tuhan menjawab rayuannya dengan berfirman): "Jika demikian, maka janganlah engkau (wahai Muhammad) hiraukan mereka, dan katakanlah: 'Selamat tinggallah!' Kemudian mereka akan mengetahui kelak (akibat keingkarannya)"Translation: (The Lord answers his plea, saying:) “If so, then pay no heed (O Muhammad) to them, and say: ‘Farewell!’ Then they will know later (the result of their rejection).”
✦ Ringkasan Tafsir & TadabburTafsir & Tadabbur Summary
«أَيْ أَعْرِضْ عَنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ لَهُمْ»
Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/273 · Shamela ↗Ibn ‘Āshūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, 25/273 · Shamela ↗
Menurut Ibn ‘Āshūr, maksudnya berpalinglah daripada mereka, jangan bersedih kerana mereka, dan jika mereka berbantah, katakan salam itu, iaitu kita berhenti daripada berbantah.
Renungan: Tidak semua perbantahan perlu diteruskan; mari kita mengundur dengan damai dan menyerahkan urusan kepada Allah.According to Ibn ‘Āshūr, it means turn away from them, do not grieve over them, and if they argue, say that word of peace, meaning we leave off the dispute.
Reflection: Not every argument need go on; let us withdraw in peace and leave the matter to Allah.